Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Kabar duka (part 2)


__ADS_3

Sultan berlari mendekati istrinya begitu sambungan teleponnya dengan Adam terputus.


"Sayang, aku pergi dulu. Jangan berani keluar rumah tanpa izin dariku!" pesannya pada Hanum.


Hanum kembali mencebikkan bibirnya, belum reda rasanya luapan emosi yang bersarang dalam dirinya dan pria di hadapannya itu kembali memantik amarahnya dengan kata-kata yang tidak enak di dengar.


Gadis itu memilih untuk mengabaikan suaminya, membaca novel dirasa lebih menyenangkan ketimbang mengurusi Sultan.


"Baik-baik di rumah ya, jagain Alea!" sambung Sultan di susul dengan memberikan kecupan di kening istrinya.


Hanum masih membungkam mulutnya rapat-rapat, pandangannya tertuju pada novel di tangannya namun dia masih sempat mengawasi pergerakan suaminya menggunakan ekor matanya. 


Dia sendiri merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi hingga membuat suaminya itu terlihat sangat kacau namun alih-alih bertanya, lagi-lagi dia lebih memilih menyimpan berbagai macam pertanyaan itu dalam hatinya. 


"Satu hal lagi!" Sultan membalikkan badannya begitu dirinya sampai di ambang pintu. "Masalah kita belum selesai, jangan coba-coba lari untuk menghindari hukuman dariku!"


"Cih, menyebalkan!" Hanum melemparkan novelnya.


Dengan muka tertekuk, Hanum mengangsurkan kakinya menuruni kasur empuknya.


Ruang tengah menjadi tujuannya kali ini, untunglah ada Alea, bayi mungil perempuan yang bisa merubah suasana hatinya yang memburuk.


"Mbok," panggil Hanum pada wanita yang baru saja melintas di depannya.


"Ada apa Non?" Mbok Darmi pun mendekat setelah sebelumnya meletakkan sapu lidi di sudut ruangan.


"Mbok, mau nyapu?" tanya Hanum.


"Iya, Non. Taman belakang banyak sampah daun yang berserakan. Lastri katanya mau menyetrika pakaian," jawab wanita itu. "Ada yang bisa si Mbok bantu?"


Hanum menggeleng, "Tidak Mbok, Hanum cuma mau tanya."


"Tanya apa Non?"


"Tadi si Mbok naik ke atas? setelah Mbok Darmi pergi, Mas Sultan terlihat sangat gugup. Memang ada apa Mbok?"


"Memang Non Hanum belum tahu?"


"Tahu apa Mbok?" Hanum makin penasaran.


"Tadi Den Adam telepon, memberitahukan katanya ada kabar duka."


"Kabar duka apa, Mbok?"


"Kalau itu, mohon maaf Non. Si Mbok kurang tahu, soalnya tadi Den Adam hanya menyuruh si Mbok untuk memberitahukan kepada Den Sultan agar menghubunginya kembali."


"Hanya itu Mbok?" 


"Iya, kelanjutannya si Mbok tidak tahu Non," timpal Mbok Darmi.


Hanum mengangguk. "Ya sudah kalau begitu Mbok, Hanum ke depan dulu, terimakasih."


"Ya, Non."


Hanum terus berpikir, mencoba menebak-nebak kabar duka apa gerangan yang membuat suaminya sampai panik begitu.


"Berikan dia padaku Kek, Hanum takut kakek kelelahan," ucap Hanum.


Gadis itu duduk di depan Burhan, kursi itu dipisahkan oleh meja persegi panjang yang membentang di tengahnya.


"Tidak, kakek sama sekali tidak merasa lelah. Hanya sepertinya dia mengantuk."


Hanum membuka tangannya begitu Burhan mengangsurkan tubuh mungil Alea, padanya.


"Ah, jadi setelah mandi dan sarapan, sekarang kau mengantuk, Sayang?" Hanum melihat mata Alea yang mulai menyipit.


"Omong-omong kemana perginya berandal kec ...," Burhan menjeda sejenak kalimatnya.


Melihat wajah Alea membuatnya teringat akan ucapan Sultan tadi yang memintanya untuk lebih berhati-hati lagi dalam berkata-kata di depan balita. Dan menurutnya, apa yang dikatakan oleh Sultan ada benarnya juga, mungkin mulai sekarang dia harus membiasakan diri untuk merubah panggilannya pada cucunya mengingat sebentar lagi cucunya itu akan memiliki putra.


"Kemana perginya suamimu? kelihatannya dia gugup sekali tadi?" ulang Burhan.


"Hanum juga tidak tahu, Kek." gadis itu menggendikan bahunya.

__ADS_1


"Memang dia tidak berpamitan padamu?" tanya Burhan lagi.


"Pamit, tapi ... dia tidak bilang mau pergi kemana." jawab Hanum kikuk.


