
Kira kira siapa yang datang.
Sultan berjalan menuju ruang tamu, dia sebenarnya enggan menerima tamu jika bukan teman, atau orang penting yang sudah di kenalnya. Asisten rumah tangganya bilang, belum pernah melihat orang yang saat ini bertamu, sebelumnya.
Dan, langkahnya terhenti sejenak begitu melihat siapa yang datang, dia menelan salivanya kelat. Menghirup nafas dalam-dalam sebelum kemudian duduk di sofa dengan enggan.
" Minta tolong, buatkan minuman ya mbak." perintahnya pada Indah.
" Baik tuan." perempuan berseragam navy itu mengangguk, lalu pergi untuk membuatkan pesanan tuan nya.
Suasana di ruang tamu itu hening cukup lama, sampai pembantu selesai menaruh dua buah cangkir berisi minuman beserta camilan di atas meja, dan pergi dari sana.
" Sebenarnya ..."
Sultan menatap lawan bicaranya begitu si tamu menggantung ucapannya.
" Aku hanya ingin berkunjung."
Sultan mengangguk, dia masih diam membisu sementara tangannya sibuk mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.
" Apa kamu tidak ingin melihat bayiku?" Mauryn memberanikan diri berbicara demikian.
Wanita itu mendekat ke arah Sultan,mencoba memberikan bayinya, untuk bisa pria itu gendong. Sultan yang tidak sempat berbuat apa-apa pun terkejut begitu menyadari Mauryn sudah meletakkan bayi mungil itu di pangkuannya.
Bisa gawat ini kalau sampai Hanum melihatnya. Apa yang akan dia pikirkan nanti.
Dengan gugup, di pandanginya wajah bayi mungil yang saat ini dalam dekapannya, bola matanya begitu jernih, pipinya gempal. Bayi perempuan itu sungguh cantik dengan perpaduan wajah antara Mauryn dan Dion.
Sementara di sisi lain.
Hanum yang saat itu sudah selesai mandi dan duduk manis di balkon mulai gelisah saat melihat suaminya tak juga kunjung datang. Dengan langkah terseret dia berniat menyusul suaminya di bawah.
Namun begitu sampai di meja makan, dia tak melihat sosok suaminya di sana.
" Mbok." Hanum mendekati mbok Darmi yang saat itu sedang mencuci peralatan masak di sink.
" Ya non, katanya mau makan di balkon, tadi si mbok sudah suruh Lastri antar makanan nya ke atas. Memangnya belum di antar?"
" Sudah mbok, masalahnya mas Sultan dimana sekarang? dia belum naik ke atas dari tadi."
" Oh ya." perempuan itu menepak dahinya. " Si mbok lupa, den Sultan ada di ruang tamu, tadi si mbok lihat, Indah membuatkan teh untuk tamu katanya."
" Ada tamu?" tanyanya heran. " Biasanya mas Sultan menyuruh tamunya masuk ke ruang tengah, tumben dia terima tamu di ruang depan."
" Si mbok ndak tahu non, kata Indah, dia baru pernah lihat orang itu datang kemari."
" Ya sudah mbok."
Penasaran, Hanum sudah tentu berjalan menuju ruang tamu, dia ingin tahu, siapa sebenarnya tamu yang datang.
Ketika hampir sampai, dia menghentikan langkahnya sebentar, mengelus dadanya begitu sayup-sayup dia mendengar suara perempuan itu lagi.
Dia lalu bersiap,mengambil posisi ternyaman sebelum menemui wanita itu, bukankah saat ini dia harus kembali menjalani perannya sebagai seorang aktris. Kembali berakting, dia akan berusaha memainkan perannya dengan sangat baik, sama seperti yang wanita ular itu lakukan padanya selama ini.
" Sayang." panggilnya dengan nada manja sambil mendekati suaminya.
" Eh." Sultan tak bergerak ketika Hanum berusaha mengambil bayi dalam dekapannya.
" Sudah lama kita tidak bertemu." menatap Mauryn. " Sebenarnya aku sudah mengajak mas Sultan untuk mengunjungimu dan melihat bayi ini." beralih menatap bayi yang sekarang ada di gendongannya. " Tapi mas Sultan bilang, dia sibuk."
__ADS_1
Sultan sedikit menjauhkan wajahnya dari Hanum, dilihatnya dengan seksama raut wajah istrinya.
Apa kali ini dia sedang berakting lagi?
" Aku sudah paham betul kesibukan Chanu seperti apa, aku maklum. Itu sebabnya aku memutuskan untuk datang kemari." melirik Sultan sekilas. " Dia pasti sangat ingin melihat anakku."
Cih, percaya diri sekali dia. Kenapa juga masih memanggil suamiku dengan panggilan kesayangan begitu. Menjijikkan. Hanum memaki dalam hati.
Namun dia sama sekali tak memperlihatkan wajah kesalnya, sebaliknya, dia justru bersikap biasa-biasa saja. Dia harus mengimbangi bakat akting perempuan licik itu.
