
Sultan dan sang istri berdiri tak jauh dari tempat mereka duduk. Si kembar melotot melihat kepulangan orang tuanya yang mendadak.
"Kenapa kalian semua memasang wajah seolah tak suka jika kami pulang," kata Sultan. Pria itu menarik tangan istrinya dan mengajaknya bergabung bersama anak serta menantunya.
"Bukan begitu, di telepon Mama bilang baru mau pulang seminggu lagi. Ini baru hari keempat kalian di Semarang, tapi sudah pulang, apa terjadi sesuatu?" tanya Willmar.
"Tidak ada, Papa cuma nggak bisa kalau harus lama-lama jauh dari Jayden." duduk di sana dan membuka kedua tangannya lebar. "Jayden kangen nggak sama Kakek?"
Raisa yang tengah memangku Jayden pun menyerahkan bocah mungil itu pada mertuanya.
"Kakek baru aja cuci tangan dan bersih-bersih, jadi cucu Kakek akan aman. Mana berani Kakek menyentuhmu dalam keadaan kotor, yang ada nenekmu akan berpidato semalam suntuk pada Kakek."
Hanum mencebikkan bibirnya mendengar ocehan suaminya. Keduanya telah puluhan tahun menjalani biduk rumah tangga bersama, tapi tak ada yang berubah sama sekalian dalam diri mereka selain hanya cinta yang terus tumbuh setiap harinya.
"Wah, Papa melanggar hak asasi istri," celetuk Willmar.
"Hah?"
"Iya, harusnya kan Papa sama mama lagi asyik bulan madu. Jayden jatahnya sama aku dan Rai, pengganggu," dumel si bungsu lagi.
"Halah, sok tahu kamu Dek. Orang mamamu yang merengek minta langsung pulang," tukas Sultan.
"Opa sama oma gimana?" gantian William yang bertanya.
"Mereka masih ingin di sana dulu. palingan juga nggak lama lagi mereka pulang, kangen sama cicitnya. Mumpung Jayden sama kakek neneknya, kalian bisa pergi bulan madu sana, bukankah kemarin adalah hari ulang tahun pernikahan kalian?"
"Wah, bagaimana Papa bisa ingat?"
"Bukan Papa, tapi mamamu yang kasih tahu," beber Sultan.
"Mama udah siapin tiket buat kalian bulan madu ke Raja Ampat. Kalian bisa berangkat sore ini juga," kata Hanum.
"Terima kasih Mamaku sayang." Willmar mendekap ibunya.
"Willmar dan Rai mungkin bisa pergi, tapi aku dan Cinta nggak mungkin bisa pergi Ma." William menyahut.
"Kenapa nggak bisa? Jayden aman bersama Mama, Mama pasti akan mengurusnya dengan baik," balas Hanum.
"Bukan begitu Ma, Cinta nggak mau Mama sampai kecapekan." Cinta ikut bersuara.
"Udah nggak apa-apa. Toh papamu juga libur, kerjaan Mama sekarang kan emang cuma ngurus Jayden."
__ADS_1
"Gimana Sayang?" William meminta pendapat istrinya.
"Kalau aku terserah Mas aja."
"Udah jangan kebanyakan mikir. Kalian kan juga perlu waktu untuk berduaan. Buruan masuk kamar dan bersiap-siap. Adit udah nunggu di helipad, kalian bisa terbang satu jam lagi," kata Sultan.
"Huh, padahal lebih enak naik pesawat komersil." Willmar mendesah panjang.
"Protes terus kerjaan kamu dari tadi Dek!" omel Sultan.
"Berhenti berantem. Udah kayak anak kecil aja. Buruan sana siap-siap," lerai Hanum.
Si kembar bersama istrinya pun gegas menuju kamar setelah sebelumnya mengecup Jayden. Beruntung bayi itu bukan bayi manja yang selalu bergantung pada ibunya. Jayden telah terlatih untuk mau diajak dengan siapa saja penghuni rumah itu. Hal itu pulalah yang membuat William dan Cinta tenang meninggalkan Jayden.
.
.
Perjalanan menuju Raja Ampat membutuhkan waktu sekitar empat sampai lima jam karena Adit selaku pilot memilih penerbangan langsung. Kemungkinan mereka sampai di sana saat tengah malam. Waktu itu akan dipergunakan dengan baik oleh Willmar dan Raisa untuk beristirahat. Lain halnya dengan William dan Cinta yang terus terlibat obrolan kecil. Ini pengalaman pertama Cinta naik pesawat di malam hari. Pemandangan indah dapat dia lihat dari jendela yang menampilkan jutaan kerlip lampu yang menghampar luas di bawah sana.
Tangan William terulur untuk merapatkan jaket tebal yang membungkus tubuh Cinta. "Jangan sampai kamu kedinginan." lalu membimbing kepala Cinta untuk bersandar di bahunya.
"Pasti sudah tidur. Kamu jangan terlalu memikirkannya, dia anak yang baik, aku percaya karena sedari dalam kandungan dia begitu menyayangimu. Dia yang menjagamu selama aku tidak ada di sisimu."
William menautkan jarinya dengan jemari Cinta, lalu mengecup punggung tangan wanitanya. "Aku mencintaimu. Sungguh, aku hampir mati karena gila saat kamu dinyatakan tak sadar setelah berjuang melahirkan Jayden."
"Semuanya sudah berlalu," kata Cinta.
"Tetap saja aku belum bisa melupakannya, bahkan sampai kapanpun aku nggak akan pernah bisa melupakan kejadian itu."
