
William menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Sudut bibirnya terus terangkat ke atas manakala ia kembali mengingat pergulatan panas yang terjadi di antara mereka semalam.
Tak peduli berapa kali Cinta merintih kesakitan, William terus saja merengek meminta hal itu, lagi dan lagi. Hingga malam menjadi saksi dua insan yang melebur menjadi satu. Berulangkali William mengajak Cinta mendaki puncak kenikmatan. Tak terhitung berapa kali kedua insan itu mendapatkan pelepasan, yang William ingat, dia baru berhenti saat melihat Cinta terkulai lemas di penghujung malam.
"Eumh!" Cinta menggeliatkan tubuhnya. Tulang belulangnya serasa lepas dari persendiannya. Tubuhnya remuk redam akibat terkaman William yang begitu liar.
Tak ada satu pun bagian dari tubuh Cinta yang luput dari pria itu. Semuanya, semua yang ada dalam dirinya telah William cicipi hingga tak tersisa.
"Kamu sudah bangun?" William menampilkan senyumnya.
"Jam berapa sekarang Mas?"
"Masih jam tiga," jawab lelaki itu.
"Saya pikir sudah siang."
"Memangnya kau mau apa?"
"Lapar, sejak kemarin siang saya belum makan."
"Astaga, kenapa nggak bilang dari semalam?"
"Gimana mau ngomong, kalau tiap kali selesai, Mas minta lagi," sinis Cinta.
Hampir saja tawa William meledak. Ya, semalam memang dia tidak membiarkan Cinta untuk turun dari ranjangnya barang semenitpun. Bak mendapatkan mainan baru, William tak rela melepaskan Cinta.
"Sebentar." William melepas pelukannya dan beranjak menuju almari. Menarik baju tidur pendek terusan sebatas lutut.
"Pakai ini dulu ya," ujar lelaki itu sambil memakaikan baju yang baru saja di ambilnya di tubuh Cinta.
"Masa nggak pakai dalaman Mas!" Protes gadis itu.
"Buat apa? Toh nanti juga dilepas lagi."
Blush.
Pipi Cinta sukses merona mendengar penuturan suaminya.
"Sepertinya hujan masih akan berlanjut, kita bisa menghabiskan hari dengan berduaan di kamar," imbuh William.
"Kan sejak semalam kita melakukan itu, memang masih kurang?"
William pura-pura menghitung jarinya. "Ya lah, rugi saya selama ini diam terus. Tahu begini mending dari awal menikah saya jebol kamu sekalian."
Usai memakaikan baju tidur tipis itu, William meraih ikat rambut yang tergeletak di atas nakas.
"Rambutnya diikat aja ya biar nggak berantakan!" Kemudian tanpa aba-aba William segera meraih kepala Cinta. Mengumpulkan helaian sulur yang tergerai itu dan mengikatnya tinggi menjadi satu.
"Mas kok bisa ngikat rambut?" Tanya Cinta penuh selidik.
Deg.
William terdiam. Tak mungkin dia mengatakan jika dia belajar mengikat rambut wanita dari Raisa bukan? Bahkan Cinta adalah bukan wanita pertama yang dia ikatkan rambutnya.
__ADS_1
"Ya sudah ayo. Saya sudah sangat lapar."
Melihat ekspresi suaminya, Cinta telah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Dia paham jika Raisa lah jawaban atas keterdiaman William. Namun, Cinta paham. Dia mengerti jika William tak mau menjawab karena merasa perlu menjaga perasaannya. Itu lebih baik dari pada William menjawabnya dengan kebohongan.
Cinta beringsut dari kasurnya, sementara William menyambar celana pendek dan kaos oblong.
"Ssshh ..." Cinta mendesis merasakan bagian bawah tubuhnya tak nyaman. Dia pikir kejadian seperti ini hanya ada dalam cerita novel saja, tapi percaya atau tidak, dia sendiri mengalaminya.