" Ah, tentu saja, suamiku sangat menyukai bayi, apalagi anakmu sangatlah cantik." melirik Sultan dengan tatapan sinis. " Kami sudah menyiapkan kado untuknya, sudah kami kirim lewat kurir."
Sayangnya aku bukan orang jahat sepertimu, aku bisa saja memberikan kado berupa boneka bayi berlumuran darah padamu. Tapi, sekali lagi,aku bukan kamu, aku tidak akan melakukan kejahatan selama kamu tidak menyerangku secara fisik.
" Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot." sahut Mauryn sambil sesekali melirik Sultan yang sejak tadi diam membisu.
" Tidak masalah." kali ini Sultan menjawab.
Mereka pun kembali berbincang namun percakapan mereka hanya di monopoli oleh Hanum seorang, sementara Mauryn hanya menjawab se kena nya saja.
Sampai tiba-tiba datang lagi seorang tamu yang datang, membuat Hanum dan suaminya saling berpandangan.
Hanum yang melihat kedatangan Dion pun mulai cemas, dia menaruh bayi yang sejak tadi digendongnya itu di atas sofa. Setelahnya dia lalu menghambur ke dalam pelukan suaminya, berkali-kali menggelengkan kepalanya tiap kali bayangan buruk kejadian di masa lalu itu menyerangnya. Keringat dingin mulai membasahi keningnya, tangisnya pun pecah.
" Ada aku disini, tenanglah." bisik Sultan, berusaha menenangkan istrinya. " Untuk apa kau kemari? mau apa lagi?" berteriak pada Dion.
Mereka semua sebenarnya kaget, bagaimana bisa sepasang suami istri yang sama-sama tidak tahu malu itu bertamu di rumah yang sama. Baik Mauryn ataupun Dion sama-sama acuh, meskipun sempat saling bertatapan sekilas namun keduanya bersikap seolah mereka tidak saling mengenal. Mereka memiliki tujuan masing-masing hingga sengaja meluangkan waktu untuk datang ke rumah itu.
" Istriku ketakutan,aku mohon, pulanglah!" Sultan menaikkan nada bicaranya.
" Sebenarnya apa yang terjadi? apa yang membuat Hanum begitu ketakutan saat melihat Dion?" tanya Mauryn, penasaran.
" Dion, apa yang sebenarnya terjadi?" wanita itu mendekati pria yang saat ini masih berstatus sebagai suaminya itu.
" Apapun yang terjadi, bukan urusanmu."
" Dia masuk diam-diam ke dalam apartemenku dulu, dan berusaha melecehkan Hanum." Sultan mencoba memberitahukan perbuatan buruk Dion.
" Apa?" Mauryn terkejut mendengar penuturan Sultan tentang suaminya.
" Apapun yang aku lakukan, sama sekali tidak ada urusannya denganmu." Menepis tangan Mauryn yang saat itu sudah ada di depannya. " Kedatanganku kesini, untuk menanyakan soal kemarin." menatap Sultan. " Bagaimana apa kamu setuju untuk kita bertukar pasangan?"
Sinting.
" Tukar pasangan, apa maksudmu?" Mauryn mengguncangkan bahu Dion.
" Aku mencintai Hanum." jawabnya lantang.
" Apa?" wanita itu lunglai, tubuhnya terjatuh di atas sofa, tepat di samping Dion.
" Ya, awalnya aku memang berusaha mendekatinya untuk balas dendam pada Sultan." menatap tajam mata Mauryn. " Lelaki yang sangat kau cintai itu. Tapi lama-lama aku jatuh cinta padanya, kecantikan luar dan dalam pada wanita itu, sungguh membuatku tergila-gila."
Mendengar setiap perkataan Dion semakin membuat Sultan meradang, dia lalu bangkit dari duduknya.
" Aku tidak sudi melihat drama kalian, pergilah dari sini secepatnya, sebelum kesabaranku habis." Sultan menggotong tubuh istrinya dan pergi dari ruangan tersebut. Tidak peduli dengan Dion yang terus meneriakinya.
Sultan membaringkan tubuh Hanum di atas kasur begitu mereka sampai di kamar utama, dia memberikan segelas air yang tersedia di atas nakas pada istrinya. Dia bisa melihat dengan jelas raut wajah ketakutan sejak Hanum melihat Dion menginjakkan kakinya di rumah ini.
" Tenanglah." ucapnya lirih. Dia hendak pergi untuk melihat kekacauan yang terjadi di ruang tamu, tapi dengan cepat Hanum menarik lengan bajunya.
__ADS_1
" Jangan pergi! kumohon."
" Ya sudah."
Sultan merangkak naik ke atas kasur, berbaring di samping istrinya kemudian melingkarkan tangannya untuk memeluk gadis itu.
" Aku takut, pria itu sangat menakutkan, bagaimana kalau dia akan mem ..."
" Jangan berpikiran macam-macam, tidak akan terjadi hal buruk padamu karena aku akan selalu menjagamu." berulang mengusap rambut Hanum.
