
Cinta mengerjapkan matanya, menatap langit-langit kamar bernuansa putih yang dia yakini bukan kamarnya.
"Sayang, kamu udah sadar?" Hanum begitu bersemangat. "Kak, cepat panggil dokter!" Titah wanita itu pada William.
"Iya Ma."
Cinta masih berusaha mengumpulkan segenap kesadarannya. Ia terdiam, sibuk memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi. Pun ketika Dokter Rania selesai memeriksanya.
"Jadi bagaimana kondisi Cinta Dok?" Tanya William begitu melihat wanita itu selesai memeriksa Cinta.
"Terlalu stress dan mengalami tekanan darah rendah, itu yang membuat Bu Cinta jatuh pingsan."
"Tapi dia baik-baik saja kan Dok? Bayi kami nggak apa-apa kan?" Kecemasan tergambar jelas di wajah William.
"Iya. Ibu dan bayinya baik-baik saja, mohon lebih hati-hati lagi menjaganya ya Pak. Sementara sebaiknya Bu Cinta di rawat dulu, setidaknya sampai besok pagi," beritahu Rania.
"Ya Dok, terima kasih banyak."
"Sama-sama. Saya permisi dulu ya," pamit Rania.
Hanum mengusap puncak kepala Cinta. "Sayang, minum dulu ya." Menyodorkan air pada Cinta.
"Terima kasih," ucap Cinta seraya mengembalikan gelas kosong pada Hanum.
"Kamu makan dulu ya, dari tadi kata William kamu belum makan."
Cinta menggeleng. "Aku nggak lapar Ma."
"Sayang, nggak boleh gitu. Kasihan bayi kamu. Biarpun nggak nafsu, dicoba sedikit-sedikit ya," bujuk Hanum.
"Karena Cinta udah sadar, Papa pulang dulu ya, ada banyak kerjaan yang lupa Papa bawa ke sini tadi," ucap Sultan.
"Ya Pa. Terima kasih," ucap Cinta.
"Kamu jaga kesehatan ya." Cinta mengangguk. Sultan beralih menatap istrinya. "Papa pulang dulu ya, nanti malam Papa sama yang lain ke sini lagi. Kamu jangan kecapekan ya," pesannya pada Hanum.
"Iya Pa. Hati-hati di jalan."
Sultan pergi usai mengecup kening Hanum. Hal itu sempat menjadi sorotan Cinta, dan saat itulah timbul rasa iri dalam dirinya.
Melihat rumah tangga mantan mertuanya yang harmonis hingga di usia pernikahan yang sekarang tentu saja terlihat sangat membahagiakan. Tak seperti ketika mengingat rumah tangganya yang hancur ketika pernikahannya masih berumur jagung.
"Ayo di makan," rayu Hanum.
Melihat ketulusan di mata wanita paruh baya yang masih cantik itu membuat Cinta tak tega. Gadis itu pun akhirnya membuka mulut menerima suapan Hanum.
"Hoek ... Hoek ..."
Belum juga nasi itu masuk ke dalam lambung, perut Cinta sudah memberontak.
William tanggap dengan menggendong Cinta dan membawanya ke kamar mandi.
"Hoek ... Hoek ... Hoek." Cinta terus berdiri di depan wastafel. William membantu memijit tengkuk Cinta pelan.
"Apa kamu masih merasa mual di usia kandungan sekarang?" Hanum menyusul dengan secangkir teh jahe.
__ADS_1
Cinta mengangguk. "Kadang-kadang aja Ma, nggak setiap hari."
William menarik beberapa lembar tisu dan menyeka mulut Cinta. Setelah kondisi Cinta cukup membaik, pria itu kembali menggotongnya ke dalam.
"Mama kenapa nangis? Aku nggak apa-apa kok Ma," ujar Cinta yang melihat Hanum menitikkan air mata.
"Mama sedih. Kamu pasti kesulitan selama ini dengan kondisi kamu sendirian." Hanum begitu trenyuh. Perasaannya yang halus membuatnya dapat merasakan derita Cinta yang hamil tanpa didampingi suami.
"Jangan nangis dong Ma. Aku nggak apa-apa, beneran. Cucu Mama ini anak yang kuat, sedikitpun dia nggak pernah merepotkan aku. Dia pengertian Ma," beber Cinta.
William terpaku. Ada banyak sekali kata yang ingin dia ucapkan, tapi entah mengapa lidahnya terasa kelu.
"Terima kasih sudah menjaga cucu Mama dengan baik, Sayang."
"Iya Ma. Udah dong, jangan nangis."
"Kamu juga jangan nangis." Hanum memeluk Cinta.
Melihat Hanum membuat Cinta teringat pada ibunya dan itu membuatnya sangat sedih.
William membuang muka, tak tahan melihat dua wanita itu menangis. Dia merasa menjadi lelaki paling hina di dunia karena telah menimbulkan kekacauan dan menyebabkan Cinta sengsara.
"Sekarang kamu makan ya? Mama ganti makanannya, siapa tahu dengan begitu kamu jadi nafsu makan. Kamu mau makan apa Nak?" Hanum menyeka lelehan air asin di wajah Cinta.
