Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Adik Kelas


__ADS_3

Setelah melewati sebuah lorong panjang yang Adam dan Raka lewati penuh dengan perjuangan, akhirnya sampailah mereka di depan ruang ICU.


Keduanya terus menyapu pandang ke seluruh penjuru ruangan.


"Ini benar kan di sini ruangannya? seharusnya Sultan ada di sini? di mana dia?" tanya Adam.


"Mana ku tahu!" Raka mengangkat kedua pundaknya. "Coba kau hubungi dia lagi!"


Baru saja Adam hendak mengeluarkan ponselnya dari saku celananya tapi dia melihat ada dua orang perawat yang lewat di depannya.


"Maaf Sus, apa suster melihat ke mana teman saya pergi?"


Mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Adam membuat dua suster itu saling berpandangan. Ada banyak orang berkeliaran di sana dan mana mungkin salah satu dari suster itu tahu yang mana orang yang di maksud Adam.


Raka yang paham betul melihat suster itu kebingungan pun segera angkat bicara.


"Jadi begini Sus, tadi kan saya perhatikan suster baru saja keluar dari ruangan itu." Raka menunjuk sebuah ruangan yang diyakininya sempat pernah di huni oleh Dion. "Suster tahu kemana perginya pasien itu sekarang?"


"Maksud Anda, Tuan Dion?" jawab salah seorang suster.


"Tepat sekali." Raka menjentikkan jarinya. "Di mana Dion sekarang Sus?"


"Ooh ... itu, Tuan Dion baru saja di pindahkan ke ruang rawat inap. Dia baru saja sadar setelah melewati masa kritisnya dan dokter menganjurkan agar Tuan Dion segera di pindahkan."


"Di mana ruang rawatnya Sus?" tanya Adam tak sabar.


"Silahkan Anda berjalan ke arah sana." suster menunjukkan sebuah lorong. "Jalan terus sampai ujung nanti ada belokan, ambil kiri lurus terus, ruangan ke lima. Tuan Dion di pindahkan ke sana," terang suster itu.


"Ya sudah kalau begitu, terima kasih atas bantuannya Sus."


Bak seorang ayah yang menuntun anaknya, Adam terus memegangi tangan Raka dan menyuruhnya untuk berjalan dengan cepat.


"Ini rumah sakit apa labirin sih? siapa coba arsitektur nya? kenapa tata letak ruangannya jelek sekali, berantakan seperti ini." Adam yang merasa lelah berjalan agak lama, terus mengeluh, merasa pusing dengan lorong berkelok yang membuatnya bingung.


"Kau kan kuliah jurusan manajemen bisnis jadi mana tahu soal beginian? kalau menurutmu tata ruangan ini buruk, tidak untuk orang yang mengerti di bidangnya. Bisa saja menurut mereka ini adalah maha karya seni yang tinggi, mungkin mereka ingin menyampaikan kesan mewah kepada setiap pengunjung yang datang kemari. Mereka akan dibuat takjub oleh setiap susunan ruang yang berbeda di setiap lantainya. Lagi pula mungkin hal ini sengaja di buat untuk menimbulkan kesan yang berbeda dengan kebanyakan rumah sakit lainnya. Orang yang memiliki rumah sakit ini pasti bukan sembarang orang, kau tahu kan kalau biaya pengobatan di sini relatif mahal."


"Itu karena pelayanannya memang yang terbaik di kelasnya. Eh, omong-omong apa kamu sudah menemukan apa yang ku minta tempo hari?"


"Apa?"


"Salon khusus pria." Adam menaikturunkan alisnya.


"Ah ya, hampir lupa. Ada satu tempat tapi aku rasa bukan salon, apa ya nama tempatnya ... aku lupa." Raka menaruh jari telunjuknya di dagu, ciri khas jika seseorang sedang berusaha mengingat-ingat akan satu hal.


"Coba kau ingat-ingat lagi!" perintah Adam.


"Ini aku sedang berusaha untuk mengingatnya Dam, sabar kenapa. Sebuah tempat sauna yang dilengkapi dengan tukang pijat khusus pria yang katanya ... ah sial! kenapa bisa lupa sih!" Raka merutuki dirinya. "Intinya ya Dam, katanya di sana itu kita nanti akan dipijat tradisional ala Thailand."


"Baiklah! segera lakukan reservasi ya!" pinta Adam.


"Kau sudah seperti Sultan saja, suka memerintah! itu adalah kata-kata yang di ucapkan Sultan jika dia memintaku untuk memesan tempat jika hendak bertemu dengan klien yang biasanya dari kelas atas."


