Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Rahasia


__ADS_3

Jika William dan Cinta memutuskan untuk mengarungi samudera mimpi usai resepsi berakhir, lain halnya dengan Willmar dan Raisa.


Suasana kamar yang begitu syahdu, dalam cahaya remang-remang, Willmar menaiki kasurnya perlahan. Ditatapnya penuh cinta wajah wanita yang saat ini telah halal baginya.


"Will, jangan memandangiku seperti itu! Aku malu," cicit Raisa seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Biasanya juga ngajakin berantem, sekarang masa malu sama suami sendiri," tukas lelaki itu.


"Beneran Will, tatapanmu itu ..."


"Apa," sambar Willmar. Pelan tapi pasti, tangan pria itu berusaha menurunkan jemari Raisa. Didekapnya tubuh mungil wanita yang telah resmi menyandang gelar sebagai seorang istri Willmar Rayi Chandra Pradipta itu. "Aku mencintaimu, gadis kecilku," bisiknya.


Raisa memejamkan mata saat benda kenyal nan basah itu mendarat di keningnya. Suasana haru berpadu bersama rasa malu dan juga takut.


"Will, tidak bisakah kau ..."


"Tidak!" Willmar yang terlanjur mengetahui apa yang akan dikatakan Raisa pun dengan tegas menolaknya. "Aku sudah lama menantikannya, rasanya sungguh menyiksa kau tahu itu. Kau tidak memiliki alasan untuk menolak jadi jangan halangi aku untuk mendapatkan hakku malam ini."


"Tapi aku takut," cicit Raisa, manja.


"Takut pada apa? Aku ini suamimu, kau yang benar saja," desis Willmar.


"Temanku bilang, rasanya akan sangat menyakitkan jika kita melakukan untuk yang pertama kalinya."


"Lalu apa temanmu juga bilang kalau setelahnya dia akan merasakan kenikmatan yang tiada tara?"


"Will, aku serius," sergah Raisa.


"Aku lebih dari serius. Coba kau hubungi temanmu yang mengatakan hal itu padamu, tadi. Tanyakan padanya bagaimana rasanya setelah mencicipi kegiatan itu? Aku yakin seribu persen, yang terjadi sekarang pasti berbanding terbalik dengan saat pertama kali mereka melakukannya. Bisa jadi, temanmu itulah yang lebih sering meminta setelah tahu bagaimana rasanya," oceh Willmar panjang lebar.


Raisa terkekeh melihat suaminya begitu berapi-api mengatakan hal itu. "Ya sudah, iya," pasrahnya kemudian.


"Aku akan melakukannya dengan lembut, percayalah. Jadi sekarang mau alasan apa lagi?"


Raisa tersipu. Gadis itu menggeleng pelan lalu sedetik kemudian dia menyambar bibir Willmar. Gayung bersambut. Willmar yang memang telah menantikannya sejak lama pun membalas serangan Raisa.


Bunyi decapan bibir memenuhi ruangan itu. Keduanya terus berbagi rasa hingga tak sadar kini tubuh mereka telah sama-sama polos. Willmar menurunkan ciumannya, menelusuri setiap lekuk tubuh Raisa yang membuatnya tergila-gila. Berhenti tepat di bukit menantang dengan pucuknya yang menggiurkan, Willmar mulai bermain-main di sana.


Geli bercampur dengan rasa ingin lebih dari itu, dapat Raisa rasakan. Desahan nakal terus lolos dari bibir tipis itu terlebih saat Willmar memainkan kedua puncaknya dalam waktu yang bersamaan sekaligus. Lidah Willmar terus menari, pun dengan tangannya yang terus aktif bergerilya.


"Ssshhh, Will!" Tanpa sadar, Raisa menjambak rambut lelaki itu. Semakin menekan kepala Willmar, seolah menyuruhnya untuk terus beraksi.


"Ini belum seberapa, aku akan memberikan yang jauh lebih nikmat melebihi apa yang bisa kau bayangkan," selesai mengucapkan itu Willmar pun melanjutkan aksinya.