"Apa aja Ma, terserah Mama."
"Kok terserah Mama? Jangan gitu dong Sayang, kan kamu yang mau makan. Ayo, katakan kamu lagi mau makan apa?"
"Apa aja Ma, beneran terserah Mama."
"Ayolah lah Sayang? Masa kamu nggak kepengin apa-apa sih," bujuk Hanum lagi.
Cinta terlihat berpikir sejenak. Dia ragu mengatakannya, akan tetapi dia memang sedang menginginkan sesuatu saat ini.
"Ayo Sayang, makin lama kamu diam, makin kasihan bayi kamu kelamaan nggak dikasih makan bisa kelaparan," bujuk Hanum lagi.
"Hm, itu Ma ..."
"Apa? Kamu kepengin makan apa?"
"Garang asem sama pepes jamur," sebut Cinta.
"Apa lagi?"
"Udah, itu aja Ma."
"Yang lainnya lagi?"
"Belum mau Ma," sergah Cinta.
"Ya udah, aku cari dulu." William meraih kunci mobil di atas nakas.
"Maafin aku ya udah bikin kamu repot," lirih Cinta.
"Ngomong apa sih kamu? Aku sama sekali nggak merasa direpotkan. Nanti kalau misalnya ada lagi yang mau dimakan, kamu kasih tahu Mama aja, biar Mama hubungi aku," balas William.
__ADS_1
Cinta mengangguk.
Dengan hati gembira, William melajukan mobilnya mencari makanan yang diinginkan ibu dari anaknya itu. Bisa saja William memesannya melalui aplikasi, tapi rasanya dia sendiri ingin mencarinya.
Setelah berkendara lima belas menit, William pun mendapatkan apa yang dicarinya. Buru-buru dia memutuskan untuk pulang, tak sabar rasanya melihat Cinta memakan makanannya.
Senyuman terus terkembang di bibir William sepanjang perjalanan menuju rumah sakit hingga tiba-tiba dering ponsel mengalun indah.
"Iya Ma," kata William begitu mengangkat panggilan masuk yang ternyata dari Hanum.
"Kak, Cinta mau rujak mangga muda sama jus sirsak katanya. Kamu beli di kantin rumah sakit ya," ujar Hanum.
"Iya Ma, siap. Suruh Cinta tunggu sebentar lagi ya, aku baru sampai di rumah sakit ini."
"Iya Sayang."
Tak berselang lama. William memasuki ruang rawat Cinta dengan tangan menenteng kantong plastik berisi makanan pesanan Cinta.
"Sekarang kamu makan ya." Hanum menyiapkan semua makanan itu dan menaruhnya di meja lipat. "Mama mau keluar dulu sebentar, tadi oma kamu telepon tapi belum sempat Mama jawab."
"Iya Ma," sahut Cinta.
"Kakak di sini aja ya, takut Cinta butuh apa-apa," ujar Hanum pada anaknya.
"Ya Ma."
Hanum pun segera berlalu dari sana. Dia tidak benar-benar menghubungi Ratih karena sesungguhnya dia hanya ingin memberikan waktu untuk dua orang itu ruang untuk bicara.
"Dimakan dong, katanya kamu itu. Kasihan bayi kita kalau kamu nggak makan," kata William.
Sedari tadi Cinta hanya menatap makanan itu.
"Cinta," panggil William.
"Ah, iya." Cinta terkesiap.
"Makan!"
Cinta menatap manik mata lelaki di hadapannya. "Mas, mau nggak suapin aku? Dari dulu aku pengen makan disuapi kamu," cicit Cinta malu-malu.
"Kenapa nggak bilang dari tadi, heum?" William mengambil meja lipat itu dan menaruhnya di nakas. Meraih piring dan mulai menyuapkan makanan itu pada wanita yang kini bertahta di hatinya.
'Aku akan membayarnya Cinta. Akan aku pastikan untuk membayar semua perbuatanku padamu,' batin William.
Kebahagiaan yang pria itu rasakan sungguh tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Kedua telaga beningnya berembun, apalagi ketika melihat Cinta makan dengan lahap.
"Anak Ayah makan yang banyak ya biar kuat dan sehat," ujarnya lembut sambil mengelus perut Cinta.
Dengan telaten William mengurus Cinta, hingga pada sore harinya, tak lama setelah acara makan itu selesai, Cinta langsung istirahat.
Lagi, William merasa bahagia melihat Cinta tertidur pulas. Wajah damai dengan mata teduh itu, sekali lagi akan dia perjuangkan. Bukan semata karena ada benihnya yang tumbuh di rahim wanita itu, bukan.
Namun, karena William membutuhkannya. William kini menyadari satu hal, bahwa dia membutuhkan Cinta layaknya dia membutuhkan udara untuk bernapas. Tak peduli jika harus melakukan banyak hal agar Cinta mau memberikan satu kesempatan padanya, William akan lakukan apapun asalkan Cinta mau kembali padanya.
Bersambung ....
__ADS_1