
Cinta berdiri di depan pintu menyambut kepulangan suaminya. Rintik hujan yang masih berlangsung sejak sore membuat suasana rumah itu menjadi sepi, terlebih setelah Raisa memutuskan untuk berangkat ke hotel.
Ya, Raisa memilih menghabiskan malamnya bersama Willmar dengan menginap di hotel dan keduanya telah janjian untuk langsung bertemu di sana. William yang berangkat menumpang di mobil adik kembarnya terpaksa pulang dengan dijemput supir.
"Kenapa kamu berdiri di sini Sayang? kamu kan bisa nunggu di kamar aja. Mana Jayden?"
"Ada di kamar, barusan tidur makanya aku tinggal sebentar." Cinta meraih tas kerja dan juga jas suaminya.
"Lain kali jangan ditinggal, dia sudah mulai aktif dan aku nggak mau dia sampai celaka."
"Enggak Mas. Aku udah memastikan kondisinya aman sebelum aku tinggal. Kopi kamu udah aku taruh di meja, air buat mandi juga udah aku siapin sama baju gantinya. Habis itu kamu makan ya."
"Oke Sayang, aku mandi dulu."
William sempat memeriksa Jayden yang tengah terlelap dalam boxnya sebelum masuk ke kamar mandi.
Selagi suaminya membersihkan diri, Cinta pun menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. William telah rapi dengan piyama tidur berwarna navy dan tengah duduk di sofa ketika Cinta kembali ke kamarnya.
"Makan dulu Mas."
"Iya Sayang."
Pasangan suami istri itu pun makan dengan diselingi obrolan ringan. William akan meminta istrinya menceritakan kegiatan apa saja yang hari ini ia lakukan bersama putra kesayangan mereka, kemudian mendengar cerita Cinta dengan seksama. Begitu kegiatan mereka setiap malam dan sudah menjadi kebiasaan semenjak kelahiran Jayden.
"Rumah sepi banget, Jayden tidur."
"Ya bagus dong, kita jadi bisa coba gaya baru lagi." William mengedipkan sebelah matanya, genit.
"Dih, mesuum."
"Bilang aja kamu juga mau," tukas William, sementara wajah Cinta telah bersemu merah.
"Aku mau kasih asi dulu buat Jayden. Ini udah waktunya dia buat minum susu."
"Biar aku aja Sayang. Kamu siap-siap aja sana."
__ADS_1
"Ih, Mas Willi!"
"Udah nggak apa-apa, toh kasih asinya pakai botol kan? udah sana!"
Cinta tak lagi membantah, ia masuk kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Wanita itu melotot melihat lingerie yang diberikan Raisa untuknya.
"Sepertinya aku sudah gila karena memakai kain seperti ini," gumam Cinta.
Kain dengan motif jaring-jaring dengan renda di bagian ujungnya. Melihat bagian dada yang tak tertutup dengan sempurna membuat Cinta malu sendiri. Kini dia tahu jika fungsi kain tersebut memang untuk menggoda pasangannya. Pucuk bukitnya bahkan terlihat menonjol tanpa penghalang, juga bagian bawah dengan model sedemikian rupa hingga memperlihatkan lembah hitam yang seharusnya ia tutupi.
"Raisa sialan! Dia mengerjaiku, astaga!" maki Cinta, tapi dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan senyuman. "Pantas saja Willmar tergila-gila padanya karena dia begitu pandai menyenangkan hati suami. Baiklah, sepertinya aku harus berterima kasih padamu Rai," imbuhnya.
Setelah memastikan penampilannya sempurna, Cinta menyemprotkan wewangian di beberapa titik tubuhnya. William sangat menyukai aroma cherry manis pada parfumnya, tapi untuk bagian bibir pria itu akan lebih menyukai rasa stroberi.
Cinta membuka pelan pintu kamar mandi, melihat William telah berbaring di kasur.
"Jayden aku taruh di kamar sebelah, takut dia kebangun kalau kita berisik," kekeh pria itu.
"Ya ampun Mas, gimana kalau dia kebangun nanti."
"Berdoa saja dia nggak kebangun sebelum kita selesai," kata Cinta.
Seperti yang sudah-sudah, si kecil Jayden memang sering terbangun di tengah pergulatan panas orang tuanya. William kesal bukan main, tapi tentu saja ia tidak mungkin memarahi anaknya. Beruntung Cinta menggantinya dengan memberikan servis ekstra di lain hari jika ada kesempatan, jika tidak mungkin pria itu dirundung nestapa tak berkesudahan.
"Tetap di situ Mas!"
William beringsut dari kasurnya bersiap menerjang Cinta, tapi kalah cepat karena Cinta menahannya.
"Hah!" pria itu kaget. William diam bersiap mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh Cinta selanjutnya, tapi dugaannya salah.
