
Ketiga pria itu masih menangis dalam ruangan pribadi yang sengaja Adam buat untuk keperluan pribadinya di lantai dua, gedung restoran miliknya.
Adam yang awalnya berniat menggunakan ruangan tersebut untuk sekedar meluruskan punggungnya jika dilanda keletihan setelah bekerja di sana, sama sekali tak menyangka jika saat ini mereka mendiami ruangan tersebut untuk meratapi kepergian sahabat masa kecilnya itu. Dan diantara mereka bertiga, tangis Adam lah yang terdengar paling menyayat hati, bagaimana tidak, hanya dirinyalah satu-satunya orang yang melihat bagaimana Reno meregang nyawa dengan sangat tragis. Melihat Reno meninggal tepat di depan matanya dengan membawa sejuta penyesalan membuatnya dirundung nestapa tak berkesudahan.
Satu hal yang membuat Adam begitu menyesal, dia tidak sempat mengabulkan keinginan terakhir Reno untuk bertemu dengan Alea, putri semata wayangnya, buah cintanya dengan Alma.
"Argh ...." Adam meraung, dia terus menarik rambutnya dengan kasar.
"Tenanglah! aku tahu ini sangat berat tapi pikirkanlah baik-baik, setidaknya Reno sudah tidak akan merasakan kesakitan lagi di dunia ini. Dia juga tidak harus menanggung beban moral akibat dari perbuatannya. Dia memang telah tiada tapi itu semua tidak akan mengubah apapun, dia tetaplah Reno yang kita kenal dulu terlepas dari semua perbuatannya sebelum meninggal. Kita menjalin persahabatan sejak kita sama-sama masih duduk di bangku TK dan persahabatan ini akan terus berlangsung, sampai kapanpun," ucap Sultan, masih terus berusaha untuk menghibur Adam.
"Kalian tidak tahu bagaimana aku melihat dia menghembuskan nafas terakhirnya." Adam menatap wajah kedua temannya bergantian. "Dia begitu kesulitan untuk bicara tadi, jangankan untuk bicara untuk bernafas saja dia mesti dibantu dengan peralatan medis." Adam kembali tergugu, tangisnya makin pecah.
"Aku pun sama terpukulnya seperti dirimu Dam. Tapi sungguh, jangan terus menerus seperti ini! hatiku semakin hancur melihatmu tak henti menangis sepanjang hari ini." Sultan merangkul tubuh Adam yang bergetar hebat.
"Aku pun akan selalu ada disini, kita akan melewati semua ini bersama-sama," imbuh Raka, dirinya ikut menghambur dalam pelukan dua orang sahabatnya.
Sungguh Sultan sangat membenci saat seperti sekarang ini, kenapa air mata mesti menjadi teman setia yang selalu mengiringi perjalanan kehidupan mereka.
.
Raka tersentak begitu mendengar suara ponsel yang bergetar di atas meja, membuat kantuk yang melandanya menguap seketika. Ditatapnya Sultan yang masih duduk dengan pandangan menerawang jauh.
"Tan," panggilnya sambil menyikut lengan temannya.
"Sstt ...!" Sultan menaruh jari telunjuknya tepat di depan bibirnya, mengkode Raka untuk tidak menimbulkan kegaduhan yang bisa membuat Adam terbangun.
Ya, setelah kejadian menguras air mata yang berlangsung cukup lama hingga membuat ketiganya kelelahan, akhirnya Adam tertidur. Sultan bisa sedikit bernafas lega karena setidaknya Adam bisa mengistirahatkan organ tubuhnya yang terus saja bekerja keras sepanjang hari ini, meskipun hanya sebentar.
Ponsel tersebut kembali bergetar untuk kedua kalinya membuat Sultan sigap untuk meraihnya.
Pandangannya dan juga Raka saling bertemu begitu dia melihat nama yang tertera di layar.
"Ajeng."
Mulut Sultan terbuka namun tak mengeluarkan suara apapun, menjawab rasa penasaran yang ada di benak Raka.
