
Cinta kembali mengayunkan kakinya menyusuri trotoar. Sesekali pandangannya tertuju pada gerobak kaki lima yang berjajar memenuhi hampir sepanjang jalan hingga menuju gang masuk rumahnya.
"Dek, bakso rusuknya habis, mau diganti aja bakso yang lain?"
"Nggak mau Mas, aku maunya bakso rusuk," si wanita menjawab.
"Ya udah, kita cari lagi. Kamu tunggu di mobil aja ya, aku takut kamu kecapekan. Biar aku aja yang nyari, nanti kalau ketemu aku ke sini lagi jemput kamu."
"Ikut Mas," rengek si wanita, manja.
"Jangan! Nanti kamu kecapekan, kasihan bayi kita. Kamu duduk di sini aja, aku nggak lama kok, cuma mau lihat tiga warung bakso lagi. Kau bilang cuma mau bakso rusuk," bujuk si pria.
"Ya udah, jangan lama-lama!"
"Iya."
Si pria berlalu dari sana.
Cinta berdiri di tempatnya. Kejadian romantis sepasang anak manusia yang dia perkirakan merupakan suami istri itu terlihat sangat manis. Bagaimana sang suami memperlakukan istrinya dengan penuh cinta. Cinta menyusut titik bening yang berkumpul di sudut mata dan bersiap untuk terjun bebas.
'Jangan menangis, Cinta. Kuat, kamu pasti bisa. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing.' mengusap perutnya, Cinta kembali melangkahkan kakinya.
Membuat segelas susu dengan rasa cokelat sesampainya di rumah, setiap tegukan yang melewati kerongkongannya seiring dengan laju air matanya.
Tak peduli seberapa kuat Cinta berusaha menahannya, tapi dia tak sanggup. Hanya demi bayi dalam kandungannya lah dia mencoba untuk tegar melanjutkan hidupnya. Orang lain mungkin tak akan sanggup hidup sebatang kara dengan hati luluh lantak.
Duduk di kursi, tontonan yang tersaji di televisi sama sekali tak dapat mengalihkan perhatian Cinta. Ia lalu melirik jam dinding, mendesah pelan menyadari malam mulai merambat naik.
Seharian ini tak sebutir nasi pun yang memasuki perut Cinta. Tiap ia berusaha makan, maka hidungnya yang sensitif kembali membuatnya mual. Bau nasi panas yang masih mengepulkan asap membuat Cinta sampai hampir pingsan pagi tadi. Akhirnya Cinta memutuskan untuk makan puding sisa yang dibuatnya saat siang, kebetulan masih ada di kulkas.
.
.
William masih belum beranjak dari lantai. Hujan di wajahnya masih belum reda. Setiap butir air asin yang jatuh itu menjadi saksi betapa ia sangat menderita.
Ya, William menyesal. Sangat menyesal. Kini, dia baru menyadari ternyata hati dan raganya jauh lebih membutuhkan Cinta. Ada sebongkah kerinduan yang menuntutnya untuk selalu menemui wanita itu.
Hatinya menjadi gersang sepeninggal Cinta. Semua rasa yang bermuara di lubuk hatinya mengendap, menyisakan lara dan sesal yang kian menggerogotinya.
Apakah ini cinta? Tapi kenapa dia hadir terlambat. Setelah hubungan mereka dinyatakan berakhir dengan tiga ketukan palu dari hakim. Anehnya, William tak lagi menyimpan tentang Raisa di hatinya, sedikitpun. Berganti menjadi wanita cantik yang telah ia sakiti. Kerinduannya akan Cinta menyusup ke dalam relung hati. Membuat batinnya merintih pedih dan bertanya-tanya, bukankah ini yang dia inginkan?
Bayangan ketika Cinta menatapnya penuh luka, ah ... William benar-benar tersiksa. Benar kata Sultan, dia adalah laki-laki paling bodoh di dunia karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik Cinta.
"Aku akan menebus semua dosa-dosaku padamu, aku akan terus berusaha sampai kau memberikan maaf dan juga kesempatan untukku, Cinta. Benar kata Mama, wanita sebaik dirimu sudah sangat langka, dan yang pasti hanya kamulah satu-satunya wanita yang mencintaiku dengan tulus," monolognya.
William tak sabar menunggu hingga malam berlalu. Ia melirik jam digital di nakas.
"Tiga jam lagi, tunggu aku menemuimu Cinta," gumam William. Masih bertahan dengan duduk di lantai, bersandar pada bibir ranjang. Setiap detik terasa begitu lama bagi William.
Bentangan karpet hitam raksasa telah memudar, digantikan gumpalan awan seputih kapas yang berarak menyambut semburat jingga di batas cakrawala.
