
"Jauhkan tanganmu dari tubuh istriku!" ucapan Sultan tak terdengar seperti sebuah perintah melainkan lebih mengarah ke sebuah peringatan. "Aku sama sekali tidak menyangka, ternyata ini sifat aslimu yang sesungguhnya?" menepis tangan Mauryn kemudian mendekati istrinya. "Kamu tidak apa-apa sayang?" tanyanya pada Hanum yang tengah menangis sesenggukan.
Hanum menjadikan tangisannya sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya, kejadian baru saja yang di alaminya membuatnya takut. Sultan segera merengkuh tubuh istrinya yang bergetar, dia tahu kalau istrinya sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Tidak apa-apa, ada aku di sini dan kau aman sekarang. Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu, percayalah ... aku akan menjagamu dengan segenap jiwa dan ragaku."
Tidak ada yang bisa Hanum katakan, tangisnya menjadi bukti kalau dia cukup terguncang dengan kejadian tadi. Dia masih mendekap suaminya, kemeja yang dipakai Sultan bahkan telah basah terkena air matanya yang masih setia mengalir dari sudut matanya.
Tak jauh berbeda dengan Hanum, Mauryn pun tak hentinya meneteskan air mata, dia merasa begitu sakit hati melihat Sultan yang begitu memperhatikan istrinya. Dari sikap nya, Mauryn bisa melihat dengan jelas kalau Sultan memang sangat mencintai Hanum dan sama sekali tidak memperdulikannya.
"Kenapa ... kenapa kamu melakukan semua ini padaku Chanu kenapa?"
Mauryn seperti orang kerasukan, dia berlari ke arah pasangan suami istri yang tengah berpelukan itu kemudian dengan kasar mendorong Hanum agar menjauh dari tubuh Sultan sementara dia menghambur, menggantikan Hanum memeluk tubuh pria yang membuatnya tergila-gila.
"Lepaskan aku!" hardik Sultan, "Beraninya kamu berbuat kasar pada istriku."
"Kamu jahat Chanu, jahat!" Mauryn terus memukuli dada Sultan.
"Tidak salah? kata-kata itu seharusnya lebih pantas di tujukan untukmu. Aku benar-benar tidak habis pikir, ternyata kelakuanmu di belakangku selama ini sangat busuk. Kau tidak lebih dari seorang wanita kejam yang jahat. Aku bahkan sampai tidak mengenalimu lagi, dimana Mauryn yang dulu? kenapa aku sudah tidak mengenalmu sebagai Mauryn yang dulu lagi? kau tahu Hanum sedang hamil, dia sedang mengandung anakku, darah dagingku, tapi apa yang kau lakukan? tega-teganya kamu menyakitinya."
"Tutup mulutmu! kau sudah terlalu banyak bicara dan sekarang waktunya aku untuk bicara.Jangan menyalahkan aku, kau lah yang salah selama ini ..." tubuh Mauryn merosot ke lantai. "Aku telah memendam perasaan yang begitu mendalam padamu bahkan sejak kita berdua masih remaja dan perasaan itu tidak pernah berubah sedikitpun hingga detik ini." Mauryn berhenti sejenak, mengusap kasar butiran bening yang terus menganak sungai di wajahnya yang seolah enggan untuk berhenti. "Aku terus memendamnya, aku berusaha untuk menahan diri, dan aku terus menunggu ... membiarkan waktu yang akan memberitahukan padamu betapa aku sangat mencintaimu. Tapi tidak, selama ini kau tidak pernah sedikitpun melirikku. Kau hanya menganggapku sebagai seorang teman, tidak lebih. Dan akan selamanya begitu karena kamu tergila-gila pada wanita kampung itu," teriaknya sambil menunjuk Hanum yang masih berdiri mematung dengan berderai air mata.
"Jaga bicaramu!" Sultan tidak terima Mauryn mengatai istrinya.
"Huh, kenapa kau marah?" Mauryn bangun dari lantai. "Aku tahu kalau sebenarnya jauh di dalam lubuk hatimu, kau juga mencintaiku kan? sikapmu selama ini baik padaku, dan itu berubah semenjak kau bertemu dengan wanita murahan itu."
__ADS_1
"Diam kataku! jangan keterlaluan, kau tahu betul sikapku padamu selama ini hanyalah perhatian seorang teman kepada sahabatnya dan hubungan kita hanyalah sebatas pertamanan saja, tidak lebih." Sultan menegaskan.
Masih sambil menangis, Mauryn mendekat ke arah dimana Hanum masih berdiri terdiam.
"Dasar perempuan jal*ng! guna-guna apa yang kau pakai untuk menjerat Chanu-ku? katakan!" Mauryn mengguncang bahu Hanum.
Sultan bergerak cepat untuk menjauhkan tangan Mauryn dari tubuh istrinya dan kemudian merangkul Hanum. Bertindak seolah dia sedang melindungi istrinya dari marabahaya yang mengancam.
"Jangan pernah mengatai istriku dengan kata-kata yang tidak pantas! perkataan sampah seperti itu jauh lebih pantas kau gunakan untuk dirimu sendiri."
Ketiganya kaget begitu melihat petugas keamanan yang tiba-tiba datang menghampiri mereka. Akibat kericuhan yang terjadi, mereka sampai tidak menyadari kalau ada banyak pasang mata yang menyaksikan pertikaian yang terjadi di toko perlengkapan bayi tersebut sehingga membuat salah satu pengunjung meminta bantuan kepada petugas keamanan yang sedang berjaga di depan pintu masuk untuk segera menghentikan keributan yang terjadi di sana.
