
"Anda masih disini, Tuan?"
Pertanyaan yang diajukan dari seorang suster yang hendak masuk ke dalam ruang ICU tersebut pun memecah kebekuan yang sedari tadi melingkupi dua pria yang saat ini masih tak bergeming di tempatnya.
Bagai menemukan mata air di tengah padang gersang, Sultan pun menoleh kemudian mendekati suster itu setelah sebelumnya dia mendudukkan tubuh Adam yang seolah tak bertenaga, di atas bangku.
Sultan tahu persis kalau pertanyaan yang diajukan suster tadi di tujukan pada adam, jadi setidaknya suster itu tahu kejadian yang terjadi sebelum kedatangannya di sana, begitu pikir Sultan.
"Sus, maaf. Pasien yang sempat di rawat di dalam tadi, sekarang ada dimana?"
Sultan menatap lekat lawan bicaranya, terlihat sekali kecemasan yang melanda dalam diri pria itu.
"Sudah dipindahkan ke ruang jenazah satu jam yang lalu, Tuan."
"Apa?"
Seketika tubuh Sultan menegang.
"Iya Tuan, saya pikir Tuan itu sudah berada di sana karena sebentar lagi jenazah akan dipulangkan ke rumah duka." suster tersebut menunjuk Adam.
"Astaga."
Sultan menghampiri Adam kemudian menarik tangan temannya, pikiran yang berkecamuk di kepalanya membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih. Dia bahkan tidak sempat mengucapkan terimakasih pada suster tadi. Dia terus berlari menyeret tubuh Adam menyusuri lorong panjang yang seolah tak ada ujungnya.
"Dimana ruang jenazahnya Dam? sial*n, kenapa juga aku tadi tidak menanyakannya pada suster itu."
Langkah Sultan terhenti sejenak, di pandangi wajah Adam yang begitu kacau.
"Haish! percuma saja aku bertanya padamu, kau sedang puasa bicara kan?"
Sultan terus merutuki kebodohannya, seandainya saja tadi dia tidak bertindak ceroboh dengan pergi begitu saja, mungkin dia berhasil sampai di ruang jenazah tanpa membuang waktu seperti ini.
"Dam, cepat bicara! katakan sesuatu atau aku akan menghajarmu kalau kau masih saja diam!" hardik Sultan.
Dia sama sekali sudah tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapi tingkah Adam kali ini. Kebungkaman Adam benar-benar membuatnya hilang akal.
"Masih mau diam?" Sultan mendelik. "Baiklah, mungkin kau memang harus segera disadarkan," gumam Sultan.
Bug!
Sultan melayangkan tinjunya ke wajah Adam namun secepat kilat Adam bisa menghalau tangan Sultan agar tak mengenai wajahnya.
Tanpa berkata-kata Adam melangkah pergi meninggalkan Sultan yang masih terpaku.
Sultan masih tak habis pikir dengan kejadian apa yang telah membuat temannya bertingkah seperti itu.
"Mau sampai kapan kau akan terus berdiri di situ? cepat ikuti aku!"
Kalimat pertama yang keluar dari mulut Adam setelah sekian lama ia membisu mampu mengembalikan Sultan pada kesadarannya.
Sultan berlari menyusul Adam yang mulai bergerak menjauh.
"Aku pikir kamu akan melakukan tapa brata untuk menambah kesaktianmu," kata Sultan dengan nada mengejek, begitu sudah tak ada jarak lagi diantara keduanya.
Bukannya menjawab, Adam malah membalas Sultan dengan tatapan sengit kemudian kembali mengayunkan kakinya menuju ruang jenazah.
Astaga, kampret benar dia. Sedari tadi aku susah payah menyeretnya menyusuri lorong panjang yang berliku dan ternyata dia sudah tahu dimana letak ruang jenazahnya? lalu dimana pikirannya tadi sebenarnya? apa yang dia pikirkan hingga membuatnya seperti orang yang hilang ingatan. Percuma saya aku terus berjalan seperti orang gila. Sultan terus membatin.
"Memangnya siapa yang meninggal? kenapa kelihatannya kau begitu terpukul?"
Tubuh Adam mendadak berhenti sejenak hingga membuat Sultan yang mengekor di belakangnya hampir saja menubruk tubuhnya.
