Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Keputusan William


__ADS_3

William terus merenungi kejadian demi kejadian yang baru saja dialaminya. Berawal dari rencana adik kembarnya untuk melamar Raisa, berlanjut dengan dorongan dari Opa yang memintanya untuk segera mengakhiri masa lajangnya. Semuanya terjadi begitu cepat laksana mimpi.


"Bapak sakit," tegur Cinta membuyarkan lamunan atasannya.


"Hh, tidak." William menggeleng pelan.


"Muka Bapak pucat, mau saya panggilkan dokter?"


"Tidak perlu. Saya tidak tidur semalaman, sepertinya saya masuk angin," beritahu William.


Cinta melirik arloji berwarna cokelat yang membelit pergelangan tangannya. "Masih ada waktu dua jam sebelum rapat umum pemegang saham dimulai, Bapak bisa istirahat di dalam," ujarnya.


"Saya tidak punya waktu untuk itu Cinta, pekerjaanku menumpuk," tolak William.


"Biar saya saja yang selesaikan, Bapak tinggal mengecek ulang setelah selesai nanti. Bapak tidak mungkin menghadiri rapat dalam keadaan seperti ini," bujuk Cinta.


Melirik sekretarisnya sebentar, menimbang-nimbang saran wanita bertubuh semampai itu. "Baiklah, tapi kau juga jangan terlalu memaksakan diri. Tidak perlu semuanya kau selesaikan karena ini sangat banyak."


William bangkit dari kursi kebesarannya, tapi sedetik kemudian tubuh itu limbung. Cinta gerak cepat dengan menahan tubuh lelaki itu agar tak terjatuh.


"Hati-hati, Pak. Anda harus ke dokter sepulang dari kantor nanti, atau saya panggilkan sekarang saja."


"Tidak usah, saya hanya perlu istirahat sebentar dan akan sembuh dengan sendirinya, nanti."


"Biar saya bantu Bapak masuk ke dalam," ujarnya.


Tubuh William yang jauh lebih besar darinya membuat Cinta sedikit kesulitan. Dengan susah payah dia membimbing William naik ke kasur.


Brug!


Cinta terjatuh dengan posisi tubuhnya di atas William. Ada sesuatu yang bergetar dalam dirinya yang membuat wanita itu mematung untuk waktu yang lama.


Mata bertemu mata. William tak berkedip menatap setiap inci wajah gadis itu. William terdiam menikmati keindahan wajah sekretarisnya yang ternyata tak kalah dengan pemain sinetron terkenal di negeri ini. Selama ini dia tidak terlalu memperhatikannya, dan sekarang dia seolah terhipnotis.


Perlahan, William menyingkirkan rambut Cinta yang terburai di sebagian wajahnya. Tak ada lagi yang menghalangi pandangan William saat ini.


"Ma ... Maaf Pak. Saya tidak sengaja," ucap Cinta terbata. Gadis itu bersiap menyingkir dari atas tubuh William, tapi lagi-lagi gerakannya terhenti saat liontinnya tersangkut di kancing kemeja William.


"Astaga," gumam Cinta, panik. "Maaf Pak." Tangannya mulai sibuk melepaskan kalungnya yang tersangkut.


Cukup lama Cinta sibuk dengan benda itu, tapi kalungnya masih belum bisa terlepas.


"Mana bisa dibuka kalau kau gugup begitu," tutur William.

__ADS_1


Kali ini gantian lelaki itu yang berusaha membuka kaitan kalungnya. Jantung Cinta berdegup kencang saat tak sengaja William menyentuh tangannya. Semburat merah menyembul di kedua belah pipi Cinta saat hangat napas William menerpa wajahnya. Dengan jarak sedekat ini, bersama dengan lelaki yang ...


Rasa-rasanya Cinta seperti sedang berada di taman penuh bunga.


"Selesai."


Cinta terkesiap. Petualangan indah dalam negeri dongeng harus dia akhiri, lalu mulai membuat terobosan baru agar jalannya menuju istana impian lekas terwujud.


"Terima kasih, Pak." Cinta berjalan menuju kotak obat, meraih satu kapsul dalam botol kecil lalu kembali dengan segelas air putih.


"Bapak minum obat dulu biar lebih enakan pas bangun nanti. Bapak juga demam," ucap Cinta, menyodorkan kapsul yang langsung ditelan oleh William.


"Silakan Bapak istirahat, nanti saya bangunkan lima belas menit sebelum rapat dimulai."


Tanpa menunggu jawaban, Cinta bergegas meninggalkan ruangan itu. Berulang kali dia menghembuskan napas panjang. Masih dengan jantung berdebar dia meraih tumpukan kertas di meja William dan membawanya ke meja kerjanya.