"Apa Mas bahagia?"
"Pertanyaan macam apa itu? tentu saja aku bahagia. Aku sangat bahagia karena kamu telah sudi menjadi pendamping pria sepertiku."
"Memang pria seperti apa dirimu?"
"Kau jauh lebih tahu. Hm, ada yang ingin aku tanyakan padamu, tapi selama ini aku belum menemukan kesempatan yang pas untuk bertanya."
"Soal apa?" Cinta menjauhkan kepalanya dari bahu William, menatap pria itu dalam-dalam.
"Sejak kapan kamu mulai menyukaiku?"
__ADS_1
"Apa?" Cinta tersentak mendengar pertanyaan suaminya.
William mengangguk. "Sejak kapan kamu mulai menyimpan perasaan itu untukku?" mengulangi pertanyaannya. Keduanya saling bertemu pandang.
"Maksudmu? Aku sendiri nggak tahu persisnya sejak kapan rasa itu ada, tapi yang jelas kamu adalah cinta pertama dan terakhirku."
"Kamu mencintaiku karena berawal dari rasa kagummu padaku karena aku sering membantumu sewaktu kita masih SMA," cetus William.
"Mas tahu soal itu?" Cinta terperanjat, seingatnya dia memang tidak pernah menceritakan soal itu pada siapapun, termasuk pada suaminya. Selama ini dia memendam rasa cintanya pada William sendirian, dan hanya buku diarinya saja yang menjadi tempat curahan hatinya. Buku bersampul merah muda yang selalu menjadi tempat pertama Cinta mengungkapkan isi hatinya. Tentang kekagumannya pada seorang pria, kakak kelas yang selalu menjadi pahlawan ketika dia tertimpa masalah di sekolah. Tentang perasaan aneh yang mulai Cinta ketahui jika rasa itu ternyata bibit dari sebuah rasa bernama cinta.
"Ya, aku tahu semuanya."
"Semuanya?" ulang Cinta, masih dalam mode tak percaya.
William mengangguk. "Oh, Williku, betapa aku sangat mencintaimu." pria itu menirukan gaya bicara istrinya, mengutip sebaris kalimat terakhir yang selalu dituliskan Cinta di buku hariannya.
"Mas." semburat merah menyembul di kedua belah tulang pipi Cinta. "Dari mana Mas tau?"
"Aku membaca buku harianmu," kata William.
"Apa! buku harian? buku harian yang ..."
"Sampulnya warna pink, ada fotoku yang tengah membaca di perpustakaan yang kamu curi diam-diam. Aku memakai kacamata dan topi denim. Kamu ingat sekarang?"
"Astaga." Cinta membekap mulutnya. "Katakan dari mana Mas mendapatkan buku itu? di mana bukunya sekarang?"
"Ssstt! jangan teriak-teriak, kasihan mereka kalau sampai kebangun." melirik sepasang suami istri di samping mereka yang tengah tidur sambil berpelukan.
"Dari mana Mas mendapatkan buku harian itu?" Cinta mengecilkan volume suaranya.
"Aku mendapatkannya ketika sedang mengalami hukuman atas perbuatanku padamu dulu." William menarik napas panjang sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
"Aku yang bodoh baru menyadari kalau aku juga memiliki rasa yang sama seperti yang kamu rasakan. Aku seperti orang gila yang ditinggal pergi pujaan hatinya. Dalam keputusasaan yang aku alami, akhirnya aku bisa memiliki kembali rumah yang hampir kamu jual. Aku memutuskan untuk menyendiri hingga di sanalah Tuhan membuka tabir rahasia di antara kita. Aku jadi tahu ternyata kamu pergi dengan membawa benihku yang dulu tumbuh di rahimmu. Aku menjadi tahu tentang kamu yang memendam cinta begitu lama padaku, dan saat itulah hari di mana menjadi pembalasan yang amat pedih bagiku. Aku belum pernah merasakan sakit yang luar biasa akibat ditinggal pergi olehmu. Aku menyesali semuanya dan saat itulah puncak titik terendah dalam hidupku. Lama aku merenung, hingga aku menyadari aku tak bisa jika harus hidup tanpamu."
Cinta terdiam mendengar setiap kata yang lolos dari bibir suaminya dengan seksama. Menatap kedalaman manik mata sehitam tinta itu, sama sekali tak ada kebohongan yang terpancar selain hanya ketulusan yang begitu mendalam. Cinta dapat merasakannya, dia kini telah tenggelam dalam kedalaman telaga bening pria di depannya.
"Harus berapa ribu kali aku katakan kalau aku sangat mencintaimu? Aku ingin menghabiskan sisa waktuku hanya bersamamu, dan juga anak-anak kita kelak. Memilikimu adalah hal yang terindah, aku sangat mendambakan kita menua bersama."
Cinta menundukkan kepala saat William meraih tengkuknya dan menempelkan bibirnya di kening. Dalam, dan cukup lama hingga kemudian bibir itu berpindah ke bawah. Di atas ketinggian, di tengah hamparan langit bak karpet hitam raksasa, William terus menyalurkan rasa melalui kecupan demi kecupan. Melalui bibir yang menyatu itu, William ingin menyampaikan betapa ia sangat mencintai Cinta. Ada rasa takut akan kehilangan, tapi juga ada kebahagiaan yang sulit dia ungkapkan dengan kata. Cukuplah mereka saling mengutarakan isi hati melalui deru napas yang menyatu dan menggaungkan nama satu sama lain di dalamnya.
Bersambung ....
__ADS_1