Salah lagi, lagi-lagi Sultan hanya mampu membatin tanpa mampu mengatakannya langsung karena dilihatnya Adam kembali memasang wajah tak bersahabat.
Adam kembali melanjutkan perjalanannya. "Kau akan tahu begitu kita sampai nanti," jawabnya datar.
"Kau ini sebenarnya kenapa? kenapa sejak aku datang kau terus saja bicara tidak jelas. Aku sedang tidak ada waktu untuk memecahkan teka-teki darimu jadi berterus-teranglah!" Sultan tak sanggup jika terus menerus menyimpan rasa penasarannya sendirian, jadilah dia kembali mengajukan satu pertanyaan.
Sepi, hanya terdengar suara sepatu yang beradu dengan lantai hingga menimbulkan suara yang menggema saling bersahutan.
"Masuklah!" titah Adam begitu dinginnya.
Setelah berjalan selama sepuluh menit kini keduanya telah sampai di sebuah ruangan besar yang dituju.
Sultan memejamkan matanya berkali-kali, melihat papan kayu bertuliskan 'kamar mayat' di depannya membuat secercah keraguan kembali merasuki hatinya. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya namun dia berusaha menghalau keraguan tersebut dengan tetap bergerak maju.
"Mayatnya ada di barisan kedua dari kanan paling ujung."
Tangan Sultan masih setia memegang handle pintu ketika mendengar penuturan Adam. Pria itu menoleh sebentar demi bisa melihat wajah Adam dengan ekspresi yang tak dapat dia artikan.
__ADS_1
Adam mengangguk kemudian menepuk bahu Sultan, mulutnya memang terkunci rapat tapi Sultan bisa mengerti dengan bahasa mata temannya yang mengisyaratkannya untuk segera masuk ke dalam ruangan tersebut.
Dengan langkah kaku, Sultan menghampiri satu per satu bed yang ada di sana hingga dia telah sampai di depan bed berisi jenazah yang dimaksudkan Adam.
Berulang kali dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, saat ini di depannya telah terbujur kaku mayat dari seorang yang telah membuat Adam begitu terpukul dengan kepergiannya.
Dengan tangan bergetar dibukanya kain putih yang menutupi tubuh mayat tersebut. Perlahan sesosok wajah mulai terlihat ketika dia menyibakkan sebagian kainnya.
Seketika jantungnya terasa nyeri, tubuhnya bergetar hebat disusul dengan keringat dingin yang merembes melalui pori-pori kulit tubuhnya. Mulutnya ternganga dengan mata membulat penuh, dirinya sama sekali tak menyangka jika mayat yang terbujur kaku di hadapannya adalah orang yang sangat dikenalnya.
Pantas saja Adam sampai sebegitunya merasa terpukul akibat kehilangan salah satu sosok teman baiknya.
Ya, mayat yang saat ini ada di hadapan Sultan adalah mayat Reno, orang yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya bersama dengannya dan juga Adam.
Tubuh Sultan lunglai, dia jatuh tersungkur di lantai. Air matanya terus mengalir begitu saja tanpa bisa dia kendalikan.
Kilasan masa lalu yang telah mereka lalui bersama-sama, kembali terbayang di matanya dan itu membuatnya sedih mengingat kini persahabatan yang mereka jalin selama puluhan tahun harus berakhir dengan cara seperti ini. Dia memang pernah mengutuk Reno yang sempat membantu perbuatan keji yang dilakukan oleh Mauryn pada istrinya tapi terlepas dari semua itu, mereka adalah teman sejati.
Bukan hanya berbagi makanan dan minuman saja, lebih dari itu mereka selalu membagi perasaan masing-masing baik itu suka maupun duka dan itu membuat kedekatan emosional yang terjalin diantara mereka kian mendalam.
Sultan berharap dengan hukuman yang akan dijalani Reno dalam sel tahanan akan membuatnya kembali ke jalan yang benar jika kelak pria itu keluar dari jeruji besi. Berharap Reno akan berubah demi membuat keluarga kecilnya bahagia jika nantinya Alma memberikan pengampunan padanya dan memberinya kesempatan untuk dapat hidup bersama lagi namun semuanya hanya tinggal harapan. Pupus sudah semua harapannya bersamaan dengan kepergian Reno untuk selama-lamanya. Sungguh, Sultan tidak pernah menyangka jika mereka harus berpisah dengan cara tragis seperti ini.
