Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Rahasia gelang kaki bintang laut


__ADS_3

" Kita mampir ke rumah sakit nanti ya." Sultan menggenggam jemari istrinya sepanjang jalan menuju parkiran.


" Rumah sakit?" tanya Hanum, heran. "Memangnya siapa yang sakit?"


" Memangnya kamu sudah tahu mengenai kondisi kandunganmu? bukankah kita harus memeriksanya ke dokter spesialis kandungan untuk mengetahui bagaimana keadaan calon bayiku sekarang."


Hanum terdiam, suaminya membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Hanum masuk ke dalamnya.


Mobil itu pun melaju di jalanan.


Sepanjang perjalanan, Hanum tak mengeluarkan sepatah kata pun, dia terus saja melihat ke arah luar, tak berani menatap wajah suaminya yang saat ini sedang mengemudi dengan raut wajah berseri-seri. Angannya melayang, kembali mengingat kejadian siang tadi.


Flashback on.


Hanum terus memikirkan langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya, mengenai permasalahan rumah tangganya. Dia sempat berpikir untuk pergi dari kehidupan Sultan, entah kenapa semenjak dia mengetahui kenyataan kalau Mauryn telah lama menyimpan rasa pada suaminya. Sejak kejadian perkelahian yang terjadi diantara Sultan dan Dion yang terjadi di ruang tengah waktu itu, Hanum yang tak sengaja mendengar seluruh percakapan mereka, dia merasa kasihan pada Mauryn.


" Non Hanum." panggil mbok darmi.


Hanum yang sedang duduk di taman belakang, menoleh ke arah wanita tua itu.


" Ya mbok."


" Ada non Ajeng di depan."


" Dia kesini mbok?"


" Ya non."


" Ya sudah mbok, terimakasih. Saya ke depan dulu."


Hanum berjalan menuju ruang tamu, dan benar saja, dia melihat Ajeng sedang duduk manis disana sambil memainkan gawainya.


" Hanum, cepat kemari." teriak Ajeng, begitu tak sabar.


" Eh, ada apa ini?" Hanum terkekeh saat Ajeng menyeret lengannya dan menyuruhnya duduk di samping gadis itu.


" Kudengar kamu mau ke Semarang?"


" Iya." jawab Hanum singkat.


" Sebaiknya kamu urungkan niatmu."


" Kenapa memangnya? aku hanya pergi seminggu, kamu tidak perlu mencemaskan aku, aku bisa menelponmu tiap hari, nanti."


" Bukan itu masalahnya."


" Hah?"

__ADS_1


" Kamu akan tahu apa alasanku melarangmu pergi ke Semarang." Ajeng menyodorkan benda pipih miliknya kepada Hanum. " Lihat dan dengar baik-baik isi video itu."


Hanum tak bertanya apapun meski sebenarnya dia merasa penasaran dengan isi video di dalam ponsel temannya, dia memilih untuk diam dan memperhatikan video itu dengan seksama.


Dia begitu terkejut saat melihat sosok dalam video itu yang sangat di kenalnya, dia menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang baru saja dilihat dan di dengarnya.


Dalam video yang berdurasi sekitar tiga menit itu terlihat Mauryn sedang berbicara dengan seorang wanita. Dia bisa melihat dan mendengar dengan jelas setiap gerakan dan ucapan antara Mauryn dengan lawan bicaranya. Perempuan jahat itu sedang membicarakan tentang suaminya, merencanakan siasat liciknya untuk merebut Sultan dari Hanum. Hanum bisa melihatnya dengan jelas saat Mauryn yang begitu bersemangat mengatakannya pada wanita di depannya meskipun dia hanya melihat dari video yang diambil secara sembunyi-sembunyi itu.


" Jeng ..." Hanum menatap nanar temannya.


" Video itu aku ambil diam-diam di toilet, kemarin aku belanja baju-baju hamil sama mas Adam di mall. Pas di toilet, aku tidak sengaja dengar suara nenek lampir itu, aku mengintip dari balik pintu dan ternyata memang benar itu suara Mauryn."


Ajeng meremas jemari tangan temannya, mencoba memberikan kekuatan pada gadis itu.


" Ternyata benar kecurigaanku selama ini, dia benar-benar wanita licik Num, kamu saja yang bodoh sampai tidak menyadari kalau dia memang menginginkan suamimu."


"Apa yang harus aku lakukan?" lirih Hanum.


" Kamu harus balas perbuatannya, buat dia menyesal karena telah bermain main denganmu. Kamu harus membayar lunas setiap apa yang di lakukannya padamu."


" Apa aku harus mendatangi rumahnya? memarahinya begitu?" tanya Hanum dengan polosnya.


Hanum makin dibuat bingung saat melihat Ajeng menggelengkan kepalanya, menandakan kalau gadis itu tak setuju.


" Selama ini dia menggunakan cara licik dalam menjalankan aksinya, kita semua sampai masuk ke dalam perangkapnya tanpa curiga sedikitpun padanya, kita tidak tahu sebusuk apa perempuan itu."


" Kita gunakan cara halus, cara yang sama seperti yang dia pakai untuk menipu kita selama ini." Ajeng tersenyum melihat temannya yang sepertinya masih belum paham maksud dari perkataannya. "Berpura-pura saja seolah kamu belum mengetahui rencana jahatnya, balas dia dengan cara halus, jangan secara terang-terangan."


" Ya baiklah, aku mengerti sekarang." Hanum menganggukan kepalanya.


Mereka pun mulai menyusun rencana pembalasan dendam pada perempuan jahat berkedok malaikat yang bernama Mauryn.