"Tolong bawa perempuan tidak waras itu Pak!" titah Sultan, "Dia telah menyakiti istri saya," imbuhnya.
Sultan mendekati Mauryn sebelum petugas keamanan benar-benar membawa perempuan itu pergi dari sana.
"Aku peringatkan padamu! jangan pernah berbuat nekad untuk menyakiti istriku lagi."
"Kau pikir aku takut dengan ancaman darimu? jangan mimpi! aku tidak pernah takut padamu, sedikitpun!" Mauryn mendelik.
"Dan kalau sampai kamu berani menyakiti Hanum lagi, aku tidak akan segan-segan untuk memberikan perhitungan padamu, jauh lebih gila lagi dari yang pernah kau lakukan pada Hanum. Perhitungan yang bahkan kau sendiri tidak akan sanggup untuk sekedar membayangkannya saja."
Setelah selesai mengucapkan kata-kata tersebut, Sultan kembali ke arah istrinya. Dia menggotong tubuh Hanum dan mengajaknya pergi dari ruangan terkutuk itu.
"Tolong Chanu, aku mohon padamu. Jangan perlakukan aku seperti ini." Mauryn menghempas kedua tangan orang yang sedang mencekal tangannya kemudian berlari.
__ADS_1
Mauryn duduk bersimpuh sambil memegangi kaki kiri Sultan,membujuk pria itu untuk merubah keputusannya. Dia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Sultan mencintai Hanum, pria itu hanya mencintai istrinya saja.
Mauryn bersikap seolah tak punya rasa malu, bagaimana mungkin dia memohon pada pria yang sama sekali tidak menaruh hati padanya. Gadis itu terus bersimpuh di kaki Sultan tidak peduli sekalipun itu di depan khalayak ramai. Dia terus engemis cinta dari Sultan, berharap kalau pria itu masih berbelas kasih padanya dengan memberikan setitik cinta. Tapi sepertinya Sultan bukanlah tipe pria pemuja wanita, dia tidak bisa membagi hatinya pada dua orang wanita sekaligus. Sekalipun dia menjadi pemuja wanita, maka hanya ada satu wanita yang bisa membuatnya tergila-gila bahkan rela menjadikan dirinya sebagai budak cinta seumur hidupnya. Wanita yang akan selalu dia datangi dan menjadikan nya sebagai tujuan hidupnya.
Dialah Hanum Salsabiela Himawan, gadis periang penuh kelembutan yang dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada dalam dirinya, mampu membuat hati seorang pria bernama Sultan Chandra Pradipta bergetar dan selalu mengagungkan nama nya, dan menjadikannya sebagai satu-satunya wanita yang bertahta dalam kekuasaan yang merajai seluruh istana hati pria itu.
"Tolong bawa perempuan jahat ini Pak," ucap Sultan pada petugas keamanan yang sempat terpaku melihat drama di depan mata mereka. "Saya harus segera membawa istri saya pulang, sangat tidak baik untuknya jika terus berdekatan dengan perempuan berenergi negatif sepertinya." melirik Mauryn dengan tatapan penuh kebencian.
Tanpa menunggu perintah lagi kedua petugas keamanan itu kembali mencekal Mauryn, membantu gadis itu bangkit dan hendak membawanya untuk di interogasi.
Melihat Sultan yang terus berjalan menjauh membuat air mata Mauryn kembali melesat, matanya sudah bengkak karena terlalu lama menangis tapi sepertinya dia masih ingin menikmati kesedihannya.
Mauryn terkejut dan menghentikan tangisnya sejenak begitu melihat langkah Sultan terhenti, ada sedikit perasaan senang, dia seolah mendapatkan sebuah harapan ketika Sultan berbalik dan melihatnya.
"Jangan pernah melewati batasanmu!" ucap Sultan acuh, "Aku tidak pernah melampaui batasanku selama ini jadi aku harap kamu juga tidak pernah melewati batasanmu sebagai seorang teman. Bersikaplah menjadi seorang teman yang baik dengan tidak serakah memaksakan diri untuk memiliki apa yang bukan menjadi hakmu dan merebut kebahagiaan wanita lain. Aku hanyalah seorang suami, dan aku sudah menghambakan diriku sepenuhnya hanya kepada satu wanita saja, yaitu Hanum seorang. Aku tidak akan sudi melihat wajahmu lagi, ini yang terakhir kalinya. Jangan pernah datang dan mengusik kehidupan kami lagi." setelahnya Sultan berbalik dan kembali mengayunkan kakinya meninggalkan tempat tersebut.
Tidak peduli dengan banyaknya pengunjung yang melihat kejadian itu dan mereka terus berbisik membicarakannya.
Ucapan yang dilontarkan Sultan bagai belati yang menikam tepat di jantung Mauryn, tangisnya kembali pecah. Dia tidak menyangka kalau Sultan yang dia kenal sebagai pria rendah hati yang ramah dan tidak pernah bersikap kasar, bisa dengan lantangnya mengatakan hal itu padanya. Sakit ... hatinya sungguh sakit tak berperi, bukan hanya hatinya saja yang hancur, jiwanya remuk dan sekarang dia seperti orang yang hilang arah tanpa tahu apa tujuan hidupnya.
Dia terus meratapi nasibnya, ingatannya kembali pada masa lalu, rangkaian kejadian indah yang di lewatinya bersama Sultan selama ini terus terekam di otaknya.
.
Gimana nih, masih kesel sama Sultan gak? atau kurang greget Sultan kasih pelajaran buat Mauryn? 🤣🤣🤣
__ADS_1