
William terus menghiisap bibir Cinta. Bibir ranum merah jambu yang terasa manis. Sebelah tangannya dia gunakan untuk menahan tengkuk Cinta, sementara tangan kirinya terus mengunci tubuh gadis itu.
Gemas karena tak mendapatkan perlawanan, William menggigit kecil bibir bawah Cinta. Tak menyia-nyiakan kesempatan, begitu celaah itu terbuka lebar, William segera saja menelusupkan lidahnya. Menjelajah setiap inci rongga mulut istrinya.
Cinta meremas kemeja yang membalut tubuh kekar suaminya. Ciuman panas yang dilakukan William terasa begitu memabukkan hingga dia merasa terbuai. William baru melepaskan bibirnya saat dilihatnya Cinta tersengal.
Perlahan, tautan di bibir mereka terlepas. Perlakuan William begitu hati-hati dan penuh kelembutan. Lelaki itu mengusap bibir Cinta dengan ibu jarinya, lalu detik berikutnya dia menghadiahkan sebuah kecupan di kening Cinta.
"Manis, rasa stroberi. Kau harus membalasku jika nanti saya kembali mengambilnya darimu," bisik William. Kecupan singkat kembali dia benamkan di bibir Cinta.
Ucapan lelaki itu sukses membuat Cinta tersipu. Rona merah tak dapat Cinta sembunyikan sekalipun dia telah menundukkan kepalanya. Pipinya memanas seiring dengan kupu-kupu yang berterbangan di dadanya.
Belum lagi Cinta dapat menguasai dirinya, dia kembali dibuat terkejut saat William menggandeng mesra tangannya.
"Duduklah! Saya sudah memesan makan siang agar kita bisa makan bersama," ujar William.
Cinta menjawabnya dengan sebuah anggukan. Lidahnya terasa kelu, bingung hendak berkata apa, hingga akhirnya dia putuskan untuk tetap diam.
"Kita pulang sore hari ini, sekalian pamit sama Ibu. Kamu nggak keberatan kan kalau kita pulang malam ini?"
"Tapi kan banyak staf yang lembur sampai malam, Mas. Sepertinya kita baru bisa pulang jam delapan nanti," ungkap Cinta.
"Tidak masalah, saya sudah meminta Daniel untuk menghandle semuanya. Usai rapat jam dua nanti, kita langsung pulang."
Cinta menurut saja apa kata suaminya. Sejak awal memang mereka telah sepakat untuk hanya tiga hari menginap di rumah Tania.
Keduanya makan dalam diam. Cinta tahu, William sedang mencuri pandang padanya, tapi Cinta tetap tenang menghabiskan makanannya.
Sore harinya.
Sesuai janji William, usai rapat berakhir lelaki itu mengajak Cinta pulang ke rumah mertuanya. Setelah mandi dan berkemas, ketiga orang itu duduk di ruang tengah.
"Ibu benar, tidak mau ikut kami?" Tanya William, memastikan.
"Tidak Nak. Ibu tahu kalian mencemaskan Ibu, tapi biarkan Ibu tetap di sini. Ibu bahagia dan baik-baik saja," Tania menyahut.
"Selalu hubungi kami Bu, agar kami tidak mengkhawatirkan Ibu, terutama Cinta."
"Iya Nak. Kalian yang rukun ya, bicarakan baik-baik jika ada masalah. Pertengkaran kecil dalam rumah tangga wajar terjadi, terlebih kalian masih saling menyesuaikan diri satu sama lain," nasehat wanita itu.
"Iya, Bu." William dan Cinta kompak menjawab. "Saya ambil kopor dulu di kamar ya," ucap lelaki itu pada istrinya.
Tania menggenggam tangan putrinya. "Jadilah istri yang baik, jangan mudah curiga. Jika ada masalah, cari tahu dulu penyebabnya, jangan sampai masalah menjadi semakin besar hanya karena kalian salah paham."
"Iya Bu."
"Jadi istri itu harus pinter ambil hati suami."
"Maksud Ibu?"
"Kau harus pandai mengenyangkan dia baik itu urusan perut dan juga yang di bawahnya."
Pipi Cinta kembali merona.
