
Cinta baru saja selesai menyapu halaman pagi itu. Gadis itu melanjutkan kegiatannya dengan menyirami tanaman, lalu kembali masuk ke dalam rumah saat matahari mulai naik.
"Cuaca yang memang panas atau hormon kehamilan yang membuatku mudah sekali kepanasan," gumam Cinta. Membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol air dari sana.
Setelah duduk di kursi dan dirasa tak lagi berkeringat, Cinta pun memutuskan untuk mandi. Menjadi pengangguran benar-benar membosankan. Beruntung Cinta masih memiliki tabungan untuk melahirkan dari sisa uang penjualan rumahnya, gaji sewaktu mengajar juga dia sisihkan sebagian.
Cinta mulai menanggalkan pakaiannya, hingga tiba saat dia membuka celanaa dalaamnya, gadis itu memekik saat melihat bercak darah di sana.
"Ya Tuhan, Kenapa ini bisa terjadi?"
Titik-titik air di wajah Cinta mengalir bersamaan dengan air yang mengguyur tubuhnya. Cinta meringkas ritual mandinya dan bergegas menuju rumah sakit.
"Mbak nggak apa-apa?" Tanya supir taksi ketika melihat Cinta meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Nggak apa-apa Pak, hanya sedikit sakit."
"Mbaknya lagi hamil, memang suaminya kerja di luar kota ya, kok sendirian? Memangnya keluarga Mbak di mana?"
"Saya yatim piatu Pak," beritahu Cinta.
"Setidaknya minta ditemani tetangga Mbak, saya yang lihat malah nggak tega. Nggak bisa bayangin deh kalau hal ini terjadi sama istri saya. Maaf ya Mbak, bukannya saya lancang ngajak Mbak ngobrol soal pribadi."
"Nggak apa-apa Pak. Kalau bisa Bapak lebih cepat lagi nyetirnya."
"Ini sudah sampai Mbak."
Cinta menengok ke jendela, dan mereka memang telah sampai di lobi rumah sakit.
"Terima kasih ya Pak." Cinta menyodorkan selembar uang kertas berwarna biru."
"Kembalinya Mbak!"
"Buat Bapak aja."
Cinta mempercepat langkahnya menuju poli kandungan. Jadwal praktek Dokter Rania hampir habis ketika Cinta tiba di sana.
Tak lama setelah pasien terakhir keluar, Cinta pun segera memasuki ruang periksa begitu namanya dipanggil.
"Pagi Dok," sapa Cinta dengan suara bergetar.
"Lho, Bu Cinta datang lagi? Ada keluhan?" Tanya Rania.
"Iya Dok."
"Silakan berbaring ya Bu, biar saya periksa. Apa keluhannya?"
"Tadi sebelum saya mandi, ada noda darah cukup banyak di pakaian dalam saya Dok, saya takut terjadi sesuatu dengan bayi saya," beber Cinta.
"Bu Cinta tenang ya. Saya akan periksa untuk memastikan kondisi bayi dalam kandungan Ibu. Saya tinggal ke toilet sebentar saja ya Bu, maaf," pamit Rania.
"Ya Bu."
Lima menit berselang, Rania kembali dan langsung menyiapkan peralatan medisnya. Semua gerakan wanita itu dilakukan dengan sepelan mungkin, berusaha mengulur waktu setelah memastikan kondisi bayi Cinta baik-baik saja tentunya.
Cinta berbaring, dan seperti biasa suster mengoleskan gel khusus di perutnya. Tubuh gadis itu sedikit bergetar, ketakutan tergambar jelas di raut wajahnya. Dalam hati Cinta terus merapal doa untuk keselamatan bayinya.
William berlari menyusuri lorong rumah sakit begitu dia selesai memarkirkan mobilnya. Tubuhnya beberapa kali terhempas ketika berpapasan dengan pengunjung rumah sakit, sementara tak jauh di belakangnya, Sultan dan Hanum membuntutinya.
William berdiri di depan pintu ruang periksa poli kandungan. Tubuhnya gemetaran, napasnya memburu disertai keringat yang membanjiri pori-pori kulitnya.
