Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Memang dia pelakunya


__ADS_3

Adam berjalan mengendap-endap begitu sampai di rumah, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan penjuru ruangan. Tak mendapati istrinya ada di bawah, kemungkinan gadis itu sedang tidur di kamarnya, Adam mulai menaiki anak tangga.


Dia kembali mengambil nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu, menggelengkan kepalanya, bayangan hukuman atas keterlambatannya pulang, menghantuinya. Ngeri membayangkan jika saat ini Ajeng sedang menunggunya dengan wajah tertekuk marah, dan bersiap dengan hukuman yang kadang tidak wajar menurutnya.


Ceklak.


Pintu pun terbuka.


" Good." Ajeng telah berdiri tepat di depan pintu dengan melipat kedua tangan di dadanya. " Satu jam dua puluh tiga menit sebelas detik."


Adam terperanjat, benarkah istrinya menghitung waktu keterlambatannya dengan begitu detail. Apakah mungkin Ajeng hanya mengira-ngira saja, bagaimana bisa sampai sangat terperinci begitu.


" Kamu terlambat satu jam dua puluh tiga menit sebelas detik, kamu dengar itu mas?" suara Ajeng terdengar begitu mengintimidasi.


" Sayang, maaf." ucapnya memelas, sambil menyentuh bahu istrinya.


" Aku maafkan."


" Benarkah? terimakasih sayang." kata Adam, senang.


" Tapi kamu harus tetap di hukum."


Apa? haduh ... semoga saja hukumannya tidak aneh-aneh.


" Aku kan sudah minta maaf, apa perlu aku tetap dihukum?"


" Peraturan tetap peraturan, kamu harus tetap di hukum."


" Ya sudah kalau begitu, apa hukumannya?" Adam pasrah.


" Lebih baik mas mandi dulu, tubuhmu bau matahari tuh. Lagian juga berangkat siang, pulang hampir petang begini."


" Hehehe." Adam tersenyum konyol sambil mengendus bau badannya sendiri. " Ya sudah aku mandi dulu."


Dia pun bergegas memasuki kamar mandinya, dalam hati berdoa, semoga saja istrinya berubah pikiran setelah dia selesai mandi. Sehingga dia tidak perlu menjalani hukuman yang dirinya pun belum tahu akan berbentuk seperti apa hukuman itu nantinya.


Adam tertegun melihat baju ganti yang telah disiapkan istrinya, dia menelan salivanya susah payah. Ajeng menarik paksa suaminya begitu keluar dari kamar mandi dan memberikan baju ganti spesial untuknya.


" Sayang, ini tidak salah? bagaimana bisa kamu menyuruhku memakai baju seperti ini." tanya Adam, sedari tadi di pandanginya baju itu.


Ajeng memberikan sebuah daster berwarna pink dengan motif hello Kitty padanya.


Yang benar saja. dia terus menggerutu dalam hati.


" Cepat pakai, atau aku akan menyuruhmu tidur diluar!" hardik Ajeng.


" Apa tidak bisa diganti saja hukumannya, ya?" pintanya memelas.


" No." jawabnya singkat.


" Sayang ..." rengek Adam.


Mana mau dia memakai baju perempuan, apalagi dengan warna mencolok dan motif yang girly begitu.


" Terserah, pilihan ada di tanganmu."


" Hah ..." Adam hanya menghela nafas kasar. " Ya sudah kalau begitu."


Sepuluh menit kemudian, Ajeng dan suaminya sedang menonton TV di ruang tengah. Sesekali Ajeng tertawa jika melihat adegan lucu dalam film kartu yang di tontonnya.