Sultan menggerakkan jarinya, bermaksud mengajak Raka keluar dari ruangan tersebut. Dan lagi-lagi dia harus menggunakan bahasa tubuh demi tidak menganggu istirahat Adam.
"Ada apa?" tanya Raka begitu keduanya telah sampai di luar ruangan.
"Bagaimana ini? istrinya terus menerus meneleponnya."
Sultan panik, dia tak tahu mesti menjawab apa karena nanti begitu dia mengangkat teleponnya, Ajeng pasti akan menanyakan banyak hal padanya.
"Angkat saja, bilang saja kalau kita sedang berkumpul dan cukup katakan padanya kalau Adam baik-baik saja dan kemungkinan akan pulang terlambat," cetus Raka.
Sultan mengangguk kemudian segera menggeser icon hijau pada layar ponsel milik Adam.
"Ha ... hallo," jawabnya terbata.
"Ini Mas Adam bukan? kenapa suaranya berbeda?"
Sultan kesusahan mengatur nafasnya, dia menelan ludahnya kelat, kenapa dirinya begitu ketakutan untuk menjawab pertanyaan dari Ajeng.
"Begini, maaf Jeng, ini aku suaminya Hanum."
"Lho kenapa kamu yang mengangkat teleponnya, Mas? memang Mas Adam nya mana?" tanya Ajeng di seberang sana.
"Dia sedang diruangannya dan ponselnya tertinggal di meja, aku memberanikan diri untuk mengangkatnya karena takut membuatmu cemas."
"Ooh, jadi dia sedang berada di ruangannya?"
"Ya, tadi katanya ada sedikit masalah dengan laporan keuangan bulanan restorannya makanya dia terburu-buru pergi sampai melupakan ponselnya. Maaf ...," cicit Sultan.
__ADS_1
"Kenapa malah minta maaf, justru aku yang seharusnya minta maaf karena telah menganggu waktu berkumpul kalian. Aku menelepon karena sejak pagi Mas Adam tidak memberikan kabar apapun jadi aku sedikit khawatir."
"Dia baik-baik saja," ucap Sultan.
"Ya sudah kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya ya. Terimakasih dan salam buat Hanum."
"Ya,nanti aku sampaikan pada Hanum."
Sambungan telepon pun terputus.
Sultan teringat istrinya begitu mendengar nama Hanum disebut tadi, dia ingat kalau dirinya juga tidak mengirimkan pesan sekedar untuk mengabari gadis itu. Pastilah saat ini Hanum sedang kebingungan, sama seperti Ajeng yang mencemaskan keadaan suaminya.
"Apa kau sudah memberitahu Disha kalau kau sedang bersama kami?"
"Tentu saja sudah, aku langsung menghubunginya begitu kau menyuruhku untuk menyusul kalian ke pemakaman tadi siang," jawab Raka.
"Astaga, aku sampai lupa tidak mengabari Hanum, dia pasti sangat mencemaskanku saat ini."
"Memang kau tidak mencoba untuk menghubunginya?"
Sultan mengangguk.
"Sejak pagi?" cecar Raka.
Lagi, Sultan mengangguk.
"Dih, suami macam apa kamu hah? selalu saja membuat istrimu itu panik. Kau tahu kan kalau perempuan hamil itu dilarang banyak berpikir, itu tidak baik untuk pertumbuhan bayi dalam kandungannya," oceh Raka panjang lebar.
"Ponselku mati begitu aku selesai menghubungimu karena kemarin malam aku lupa mengisi daya baterainya," Sultan menyahut dengan ketusnya.
"Lalu sepanjang pagi ini apa yang kau lakukan?" cecar Raka.
"Mana bisa aku berpikir jernih dalam keadaan seperti ini? aku sampai lupa ya? Astaga!" beberapa kali Sultan menepak dahinya.
"Ya sudah sana cepat hubungi istrimu! tunggu apa lagi?"
.
"Kita terpaksa harus mengantarnya pulang terlebih dulu, tidak mungkin membiarkan dia pulang sendiri kan?" kata Sultan sambil melirik Raka.
"Apa yang akan kita jelaskan pada istrinya jika nanti Ajeng bertanya?" Raka menatap tajam wajah temannya.