"Ma!" Sultan menahan istrinya.
"Ada apa Mas?" Tanya Hanum, heran.
"Biarkan mereka berdua, mereka butuh bicara. Cukup awasi mereka dari jauh saja untuk membayar kerinduan Mama sama Cinta," kata Sultan.
Wanita cantik itu mengangguk lalu mengikuti suaminya menuju jendela kaca di bagian samping yang memang sedikit terbuka gordennya.
"Apa nggak apa-apa kita ngintip di sini Mas? Ini kan akses jalan khusus petugas paramedis."
"Nggak apa-apa," sahut Sultan.
__ADS_1
William membuka pintu ruang itu dan berjalan dengan mantap menuju kursi di dekat brankar di mana wanita yang sangat ia rindukan itu sedang berbaring lemah.
Cinta tertegun, matanya membulat. Dia begitu syok hingga tak ada satu pun kata yang terucap dari bibirnya. Cinta merasa seperti melihat suaminya, ya ... William suaminya. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan yang tak bisa Cinta terjemahkan. Cinta merasa seperti sedang bermimpi.
"Maafin aku ya udah buat kamu nunggu lama, aku sedikit terlambat karena jalanan macet tadi," ucap William. Lelaki itu duduk di dekat bed Cinta, berseberangan dengan Rania.
Lelaki itu meraih jemari Cinta dan menggenggamnya erat, lalu sebuah kecupan ia berikan di kening Cinta. Cukup lama.
Cinta merasakan semilir angin menyusup ke dalam relung hatinya, terasa begitu menyejukkan setelah sekian lama dilanda gersang. Entahlah, Cinta merasa kecupan itu begitu mendalam. Gadis itu masih membisu, pun ketika dia merasakan titik-titik air menetes di dahinya. Ya, William menangis, tapi sayangnya Cinta masih belum mengetahui penyebab lelaki itu menurunkan egonya dengan menangis di hadapannya.
Rania memalingkan wajahnya lalu dengan cepat menyeka genangan di sudut matanya sebelum cairan itu berhasil jatuh. Begitupun dengan dua perawat yang berdiri menyaksikan pemandangan mengharukan itu.
Mereka telah mengetahui cerita yang sebenarnya ketika Willmar memaksa Rania untuk memberitahukan alamat Cinta waktu itu. Tak dipungkiri, perasaan mereka ikut tercabik-cabik ketika melihat pertemuan antara William dan Cinta.
"Saya suaminya Cinta, Dok," aku William.
Cinta menatap tajam lelaki itu. Bukankah hubungan mereka sudah berakhir, lalu kenapa dengan entengnya William mengatakan itu?
Namun, lagi-lagi Cinta tak dapat berkata apa-apa, dia terlalu larut dalam perasaan haru.
"Oh, baiklah kalau begitu. Kita lanjutkan pemeriksaannya ya," ujar Rania.
Wanita cantik berkacamata itu sibuk memutar tranducer.
"Gimana keadaan bayi saya Dok?" Tanya Cinta.
"Syukurlah bayi Bu Cinta baik-baik saja. Detak jantungnya kuat dan pergerakannya juga sangat lincah, posisi dan semuanya aman jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jelas Rania.
Cinta menghembuskan napas lega. "Syukurlah Dok, terima kasih banyak."
"Iya. Bu Cinta mengalami sedikit pendarahan karena terlalu capek dan juga stress. Tolong kurangi aktivitas berat-berat ya, dan usahakan jangan sampai stress. Terlalu banyak pikiran juga bisa berdampak pada bayi dalam kandungan Ibu," papar Rania.
"Iya Dok."
"Dok, apa jenis kelaminnya sudah terlihat?" Tanya William, membuat Cinta dan Rania saling bertatapan.
"Sudah Pak, bayinya laki-laki dan dia bayi yang kuat seperti ibunya. Banyak sekali keluhan Bu Cinta sejak pertama kali mengandung, tapi cintanya pada sang jabang bayi membuat mereka saling menguatkan satu sama lain."
