Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Ada apa lagi?


__ADS_3

Begitu sampai di ruangan kerjanya Sultan segera merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang yang terletak di sudut ruangan. Dia yang terlihat begitu lelah pun mengendurkan dasinya seraya memijit pelipisnya.


"Apa kau kurang tidur semalam?" tanya Raka yang saat itu sedang membereskan lembaran kertas di atas meja kerjanya.


"Tidak juga," sahut Sultan dengan mata terpejam.


"Kelihatannya kau lelah sekali, sepanjang rapat berlangsung kau begitu gelisah seolah ingin rapat cepat berakhir dan segera tidur."


"Aku hanya sedang memikirkan Hanum," gumam Sultan.


"Memang ada apa dengannya? apa dia mengidam yang aneh-aneh?" tanya Raka, selesai membereskan isi mejanya dia beralih untuk duduk di sofa yang ada di depan Sultan.


"Dia memang pernah mengidam yang aneh-aneh, tapi menurutku itu masih dalam tahap wajar."


"Lantas?" kening Raka berkerut, masih belum memahami apa yang membuat temannya terlihat begitu gusar.


"Ini mengenai Mauryn."


"Wah ... wah ... masih berani kamu memikirkannya Bro? ingat kalau sekarang ada dua bayi dalam rahim istrimu. Dan aku ingatkan, kalau hal seperti ini sangat tidak pant ...," Raka menghentikan ucapannya begitu ada sebuah benda melayang ke arahnya dan tepat mengenai kepalanya.


"Jangan bicara melantur!" Sultan menggerutu.


"Aku?" Raka menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah kau yang sedang melantur? jelas-jelas kau sudah mempunyai istri dan kau baru saja mengatakan kalau kau memikirkan wanita lain. Huh, yang benar saja." Raka memungut pulpen yang tadi di lemparkan Sultan.


"Memang siapa yang bilang begitu?"


"Eh, jelas-jelas kau yang bilang begitu tadi. Dasar!" Raka mengembalikan pulpen Sultan dengan cara yang sama, yaitu dengan melemparkannya pada Sultan.


"Aku menyebut nama perempuan itu bukan berarti aku sedang memikirkannya." Sultan bangkit dari tidurnya.


"Terserah apa katamu." Raka melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Sudah hampir pukul enam sore, aku mau pulang." bangun dari duduknya. "Seharusnya para istri kita sudah selesai menghabiskan waktu untuk menguras isi rekening kita kan?"


"Tunggu dulu!" cegah Sultan.


"Memang ada apa? bukankah pekerjaanku sudah selesai? kalau kau mau lembur,lembur saja sendiri, aku mau pulang."


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu! kita bisa menghabiskan secangkir kopi di kafe bersama Adam."


"Sebenarnya kau ingin berbicara dengannya, bukan denganku. Selalu saja menjadikan aku sebagai obat nyamuk."


"Kau sama pentingnya, itu sebabnya aku memintamu untuk menemaniku. Aku perlu mendengar pendapatmu, kapan aku pernah menganggapmu tidak penting. Kau kan sudah seperti saudara bagiku."


"Ya sudah ayo!" ajak Raka.


"Kenapa terburu-buru begitu?" Sultan meraih tas kerjanya.


"Jangan sampai aku terlambat pulang, aku hanya punya waktu satu jam atau Disha akan marah dan menghukumku jika aku sampai terlambat lima menit saja. Dia sudah tahu kalau hari ini aku tidak lembur."


"Ha ... ha ... ha ... ternyata nasib kita tak jauh berbeda." Sultan terkekeh, dia merangkul pundak temannya. "Kau tahu, semenjak hamil Hanum berubah menjadi garang dan sangat beringas. Sedikit saja dia merasa terancam, atau ada sesuatu yang sekiranya tidak sesuai dengan keinginannya, dia akan menjadi galak. Di tambah lagi dengan teriakan melengking bak seorang penyanyi, kau akan berpikiran kalau itu bukanlah Hanum yang kau kenal jika kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri bagaimana reaksinya ketika hormon kehamilannya sedang berulah."