"Biar aku saja yang menjelaskannya pada Ajeng, nanti. Sekarang bantu aku untuk membawa tubuhnya ke mobil!"
Raka mengangguk kemudian mereka segera menggotong tubuh Adam menuju parkiran.
"Tubuhnya saja yang kecil, berat badannya ya ampun," keluh Raka.
"Itu sebabnya aku memintamu untuk membantuku karena aku pasti akan kesusahan jika harus menggendongnya."
"Makannya banyak, berat badannya juga luar biasa tapi kenapa badannya tetap sempurna seperti ini ya?" Raka mengatakannya sambil terkekeh.
"Sepertinya dia mewarisi perawakan mendiang ayahnya. Pawakannya akan tetap terjaga meskipun dia makan dengan rakus," Sultan menyahut.
Tawa keduanya pun pecah bersamaan, mereka larut dalam candaan tak berkesudahan yang semula diawali oleh Raka. Kapan lagi mereka bisa menggunjing Adam secara terang-terangan di depan lelaki itu. Sementara Adam yang meracau tidak jelas lantaran sedang mabuk, tentu saja tidak mengerti jika kedua teman yang tengah menggotongnya itu sedang menjadikan dirinya sebagai topik pembicaraan.
Sesampainya di dalam mobil, Sultan meminta Raka untuk menyetir sedangkan dia duduk di jok belakang sambil menjaga Adam.
Suasana hening kembali tercipta, sepanjang perjalanan mereka menuju ke rumah Adam tak ada satupun dari mereka yang membuka suara kecuali Adam yang memang masih mengigau tidak jelas dikarenakan telah mabuk berat.
Sebegitu merasa sedihnya Adam akibat ditinggal pergi oleh sahabatnya, membuatnya terus menangis hingga berujung menghabiskan beberapa botol minuman keras. Berpikir dengan cara itu dia bisa sejenak melupakan kesedihannya.
Sultan dan Raka pun tak jauh berbeda, mereka sempat mengisi perutnya dengan minuman keras namun tak sebanyak Adam, itu sebabnya mereka tidak sampai mabuk.
__ADS_1
Sedikit ragu Sultan mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu rumah Adam. Dirinya telah mempersiapkan diri dengan segala macam pertanyaan Ajeng nantinya ketika wanita itu mendapati suaminya pulang dalam keadaan mabuk berat.
Jantungnya berpacu makin cepat seiring dengan derap langkah kaki dari dalam yang terdengar semakin mendekat. Terdengar suara yang berasal dari kunci pintu yang terbuka dan begitu daun pintu terbuka lebar, seperti yang sudah Sultan perkirakan sebelumnya, Ajeng terlihat begitu terkejut.
Lima menit kemudian.
"Sebenarnya apa yang terjadi? bukankah kalian mengatakan padaku kalau suamiku baik-baik saja dan kenapa setelah pulang bersama kalian, suamiku mabuk? segawat apa masalah laporan keuangan yang terjadi hingga membuatnya seperti ini? dia tidak pernah begini sebelumnya," berondong Ajeng.
Sultan dan Raka masih terdiam, belum saatnya mereka membuka mulut sementara si tuan rumah masih terus berbicara.
"Kenapa kalian diam saja? setidaknya jawab pertanyaanku!" seru Ajeng.
"Aku pikir kamu belum selesai bicara," Sultan menyahut.
"Sudah, aku sudah selesai bicara dan aku sudah mengizinkan kalian untuk membuka mulut jadi tolong segera jelaskan semuanya!"
"OK, pertama Adam baik-baik saja, dia hanya butuh waktu untuk menyendiri sejenak."
"Apa katamu? suamiku mabuk dan kamu bicara seolah ini hal yang biasa terjadi padanya?" Ajeng memasang raut wajah tak sukanya begitu mendengar penuturan singkat Sultan.
"Jadi begini ...,"
"Jelaskan padaku bagaimana dia bisa mabuk!"
Tubuh Raka terlonjak ketika mendengar Ajeng menaikkan volume suaranya dan memotong perkataan Sultan. Ditatapnya lekat wajah Ajeng yang saat ini memerah menahan amarah yang mulai bergejolak dalam diri wanita itu.