Jarum jam terus bergerak. Sesuai janjinya, Cinta berniat membangunkan William lima belas menit sebelum rapat dimulai. Gadis itu meletakkan tumpukan kertas yang berhasil dia selesaikan di meja kerja atasannya.


Cinta mengetuk pintu sebelum dia memasuki ruangan pribadi William. Dilihatnya pria itu masih terlelap, terbukti dari dengkuran halus yang terdengar. Berjalan mendekat, Cinta memberanikan diri menyentuh kening William, memastikan pria itu tak lagi demam.


"Pak, bangun," ujarnya lembut seraya mengguncang bahu William.


"Raisa," William mengigau memanggil cinta pertamanya.


"Bapak, bangun!" Ulang gadis itu.


William membuka matanya.


"Maaf menganggu, waktu istirahat Bapak sudah habis."


"Iya, kau sudah menyiapkan semua keperluan untuk rapat?" Tanya William dengan suara serak khas bangun tidur.


"Sudah, Pak. Saya tunggu di luar."


"Ya, saya akan cuci muka dulu sebentar."


.


.


Rapat pun berjalan lancar dan berlangsung cepat. Kini, William telah kembali menduduki kursi kebesarannya, memeriksa setiap helai kertas dengan barisan huruf dan angka yang membuat kepalanya kembali berdenyut.


William begitu terkesan dengan cara kerja sekretarisnya, setengah tak percaya gadis itu sanggup menyelesaikan pekerjaan sebanyak itu dalam waktu kurang dari dua jam. Di dalam ruang rapat pun dia dibuat takjub melihat kinerja Cinta. Benar-benar gadis yang sempurna. Cantik, cerdas dan jangan lupakan hatinya yang bak malaikat. Masih jelas dalam ingatan bagaimana Cinta membantunya tadi. Cinta selalu jauh di atas ekspektasinya.

__ADS_1


Malam mendekap bumi saat William menginjakkan kaki di rumah. Semua orang telah berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Dengan cepat William membersihkan diri agar dapat langsung bergabung dengan mereka.


Tak ada pembicaraan yang terjadi di sana, tapi William yakin. Pembicaraan berat akan ia dengar tak lama lagi, dan benar saja. Usai makan malam, keluarga besar itu kembali berkumpul di ruang tengah.


"Bagaimana Pi?" Sultan membuka suara usai menyesap teh chamomile tanpa gula yang disajikan Mbok Darmi.


"Papi tetap dengan pendirian Papi," sahut Arya.


"Opa, masalahnya zaman sudah berubah. Masa iya demi mengikuti adat, Willmar menunda pernikahannya. Kasihan dia Opa!" Protes si sulung.


"Maka dari itu, segeralah menikah jika kamu ingin melihat adikmu naik ke pelaminan," cetus Arya.


William menghembuskan napas berat. Menikah tidak semudah yang dia bayangkan. Selain tidak memiliki calon, dia juga tidak yakin akan bisa melupakan Raisa nantinya.


"Pa, bicaralah dengan Opa," William memohon.


"Kamu pikir Papa diam saja? Papa dan Mamamu sudah membujuk Opa sejak pagi. Kau kan tahu sendiri Opamu," balas Sultan.


William melirik adik kembarnya, tatapan lelaki itu sarat akan permohonan. Jika William berada di posisi Willmar, dia tentu akan kecewa dan sedih jika pernikahannya ditunda.


William berpikir keras. Biar bagaimanapun akan sulit menemukan jalan keluar dari masalah ini karena pada dasarnya Arya sudah memutuskan. Pada saat itulah bayangan kejadian tadi siang kembali melintas.


Ya, manik mata William berbinar saat terlintas ide brilian dalam kepalanya. Dia bisa memenuhi impian adik kembarnya untuk segera mempersunting Raisa.


"Opa yakin tidak akan menikahkan Willmar sebelum aku menikah?" Tanya William memastikan.


"Seribu persen, dan jangan harap Opa akan merubah keputusan Opa, apapun yang terjadi."


"Baiklah kalau begitu? Temani aku untuk melamar seorang gadis," putus William.


"Apa!" Semua orang berteriak serentak.


"Kau yakin, Sayang? Bukankah kau tidak memiliki pacar," ujar Hanum.


"Aku memang tidak memiliki pacar, Ma, tapi aku yakin dia gadis baik-baik. Aku juga tidak mau pacaran, takut dosa," balas William.


"Kenapa tidak bilang sejak awal, kau mengagetkan aku, Kak." Si bungsu terlihat sangat girang.


"Siapa gadis itu?" Tanya Sultan.


"Dia ..."


Semua orang menunggu jawaban dengan cemas, mereka sungguh sangat penasaran dengan gadis pilihan William. Mereka tak menyangka jika lelaki pendiam seperti William akan dengan cepat menemukan pendamping hidupnya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2