William mendelik, hampir saja bola matanya terlepas dari wadahnya saat melihat apa yang dilakukan istrinya saat ini. Cinta menarik tali kimononya dengan sangat lambat, seolah menjiwai setiap prosesnya dengan sepenuh hati. Suasana di kamar itu menjadi syahdu. Dengan hanya temaram lampu tidur, William dapat melihat Cinta mulai melangkah maju mendekatinya. Semua gerakan Cinta sungguh sangat lamban, hingga membuat William tak tahan.
"Tetap di situ!" lagi-lagi Cinta memperingatkan suaminya yang sepertinya sudah tidak sabar untuk segera menyantap makanan utamanya.
William kembali duduk. Cinta melepas baju tipis yang berhasil ia buka talinya, menghempasnya di lantai. William kepayahan menelan salivanya melihat istrinya yang setengah telanjaang. Bagaimana tidak? lingerie yang dipakai Cinta sama sekali tak bisa menutupi tubuhnya sedikitpun. Yang ada William semakin tergoda saat melihat ujung dada Cinta mengintip di balik kain jaring. Makin melihat ke bawah, William semakin dibuat gila.
__ADS_1
Masih dengan lingerie yang membalut tubuhnya, Cinta naik ke pangkuan suaminya.
"Happy wedding anniversary Sayang," bisik Cinta sebelum dia membenamkan bibirnya di bibir William.
Jantung William benar-benar serasa dibuat copot. Kejutan demi kejutan terus Cinta berikan padanya. Cinta berusaha mendominasi permainan dengan melumaat bibir William amat takut. Belum selesai pria itu dengan kejutan sebelumnya, William kembali dibuat melotot saat Cinta dengan cepat mendorong tubuhnya hingga terjatuh di kasur.
"Sayang," panggil William dengan nada serak, pria itu telah diselimuti kabut gairaah.
"Diam saja," ujar Cinta.
Wanita itu dengan cepat melucuti kancing piyama suaminya, lalu berpindah ke bawah untuk membebaskan senjata pria itu yang sedari tadi tersiksa dalam sangkarnya.
Cinta kembali melumaat rakus bibir William hingga yang terdengar hanya decapan dua bibir yang menyatu bersamaan dengan deru napas yang memburu. William tak mau kalah, ia robek lingerie yang masih menempel di tubuh istrinya.
Keduanya telah sama-sama polos, dan Cinta telah siap untuk dimasuki. Rintik gerimis yang mengalun merdu berpadu dengan desahan mereka yang terus bersahutan mengiringi malam panjang perjalanan mereka mendayung pulau kenikmatan.
Ada nama Cinta yang keluar dari bibir William, pun sebaliknya. Jika biasanya William yang akan membungkam mulut Cinta dengan ciuman saat wanita itu terus merintih, maka kali ini Cinta yang melakukannya.
"Mas, jangan berisik! nanti Jayden bangun," omel Cinta setengah berbisik.
"Sumpah demi Tuhan aku nggak bohong, ini nikmat banget jadi jangan melarangku mendesah." William balas mengomeli istrinya.
Pria itu terus memejamkan mata menikmati permainan Cinta di atas tubuhnya. Dalam posisi seperti ini membuat William merasakan kenikmatan yang jauh lebih terasa memabukkan ketimbang dalam posisi lain. Cinta sendiri sampai malu sekaligus merinding mendengar William tak henti-hentinya merintih.
"Lebih cepat Sayang, sebentar lagi aku sampai." William mengusap pipi Cinta.
Wanita itu menurut. Cinta yang memang sedang memimpin permainan pun mempercepat gerakannya. Satu tangan William meraih pinggul Cinta dan menekannya kuat saat lahar dalam dirinya meledak. Lenguhan panjang lolos dari bibir William. Pria itu menarik Cinta ke dalam dekapannya dan mengecupi keningnya berulang kali.
"Aku mencintaimu Sayangku. Kamu sungguh sangat menakjubkan. Nanti gantian aku yang akan memanjakanmu," bisik pria itu.
"Aku tunggu." Cinta semakin mengeratkan pelukannya, membiarkan cairan di bawahnya meluber dan membasahi seprai.
Malam masih panjang, meski mereka mengambil jeda setiap ronde demi bisa melihat Jayden, tapi tak mengurangi rasa nikmat yang mereka berdua rasakan. Bayi mungil itu benar-benar anak yang baik, ia tertidur pulas seolah mengerti dan tak ingin mengganggu kegiatan panas orang tuanya.
Sementara dalam hati Cinta tersiar doa nan tulus, berharap benih yang William tabur di rahimnya akan segera tumbuh dan berkembang. Ada banyak sekali impian masa depan yang ingin dia wujudkan bersama William. Pria yang telah lebih dari lima tahun menguasai singgasana hatinya. Pria yang menjadi cinta pertama Cinta. Tak peduli dengan masa kelam yang pernah ia alami, baginya yang terpenting adalah William masa kini yang juga telah menyerahkan seluruh hati, cinta dan hidup padanya.
__ADS_1
Bersambung ....