Sementara Adam yang kesal terus saja menggerutu sambil meremas daster yang di pakainya. Tidak ada pilihan lain selain itu, meskipun dia merasa sangat konyol tiap kali melihat dirinya yang begitu lucu. Saat ini dia memakai daster pendek yang panjangnya hanya sebatas lutut , daster itu membuatnya merasa sesak karena memang tidak pas di badannya, terlalu sempit. Di tambah lagi bando berwarna hitam motif polkadot dengan hiasan pita besar Mickey mouse di atasnya, yang saat ini bertengger di atas kepalanya. Menuruti perintah istrinya membuatnya seperti orang tidak waras, tapi kalau tidak di turuti, akan seperti apa jadinya nanti kalau Ajeng akan memberikan hukuman yang jauh lebih gila lagi di bandingkan dengan ini.


.


" Kenapa belum makan?" ucap Sultan begitu melihat jatah makan malam istrinya masih utuh, tergeletak di atas nakas.


Di tatapnya Hanum yang menggelengkan kepalanya, menghadap tembok.


" Kamu harus minum obat supaya lekas sembuh, dan untuk minum obat kamu perlu makan terlebih dulu. Mau aku suapi?"


Lagi-lagi Hanum hanya menggeleng.


" Kalau kamu seperti ini terus, yang ada nanti kamu tambah sakit. Kamu mau tinggal di rumah sakit terus?"


Hanum mulai bergerak, perlahan dia bangun dari tidurnya.


Sultan mengambil makanan itu dan bersiap menyuapi istrinya, belum juga sampai sendok yang di sodorkan Sultan menyentuh bibir Hanum. Gadis itu sudah meraih sendok beserta nampan yang di pegang oleh Sultan, dia berusaha makan sendiri meskipun kondisinya masih lemah. Tangannya bahkan bergetar ketika mengangkat sendok, tak bertenaga.


Sultan bisa apa kalau sudah begitu, lebih baik membiarkan Hanum berbuat demikian, daripada gadis itu tidak mau makan sama sekali.


.


Hari sudah berganti menjadi pagi, lalu siang dan makin berjalan begitu cepat hingga tak terasa hari sudah kembali malam.

__ADS_1


Mbok Darmi menutup gorden jendela ruang rawat itu, menyalakan lampu lalu kembali ke sofa, duduk diam bersama suaminya.


Sementara Sultan yang saat itu sedang mengupas apel, tengah duduk di depan bed istrinya.


" Makanlah." ucapnya sambil menyodorkan piring berisi potongan apel yang telah dikupas, kepada Hanum.


Hanum pun meraihnya, mengambilnya sepotong kemudian memasukkan ke dalam mulutnya.


Semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arah pintu begitu terdengar suara ketukan dari luar.


Tak lama seorang gadis dengan suara cempreng menggelegar masuk, diiringi beberapa orang di belakangnya.


Terlihat Ginar, bunda Lili, dan juga Disha bersama suaminya masuk, Disha lalu meletakkan parcel buah yang dibawanya di atas nakas.


Mereka berhambur mengelilingi Hanum setelah saling bersalaman, mbok Darmi dan suaminya memilih untuk keluar. Sedangkan Sultan memilih untuk berbincang dengan Raka di kafe yang ada di seberang jalan rumah sakit.


" Aku sudah dengar semuanya." seru Ginar. " Mak lampir itu benar-benar gila ya? sudah tahu temannya itu sudah beristri namun masih saja bersikap tidak sopan begitu. Hal itu sudah cukup membuktikan kalau sebenarnya dia memang memiliki rasa terhadap suamimu."


Bunda Lili dan Disha pun saling berpandangan, tak menyangka Ginar akan bersikap frontal begitu. Bukankah Hanum baru saja sembuh, dia bahkan belum sepenuhnya sembuh. Tidak seharusnya Ginar berkata seperti itu, hal yang bisa memicu timbulnya rasa sakit yang dirasakan oleh Hanum.


Disha pun menyenggol lengan temannya, memberikan kode supaya gadis itu tutup mulut. Dan Ginar meringis, dia baru sadar kalau dirinya telah kelepasan bicara tadi.


" Bagaimana keadaanmu Num?" tanya bunda Lili. " Apa kata dokter?"