"Huh, bicara tentang Sultan, kenapa dari tadi kita belum juga menemukannya padahal kita sudah berjalan cukup jauh ini, apa jangan-jangan kita tersesat?"


"Hei ... di sini!" Sultan melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Panjang umur anak itu, kita baru saja membicarakannya dan dia langsung muncul di hadapan kita," celoteh Adam.


"Ayo cepat!" Raka menyenggol bahu Adam dan berlari.


"Bagaimana keadaan Dion?"


Sultan langsung mendapat serangan pertanyaan begitu kedua temannya sudah berdiri di depannya.


"Kalian lihat saja sendiri, ayo!"


Sultan mengajak Adam juga Raka masuk ke dalam, dan begitu ketiganya memasuki ruangan bernuansa putih tersebut, mereka langsung di sambut dengan senyum menawan dari seorang Dion.


"Hai Bro! " sapa Dion, pria itu tak henti-hentinya mengukir senyum di bibirnya yang masih terlihat pucat.


"Berhenti tertawa kataku!" hardik Adam.


"Hei, ada apa dengannya?" Raka bertanya pada Sultan. "Kenapa setelah melihat Dion siuman malahan dia marah?"


Sultan menggeleng karena memang dia tak tahu apa yang menyebabkan Adam marah hingga berteriak seperti itu.


"Lekas sembuh dan segeralah pulang! aku akan menantangmu adu tinju nanti," ucap Adam.


"Wah ... kau gila Dam, dia belum sembuh total dan kau sudah mengajaknya adu kemampuan di ring tinju." Raka berdecak.


"Dion yang gila! bisa-bisanya membuatku takut, kau tahu betapa takutnya aku begitu melihatmu terluka? aku takut kau akan mati." Adam mendekati Dion yang saat itu sedang duduk di bed lalu keduanya berpelukan.


Seperti yang pernah di alami oleh Sultan dan juga Raka, kali ini Dion pun tak luput dari sasaran Adam. Entah kenapa Adam yang sekarang menjadi ringan tangan, memukul kepala seseorang seolah menjadi hobi barunya.


"Kau tenang saja! aku sudah pernah tertusuk sebelumnya, dan pelakunya juga orang yang sama. Mauryn sudah dua kali menusukku, sama-sama di sini." Dion menekan bagian di bawah dadanya. "Bedanya dulu dia menusukku tepat di hatiku dengan pesonanya, dan kemarin dia menusuk di hatiku juga, tapi menggunakan senjata tajam. Kau tidak tahu kalau aku ini orang yang kuat, aku tidak akan mati hanya karena sebuah tusukkan." Dion terkekeh.


"Dasar bocah gendeng! dalam keadaan seperti ini pun masih bisa tertawa," Adam mencebik.


"Sudah, hentikan omong kosongmu! katakan terus terang apa kau masih merasa sakit di bagian yang terluka itu?" Adam menunjuk bagian perut Dion, tepat dimana pisau lipat yang di hujamkan Mauryn bersarang.


"Rasanya memang masih agak nyeri, tapi rasa kecewa dan sakit hati yang aku rasakan lebih pedih ketimbang luka ini." Dion menunduk.


"Jangan melow begitu, sama sekali tak cocok dengan tampilanmu yang slengekan." goda Raka.


"Enak saja! begini-begini aku adalah orang nomor satu di Negara yang aku singgahi sewaktu masih menjabat sebagai diplomat," ucap Dion berbangga hati.


Suasana dalam ruangan tersebut mendadak ramai karena tawa mereka yang riuh menggema di sana. Tak lama kemudian, mereka mendengar seseorang mengetuk pintu dari luar. Seorang dokter wanita beserta satu asistennya masuk setelah mendengar suara Dion.


"Mohon maaf Tuan-tuan sekalian kami datang mengganggu waktu kalian. Perkenalkan, saya dokter yang menangani pasien dan sekarang waktunya saya bertugas untuk kembali mengecek kondisi Tuan Dion," kata seorang dokter muda nan cantik dengan begitu sopannya.


"Silahkan Dok, kami akan menunggu di sana saja." Adam menginstruksikan kepada temannya untuk duduk di sofa dalam bangsal rawat VVIP tersebut.


"Terimakasih atas kerjasamanya Tuan." dokter itu membungkukkan badannya. "Permisi Tuan," izinnya menyingkap baju pasien yang di pakai oleh Dion, untuk melihat luka bekas operasinya.


Dion terus menatap wajah cantik dokter yang saat ini masih sibuk memeriksa luka di perutnya.