Suster membantu mengelap perut Cinta dan merapikan kembali pakaiannya, sementara William tanggap dengan mengambil sepatu Cinta dan membantu gadis itu bangun dari bed.
Tak ada penolakan meskipun Cinta masih mengunci rapat mulutnya pada pria itu.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi pada istri saya Dok?" William duduk di depan meja kerja Rania. Merasa kurang puas dengan penjelasan dokter itu tadi, membuat William menanyakan hal itu.
"Seperti yang saya bilang tadi Pak, Bu Cinta mengalami stress, dia juga kelelahan itu yang membuatnya mengalami pendarahan."
"Tapi tidak buruk kan? Tadi dokter bilang bayi kami baik-baik saja," cecar William.
"Ya, beruntungnya bayi kalian kuat, tapi mohon untuk lebih diperhatikan lagi kondisi istri Anda. Wanita hamil, apalagi pada kehamilan pertama itu biasanya sangat riskan. Baik itu secara mental dan fisik, belum lagi hormon kehamilan yang membuat moodnya cepat berubah-ubah."
"Saya akan lebih memperhatikan istri saya lagi Dok, tolong berikan penanganan terbaik dan vitamin yang paling mahal," pinta William.
"Tentu Pak."
Sedari tadi Cinta terus terdiam. Sesekali dia mencuri pandang pada William, benar-benar seperti mimpi, tapi ini kenyataan.
"Silakan tebus obatnya di bagian farmasi ya Pak," ucap Rania seraya menyodorkan secarik kertas.
"Terima kasih banyak Dok. Terima kasih karena sudah membantu istri saya merawat bayinya dengan baik." William membungkuk hormat sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.
"Sama-sama Pak. Ke depannya lebih dijaga lagi ya istri dan bayinya," pesan Rania.
"Pasti Dok. Permisi, sekali lagi terima kasih."
William membantu Cinta berdiri dari kursinya. Lelaki itu menyelipkan tangannya di tengkuk dan juga lipatan kaki Cinta.
"Mas mau apa?" Tanya Cinta.
"Kamu kan masih lemah, aku takut kamu nggak kuat jalan."
"Aku masih bisa jalan kok, lagian perutku udah nggak sakit lagi," kata Cinta.
__ADS_1
"Ya udah pakai kursi roda aja ya, takut kamu malu kalau aku gendong," bujuk William.
"Nggak usah Mas! Aku masih kuat jalan kok," ucap Cinta, bersikeras.
"Ya udah, ayo. Pelan-pelan aja jalannya ya!" Ujar William memperingati.
"Kasihan Bu Cinta ya Dok, saya bisa merasakan kebahagiaan sekaligus kesedihan di matanya saat dia melihat kedatangan mantan suaminya tadi," ucap salah seorang perawat begitu dua orang itu lenyap dari pandangannya.
"Iya, saya pun merasa sangat trenyuh Sus. Semoga saja Tuhan memberikan jalan cinta yang indah untuk mereka, terlebih dengan hadirnya anak di antara mereka yang saya yakini akan bisa memperkuat hubungan mereka," timpal Rania.
Di tempat parkir.
William membukakan pintu mobil untuk Cinta. Lelaki itu baru tahu kalau ternyata orang tuanya pamit pulang terlebih dulu karena ia baru saja membaca pesan yang dikirimkan oleh Sultan.
Cinta membuang muka ketika wajah William berada tepat di depan wajahnya, William tengah memakaikan sabuk pengaman di tubuh Cinta.
"Minum dulu ya, kamu keringetan dari tadi."
Setelah menyodorkan sebotol air, dengan cekatan William menyeka keringat Cinta dengan sapu tangannya.
"Berapa usianya? Boleh aku menyentuhnya?" Tanya William, memandangi perut Cinta yang sudah membesar.
"Masuk tujuh bulan," jawab Cinta tanpa menatap lelaki itu.
Sedikit ragu, William mengulurkan tangannya. Diusapnya pelan dengan penuh kelembutan perut Cinta.
