
Hanum tak melepaskan pandangannya sedikit pun dari suaminya. Pria itu berdiri tepat di depan pagar pembatas dengan tangan kiri memegang ponsel sementara tangan kanannya masuk ke dalam saku celananya.
Mulut pria itu masih terus bergerak di susul dengan raut wajah tegang. Berdasarkan hasil pengamatannya, Hanum bisa menyimpulkan kalau saat ini telah terjadi sesuatu yang bersifat serius.
Hanum tersenyum kecut manakala suaminya yang masih sibuk menerima panggilan masuk itu sesekali menatapnya dengan tatapan yang sukar dipahami.
Setelah sekian menit menunggu, akhirnya Sultan menutup panggilan telepon tersebut. Dengan langkah ragu dia berjalan mendekati istrinya yang tengah di hinggapi banyaknya pertanyaan.
"Siapa yang meneleponmu?" tanya Hanum spontan.
"Aku baru saja akan memberitahumu sesuatu," kata Sultan begitu dirinya telah duduk di samping Hanum. Merasa tak tahan dengan tatapan menyelidik yang dilemparkan oleh Hanum terhadap dirinya.
"Aku perhatikan, sepertinya ada masalah serius," Hanum mencoba menebak.
Sultan melenguh panjang. "Hm, ck ... itu ...," Sultan tergagap, bingung hendak memulai ceritanya dari mana.
"Garis besarnya saja!" seru Hanum.
"Apa?"
"Sepertinya kamu kebingungan hendak memulai ceritanya jadi ambil garis besarnya saja," ucap Hanum, seolah bisa menangkap kegelisahan pada sosok pria di depannya. "Apa telah terjadi sesuatu yang ...,"
"Ya, telah terjadi sesuatu yang sangat serius." Sultan menjeda kalimatnya sejenak, mengatur ritme nafasnya sebelum kembali bercerita. "Istriku ...,"
Hanum terkesiap, tubuhnya mendadak kaku. Bukan tanpa alasan, dan seperti yang sudah-sudah, suaminya akan memanggilnya demikian jika keduanya tengah membicarakan hal serius.
"Cepat katakan!" desak Hanum.
"Kau yakin ingin mendengarnya?"
"Tentu saja," jawab Hanum, cepat.
"Tadi itu telepon dari pengacara, dia bilang sidang kedua atas kasus penculikanmu akan di gelar besok."
"Lalu apa masalahnya?" tanya Hanum.
"Dia bilang kamu harus hadir di persidangan itu untuk memberikan kesaksian."
Hening.
Sultan tahu pasti apa yang sedang ada di pikiran istrinya.
"Ini yang aku takutkan," gumam Sultan.
__ADS_1
"Apa aku harus hadir?" tanya Hanum dengan polosnya.
Dan sebuah anggukan Sultan kemudian membuat tubuh Hanum sedikit bergetar. Rentetan kejadian buruk yang dialaminya terus berkelabatan, membuatnya kembali merasakan pahitnya kejadian buruk yang menyisakan trauma yang mendalam. Puncaknya, wajah gadis itu memucat, keringat dingin mulai timbul di dahinya sementara dia terus merem*s kedua tangannya.
Hanum memejamkan mata, berusaha untuk menghalau ingatannya tentang kejadian itu. Segala upaya telah dilakukan olehnya, berusaha untuk tetap tenang. Hatinya terus berucap semuanya akan baik-baik saja tapi pada kenyataannya tubuhnya menolak. Semakin dia berusaha melupakan kejadian buruk itu yang ada malah pikirannya makin tak bisa lepas dari siksaan yang dialaminya di bangunan tua itu.
"Sayang, sudah cukup!" Sultan merengkuh tubuh istrinya, membenamkan wajah Hanum di dadanya. "Jangan kau ingat-ingat lagi kejadian buruk itu," bisiknya pelan sambil menyeka butiran keringat di kening istrinya.
Apa yang paling aku takutkan akhirnya terjadi juga, rasanya jantungku seperti remuk melihatmu seperti ini. Maafkan aku yang telah gagal menjagamu, ini akan menjadi sebuah penyesalan yang akan aku bawa sepanjang hidupku. Dan aku pastikan kejadian buruk yang menimpamu waktu itu untuk yang terakhir kalinya, aku janji. Sultan membatin.
"Sudah jangan menangis," ucapnya lagi di susul dengan kecupan di puncak kepala gadis itu.
Mendengar isakan Hanum membuat batinnya terasa perih, dia pun memejamkan matanya, tak kuasa menahan kepedihan tak terkira. Rasanya jantungnya seperti di tikam belati tajam, sungguh ... kesakitan yang paling nyata bukan berasal dari dirinya sendiri, sakit yang lebih menyakitkan itu datang dari wanita yang sangat dicintainya.
Bukan Hanum saja yang merasakan betapa pedih lukanya, lebih dari itu Sultan jauh merasakan kesakitan.
Jika ada orang yang telah jatuh cinta lalu menambatkan hatinya pada seseorang, maka bersiaplah, karena setelahnya hidupmu akan sepenuhnya dikendalikan oleh orang yang kau cintai itu. Dia dengan segala cara akan membuatmu selalu bergantung padanya. Bagaimana dia dengan sejuta pesonanya, mampu membuatmu kehilangan kewarasanmu tiap kali berhadapan dengannya.