Puas bermain di dua bukit itu, Willmar beralih menuju satu titik yang membuatnya tak sabar untuk segera mencicipinya. Lelaki itu membuka lebar kaki Raisa, membuatnya kepayahan menelan salivanya.


Merasa diperhatikan, Raisa reflek menutupi daerah terlarangnya. Ia bergidik ngeri melihat tatapan suaminya yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.


"Singkirkan tanganmu! Aku tidak suka ada yang menutupi jalanku," bisik Willmar sebelum akhirnya menaiki tubuh mungil itu.

__ADS_1


"Will!" Cegah Raisa.


"Rileks Rai, ini tidak semenakutkan yang kau kira."


Setelah memastikan jalannya terbuka lebar, Willmar pun mulai mengarahkan pusakanya tepat di depan lembah kenikmatan itu.


"Eungh!" Raisa melenguh, tubuhnya bergetar hebat manakala merasakan sesuatu yang keras berusaha mendobrak pertahanannya.


Sekali.


Dua kali.


Tiga kali.


Willmar masih terus berusaha memasuki gadis itu. Dia tahu akan sulit baginya mengingat ini adalah yang pertama bagi keduanya, tapi dia tidak mengira akan sesulit ini. Tak peduli Raisa terus menjerit menahan sakit, Willmar masih gencar membobol gawang.


Taburan kelopak bunga mawar merah di atas kasur berhamburan, seprai juga sudah terlepas akibat perbuatan Raisa menjadikannya sebagai pelampiasan.


"Will," rengek gadis itu, tapi jangan harap Willmar akan mendengarkannya di saat gairah lelaki itu telah berada di atas ubun-ubun.


"Sedikit lagi Rai, tahan."


"Sakit ..." Rengeknya, lagi.


Willmar membenahi posisinya, dia kembali mengarahkan senjatanya di sana kemudian dengan satu kali hentakan, ia berhasil. Willmar tersenyum penuh makna saat merasakan sesuatu mengalir di bawah sana. Cairan merah segar menodai seprai itu, membuat Willmar semakin menggila.


"Argh!" Jerit Raisa. Matanya mendelik menahan sakit hingga setetes cairan mengalir begitu saja.


"Sakit, Will."


"Akan berganti menjadi rasa yang sulit untuk kau jelaskan, tidak lama lagi," rayunya, ciuman panas kembali dia lakukan untuk meredam kesakitan Raisa.


Perlahan, Willmar mulai menggerakkan pinggulnya setelah dirasa istrinya mulai menerima kehadirannya. Willmar terus mengurung Raisa dalam kungkungannya. Gerakannya semakin cepat dalam menyiksa istrinya dengan kenikmatan yang bertubi-tubi.


Lambat laun, rengekan Raisa berubah menjadi desahan yang mengundang Willmar untuk semakin mempercepat permainannya. Lelaki itu tersenyum saat wajah cantik Raisa telah basah bermandikan peluh. Binar kebahagiaan berpadu dengan nikmat tak terperi membuat kecantikan Raisa nampak semakin menawan, jangan lupakan ekspresi wajahnya. Mata setengah terpejam dengan bibir terbuka menyebut nama suaminya, menunjukkan betapa gadis itu begitu menikmati permainan yang Willmar suguhan untuknya.


Raisa merintih tertahan saat merasakan gerakan Willmar yang makin tak terkendali, hingga akhirnya Willmar menyentak dengan sangat kuat. Raisa merasakan sesuatu yang hangat menyembur di rahimnya. Napas keduanya memburu lalu Willmar ambruk di samping istrinya. Keduanya saling memeluk menikmati sisa gelombang kenikmatan yang sempat menggulungnya tadi.


Napas Willmar masih memburu. Tubuhnya gagahnya mengkilat dibanjiri keringat. Rona kepuasan begitu kentara di wajah masing-masing.


"Terima kasih Sayangku," bisik Willmar.


"Aku mencintaimu," Raisa menyahut.


"Aku juga."