"Sayangnya Ayah. Maafin Ayah ya yang terlambat mengetahui kehadiranmu," ucap William. Berulang kali dia mengecup perut Cinta.
Cinta menyusut wajahnya yang mulai basah. Hari ini, untuk pertama kalinya dia merasakan bagaimana rasanya diperlakukan oleh seorang suami. Terlepas dari hubungan mereka saat ini.
Pun sama dengan Cinta, tangis di wajah William tak kunjung reda. Detik berikutnya tangis pria itu kian menjadi saat dia merasakan pergerakan yang sangat lincah pada perut Cinta.
"Ya Tuhan, ini Ayah Sayang. Baik-baik di dalam sana, jangan nakal sama ibumu. Kalian harus tetap sehat dan saling menguatkan satu sama lain sampai pada waktu kita bertemu nanti," William tersedu. Ini pengalaman pertamanya merasakan tendangan bayinya, darah dagingnya.
Bayi dalam perut Cinta terus bergerak seolah dia bersorak gembira karena mengetahui kehadiran sang ayah.
'Sebegitu bahagianya kamu Sayang? Ya, ini tangan ayahmu Nak,' Cinta membatin.
"Sssh, auw!" Cinta meringis saat bayi dalam perutnya terus beratraksi. Tendangannya terasa nyeri.
"Apa dia terus bergerak lincah seperti ini?" William menatap lekat wajah Cinta.
Cinta menggeleng pelan. "Baru kali ini."
"Mungkin dia tahu kalau aku ini ayahnya," William menimpali.
"Ssshh! Aaaah, ya Tuhan," Cinta kembali mendesis kesakitan.
William kembali mengusap perut itu. "Sayang, anak Ayah, jangan nakal ya sama ibumu, kasihan dia ya," ucap William pada bayinya. Kecupan kembali dia berikan di perut Cinta berkali-kali.
Lambat laun Cinta mulai merasakan bayinya kembali tenang.
'Sepertinya kamu bahagia sekali Nak bertemu dengan ayahmu? Bunda belum pernah merasakan kamu menendang dengan kerasnya, lalu setelah ayahmu menasehati, lantas kau menjadi penurut.'
Ah, sungguh tak ada kata yang dapat mewakilkan perasaan Cinta kali ini.
William menyalakan mesin mobil dan mulai melajukannya di tengah keramaian jalanan Ibukota.
Sepanjang perjalanan Cinta terus membungkam mulutnya, gadis itu bingung harus berkata apa. Seharusnya William yang lebih dulu membuka obrolan, tapi pada akhirnya Cinta biarkan saja lelaki itu berbuat semaunya. Hingga Cinta menyadari jika jalan yang dilaluinya saat ini bukan jalan menuju arah pulang.
"Mas, kau mau membawaku ke mana?"
"Nanti kau juga akan tahu," jawab William, singkat.
"Jangan macam-macam Mas!"
"Aku hanya mau satu macam saja Cinta. Kau tenang saja, aku tidak mungkin menyakiti hati wanita yang aku cintai. Sudah cukup banyak dosa dan kebodohan yang aku lakukan, sekarang tidak lagi. Kau akan melihat William yang baru."
Cinta merasa hatinya menghangat. Tak dapat dipungkiri jika dia merasa sangat bahagia saat ini, tapi bersamaan dengan itu juga Cinta merasa takut. Dia tak boleh terbuai dengan sedikit perlakuan manis William.
Bersambung ....
__ADS_1
Gimana? masih mau lanjut? semoga masih suka ya dengan tulisan recehku. Hm, kalo kalian pecinta novel mengandung bawang, kalian wajib banget mampir baca Rubber Band, tulisanku di sebelah. Kalian tahu aplikasi ungu dengan lambang kuda kan? Kalian bisa klik nama penaku Pink Princess, nanti muncul ada 4 ceritaku di sana. Salam sayang buat kalian semua yang telah mengikuti kelanjutan cerita ini. Aku tanpa kalian bukanlah apa-apa, terima kasih atas dukungan kalian selama ini 🙏🤗😘😘😘😘