Sultan masih bertahan dengan posisinya, membiarkan Hanum meluapkan kesedihannya. Setidaknya gadis itu akan merasa lebih baik setelah menangis, begitu pikir Sultan.
"Sayang ..., sudah ya. Jangan terlalu lama menangis karena itu tidak bagus untukmu. Bayi kita bisa ikut bersedih, nanti. Ayo kita pindah ke kamar saja agar kamu bisa beristirahat," bujuk Sultan.
Sultan mulai membimbing istrinya menuju kamar, meninggalkan makanan mereka yang masih tersisa di meja.
Baru beberapa langkah, tubuh Hanum limbung. Sultan yang cemas akhirnya menggendong tubuh istrinya namun begitu dia berhasil mengangkatnya, Hanum langsung terkulai. Gadis itu merasa sangat tertekan hingga akhirnya jatuh pingsan.
.
Begitu mendengar kabar Hanum pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, Adam yang saat itu hendak berangkat ke kafe mengurungkan niatnya dan memilih untuk menyusul Sultan. Di saat-saat seperti ini tentulah temannya membutuhkan kehadirannya.
"Dia yang memaksaku untuk mengatakannya, aku juga tidak punya pilihan lain selain memberitahukan masalah ini padanya," ucap Sultan tertunduk lemas.
"Iya juga sih," Adam menghela nafas panjang, berpikir sejenak. "Ya sudah, kita pikirkan lagi nanti. Mana Raka?"
"Aku menyuruhnya tetap di kantor, pekerjaan menumpuk jadi aku rasa dia akan kerepotan menghandle semuanya," Sultan menyahut.
"Hei bro!"
Kompak, Sultan dan Adam menoleh ke arah sumber suara.
"Kau benar-benar pengangguran ya?" ledek Adam. "Sepertinya kau tidak punya pekerjaan dan itu membuatmu mudah berkeliaran kemana pun kau mau."
"Kau serius akan berhenti jadi diplomat dan mau alih profesi menjadi pengusaha?" gantian Sultan yang bertanya.
__ADS_1
"Kedengarannya tidak buruk, bukankah aku bisa belajar dari kalian? sejujurnya aku sama sekali tidak tahu seluk beluk dunia bisnis, atau ... apa perlu aku kuliah lagi?" Dion menatap kedua temannya bergantian.
"Kalau kau mau kuliah lagi, mana ada waktu untuk mencari istri, hah?" goda Adam lagi.
"Dan sayangnya apa yang kalian cemaskan itu tidak akan terjadi karena sebentar lagi undangan pernikahan dariku akan segera sampai di rumah kalian," ucap Dion dengan senyum terkembang di bibirnya.
"Serius?"
Sultan dan Adam mencoba mencari kebenaran dari bola mata bening milik Dion, bukan tanpa alasan jika mereka tidak begitu mempercayai perkataan Dion yang mana pria itu terkadang memang konyol dan berlebihan.
"Tidak ada gunanya juga aku berbohong pada kalian," balas Dion.
Senyuman yang terpancar dari bibir pria itu mampu menunjukkan betapa bahagianya dirinya. Dan itu semua terlihat alami, tentulah hal tersebut tidak main-main.
"Kau serius akan menikah dengannya?" tanya Sultan penuh penekanan.
"Memang siapa yang tidak ingin menikah? rasanya sudah cukup lama aku hidup menyendiri. Sekarang sudah cukup, waktunya menata ulang kehidupanku lagi dan menjemput kebahagiaan bersama Wina."
"Wah ... wah, semalam kau baru saja mengatakan kalau Wina menghindarimu dan sekarang kau sudah dengan penuh percaya dirinya memberitahukan pada kami kalau kalian akan menikah. Ini lebih cepat dari dugaanku," Adam menimpali.
"Doakan saja semoga semuanya berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan," kata Dion.
"Tentu saja, kami akan selalu mendukung setiap keputusanmu," sela Sultan.
"Ceritakan pada kami apa yang telah terjadi semalam?" tanya Adam.
"Bagaimana kalian bisa tahu kalau telah terjadi sesuatu denganku dan Wina semalam?" tanya Dion, curiga.
"Apapun yang terjadi semalam pastilah itu malam yang sangat berkesan untuk kalian berdua, benar begitu kan?" Adam menaikturunkan alisnya.
"Aku belum mengatakan apapun dan kau sudah seperti cenayang yang mengetahui semuanya," Dion berdecak kagum, memuji Adam.
"Aku hanya menebaknya saja," celetuk Adam. "Lalu seperti apa romantisnya waktu yang kalian habiskan bersama tadi malam? apa ada ciuman? atau ...,"
"Astaga!" pekik Dion sambil menutup mulutnya. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Jadi benaran kalian ciuman? padahal aku hanya menebaknya saja."
"Ada apa dengan wajahmu? kenapa jadi merah begitu?" Sultan makin gencar menggoda Dion.
Dion yang salah tingkah pun memilih untuk meninggalkan kedua temannya, dia tak bisa membayangkan betapa malunya saat ini. Dirinya sudah seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.
Malunya.
__ADS_1
Kenapa dia mesti memiliki teman yang pekanya tidak ketulungan macam Adam, pria itu hampir mengetahui segala hal.
.