Sementara di sisi lain, keadaan Adam pun tak jauh berbeda dengan Sultan. Air mata seolah tak mau berhenti mengalir dari pelupuk matanya.
Tak tahan dengan pemandangan di depannya, Adam berbalik, menyandarkan tubuhnya pada tembok kemudian luruh di lantai. Bahunya naik turun seiring dengan tangisnya yang makin menjadi.
Bukan ini yang dia inginkan, sahabat mana yang rela melihat kematian tragis temannya meskipun temannya itu telah melakukan kejahatan sekalipun.
Pun sama seperti Sultan, dia hanya menginginkan agar selama di penjara Reno bisa bertaubat, menyesali segala perbuatannya dan kembali ke jalan yang benar. Menata ulang kehidupannya dari awal begitu dia keluar dari sana dan kembali merajut tali persaudaraan yang sempat terkoyak.
Hidup bahagia dengan pasangan dan juga keluarga kecilnya masing-masing, hanya itu impian Adam. Apa impian itu terlalu mahal hingga harus membuatnya membayar mahal dengan derita sedemikian rupa. Lagi-lagi air matanya mencelos, sudah tak terhitung berapa banyaknya ia menangis semenjak dia datang ke rumah sakit itu dan melihat bagaimana cara Reno meregang nyawa.
"Apa kau sudah memberitahu keluarganya?" tanya Sultan sambil mengusap air matanya.
Mendengar suara serak Sultan membuat Adam mendongakkan kepalanya yang sejak tadi tertunduk.
Adam mengangguk. "Sudah," sahutnya hampir tak terdengar.
"Kenapa tidak ada satu orangpun yang datang kemari?" Sultan penasaran.
"Aku sudah pernah mengatakannya padamu kan kalau keluarganya sudah mencoret dia dari daftar nama keluarga," tegas Adam. "Aku bahkan sampai memohon pada kedua orangtuanya untuk datang, sejak mendengar berita Reno masuk rumah sakit hingga meregang nyawa, sampai sekarang mereka tidak juga kunjung datang. Apalagi yang harus aku lakukan?"
Sultan kembali menitikkan air mata, mengambil posisi duduk di samping temannya. Dia menggigit bibirnya sebisa mungkin agar tangisnya tak terdengar.
"Aku sudah menghubunginya, mungkin saat ini dia sedang dalam masalah," Adam menyahut.
"Kenapa bisa begitu?" Sultan kembali menatap wajah Adam, mencoba mencari jawaban dari kedalaman mata temannya.
"Mertuanya melarangnya untuk datang kemari sedangkan orangtua kandungnya tak jauh berbeda. Mereka mengancam tidak akan mengakui Alea sebagai cucunya dan kau tahu sendiri kan drama orang-orang parlente seperti apa."
"Alea akan dicoret dalam ahli waris," tebak Sultan.
"Tepat sekali!"
"Lalu bagaimana dengan jenasahnya sekarang? akan dipulangkan kemana?" tanya Sultan lagi.
"Aku sudah memutuskan satu hal."
Pandangan keduanya kembali bertemu, Sultan kembali melihat sosok Adam yang dulu, pria dengan sikap dewasa dan bijaksana khas seorang bapak.
Adam bangkit dari duduknya, dia memberikan tangannya dan membantu Sultan bangun.
.
"Kenapa kalian tidak menghubungiku sejak awal? kenapa aku datang setelah semuanya selesai, dan apa ini, pemakaman macam apa ini hah? dia manusia kenapa harus dimakamkan dengan cara seperti ini?"
Raka terus berteriak, sama seperti kedua temannya yang masih belum bisa mempercayai kenyataan di depan mata, sepenuhnya.
Pria itu terus menggerutu sepanjang perjalanan karena Sultan tak memberitahunya apa-apa, temannya itu hanya menyuruhnya untuk datang ke pemakaman dan alangkah terkejutnya dia begitu dirinya melihat nama yang tertulis di papan nisan.
Kekecewaan dalam diri pria itu makin memuncak manakala tak melihat siapapun yang menghadiri pemakaman tersebut selain hanya dua orang temannya itu.