"Apa masih terasa sakit Tuan?" dokter yang di ketahui bernama Wina itu bertanya.


"Aku sendiri tidak tahu Dok, luka bekas tusukan pisaunya di sini, tapi kenapa hatiku yang terasa sakit." Dion mengucapkannya sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat dokter Wina tersentak.


"Wajar Tuan karena memang pisau itu sedikit melukai hatimu," terang Wina.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Dion kaget, padahal niatnya hanya bercanda.


"Iya, dan untungnya hati Anda hanya sedikit tergores, itu yang menyebabkan Anda mengeluarkan banyak darah kemarin."


"Tapi aku rasa bukan hanya karena itu saja," lirih Dion.


"Maksudnya? apa anda merasakan ada bagian tubuh lain lagi yang sakit?" Wina terlihat panik.


"Hm." Dion mengangguk.


"Astaga! Sus, apa ada rangkaian tes kesehatan yang terlewatkan?" beralih menatap suster yang sedang berdiri di belakangnya. "Sejauh ini kita tidak menemukan luka yang cukup serius selain luka tusuk di perutnya."


"Tidak ada Dok, Tuan Dion memang hanya terluka di bagian perutnya tapi kalau pasien mengeluh ada bagian tubuh lain lagi yang terasa sakit, ada baiknya kita melakukan pengecekan ulang," jawab suster itu.


Dion yang merasa berhasil mengerjai dokter cantik itu pun terus tersenyum.


"Memang bagian tubuh mana lagi yang terasa sakit Tuan?" Wina kembali menatap pasiennya.


"Di sini." lagi-lagi Dion menunjuk bagian yang dia yakini adalah hatinya. "Hatiku yang sakit karena kau terus berpura-pura tidak mengenalku."


Kata-kata yang di Dion ucapkan membuat wajah Wina memerah seketika, terkejut, wanita itu terus memegangi dadanya.


Sementara di sofa, para pria yang sejak tadi asyik berbincang pun mendadak menatap tajam Dion, bergantian ke arah dokter wanita yang masih duduk di samping Dion.


"Coba di tes ulang Dok, kalau perlu lakukan CT scan, bukannya perutnya yang terluka tapi kenapa otaknya yang bermasalah?" sindir Adam.


"Kalian tidak tahu yang sebenarnya, jadi diamlah!" Dion menyahut.


"Ya sudah, aku rasa pemeriksaan hari ini cukup, jangan lupa minum obat secara teratur." Wina bangkit dari duduknya, dia terlihat sangat grogi. "Ayo Sus, masih ada pasien yang harus kita periksa lagi. Kami permisi dulu." Wina mengangguk sopan, mohon undur diri dari sana.


"Mau sampai kapan dia pura-pura tidak mengenaliku?" gumam Dion. "Tunggu!" cegah Dion begitu Wina dan suster yang selalu mengekor di belakangnya itu telah sampai di ambang pintu.


Wina berdiri mematung dengan tangan yang masih memegang handle pintu.


"Apa kau sudah menikah?" tanya Dion tanpa ada rasa ragu sama sekali.


Wina menggeleng pelan tanpa menoleh ke arah orang yang memberinya pertanyaan.


"Sudah punya pacar atau tunangan?" tanya Dion lagi.


Dan dirinya tersenyum tipis begitu melihat Wina kembali menggeleng. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Wina segera berlalu meninggalkan ruangan yang mendadak membuatnya merasa kepanasan.


Sepeninggal dokter dari ruangan itu, ketiga pria jahil yang sejak tadi duduk di sofa pun bangkit, kembali menghampiri Dion.


"Kau mengenalnya?" tanya Sultan. Kemudian dibalas anggukan kecil oleh Dion.


"Memang siapa dia?" pun sama seperti Sultan, Raka bertanya karena penasaran.


"Adik kelasku sewaktu di SMA, aku tidak menyangka, setelah sekian tahun kami kembali bertemu. Ternyata cita-citanya sejak dulu untuk menjadi dokter bukan hanya bualan semata, terbukti dia berhasil meraih apa yang menjadi impiannya sejak lama. Dia tidak pernah berubah, masih saja kalem dan sangat pendiam," gumam Dion.


"Sepertinya kau begitu mengenalnya," sahut Sultan lagi.


"Tentu saja aku sangat mengenalnya, luar dan dalam gadis itu." Dion menerawang jauh.


"Sejauh apa kau mengenalnya, apa jangan-jangan dia itu ...," ucapan Sultan terpotong begitu Dion menyambar.

__ADS_1


"Ya, aku sangat mengenalnya karena dia adalah ...,"


.


__ADS_2