" Sudah makin membaik bund, tidak ada keluhan yang berarti selain sakit kepala yang masih terasa. Dokter juga sudah mengijinkan aku pulang besok, setelah melihat kondisiku."


" Syukurlah kalau begitu, jangan terlalu banyak berpikir, jalani saja semuanya, sampai kamu benar-benar sembuh. Setelah itu baru selesaikan satu per satu masalahnya."


" Iya bund, oh ya bund ... ada yang ingin Hanum sampaikan sama bunda."


" Apa? bicara saja."


" Kemungkinan besar Hanum mau resign dari butik bund, Hanum minta maaf ya bund, Hanum rasa ... Hanum sudah tidak bisa bekerja lagi setelah keluar dari rumah sakit nantinya."


" Ya, terserah kamu saja karena kamu yang akan menjalaninya."


" Hanum harap bunda tidak salah paham dengan maksud Hanum untuk mengundurkan diri."


" Tidak sayang, bunda tahu kamu memilih resign karena memiliki alasan kuat untuk itu. Bunda percaya sama kamu, bunda terima setiap keputusan kamu,apapun itu. Bunda ingin kamu tahu, kalau kami semua akan menerima kamu kapanpun jika kamu datang atau ingin kembali ke butik."


Mereka lalu berpelukan, Hanum mulai terisak, melepaskan tangisnya disana, rasanya nyaman berada dalam pelukan wanita paruh baya itu. Hangat pelukan seorang ibu yang di rasakan oleh Hanum membuatnya sedikit tenang.


Mereka pun saling melepaskan pelukannya saat tangis Hanum mulai reda.


" Selesaikan secara baik-baik masalah yang terjadi dengan suamimu, jangan biarkan terlalu lama berlarut-larut. Bicarakan dengannya, ambil keputusan begitu kamu sembuh nanti. Bunda dukung kamu, apapun keputusan kamu nantinya. Satu pesan bunda, tidak ada manusia yang buruk di dunia ini, suamimu hanya sedang tersesat, dan tugasmu adalah mengembalikannya ke jalan yang benar. Dia hanya tidak tahu kalau dia sedang berbuat salah, dan lagi, sudah menjadi tugas seorang istri untuk mengingatkan apa kesalahan suaminya. Kejar dia, buat dia bertekuk padamu, jangan pernah membiarkan ada celah di antara kalian yang membuatnya jatuh ke dalam pelukan wanita lain." bunda Lili menatap Hanum, tatapan matanya begitu lembut. " Satu hal lagi, kamu harus lawan perempuan itu, jangan biarkan dia menang, balas semua perbuatannya, bukannya malah kamu diam saja. Dia akan makin besar kepala dan berbangga hati kalau sampai kamu tidak berbuat apa-apa."


.


Sementara di sebuah kafe.


Adam yang sedang menunggu kedatangan seseorang sedang duduk di sebuah meja, minumannya sudah berkurang setengah dari isinya namun yang di tunggu belum juga menunjukkan batang hidungnya.


Diraihnya ponsel yang sejak tadi tersimpan rapi dalam kantong celananya, hendak menghubungi seseorang. Tapi tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang.


" Aku tidak menyangka, seorang diplomat kompeten sepertimu,tidak bisa menghargai waktu seperti ini." dengus Adam kesal.


" Ada yang perlu aku selesaikan dulu sebelum aku kesini." pria itu menarik sebuah bangku, lalu mendudukinya.


" Cih! sok sibuk." cibir Adam.


" Sorry." desis pria itu. " Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan? kenapa tidak kamu bicarakan sekalian di telepon tadi?"


" tidak sopan bicara di telepon! kamu ini bagaimana."


" Kenapa sih, setiap bicara denganku, kamu bawaannya selalu saja marah? seakan akan aku ini pernah berbuat salah padamu." pria itu mencebik.


" Sudahlah, ada hal lebih penting daripada berdebat denganmu." Adam mereguk minumannya. " Ada yang ingin aku tanyakan padamu."