"Ternyata nasib kita sama." Raka mengangkat tangannya untuk beradu tos dengan Sultan. "Disha juga banyak berubah semenjak hamil, dia menjadi sensitif dan pemarah. Kau belum tahu saja kalau aku pernah dilempar dengan bantal olehnya, dia terus berteriak memakiku. Dia bilang aku tidak peka, dan selang dua menit kemudian dia menangis histeris lalu meminta maaf padaku. Hah ... itu belum ada apa-apanya, kita masih harus melewati banyak kejadian mengejutkan selama menemani istri kita dalam masa kehamilan. Belum lagi setelah melahirkan nanti, aku pernah membaca di sebuah artikel yang berisi tentang Baby blues syndrome. Ternyata hal itu bisa berakibat fatal, akan sangat berbahaya jika seorang ibu yang baru saja melahirkan terkena sindrom tersebut. Perjalanan kita masih panjang, kita harus menyiapkan stok kesabaran level tinggi untuk menghadapi masa-masa terpenting dalam kehidupan seorang wanita. Kita diharuskan menjadi suami siaga." Raka mendesah panjang di akhir ceritanya.

__ADS_1


"Tentu saja, omong-omong sindrom apa itu? yang tadi kamu sebutkan."


"Sindrom Baby blues. Cari saja di internet, akan susah menjelaskan padamu, dan lagi aku sedang kekurangan tenaga. Makan siang hanya steak sapi porsi kecil sementara kau terus memeras tenagaku hingga habis."


"Sejak kapan kau suka makan? sebelumnya kau tidak pernah mengeluh soal makanan." Sultan tertawa lebar, menampilkan deretan giginya yang putih.


"Cepat telpon Adam, suruh dia untuk segera menyiapkan makanan jadi begitu kita sampai aku bisa segera mengisi ulang tenagaku."


"Hm."


Keduanya pun mempercepat langkahnya menuju parkiran, memasuki mobil masing-masing dan segera meluncur ke sebuah tempat yang sudah di janjikan.


.


"Apa kau baru saja membuatnya kerja rodi?" Adam melirik Sultan "Lihatlah, dia seperti tidak di beri makan selama berhari-hari." Adam tersenyum tipis melihat kelakuan Raka.


"Jangan membahas yang tidak penting," Raka menyahut dengan mulut penuh berisi makanan. "Tuan besar kita ini sedang dalam masalah."


"Aku sampai bosan mendengarnya, sekali-kali beri aku berita menggembirakan lah, jangan melulu soal masalah," ucap Adam datar.


Sultan memasukkan sepotong Beef Black peper dengan nasi putih yang masih mengepul ke dalam mulutnya.


"Ya sudah, sepertinya kalian memang sedang kelaparan. Makanlah saja dulu, aku tinggal masuk ke ruanganku sebentar ya. Nanti aku kemari lagi jika kalian selesai makan." Adam pun beranjak dari tempat duduknya.


Sepuluh menit kemudian, seluruh isi piring yang berisi aneka makanan di atas bundar tersebut telah habis tak tersisa, semuanya telah lenyap dan beralih ke dalam perut tuannya. Ternyata orang yang menggunakan otaknya untuk bekerja cenderung lebih cepat lapar. Nafsu makan mereka bisa lebih menggila dari seorang kuli bangunan.


"Astaga! kalian benar-benar menghabiskan semua ini?" Adam hampir tak percaya karena begitu dia kembali duduk di sana, dia melihat piring yang tersusun rapi di atas meja telah kosong semua.


"Aku tidak percaya, kalian ini sebenarnya pekerja kantoran atau kuli panggul?" ucap Adam lagi.


"Ya ampun kenyangnya," Sultan berujar sambil memegangi perutnya.


"Bagaimana tidak kenyang kalau kalian memasukkan empat porsi makan orang sekaligus ke dalam perut kalian. Untung saja perutmu tidak meledak." Adam tertawa. "Atau mau aku panggilkan pelayan untuk membawakan makanan lagi?"


"Untuk apa?" tanya Sultan.


"Barangkali perut kalian masih muat jika di isi dengan dessert baru andalan kafe ini." tawar Adam.


"Ide bagus," Raka menyahut secepat kilat.


"Huh, dasar!" Adam melambaikan tangannya dan tak lama seorang gadis berseragam pun datang mendekati.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya gadis itu sopan.


"Tolong bawakan tiga buah dessert andalan kafe kita ya, aku ingin teman-teman ku mencicipinya."


"Baik Pak."


Setelah kepergian pelayan wanita itu, ketiganya kembali memasang wajah serius.


"Jadi, kau kemari mau membahas soal kejadian di toko perlengkapan bayi tempo hari kan?" tanya Adam menyelidik.