" Bukan hanya Dion yang bisa melakukan kejahatan, perempuan itu juga."
Dan kalimat terakhir yang diucapkan Hanum sukses membuat Sultan bingung.
" Maksudmu?"
" Ternyata dia perempuan jahat, dia tidak sepolos yang kita tahu selama ini." Hanum menaikkan kepalanya, menjulurkan tangannya di atas nakas berusaha mencari sesuatu. " Ponselku, dimana?"
Sultan pun bangkit untuk mencari benda pipih canggih milik istrinya, menyapu pandangan ke seluruh penjuru ruangan itu. Dan ya, berjalan ke arah sofa, tempat dimana istrinya meletakkan benda itu disana.
" Ini." Sultan kembali merebahkan tubuhnya setelah menyerahkan ponsel itu ke tangan Hanum.
Awalnya Sultan masih belum mengerti apa yang akan dilakukan istrinya pada ponsel tersebut, sampai akhirnya Hanum memutar sebuah video dan memperlihatkan padanya.
Dengan perasaan berdebar Sultan melihat video itu dari awal hingga akhir, yang kesemua isinya hanya membuatnya kecewa juga sakit hati begitu mengetahui sisi lain dari Mauryn. Gadis yang telah lama menjalin hubungan lebih dari sekedar pertemanan dengannya, sudah dianggapnya seperti saudara, nyatanya perempuan itu menaruh harapan lebih pada Sultan dan berniat menghancurkan rumah tangganya.
Sultan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, sungguh saat ini pikirannya berkecamuk. Rasa kecewa, marah, menyesal, semuanya bercampur jadi satu. Kenapa selama ini dia begitu bodoh, sampai tidak menyadari kalau Mauryn hendak berbuat jahat pada istrinya.
Mereka berdua benar-benar keterlaluan, suami istri sama jahatnya. Seperti sepasang lalat pengganggu, dan entah kenapa mereka berdua terlihat sangat cocok.
.
" Keterlaluan kamu!" teriakan Mauryn terdengar menggema di ruangan itu.
" Apa bedanya denganmu?" menunjuk Mauryn. " Kamu pikir, yang telah kamu lakukan padaku selama ini, apa? semua yang kamu lakukan padaku jauh lebih keterlaluan. Perempuan tidak tahu diri, ada salah apa aku padamu sampai kamu tega berbuat kejam padaku? setelah semua yang aku lakukan padamu kau masih belum puas juga."
" Diam!" hardik Mauryn. " Dasar tidak tahu malu."
" Tidak salah?" Dion tersenyum sinis. "Seharusnya kata-kata itu lebih pantas ditujukan untukmu. Kau dengan tidak tahu malu-nya mendekati pria yang jelas-jelas telah menikah. Pria yang sama sekali tidak pernah mencintaimu, dengan serakahnya kamu mencoba menghancurkan rumah tangganya."
" Lalu kamu pikir yang sedang kamu lakukan sekarang ini apa? kita berdua sama."
" Jelas berbeda, aku melakukannya untuk balas dendam, sampai aku tidak menyadari kalau aku benar-benar jatuh cinta pada Hanum. Gadis itu, kecantikan hati yang dimilikinya begitu menyentuh hatiku, dia jutaan kali lebih baik dari wanita menjijikkan sepertimu."
" Hah, seleramu sungguh sangat rendah." Mauryn mencibir.
" Ya, seleraku memang rendah, jujur saja aku lebih memilih wanita baik-baik yang sederhana daripada wanita ular jadi-jadian berwujud malaikat sepertimu."
" Brengsek!" Mauryn melayangkan pukulan di di pundak pria itu namun Dion dapat menghindarinya. " Kemari kau, aku akan memberikan pelajaran padamu karena sudah berani membanding-bandingkan aku dengan perempuan kampung itu." histeris, Mauryn terus berlari, kalap memukuli suaminya.
Dan saat mereka sedang terlibat pertarungan sengit, tangis bayi mungil yang sejak tadi tertidur di atas sofa pun menghentikan keduanya.
Dion berlari mendekati bayi mungil berselimut bulu warna pink, digendongnya bayi itu kemudian di cium wajah anaknya. Dia tersenyum saat melihat gambaran dirinya di wajah mungil anaknya.
Maafkan ayah sayang, karena keegoisan ibumu kita jadi terpisah.
Mata Dion berkaca-kaca, di pandangi wajah sang anak yang sejak tadi menangis,dan ajaibnya, sejak dia menggendong dan mengajak bicara, tangis bayi itu terhenti. Bayi itu terus menatapnya seolah bertanya siapa pria yang saat ini menggendongnya. Dion semakin menyesal jika mengingat kembali rumah tangga yang telah dibina selama lebih dari dua tahun, kini telah hancur. Tidak mungkin ada lagi kesempatan untuk mereka bisa hidup bersama, membesarkan buah cinta mereka.
.
__ADS_1