"Apa yang terjadi sebenarnya hah? bagaimana bisa semuanya sepert ...," Raka menggantung kalimatnya. Dia yang frustasi terus menjambak rambutnya.
Dadanya bergemuruh dengan perasaan berkecamuk di hatinya.
Raka bersimpuh di depan gundukan tanah yang masih basah, dia menundukkan kepalanya sejenak, menutup mata sambil melafal doa yang bisa ia panjatkan. Hanya itu hal yang bisa ia lakukan untuk mengiringi kepergian Reno di tempat peristirahatannya yang terakhir.
.
__ADS_1
Tiga jam setelahnya.
"Kalian berdua benar-benar brengsek! kurang sabar apa aku menunggu kalian yang sejak tadi bungkam tanpa memberikan penjelasan apapun padaku?" maki Raka. "Kalian akan terus menyuruhku menunggu sampai kapan? hah? jawab aku!"
Tubuh Adam berjengit begitu mendengarkan Raka mengeluarkan nada tingginya.
"Baiklah kalau itu mau kalian, aku akan angkat kaki dari sini. Kita sudah dekat selama lebih dari sepuluh tahun dan itu belum cukup untuk kalian menganggapku sebagai teman? OK."
Raka meraih jas yang terlampir di bahu kursi, berniat pergi dari sana secepatnya.
"Apa enaknya berteman dengan dua orang pria bisu seperti kalian," umpat Raka lagi sebelum dirinya membuka pintu ruangan Adam. "Astaga!" Raka memekik kaget begitu merasakan kepalanya terkena sesuatu yang kemudian memberikan efek dingin yang menjalar ke sekujur tubuhnya.
"Kau benar-benar mau meninggalkan kami?" lirih Adam dengan sorot mata sendu.
Raka kembali membalikkan badannya, di tatapnya lantai di bawahnya yang tergenang air yang berasal dari cup plastik berisi minuman dingin yang dilemparkan oleh Adam padanya, tadi.
Dengan rasa dongkol yang sudah mendarah daging, Raka kembali berjalan dan kemudian duduk di sofa panjang, menyingkirkan kedua tubuh temannya agar dia bisa duduk di tengah-tengah Sultan dan Adam.
"Jangan membuatku menunggu lagi! jadi cepat ceritakan!" kata Raka, masih dengan nada tinggi.
"Aku sedang dalam perjalanan menuju ke restoran ketika Alma meneleponku." Adam meraih gelasnya, menyesapnya sedikit kemudian kembali meletakkannya ke tempat semula. Pria itu menarik nafas panjang sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
"Jadi Alma sudah mengetahui ini sebelumnya?" tanya Raka. "Lantas kenapa dia tidak datang ke pemakaman tadi?" Raka tak bisa menahan diri lebih lama lagi. Rasa penasaran dalam dirinya sudah menggunung.
"Itu sebabnya dia menghubungiku, dia memintaku untuk datang ke rumah sakit. Pagi-pagi sekali pihak kepolisian meneleponnya dan memberitahukan kondisi Reno yang saat itu sedang sekarat. Mertua dan juga keluarganya melarangnya untuk menemui Reno, jadi dia meminta bantuanku untuk datang dan menggantikannya menjaga Reno di rumah sakit." Adam mengangkat kepalanya berusaha menahan sekuat tenaga agar dirinya tak lagi menangis.
Raka menepuk punggung Adam, merasa hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menguatkan hati temannya.
"Bagaimana dia bisa sampai sekarat?" Raka semakin penasaran.
"Dia menolak perintah seorang tahanan lain yang menyuruh Reno untuk memijatnya. Katakanlah orang yang menyuruhnya adalah ketua geng yang berada dalam satu sel yang sama dengan Reno. Ada kurang lebih empat orang yang ada di sana dan mereka mulai menggeroyok Reno karena Reno terus bersikeras menolak perintah tersebut."
Raka bergidik ngeri begitu mendengar penjelasan yang diucapkan oleh Adam, bulu kuduknya meremang, dia bisa membayangkan ganasnya pertikaian yang terjadi dalam penjara seperti kebanyakan film action luar negeri yang di tontonnya selama ini. Raka tak berani mengajukan pertanyaan seperti sebelumnya, dia masih setia mendengarkan kelanjutan cerita Adam.