Sikap yang ditunjukkan Ajeng ketika sedang marah benar-benar sama persis dengan suaminya, mereka saling melengkapi satu sama lain dan mereka berdua adalah pasangan yang klop, begitu pikir Raka.
"Yang terpenting saat ini adalah temani dia agar dia tak merasa kesepian, aku merasa tidak perlu mengatakan banyak hal karena itu bukan kapasitasku. Biarkan suamimu yang menceritakannya padamu secara langsung jadi maafkan kami. Pergilah ke kamarmu, temani dia!" suara Sultan terdengar serak.
"Kami pergi dulu," pamit Raka.
Setelah memberikan sedikit pengertian kepada Ajeng, Sultan dan Raka pun undur diri dari kediaman Adam.
"Mereka berdua benar-benar pasangan suami istri yang serasi, Tan," ucap Raka membuka suara begitu keduanya telah kembali ke dalam mobil.
"Kenapa kau bilang begitu?" tanya Sultan sambil fokus menyetir. Kali ini gantian dia yang mengemudikan mobilnya.
"Kau lihat tadi bagaimana ekspresi wajah Ajeng ketika dia marah? sama persis dengan Adam jika sedang marah kan?" celetuk Raka.
"Kau benar." Sultan tersenyum kecut membayangkan dirinya dan Raka yang sempat terkena semburan api amarah dari Ajeng.
.
Diliputi perasaan cemas, Hanum masih terus mondar-mandir di depan pintu rumahnya. Ini sudah menit ke empat puluh dia menunggu dari waktu yang telah dijanjikan suaminya namun hingga sekarang belum juga muncul tanda-tanda kepulangan lelaki itu.
Burhan pun sama risaunya, pria tua itu masih setia menanti kedatangan cucunya dengan duduk di sofa. Berulangkali ia membetulkan letak syal dan juga kain yang digunakan untuk menutupi bagian atas tubuhnya, untuk menghalau angin nakal yang membelai kulitnya yang telah mengeriput.
"Sebaiknya kakek istirahat saja!"
Hanum kembali membujuk Burhan agar pria tua itu kembali ke dalam kamarnya. Ini untuk kesekian kalinya dia berkata demikian dan Burhan masih saja bersikeras untuk ikut menunggu kepulangan cucunya.
Biar bagaimanapun dia tidak akan bisa istirahat dengan tenang jika belum melihat kondisi Sultan yang sebenarnya.
"Biarkan aku menunggunya, aku mau tahu alasan apa yang membuatnya bersikap tak biasa, hari ini." Burhan meraih cangkirnya.
"Hanum sudah mengatakan pada kakek kalau Mas Sultan baik-baik saja, kan tadi juga Mas Sultan sempat telepon dan mengatakan kalau dia baik-baik saja, Kek. Kakek dengar sendiri kan tadi?" bujuk Hanum lagi.
"Kakek tetap tidak bisa mempercayainya. Siapa tahu memang telah terjadi sesuatu dan dia sedang berusaha untuk menyembunyikannya dari kita," kelakar Burhan.
Hanum melenguh panjang, dia sendiri tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya pada suaminya dihadapan Burhan, dan jika dia sendiri tidak yakin dengan kondisi terkini Sultan, bagaimana bisa dia meyakinkan kakeknya. Tidak ada jalan lain selain membiarkan Burhan melakukan apa yang dia inginkan, termasuk jika saat ini tubuh tua itu menggigil kedinginan demi menyambut kepulangan cucunya.
Hanum tersadar dari lamunannya begitu mendengar deru mesin mobil yang berhenti di pelataran rumahnya. Dia berjalan cepat untuk segera membuka pintu, tak sabar rasanya melihat wajah suaminya.
__ADS_1
Tubuh Hanum membeku karena begitu dia membuka pintu rumahnya Sultan langsung merengkuh tubuhnya ke dalam dekapan pria itu. Bau minuman beralkohol yang menguar dari hembusan nafas suaminya membuat perasaannya makin berkecamuk.
.