Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Sebuah Bantuan


__ADS_3

William menekuk lututnya, membiarkan dinginnya lantai membelai telapak kakinya. Lelaki itu duduk bersandar pada bibir ranjang dengan air mata yang tak ubahnya air bah, tak henti mengalir.


Bukankah ini yang dia inginkan? Berpisah dengan Cinta agar dia bisa leluasa memberikan seluruh cinta dan perhatiannya pada Raisa, tapi mengapa William menangis? William begitu menyesali keputusannya.


Belum genap sehari ia resmi menduda. Pun belum ada sebulan Cinta pergi dari rumahnya, tapi William seolah telah tersiksa bertahun-tahun lamanya.


Pulang dan pergi dari rumah dalam keadaan sepi. Bik Nur akan datang untuk membereskan rumah setelah William berangkat ke kantor, lalu perempuan paruh baya itu akan pergi sebelum jam empat.


Aneka masakan Bik Nur hidangkan untuk makan malam tuannya sebelum ia pulang, tapi tak ada satupun yang menarik minat William. Dia hanya ingin mencicipi nasi goreng buatan Cinta. Tumis kangkung tauco, ayam kecap dan perkedel kentang buatannya, tak ada yang dapat menandingi kenikmatan masakan Cinta.


"Aku sedang dihukum! Aku sedang mendapatkan hukuman atas apa yang aku lakukan padamu dulu." Setitik cairan dari telaga bening William meluncur dan berakhir di pigura yang saat ini sedang digenggamnya.


"Sekarang aku tahu bagaimana rasanya menunggu. Sepulang kerja aku selalu pulang ke rumah Raisa untuk membawakan makanan pesanannya. Tak kenal waktu, hingga tak sadar aku membuatmu menunggu berjam-jam lamanya. Kesepian, kesedihan, kekecewaan yang kau rasakan, itu semua pasti membuatmu sangat menderita. Maaf ... Maafkan aku Cinta." Bahu William berguncang hebat. Ia menumpahkan tangisnya yang makin lama makin menjadi-jadi.


"Maafkan aku yang telah dibutakan oleh rasa yang tidak pada tempatnya. Seharusnya aku menyadari itu sejak dulu, begitu kehadiranmu memasuki kehidupanku. Aku telah salah karena memupuk rasa yang tidak seharusnya ada, dan malah mematikan cinta yang tumbuh subur dalam naungan halal." William menyeka wajahnya kasar.


Entah sudah berapa lama dia menangis, yang jelas ini merupakan kali pertama dalam seumur hidupnya ia menangis.


Melihat cara Cinta menatapnya sendu. Ada begitu banyak luka yang gadis itu sembunyikan di balik tatapan mata juga sudut bibirnya. Melihat Cinta tersenyum pada keluarga dan juga pada dirinya, bahkan setelah luka mendalam sedemikian rupa William torehkan.


Kalah.


William telah kalah. Semua yang Cinta rasakan dulu, kini dia pun merasakannya. Tak ada celah sedikitpun di ruang hatinya yang terdalam untuk mengingat Raisa. Semua rasa pada gadis itu musnah seiring dengan penyesalan setinggi gunung yang menyisakan lara tak terperi.


"Sesakit inikah dulu yang kamu rasakan? Maafkan aku yang bodoh ini Cinta ..." Bingkai foto pernikahan itu kembali William dekap.


Hampa.


Tak ada rasa yang tertinggal selain hanya sesal. Seandainya saja William masih memiliki kesempatan, tapi sayangnya dia cukup tahu diri. Bagaimanapun juga akan membutuhkan waktu yang lama untuk Cinta dapat mengobati luka hatinya.


.


.


"Cinta, kamu beli susu hamil? Kamu hamil?"

__ADS_1


Deg.


Tubuh Cinta membeku saat mendengar suara yang sangat dikenalinya. Menelan ludahnya kelat, Cinta perlahan membalikkan tubuhnya.


"A ... Kamu ngapain di sini?" Tanya Cinta, gugup.


"Tidak sopan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga."


Cinta terdiam. Cukup lama ia menundukkan kepalanya sembari menyiapkan jawaban yang pas untuk pertanyaan Azka. Ya, meskipun Cinta tahu dia tak mungkin menghindar dengan adanya bukti dua kotak susu ibu hamil dalam keranjang belanjaannya.