Pagi yang begitu dinantikan William datang juga. Pagi-pagi sekali lelaki itu telah rapi dan wangi. Setelah hampir semalaman terjaga, wajah sayunya tetap tak dapat disembunyikan meskipun telah menyegarkan badan tadi.
Menyambar kunci mobil dan dompetnya, buru-buru William meninggalkan rumah. Melajukan kereta besinya dengan kecepatan sedang, William mampir untuk membelikan ketupat sayur di salah satu warung makan ternama. Pria itu terus tersenyum membayangkan dia akan menghabiskan sarapan pagi bersama gadis itu.
.
.
Cinta sedang menyirami tanaman bunga dalam pot yang berjajar rapi di taman kecil depan teras rumahnya. Mendengar deru mesin mobil berhenti tepat di depan rumahnya membuat gadis itu menoleh.
Azka turun dengan senyum terkembang di bibirnya. Tangannya menenteng kantong berisi bubur ayam yang dibelinya tadi.
"Pagi Cinta," sapa pria itu ramah.
"Pagi juga."
__ADS_1
"Aku nggak di suruh duduk nih? Sengaja aku bawa dua porsi bubur ayam biar bisa sarapan sama kamu lho."
"Terima kasih. Ayo, silakan duduk."
Cinta sempat masuk ke dalam untuk membuat teh.
"Terima kasih ya, tapi maaf ... Lain kali nggak usah repot-repot. Bukannya aku nggak suka kamu datang ke rumahku, aku hanya sedang menjaga diri dari gosip yang bisa saja berkembang. Aku baru saja berpisah dengan suamiku, apa kata tetangga kalau melihat kedekatan kita," ungkap Cinta. Dua cangkir teh dia letakkan di meja.
"Ya nggak ada salahnya kan? Toh lagi pula kita juga akan segera menikah tidak lama lagi," ucap Azka penuh percaya diri.
"Aku bahkan belum memberikan jawaban dan kau sudah menyimpulkan. Sejujurnya aku ragu. Aku ..."
"Sebaiknya kita sambil makan, sayang buburnya mumpung masih hangat," potong Azka.
"Sekali lagi maaf, tapi aku nggak bisa makan itu. Perutku akan mual, ini saja aku sudah agak pusing mencium baunya."
"Yaah, sia-sia dong. Tahu gitu lain kali kamu bilang ya mau makan apa, jadi nanti kalau aku ke sini bawa makanan nggak terbuang percuma."
"Aku bilang kan nggak usah. Aku nggak mau jadi bahan omongan tetangga. Sebaiknya kamu jangan sering-sering ke mari," kata Cinta.
"Ya baiklah." Azka mulai menyuapkan bubur itu ke dalam mulutnya. "Kamu sudah pikirkan baik-baik tawaranku semalam?"
"Sudah."
"Lalu?"
"Ada banyak wanita yang jauh lebih sempurna di luar sana jika dibandingkan denganku," tutur Cinta.
"Kau menolakku?"
"Status kita jelas berbeda. Aku janda dalam kondisi hamil sedangkan kamu single. Kalaupun kamu memaksa menikahiku, belum tentu orang tua dan keluargamu setuju. Carilah gadis lain."
"Tapi aku hanya ingin denganmu!" Tegas Azka.
"Aku mohon, mengertilah! Posisiku saat ini serba sulit, jadi tolong jangan membuatnya semakin bertambah sulit," pinta Cinta.
"Baiklah, tidak masalah. Sepertinya kau butuh waktu lebih lama lagi untuk berpikir."
William sempat melongok ke arah jendela saat mendapati sebuah mobil terparkir di pelataran rumah mantan istrinya. Rahang pria itu mengetat saat melihat wanita yang sangat ingin ditemuinya itu tengah duduk berdua dengan seorang pria. Tanpa membuang waktu lagi, William segera turun dari mobilnya.
"Cinta, untuk apa pria ini datang ke mari?" Tanya William. Dari sorot matanya kentara sekali kalau dia tak suka ada pria yang menemui Cinta.
Cinta terperanjat. Ia terkejut bukan main melihat kedatangan William.
"Eh! Terserah aku lah mau ke sini apa enggak, ini bukan rumah kamu! Cinta sudah bukan istri kamu lagi, dia single, aku single, apa ada yang salah," sahut Azka.
"Diem kamu! Aku lagi nggak ngomong sama kamu!" Hardik William.
"Udahlah! Lagian mau apa lagi kamu ke sini? Bukannya harusnya kamu seneng ya karena udah pisah sama Cinta? Kamu jadi bebas berkelana mendapatkan cinta wanita idamanmu."
"Jaga omongan kamu ya! Nggak usah ikut campur urusan pribadiku."