"Aneh ...," gumam Burhan.


Laki-laki tua itu menyeruput teh hijau tanpa gula yang dibuat oleh mbok Darmi untuknya.


.


Sultan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju tempat yang tadi telah disebutkan oleh Adam padanya.


Sepanjang perjalanan dia terus memijit pelipisnya, rasanya kepalanya mendadak pening. 


Kenapa cobaan masih saja datang silih berganti, dia hanya menginginkan ketenangan dalam hidupnya. Bahagia bersama keluarganya, hidup bersama Hanum dengan saling mencintai satu sama lain, mengasihi, selamanya. Sesederhana itu harapannya saat ini tapi sepertinya Tuhan masih ingin mengujinya.


Panik, Sultan meraih ponselnya, teringat satu hal kalau dia belum mengabari Raka.


"Hallo, posisi?" tanyanya begitu Raka mengangkat panggilan darinya.


"Masih di jalan, sebentar lagi sampai kantor. Kenapa?" tanya Raka, datar.


"Tolong kau handle semua urusan kantor, kemungkinan aku baru bisa datang siang nanti."


"Hm, sudah biasa," jawab Raka sarkasme.


"Aku serius. Ada masalah penting yang harus aku urus sekarang."


Decitan ban mobil yang di akibatkan karena rem mendadak terdengar begitu keras hingga membuat Raka memekik ketakutan.


"Hallo, apa yang terjadi? Sultan! apa terjadi sesuatu padamu?" Raka segera menepikan mobilnya. "Hallo!" teriak Raka.


Jantung pria itu berdegup sangat kencang, dua menit berlalu dan tak terdengar sepatah katapun yang keluar dari mulut sahabatnya.


"Sultan!" Raka terus mengulang panggilannya. 


Raka begitu gugup sampai-sampai dia menggunakan lengan jasnya untuk mengelap butiran keringat dingin yang merembes di keningnya.


Astaga.


Sedetik kemudian jantungnya berpacu makin kencang, ponsel yang sejak tadi dia jatuhkan akhirnya kembali diraihnya manakala samar-samar dia mendengar suara Sultan.


"Raka!" seru Sultan.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi? apa kau baik-baik saja?" Raka memegangi dadanya yang terasa nyeri.


"Sedikit sakit karena kepalaku terbentur. Aku hampir menabrak orang tadi."


"Kampret! aku kira kau kenapa-napa, kau selalu saja membuatku jantungan. Apa kau mau membuatku mati berdiri? hah!" umpat Raka.


"Aku pun kaget tadi, aku sampai membuat keributan di jalanan karena terlalu syok."


"Apa yang membuatmu terlalu lama tak menjawab panggilanku?" ucap Raka dengan nada tinggi.


"Ish, aku perlu menepikan mobilku terlebih dahulu, aku sempat membuat kemacetan tadi." alibi Sultan.


"Jadi bagaimana?" Raka kembali mengemudikan mobilnya di jalanan.


"Bagaimana apanya?" 


"Kau mau kemana sebenarnya?" Raka kembali menaikkan volume suaranya.


Lelaki itu menghela nafas kasar, sepertinya sesi tanya jawab itu masih akan berlangsung lama, tapi tak lama setelahnya Raka tertawa. Dia mengambing hitamkan benturan yang mengenai kepala Sultan lah yang menyebabkan pola pikir temannya itu menjadi lamban. Bagaimana mungkin pertanyaan malah kembali di jawab dengan pertanyaan.


"Aku ...," ucapan Sultan terhenti, dia berpikir sejenak setelah kejadian mengejutkan tadi membuat pikirannya sempat kosong.


"Ya sudahlah, sudah tidak penting lagi, aku juga sudah tidak berminat untuk mendengarkan penjelasanmu," sinis Raka.


"Aku sudah ingat sekarang!" pekik Sultan, girang.


"Tidak penting!" 


Raka memutus teleponnya sepihak kemudian menyetel mode silent pada ponselnya.

__ADS_1


Di sisi lain.


Sultan masih berteriak memanggil nama temannya. Berulang kali dia merutuki dirinya yang seperti orang bodoh. Dia berniat untuk menghubungi Raka lagi namun tiba-tiba saja muncul sebuah panggilan masuk ke nomor ponselnya.


Sultan tak sempat menjawab apa-apa begitu dia menggeser icon hijau pada gawainya karena si penelepon langsung memberondongnya dengan rentetan kata-kata yang sulit untuk dimengerti olehnya. Tak ada satupun ucapan yang masuk ke dalam kepalanya selain kata 'rumah sakit', dia hendak bertanya lebih lanjut lagi namun terlambat karena seketika terdengar bunyi yang menandakan sambungan telepon tersebut telah diakhiri.