" Hm." jawabnya singkat.


" Kapan tepatnya kamu kembali ke Indonesia?" tanya Adam terus terang.


" Seminggu setelah kepulangan Mauryn, memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?"


" Aku hanya heran saja dengan hubungan kalian. Kalian bilang kalau kalian akan berpisah, tapi pada kenyataannya, kalian belum resmi bercerai sampai hari ini juga."


" Bukan urusanmu." jawabnya acuh.


" Setidaknya kamu temui anakmu, dia sudah melahirkan beberapa hari yang lalu. Bayi kalian sangat cantik, tidakkah kamu ingin menemui anakmu? darah dagingmu?"


" Hah ..." terdengar helaan nafas panjang dari pria yang ada di depan Adam saat ini. " Aku akan menemuinya di saat yang tepat, tapi tidak sekarang."


" Kenapa?"

__ADS_1


" Sudahlah, bahas yang lain saja, malas aku."


Waktu yang tepat untuk membidik sasaran.


" Oh ya, omong-omong mana cincin kawinmu? kenapa kamu tidak memakainya? apa kamu benar-benar akan berpisah dengan Mauryn? sampai-sampai kamu tidak sudi memakainya lagi?" tanya Adam begitu hati-hati.


Pria itu melihat sekilas ke jemari tangan kirinya, setahun yang lalu masih tersemat cincin emas putih sebagai tanda pengikat dirinya dengan seorang wanita dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Dan setelahnya, dia tidak tahu kenapa cincin itu seolah tidak berarti lagi baginya.


" Dimana cincinmu?" ulang Adam.


" Hubunganku dengan Mauryn memang telah hancur, tapi aku juga tidak akan bertindak sembarangan dengan membuang cincin itu. Biar bagaimanapun, cincin itu pernah mengikat kami menjadi sepasang suami istri, mana mungkin membuangnya begitu saja."


" Lantas kenapa kamu tidak memakainya?"


Ayolah, jangan berputar putar, jawab saja pertanyaanku. batin Adam.


" Cincin itu hilang."


Deg.


Rasanya jantung Adam berpacu lebih cepat, nafasnya mulai tak beraturan.


" Bagaimana mungkin cincin pernikahan bisa sampai hilang, kau ini ada-ada saja."


" Aku juga tidak tahu bagaimana cincin itu bisa hilang."


" Barangkali kamu lupa menaruhnya, atau ketinggalan di rumahmu yang ada di Amerika." pancing Adam.


" Tidak mungkin, karena aku tidak pernah melepasnya. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa bisa terlepas dari jariku dan hilang begitu saja. Aku bahkan sudah mencarinya kemanapun, tapi sampai sekarang aku belum juga menemukannya."


Tepat sasaran. Baiklah kalau begitu, jadi kesimpulannya memang dialah pelakunya. Di runut dari tenggang waktu kejadian malam itu dengan kepulangannya ke Indonesia, cincin itu sebagai bukti, cukup meyakinkan aku kalau dia memang penyusup itu.


" Dam." panggil pria itu karena melihat Adam melamun. " Malah melamun."


" Eh, sorry. Mendadak kepalaku pusing."


" Ya sudah kalau begitu, kita pulang saja, aku pikir kamu mau bicara penting denganku, tahunya cuma obrolan tidak bermutu."


Obrolan tidak bermutu kepalamu peang, sadarkah kamu kalau kamu baru saja mengatakan hal penting yang ingin aku ketahui selama ini.


" Ya sudah, aku pergi."


Pria itu telah beranjak dari sana sebelum Adam sempat bicara.


Sejauh ini aku masih belum paham, kalau dia memang benar pelakunya, apa motifnya? kenapa dia mau berbuat kurang ajar pada Hanum. Sementara Hanum tidak kenal dan juga tidak ada hubungannya dengan dia sama sekali. Kalaupun dia ada dendam sama Sultan, apa masalahnya? mereka tidak berkaitan satu sama lain. Hubungan mereka juga tidak terlalu dekat selama ini, aku rasa motif balas dendam itu tidak cocok dalam masalah ini. Lalu apa motifnya?