__ADS_1


"Hm, dan tanpa sepengetahuanku ternyata Dion sudah membebaskan Mauryn dari kantor polisi dengan memberikan sejumlah uang sebagai jaminan," ucap Sultan.


"Semudah itukah?"


"Bukti yang di ambil dari CCTV yang ada di dalam toko tersebut di nilai kurang meyakinkan. Di tambah dengan tidak adanya saksi mata di tempat kejadian, membuat aku susah untuk melanjutkan kasus ini ke pengadilan."


"Apa tidak cukup hanya dengan memperlihatkan rekaman CCTV saja?"


"Kalau itu sudah cukup, tentunya Mauryn sudah masuk ke dalam sel tahanan sekarang."


Seperti biasa, Raka hanya menjadi pendengar setia yang siap mendengarkan cerita kedua orang di hadapannya.


"Jadi apa yang harus kita lakukan? langkah apa yang bisa kita ambil untuk membuat Mauryn kapok. Aku merasa sepertinya dia tidak akan berhenti sebelum apa yang menjadi tujuannya tercapai." Sultan meneguk isi gelasnya yang hanya tersisa setengah.


"Bukankah kau lah yang menjadi tujuan utama Mauryn? kau lah sasaran utamanya. Dia hanya akan berhenti jika dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan dan itu adalah dirimu," Raka yang sejak tadi terdiam pun menyahut.


"Gila apa? memang untuk membuat Mauryn berhenti melakukan tindak kejahatan perlu mengorbankan aku?"


"Dan apa kau pikir dia akan berhenti begitu saja? kalian yang tumbuh bersama selama bertahun-tahun saja masih belum mengetahui sifat aslinya. Dan kau," Raka menatap Sultan. "Kau paham betul orang seperti apa dia? dia akan terus berjuang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dan dia akan melakukan segala cara demi mencapai tujuannya. Kalau dia menjadikanmu sebagai sasaran utama,tentulah kamu harus menjadi miliknya. Itu yang dia pikirkan."


"Apa salah dan dosa yang telah aku perbuat hingga aku harus berada dalam situasi seperti ini?" Sultan menyugar rambutnya. "Aku hanya mencemaskan Hanum, Mauryn pasti akan kembali berbuat jahat padanya karena merasa telah merebutku dari sisi Mauryn."


Adam yang sejak tadi diam, terus memutar otak mencoba mencari cara yang efektif untuk melumpuhkan pergerakan Mauryn.


"Dam!" Sultan menyenggol bahu pria itu. "Jangan diam saja! bantu aku."


"Dasar kampret! bisa diam tidak? ini aku sedang berpikir. Kau tidak bisa lihat kalau dari tadi aku diam karena sedang memikirkan sebuah cara yang bisa membuat Mauryn berhenti mengejarmu." Adam yang kesal pun mengomeli Sultan.


Mereka bertiga kembali terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing dan itu bertahan cukup lama hingga dering ponsel di atas meja membuyarkan lamunan mereka.


"Ponselmu." Adam menunjuk sebuah ponsel dengan foto seorang wanita tengah tersenyum di layar ponsel yang terus berkedip.


Tak butuh waktu lama untuk Sultan segera meraih gawai mahalnya dengan harga fantastis itu dan meletakkannya di dekat daun telinganya.


"Ada apa Sayang?" ucapnya begitu mendengar suara wanita yang sangat dicintainya itu.


Mendengar kata sayang yang di lontarkan oleh Sultan membuat Adam dan Raka beradu tatap sejenak, keduanya pun tersenyum. Tak menyangka kalau Sultan bisa bersikap manis seperti itu pada istrinya.


"Apa?" tetap di situ sampai aku datang. Jangan kemana-mana!" teriak Sultan.


"Ada apa? apa yang terjadi?"


Sultan yang begitu khawatir dengan keadaan istrinya itu pun bergegas meninggalkan tempat tersebut tanpa menjawab pertanyaan dari Adam.


Pun sama terkejutnya, Adam dan Raka segera menyusul kepergian Sultan yang sudah tak terlihat oleh jangkauan mata mereka.


"Ada apa lagi ini?" gumam Raka.


"Kita harus mengikuti kemana dia pergi."


Keduanya mengambil langkah seribu, tak mau tertinggal lebih jauh lagi jika mereka terus berlama-lama di sana.

__ADS_1


.


__ADS_2