Kembali Sultan mengemudikan kereta besinya menyusuri jalanan yang selalu saja berteman akrab dengan kemacetan. Dia terus di buru oleh waktu dan sepertinya alam semesta ikut ambil bagian dalam keterlambatannya menuju rumah sakit, pasalnya dia selalu saja bertemu dengan traffic light yang  menyala merah dan itu terus berlanjut dari satu traffic light sepanjang perjalanannya menuju ke sana.


Setelah melalui perjuangan yang cukup sulit sepanjang jalan, Sultan masih harus berjuang dengan terus berlari menyusuri lorong panjang rumah sakit.


Pria itu sama sekali tidak memperdulikan keadaan dirinya yang kacau balau, karena baginya menemui Adam secepat mungkin adalah menjadi tujuan utamanya.


Sultan makin mempercepat langkahnya begitu melihat sosok Adam yang tengah duduk melamun sendirian di depan sebuah bilik bertuliskan ruang ICU.


"Dam," panggil Sultan pada temannya. 


Suaranya hampir tak terdengar karena Sultan sudah kehilangan tenaganya. Pria itu membungkukkan badannya, meraup oksigen sebanyak mungkin untuk melegakan rongga dadanya.


Adam pun mendongak dan seketika wajah Sultan memucat seputih kertas begitu dia melihat wajah temannya telah basah oleh air mata.


"Apa yang terjadi?" Sultan mengguncang kuat bahu Adam.


Tak ada jawaban dari bibir pria itu karena setiap kali Sultan bertanya padanya, setiap itu juga air matanya terus menganak sungai.


"Kau mendengarku? jawab aku Dam!" hardik Sultan, ia mulai kehilangan kesabarannya.


Adam hanya menunduk, dan itu membuat Sultan semakin frustasi. Bagaimana tidak, setiap kali dirinya bertanya, Adam tetap saja membisu. Hanya air matanya saja yang menjawab setiap pertanyaan Sultan.


Tubuh Sultan merosot ke bawah, cukup lama Sultan duduk di lantai. Jika sedari tadi Adam terus menangis tanpa mengeluarkan sepatah katapun, dia bisa apa?


Sepertinya Adam benar-benar sedang menguji kesabaran Sultan. Hampir setengah jam Sultan bertahan dengan posisinya tapi Adam masih saja bungkam.


Lelah melewati penantian yang seolah sia-sia membuat Sultan beringsut dari tempatnya. Di tatapnya tajam Adam  yang masih menangis sambil menunduk sebelum kemudian dia berjalan meninggalkan tempat tersebut.


Bisa gila aku kalau terus mengurusi hal tidak jelas begini, batin Sultan.


Sultan terus mengayunkan kakinya.


Mendengar derap langkah Sultan yang perlahan mulai menjauh membuat Adam menoleh. 


Sepertinya Sultan telah jengah hingga membuatnya pergi tanpa mengatakan sesuatu, begitu pikir Adam.


"Tan," cicitnya.


Sultan yang kala itu telah berjalan setidaknya sepuluh meter dari tempat duduk Adam pun menghentikan langkahnya. Antara ragu untuk kembali atau terus melangkah pergi dari sana, tanpa membalikkan badannya dia masih setia menunggu Adam kembali membuka mulutnya, penasaran dengan apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh pria itu.


"Dia telah pergi, Tan," ucapnya disusul dengan Isak tangis yang terdengar begitu menyayat hati.


Sontak Sultan menoleh, Adam bukan aktor yang baik hingga membuatnya menangis sebegitu menyakitkannya jika tidak terjadi sesuatu yang benar-benar melukai hatinya, Sultan yakin itu. 


Ini tidak main-main.


"Aku masih belum bisa menangkap kemana arah pembicaraanmu, Dam." mata Sultan meredup.


Akhirnya dia kembali melangkah untuk menghampiri Adam.


"Dia telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya."


"Dia siapa? meninggalkan kita  bagaimana?" 


Ingin sekali rasanya Sultan meninju temannya, kemana perginya pria tegas yang kebapakan yang selama ini dia kenal. Kenapa Adam menjadi mellow dan bertele-tele seperti ini.


"Dia telah meninggal dunia, dan wasiat terakhirnya membuat jantungku rasanya remuk." Adam memukuli dadanya seolah jika dia melakukan hal itu bisa mengurangi penderitaannya.


Sultan berlari demi bisa meraih tubuh Adam yang limbung, Adam akan jatuh terbentur tembok jika saja Sultan tidak menangkap tubuhnya.


"Dia siapa? siapa yang meninggal? bicara yang jelas!" habis sudah kesabaran Sultan hingga membuatnya berteriak.


"Dia ..., yang meninggal, dia ...,"


Shit!


Sultan meninju tembok di belakang Adam berulangkali, rasanya geram bukan main karena Adam terus saja berbelit-belit.

__ADS_1


.


__ADS_2