"Tahu nggak kamu, ikatan batin suami istri itu akan semakin erat dan biasanya hubungan mereka makin harmonis setelah berhubungan. Kelihatannya sepele, tapi dampak yang ditimbulkannya akan sangat dahsyat. Kau pasti pernah dengar kalau suami selingkuh karena dilatar belakangi dia yang tidak mendapatkan kepuasan dari istrinya?"
__ADS_1
Cinta mengangguk, ia berusaha mencerna setiap ucapan wanita itu.
"Untuk mengantisipasi itu kau harus membentengi suamimu Cinta. Seperti yang Ibu bilang tadi, buat dia kenyang. Urusan perut dan bawah perut tadi, jadi dia tidak akan makan sembarangan di luaran. Kau mengerti!"
Lagi-lagi Cinta hanya mengangguk mendengarkan petuah dari wanita yang telah melahirkannya.
"Jaga dirimu. Jika di rumah, manjakan dia, perlakukan dia seperti raja, turuti semua permintaannya agar dia merasa diistimewakan olehmu. Dengan begitu, hatinya juga akan semakin terikat padamu. Jika di kantor kau selalu berpakaian rapi dan tertutup, lain halnya dengan saat di rumah. Di rumah itu kau ratunya, jadi kau harus bertindak sebagai orang yang memberikan segala bentuk kepuasan padanya. Pakailah pakaian seksi yang bisa membuatnya betah berlama-lama di rumah. Kau kan cantik, bentuk tubuhmu bagus, Ibu yakin William sangat tergila-gila padamu," oceh Tania panjang lebar.
"Tapi kan aku malu, Bu. Nanti dikira aku menggodanya."
"Lah, kenapa memangnya? Kau kan memang istrinya, jadi tidak ada salahnya kau melakukan itu. Menyenangkan suami pahalanya besar lho."
"Sudah, Cinta." William muncul dengan kopor besar di tangannya.
"Ya sudah. Hati-hati di jalan ya! Sering-seringlah menginap di sini, lain waktu juga Ibu akan menginap di sana jika keadaan memungkinkan."
"Ya, Bu. Terima kasih untuk semuanya Bu, saya juga minta maaf kalau selama saya di sini saya ..."
"Nak Willi ini ngomong apa, jangan terlalu dipikirinkan."
"Kami pulang Bu," pamit William seraya mencium punggung tangan wanita itu.
"Ya, hati-hati."
"Cinta pulang ya, Bu."
"Iya, Ibu juga akan sering menemui kalian lain waktu."
Tania mengantar kepergian suami istri itu sampai di depan rumah, dia melambaikan tangannya dengan bibir terus melengkung ke atas. Saat mobil yang ditumpangi William itu lenyap di ujung jalan, barulah Tania masuk ke rumahnya.
"Iya. Terima kasih, Mas."
"Untuk apa?"
"Semuanya."
Tatapan keduanya sempat berserobokan, tapi tak bertahan lama karena Cinta gegas membuang muka. Suasana canggung begitu terasa, keheningan di antara keduanya terasa mencekam.
Satu jam berselang.
Setelah beristirahat sebentar, Cinta memutuskan untuk pergi ke dapur membuat makan malam.
"Cinta."
"Ya Mas."
"Tolong buatkan teh, tanpa gula," pinta William. Lelaki yang tengah duduk di ruang keluarga itu sibuk memangku laptop.
Tak lama kemudian Cinta datang dengan secangkir teh dan sepotong red velvet.
"Kamu lagi ngapain?"
"Mau siap-siap masak buat makan malam."
"Nggak usah," kata William.
__ADS_1
"Kenapa memangnya?"
"Kita makan malam di luar. Masih ada waktu satu jam lagi, pergilah bersiap-siap!" Titahnya.
"Ya Mas."
Sementara William sibuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda karena harus pulang lebih awal tadi, Cinta tengah berkutat di depan meja rias. Dengan tangan bergetar, sambil mengaplikasikan make up di wajahnya, dia kembali teringat nasehat Tania. Lalu bayangan saat suaminya begitu mencemaskan wanita lain tempo hari, membuat mata hatinya terbuka.