"Awalnya Reno berusaha untuk melawan, tapi secara jumlah dia kalah telak. Satu banding empat pria dengan skill beladiri terlatih tentu saja sudah bisa melumpuhkannya. Kalian tahu sendiri kan keahliannya beradu jotos memang tidak sepandai kita. Dan puncaknya dia dihajar hingga babak belur, sebelum kejadian naas itu entah bagaimana Reno sempat meludahi kepala geng tadi. Hal itu makin menyulut amarah orang tersebut hingga membuatnya kalap dengan menyay*t leher Reno dengan belati kecil yang selalu dia sembunyikan dalam saku celananya."
"Hoek ... hoek ...." perut Raka seketika bereaksi, dia sudah tidak tahan untuk mengeluarkan isi perutnya.
Mendengar cerita Adam membuat Raka mual, dia sempai menutup matanya sambil menggelengkan kepalanya untuk menghalau bayangan akan kejinya kejadian itu, yang terus berputar di kepalanya.
Dia mengelap mulutnya yang terasa kering, meraih segelas air yang disodorkan oleh Sultan.
"Jadi selama ini tugas sipir penjara itu apa, sampai mereka tidak mengetahui keributan yang terjadi di sana?" tanya Raka begitu selesai membasahi tenggorokannya.
"Entahlah." Adam menaikkan kedua pundaknya. "Mungkin mereka yang tengah berjaga sedang terlelap di pagi buta seperti itu."
"Tidak masuk akal! apa gunanya mereka berjaga jika waktu dinas mereka digunakan untuk tidur?" Raka menggerutu.
"Lalu apa gunanya kau marah-marah setelah semuanya terjadi?"
Raka meraup wajahnya kasar, apa yang dikatakan Adam memang benar.
"Dia meregang nyawa sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, dan aku datang begitu dia selesai mendapatkan perawatan. Rasanya Tuhan sudah menggariskan semuanya, dia hanya bertahan sampai aku datang," lanjut Adam lagi.
"Lalu apa yang dia katakan padamu?" sambar Sultan begitu dia teringat akan perkataan Adam di rumah sakit tadi. "Kamu bilang dia sempat mengucapkan wasiat untuk terakhir kalinya padamu kan?"
Adam melepaskan tangan Sultan yang masih digunakan untuk mengguncangkan bahunya.
"Dia memintaku untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Alma, keluarga besarnya dan ...,"
"Dan apa?" potong Sultan lagi.
"Terutama pada kita, dia minta maaf untuk kesalahannya karena telah mengkhianati kepercayaan kita. Dan yang terakhir, dia meminta kita untuk memberikan sedikit kasih sayang pada Alea karena Reno tidak sempat memberikan kasih sayangnya pada putri semata wayangnya."
Kembali, butir bening yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata, jatuh berderai bagai manik-manik yang putus talinya.
Ketiga pria itu menangis bersamaan, larut dalam kesedihan masing-masing dalam mengabadikan momen berharga bersama satu orang yang terus saja melintas di pikiran mereka.
Rasanya hari ini akan berjalan cukup panjang dan dipenuhi dengan tangis kehilangan dari mereka yang tak pernah menyangka akan melepas kepergian Reno dengan cara seperti ini.
Tangis mereka pun memenuhi sebuah ruangan pribadi milik Adam di restorannya.
Tidak mudah bagi mereka untuk menerima kenyataan bahwa Reno pergi meninggalkan mereka dalam waktu secepat ini.
.
Anyyeong 🤗 udah hari Senin aja ya? jangan lupa Vote nya ya, 🤭 tinggalkan like dan jejak juga karena membaca komentar positif dari kalian adalah mood booster buatku.
__ADS_1
Sorry banget ya guys kalau ceritanya kurang ngena di hati, nggak tau ini, kepalaku rasanya jendel banget nggak bisa buat mikir padahal ide udah tersusun rapi di kepalanya tapi giliran lagi ngetik, suka kesusahan menyusun kalimat yang pas biar enak dibacanya. Semoga kalian bisa terhibur dengan tulisanku dan setia menantikan kelanjutan kisah HanSul. Terimakasih buat kalian yang selalu mendukung aku, 🙏🙏🙏🥰🥰😘😘😘