" Sial!" Adam memijit pelipisnya, kenapa disaat dia telah mengetahui pelakunya, hal itu pun masih belum jelas semuanya.


Masih ada rahasia di balik kejadian ini, dia masih belum bisa membongkar motif pria itu menyusup diam-diam ke dalam apartemen Sultan dan berusaha melecehkan Hanum.


Diraihnya kembali gawainya, membuka layarnya dan mencari kontak seseorang.


" Hallo Tan."


" Ya Dam, ada apa?" sahut Sultan yang saat itu sedang berada di dalam toilet ruang rawat istrinya.


" Ck, ternyata memang benar kalau dia pelakunya."


" Apaaa ..." pekik Sultan, dia bahkan tidak sadar kalau teriakannya bisa saja menganggu istrinya yang saat ini sedang tidur.


" Astaga." Adam yang terkejut mendengar teriakkan Sultan hampir saja menjatuhkan ponselnya. " Sialan!" umpatnya. " Bisa tidak jangan berteriak begitu? telingaku masih normal, aku belum tuli, atau kamu mau bikin aku tuli, hah?"


" Apa kamu sudah memastikan kalau benar dia pelakunya?" tanya Sultan tanpa rasa berdosa.


" Apa pernah aku mengambil kesimpulan sebelum benar-benar mengetahui suatu hal?" rasanya belum pernah, Adam tipikal orang yang selalu penuh perhitungan, butuh banyak alasan untuk mendukung setiap keputusannya. Termasuk saat dirinya yakin kalau suami Mauryn lah, orang yang selama ini mereka cari. " Aku sudah menanyakan langsung pada orangnya. Dan dari jawabannya, aku yakin dia memang orang yang kita cari selama ini."


" Hah." Sultan menyentuh rahangnya. " Kalau dia pelakunya, memang apa motifnya? kenapa dia bisa sampai berniat melecehkan istriku. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan Hanum sama sekali."


" Itu yang perlu kita cari tahu lagi, setidaknya kita sudah lega karena sudah mengetahui siapa orangnya. Kita tinggal gali informasi lagi untuk mencari tahu kira-kira apa motif dia melakukan kejahatan pada istrimu."


" Lalu, bagaimana tadi, kamu tidak memukulnya kan?"


" Enak saja, aku masih waras."


" Biasanya kamu selalu main pukul tiap tahu orang itu salah." Sultan tersenyum masam, ingatannya kembali ke beberapa waktu silam ketika Adam memukulinya seperti orang kesetanan di depan IGD.


" Masalah itu, karena kamu yang lebih berhak melakukannya pada pria brengsek itu. Aku juga tidak mau mengotori tanganku dengan menyentuhnya. Kamu lupa, aku ini calon ayah, aku tidak mau memberikan contoh yang tidak baik pada anakku kelak." Adam berkelakar.


Sementara Sultan terkekeh, dia langsung memutuskan sambungan telepon itu, dan bergegas keluar dari kamar mandi.


Adam kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya.


Coba kita lihat, kira-kira apa yang akan dilakukan Sultan pada pria itu. Seberapa jantan mereka menyelesaikan masalah ini nanti, sudah lama aku tidak melihat Sultan berkelahi. Apa keterampilan karatenya masih sebagus dulu, atau sudah semakin buruk seiring berjalannya waktu. Ah, rasanya tidak sabar melihat tontonan seru berikutnya, tidak ada yang lebih seru dari melihat seorang pria kalem seperti Sultan berkelahi. Dia selalu saja menjadi raja yang memenangkan pertandingan setiap kali terlibat perkelahian dengan orang lain.

__ADS_1


Adam meraih kunci mobilnya dan pergi meninggalkan kafe itu.


.


__ADS_2