Mengambil jeda sejenak, Willmar kembali mengulangi aksinya. Tak peduli Raisa terus menolak, Willmar gigih membujuk gadis itu agar mendapatkan apa yang diinginkannya.


Malam masih panjang. Di bawah siraman cahaya perak, dewi malam menjadi saksi betapa ritual indah itu masih akan terus berlangsung hingga pagi menjelang.

__ADS_1


.


.


Matahari mengintip di ufuk timur, cahayanya yang menembus celah jendela begitu menyilaukan mata.


Cinta terbelalak saat melihat jam digital di atas nakas, untuk pertama kali dalam sepanjang hidupnya, ia bangun terlambat. Buru-buru dia memasuki kamar mandi.


Tak butuh waktu lama, Cinta keluar dengan tubuh yang jauh lebih segar. Floral dress selutut dengan tali spaghetti di bagian lengan membalut tubuhnya. Mendekati kasur dengan sehelai handuk baru.


"Mas ... Bangun Mas, sudah siang."


Tak ada sahutan. William masih tenggelam dalam mimpinya.


"Mas, bangun!" Kali ini disertai guncangan kecil di bahu William.


"Raisa! Astaga!" William terperanjat, pun dengan Cinta yang hampir jatuh karena kehilangan keseimbangannya.


'Siapa Raisa, dua kali dia mengigau memanggil nama itu,' Cinta membatin.


"Maafkan aku Cinta, aku pasti mengagetkanmu. Aku lupa kalau aku sudah menikah," ucap William, serak.


"Tidak apa-apa, sekarang sebaiknya Mas mandi dulu. Tadi Mama Hanum telepon katanya keluarga besar sudah menanti di bawah untuk sarapan," jelasnya seraya menyodorkan handuk.


Tatapan orang-orang terus tertuju pada Cinta dan Raisa, juga pada lelaki kembar yang baru saja melepas masa lajang. Mandapati hal seperti itu membuat Cinta malu, terlebih saat keadaannya jauh berbeda dengan istri saudara kembar suaminya.


Rambut Raisa yang setengah basah lengkap dengan cara berjalannya yang sedikit aneh, juga wajahnya yang berbinar-binar, cukup menjadi bukti bahwa telah terjadi sesuatu di antara dia dan Willmar.


"Maaf membuat kalian menunggu," ujar William.


"Ah, tidak masalah. Kami para orang tua paham. Ayo silakan duduk, Opa sudah sangat lapar," kata Arya.


Semua orang mulai menghabiskan sarapannya. Obrolan Willmar dan istrinya yang terdengar mendominasi di meja bundar itu, selebihnya, menjadi pendengar setia saja.


"Kak Will! Lihat Willmar, dia mencuri ayamku, Kak." Dengan manjanya, Raisa mengadukan perbuatan suaminya pada orang yang selalu dia sanggap pahlawan sejak kecil.


"Will! Jaga sikapmu!" Seru Sultan memperingati.


"Cuma bercanda Pa."


"Sudah! Nih, makanlah ayamku." William memindahkan sepotong ayam dalam piringnya ke dalam piring Raisa.


"Terima kasih Kakakku yang tampan," godanya.


"Kakak ipar, maafkan Raisa ya. Sejak kecil istriku memang manja dan terbiasa bergantung dengan Kak Willi," celetuk Willmar.


Deg.


Darah Cinta berdesir saat mendengar nama itu disebut. Nama yang bahkan diingat oleh suaminya hingga alam bawah sadarnya. Dua kali. Dua kali Cinta mendengar William menyebut nama itu. Dirinya berusaha keras menyangkal pikiran- pikiran negatif, tapi berbeda dengan hatinya. Hatinya berkata seperti ada rahasia besar yang William sembunyikan darinya.

__ADS_1


Bersambung ....


*Happy reading Kesayanganku 😍😍😍, semoga suka dengan jalan ceritanya ya 🙏 mohon bantuannya dengan like, Vote dan jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar 🙏🙏🙏 membaca komentar positif dari kalian adalah penyemangatku agar aku bisa terus menulis. Terima kasih, Saranghaeyo ❤️❤️❤️


__ADS_2