Cinta dan Azka duduk saling berhadapan di depan minimarket tersebut, Azka memutuskan membayar barang belanjaan Cinta dan mengajak gadis itu untuk berbincang. Dan di sinilah mereka sekarang, di sebuah kafe kecil tepat di depan minimarket.


Setelah hampir dua puluh menit keduanya membisu, akhirnya Cinta membuka suara.


"Aku sudah resmi pisah," lirih Cinta.


"Sudah kuduga," cetus Azka.


"Apa?"


"Bagaimana bisa?" Cinta menggenggam cangkir berisi caramel machiato yang masih mengepulkan asap panas itu.


"Sebagai sesama lelaki, aku tahu kalau kamu nggak benar-benar ada di hatinya. Maaf ... Terpaksa aku harus ngomong gini ke kamu. Caranya menatapmu saja berbeda, tak seperti tatapan seorang suami pada istrinya seperti kebanyakan orang."


Cinta mengangguk membenarkan.


"Menikahlah denganku," cetus Azka.


"Apa!"


"Nggak perlu keget gitu. Kamu kan tahu udah sejak lama aku memendam cinta sama kamu," lanjut Azka.


"Tapi ..."


"Aku nggak memintamu untuk menjawabnya sekarang. Kau bebas berpikir dan memberitahuku kapanpun begitu kau telah menemukan jawabannya."

__ADS_1


Azka merasa trenyuh melihat tatapan Cinta padanya. Sorot matanya tak terbaca.


"Aku minta pikirkan baik-baik tawaranku. Jika kau disakiti oleh seorang laki-laki, maka obatnya adalah laki-laki itu juga. Aku siap mengobati lukamu selama kau memberikan kepercayaan padaku. Dengan kau menikahiku, aku akan membantumu membalas dendam pada William."


"Kau salah paham," tampik Cinta.


"Kau yang salah. Aku bahkan telah mengetahui luar dan dalammu. Aku tahu kau bukanlah gadis pendendam, tapi bukankah akan sangat seru jika tokoh antagonis diberi pelajaran? Aku yakin, dia akan merasakan kehancuran yang lebih menyakitkan dari pada yang kamu alami."


Cinta terdiam berusaha mencerna setiap ucapan Azka.


"Kau tahu sendiri statusku sekarang," ucap gadis itu.


"Tahu. Aku sangat paham. Kau janda dan dalam keadaan hamil, lalu apa salahnya? Kita sama-sama single, tidak ada siapa yang merebut siapa. Aku tahu kau mungkin sangat terkejut mendengar pengakuanku. Sekali lagi aku katakan, sebaiknya kau pikirkan baik-baik tawaranku."


Cinta menghembuskan napas panjang. Pilihan yang berat baginya, bagaimana mungkin dia menerima tawaran Azka di saat dia sudah tidak mempercayai adanya ketulusan cinta.


Trauma yang ditinggalkan William melalui pernikahan instan dan singkat, membuatnya ragu untuk kembali melangkah. Cinta takut hal yang menimpanya sekarang akan kembali terjadi jika dia menikah dengan Azka, sedangkan dia tahu hatinya masih dipenuhi oleh William terlepas dari semua luka yang William berikan padanya.


Cinta tak ingin dibilang mengambil kesempatan, karena Cinta tahu bagaimana rasanya mencintai orang yang tidak mencintainya.


Namun, semua yang dikatakan Azka juga ada benarnya. Ah, Cinta benar-benar berada di ambang dilema.


"Baiklah, beri aku waktu untuk berpikir, tapi sementara itu aku membutuhkan bantuanmu sesegera mungkin," kata Cinta.


"Bantuan?" Tanya Azka, memastikan.


"Ya."


"Apa itu? Aku pasti akan melakukannya untukmu selama aku bisa."


Cinta tersenyum penuh arti.


Bersambung ....


Happy reading Kesayanganku, maaf ya baru sempat up lagi. Oh ya, sambil nunggu aku up, kalian bisa mampir baca karya di bawah ini. Kisah pelik yang mengharukan antara Daniel yang terpaksa menikahi wanita cantik yang ditemuinya karena sebuah kecelakaan. Penulisannya rapi, kata-katanya mudah dicerna dan yang pasti kalian dibuat baper deh sama kisah mereka. Jangan lupa ❤️ nya ya, like dan vote nya jg buat aku, kan syg drpd gak kepake. Hehehe, doain aku sehat terus biar bisa lancar update ya. Ini aja terrmasuknya aku double up lho. Makasih kesayangnku, semoga suka dengan ceritanya 🙏🤗😘😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2