"Alah, laki-laki macam kamu. Giliran udah pisah aja pura-pura nyesel, kalau emang kamu nggak cinta, ya udah lah nggak usah dipaksakan juga, kasihan Cintanya tahu nggak!"
"Kurang ajar kamu ya!" William merenggut kerah baju Azka. "Siapa yang bilang aku nggak cinta sama dia? Hah! Katakan!"
"Kamu ini hilang ingatan atau bagaimana? Jelas-jelas kalian pisah karena kamu nggak mencintai Cinta kan!" Tuding Azka.
"Ya, semua yang kau katakan memang benar. Aku sama sekali nggak mencintai Cinta, tapi itu dulu! Dan sekarang aku sudah mencintainya, aku sangat mencintainya!" Tegas William.
Cinta masih mematung di tempatnya. Saking syoknya, dia sampai tak bisa berbuat apa-apa.
"Penipu! Aku udah paham banget cowok brengsek kayak kamu itu cuma mau menang sendiri doang. Kamu ngejar-ngejar Cinta lagi cuma karena kamu kangen sama tubuhnya doang kan!"
Bug!
William kehilangan kendali hingga dia mendaratkan tinjunya di wajah Azka.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu ya!"
Bug!
Azka menyerang balik, tapi William berhasil menangkisnya. Dua lelaki itu saling mencengkeram kerah baju masing-masing. Cinta mulai panik.
"Sudah cukup! Hentikan!"
"Dia duluan yang mulai," kata William.
"Nggak salah, kamu duluan yang mukul malah nyalahin orang," tampik Azka.
"Pergi kalian dari sini, dan jangan pernah datang lagi!" Teriak Cinta.
"Baiklah, aku pergi. Tapi ingat Cinta, aku akan terus datang sebelum kau memberikan jawaban," Azka menyahut.
"Tapi kan aku sudah memberikan jawabannya tadi."
William terbengong mencoba mengerti akan pembicaraan dua orang itu.
"Aku akan datang lagi. Semoga saja kau berubah pikiran. Aku akan menyiapkan pesta pernikahan termewah untuk kita," ujar Azka sesaat sebelum meninggalkan rumah itu.
Cinta membuang napas panjang. Satu masalah berhasil dia atasi, tapi masalah besar muncul lagi.
"Apa benar yang dia katakan tadi?" Tanya William.
"Soal apa?"
"Kalian akan menikah? Apa perlu aku perjelas lagi," ujar William ketus.
"Bukan urusanmu!"
Cinta bersiap masuk ke dalam saat William dengan cepat mencekal tangannya.
"Tentu saja itu menjadi urusanku."
"Apa pedulimu?" Cinta tersenyum sinis.
"Karena aku mencintaimu! Aku ingin kita kembali bersama," cetus William.
"Jangan bermimpi! Cinta yang kau kenal sekarang bukanlah Cinta yang dulu. Aku tidak sebodoh itu untuk kau kelabuhi."
"Aku serius."
"Dan aku nggak percaya," sergah Cinta. "Sebaiknya silakan Anda cepat pergi dari sini! Saya mau istirahat!"
William kembali menahan Cinta.
"Apa lagi!" Seru Cinta.
"Buatkan aku teh dan temani aku sarapan, baru setelahnya aku akan pergi!"
"Terserah apa katamu, tapi aku nggak peduli!"
"Baiklah, aku akan tetap di sini sebelum kau memenuhi keinginanku," putus William.
"Apa kau lupa? Aku sudah tidak memiliki kewajiban apa-apa lagi padamu."
"Ya sudah. Kita lihat saja nanti. Aku tidak akan pergi sebelum kau melakukan apa yang aku minta," pungkas William.
Lelaki itu duduk di kursi yang ditempati Azka tadi dan dengan cepat dia membuang bungkusan bubur ayam yang dibawa Azka, seakan benda itu adalah benda yang sangat menjijikan.
Cinta sungguh tak bisa berbuat apa-apa. Dia bingung.
'Kenapa tidak ada satu orang pun yang mau membeli rumah ini? Aku sudah tak tahan lagi menghadapi dua lelaki itu. Akan sangat merepotkan jika aku tetap berada di sini. Secepatnya aku akan menghubungi Mang Asep, semoga saja keponakannya jadi menetap di sini dan tertarik dengan rumah ini. Aku sudah sangat lelah. Aku ingin menjalani masa kehamilanku dengan tenang.'
Cinta pun meninggalkan William yang tengah duduk di teras sendirian.
__ADS_1
Bersambung ....
Happy reading Kesayanganku 😍 maaf ya, semalam ketiduran. Vote dan komen yang banyak, semoga nanti malam bisa update lagi. Salam sayang buat kalian 😘😘😘🙏