'Benar kata Ibu, aku harus punya cara agar suamiku tidak tergoda wanita lain. Aku tidak percaya dengan hubungan mereka yang katanya hanya sebatas kakak adik. Jika Mas Willi tidak mau memintanya terlebih dulu, akan aku buat dia meminta haknya. Sudah cukup selama ini aku diam. Aku sangat percaya dengan ucapan Ibu karena Ibu jauh lebih berpengalaman dibandingkan aku.'
Menyisir rambutnya yang panjang sepunggung, memberikan hiasan berwarna silver di didekat telinga. Cinta masih mematut diri di depan cermin. Matanya memindai dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Seharusnya William suka, begitu pikir Cinta.
"Sudah selesai Cin?" Pintu terbuka lebar. William mematung di tempat. Matanya tak lepas mengawasi istrinya. Jakunnya naik turun saat melihat ...
Astaga, William meraup wajahnya kasar, sadar sempat berfantasi liar pada sosok wanita yang saat ini ada di hadapannya.
"Sudah Mas," jawab Cinta.
"Baiklah, aku ganti baju dulu," ujar William.
Melepas helaian kain di tubuhnya, angan William tak lepas dari Cinta. Gaun hitam selutut tanpa lengan dengan belahan dada rendah, William menggeram frustasi membayangkan isinya. Dua bukit kembar yang menggantung indah, membusung sempurna. Proporsi yang pas di tambah dengan bongkahan pantat yang ...
"Sial! Ada apa denganmu Will, bisa-bisanya kau berpikiran mesum pada istrimu sendiri," gumam William. Sepersekian detik, gerakan tangannya yang sedang mengancingkan kemeja pun terhenti. Dia teringat sesuatu.
"Tunggu! Bukankah dia istriku? Istri ..." Meletakkan jarinya di dagu, berpikir keras. "Berarti kami boleh melakukan lebih dari sekedar ciuman dong," monolognya.
'Gila! Kau sudah gila Will, ayolah. Kau hanya menikahi Cinta demi situasi. Tidak mungkin aku melupakan Raisa secepat ini,' batin William.
Setelah cukup lama berkutat dengan pikirannya sendiri, akhirnya mereka berdua pun pergi ke sebuah restoran mewah. Anggaplah sebagai permintaan maaf William pada Cinta.
Senyuman terus terkembang di bibir Cinta saat menyadari William tak melepaskan pandangan dari dirinya. Terlebih saat William menunjukkan gelagat aneh, pria itu nampak gelisah.
Makan malam berlangsung dengan cepat namun tak terburu-buru. Tak banyak kata yang keluar dari bibir keduanya. Hanya obrolan ringan, seperlunya saja hingga mereka kembali ke rumah.
"Saya pakai kamar mandinya dulu ya Cin, kamu bisa pakai habis saya." William berlari.
Sembari menanti suaminya ke luar dari kamar mandi, Cinta memutuskan untuk berganti baju.
"Rencana pertama berhasil, kau masih bisa tahan Mas, tapi rencana keduaku akan semakin membuatmu tersiksa. Kita lihat saja nanti," lirih Cinta. Menarik sehelai kain dari dalam almari lalu gegas memakainya.
Cinta tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada William setelah ini, yang jelas, Cinta telah bertekad untuk merebut hati William.
Ceklak.
Pintu kamar mandi terbuka. Tak ada lagi pakaian formal yang tadi membalut tubuh kekarnya, berganti menjadi piyama tidur.
"Mas, gantian," bisik Cinta yang menyadari suaminya berdiri membeku di depan pintu kamar mandi.
"Ah, iy ... Iya, silakan," ucap William tergagap.
William kepayahan menelan salivanya. Perempuan berbaju tipis berenda warna hitam itu menghilang usai pintu kamar mandi tertutup. Meninggalkan William yang sibuk dengan pikiran nakalnya. Cinta berhasil memantik gaiirah kelelakiannya. Apa lagi saat William sempat melirik pucuk bukit yang menyembul, berwarna pink dan terlihat sangat menggemaskan.
"Demi Tuhan. Cinta ..." William menggeram sambil meremas kasurnya.
Bersambung ....
__ADS_1