Setelah mengetahui kebenarannya, membuat Hanum yang awalnya merasa kasihan pada perempuan itu telah merubah pandangannya. Rasa iba atas penderitaan yang dialami wanita itu kini telah berganti menjadi kebencian yang begitu mendalam.


Sungguh, Hanum merasa sangat menyesal kenapa dia dan juga suaminya sama sekali tidak mengetahui kalau selama ini Mauryn telah mengelabuhi mereka. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa padahal perempuan itu menyimpan dendam dan ambisi yang begitu besar demi hidup bersama Sultan. Dia bahkan membuat rencana kejam untuk membuat Hanum berpisah dengan suaminya.


Flashback end.


.


" Mas."


Panggilan dari istrinya membuat Sultan menoleh.


" Bisa tidak, kita jangan ke rumah sekarang?"


" Kenapa memangnya?" tanya Sultan penasaran.

__ADS_1


" Aku pusing, kita pulang saja ya?"


" Lho, kalau kamu pusing justru kita harus secepatnya ke dokter kan?"


" Tolong pulang saja ya, aku mau istirahat. Sungguh aku sangat lelah."


Hanum berusaha membujuk suaminya, menggunakan alasan yang dibuatnya agar Sultan menunda pemeriksaan ke dokter hari ini.


Rasanya dia belum siap kalau harus menceritakan tentang apa yang baru saja dilihatnya siang tadi. Kejadian yang telah membuka matanya, dan merubah pandangannya terhadap Mauryn. Dia tidak bisa membayangkan betapa Sultan akan kecewa jika mengetahui kebenarannya.


Apapun yang terjadi, dia merasa bersyukur, setidaknya dia sudah mengetahui niat busuk Mauryn. Dan dengan kejadian ini, membuat dirinya yakin, dia akan berjuang untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya.


" Baiklah kalau itu maumu." Sultan tersenyum, mengusap puncak kepala istrinya. " Kita pulang sekarang."


Hanum bernafas lega setelah mengetahui suaminya menuruti keinginannya, dia akan berusaha mengulur waktu, sampai tiba saatnya dia akan menceritakan semuanya pada Sultan.


.


Waktu terus berputar, cahaya rembulan yang bersinar sepanjang malam telah berganti dengan sinar mentari. Tetes embun jatuh membasahi dedaunan, udara pagi terasa begitu sejuk.


Pagi itu, Hanum terbangun dari tidurnya. Dia terkejut begitu melihat suaminya sudah tidak berada di sampingnya. Dilihatnya jam yang menggantung di dinding, pukul tujuh pagi.


Pantas saja mas Sultan sudah pergi, kenapa aku bisa bangun kesiangan begini sih.


Hanum menjulurkan kakinya menyentuh lantai, memakai sandal rumahan miliknya dan menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan sarapan pagi, Hanum yang merasa malas, memilih untuk berdiam diri di kamar. Padahal, taman belakang telah menjadi tempat favoritnya selama beberapa hari ini. Namun hari ini rasanya dia malas, dia berencana untuk membaca novel saja di dalam kamar.


Hanum menutup novel dengan kisah romantis yang sempat terhenti karena kecelakaan yang dialaminya beberapa waktu lalu, akhirnya selesai juga dia membacanya hari ini. Dia lalu bangkit menuju ruang kerja suaminya, barangkali ada novel baru yang bisa dia baca disana.


Dia segera menyusuri rak buku yang berada di belakang meja kerja suaminya begitu dia sampai di sana. Di carinya buku tebal berbentuk persegi yang mungkin saja terselip di antara tumpukan map yang tersusun rapi itu.


Semua rak telah di periksanya namun sepertinya, benda yang di carinya tidak ada disana. Dia lalu beralih menuju meja kerja Sultan, menarik bangku itu dan duduk di atasnya.


Dia sempat menata beberapa lembar kertas yang tercecer di atas meja, menumpuk jadi satu dan menaruhnya. Seulas senyum tersungging di bibirnya saat melihat foto dirinya dalam pigura yang terletak di sebelah kanan meja.


Penasaran, dia membuka laci yang ada di bawah meja itu, dibukanya perlahan, tak ada sesuatu yang istimewa disana. Dia beralih menuju laci sebelah kiri, di ambilnya sebuah kotak musik. Benda berbentuk setengah lingkaran yang ketika dibuka akan muncul sepasang boneka kecil yang sedang menari di iringi alunan musik klasik.


Di perhatikan dengan seksama kotak musik itu, begitu musik berhenti. Lalu dia berniat untuk memasukkan kembali benda itu ke dalam laci. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang menjuntai dari bagian bawah kotak musik itu, benda itu jatuh ke lantai.


Hanum memungutnya, di perhatikan benda panjang berwarna putih itu, sebuah gelang kaki dengan hiasan bintang laut di bagian tepi yang akan menimbulkan suara gemerincing saat gelang tersebut di pakai.


Hatinya berdesir, dia tertegun melihat benda yang sangat familiar baginya, dia memeriksa bagian kancing gelang kaki tersebut untuk memastikan kecurigaannya. Dan, benar saja, ada ukiran huruf berinisial HSH berukuran kecil yang ada di balik kancing gelang kaki tersebut.


Kenapa mas Sultan bisa memiliki gelang kaki ini? darimana dia mendapatkannya.


Hanum tak sengaja menjatuhkan gelang itu, dia begitu terkejut, lagi-lagi ada sebuah rahasia yang di sembunyikan oleh suaminya darinya.

__ADS_1


.


__ADS_2