"Kenapa Cin?"
"Nggak apa-apa," dustanya. 'Kenapa rasanya aneh seperti ini.'
William terkikik melihat cara berjalan Cinta. Segera saja lelaki itu mengekori istrinya menuju dapur.
Sesampainya di sana Cinta membuka tudung saji. Makanan masih lengkap dan utuh. Mungkin Tania yang menyiapkan semua ini semalam, tapi mereka tidak keluar untuk makan malam. Begitu pikir Cinta. Dengan malas Cinta duduk di sana.
"Kok cemberut? Katanya lapar?"
"Nggak enak, udah dingin semua."
"Baiklah. Mau aku buatkan nasi goreng? Nggak tahu enak apa enggaknya, tapi dulu sering bikin untuk dimakan sendiri kalau pas tengah malam kelaparan," usul William.
"Memangnya nggak ngrepotin?"
"Ya enggaklah, kamu duduk aja di situ. Aku masak paling cuma lima belas menit kok."
Cinta mengangguk. Dia hanya duduk diam saat suaminya mulai bergerak lincah meracik bumbu dan mulai bergelut dengan wajan dan spatula.
'Aku pikir milikku biasa saja, tapi kenyataannya sampai membuat Cinta begitu kesakitan.'
"Sudah belum Mas? Laper banget ini," rengek Cinta.
"Iya, ini udah." Mematikan kompor dan menaruh isi wajan itu di piring, menambahkan dua butir telur mata sapi dan menaburkan bawang goreng.
"Kok cuma satu? Punya Mas mana?"
"Kita makan sepiring berdua aja biar makin nikmat," cetus William.
"OK." Cinta hendak meraih sendok saat William menahannya.
"Biar aku suapi."
Deg.
Cinta menatap lekat suaminya. Bunga-bunga bermekaran dalam hatinya. Impiannya mendapatkan sedikit perhatian dari lelaki itu mulai terwujud.
Benar yang dikatakan Tania, percaya atau tidak, tapi faktanya hubungan badan memang sangat mempengaruhi kedekatan sebuah hubungan. Terlebih bagi pasangan halal seperti mereka berdua. Tugas Cinta sekarang adalah menjerat William agar lelaki itu tak lagi mempunyai waktu untuk memikirkan wanita lain.
"Ayo buka mulutmu! Saya juga ingin makan," ujar William.
Cinta terkesiap. Ah, lagi-lagi dia melamun. Ada setitik rasa tak percaya melihat sikap William yang sebelumnya, dan yang seperti sekarang ini.
"Mau makan tinggal makan saja, kan Mas yang pegang sendoknya," ketus Cinta.
__ADS_1
"Soal lain. Sekarang kita memang harus makan untuk mengisi tenaga, biar nanti aku kuat waktu makan kamu," kekeh William.
"Mas!" Wajah Cinta memerah.
"Saya serius. Habis makan saya akan kembali mengajakmu 'menaiki perahu'." William menggunakan istilah itu untuk mengartikan sebagai ajakan bercintaa.
Sesuai janjinya, usai makan dan memastikan makanan telah sampai di lambung sepenuhnya, William kembali merenggut kain penutup tubuh istrinya.
Rintik-rintik hujan masih terus berjatuhan dari langit, menjadi saksi perjalanan panjang dua insan itu menjemput ibadah.
'Ampun, Mas Willi! Dia kayak nggak ada capeknya,' jerit Cinta dalam hati.
Entah sudah berapa banyak jejak yang William torehkan di tubuh Cinta, yang jelas jejak keunguan itu hampir memenuhi kulit tubuhnya.
"Ssshh, Mas." Cinta meremas rambut William saat lelaki itu asyik mengeskpor tulang selangkanya.
William berusaha abai saat Cinta terus menjambak rambutnya. Punggung dan lengannya bahkan menyisakan bekas cakaran kuku-kuku lentik Cinta sewaktu William berhasil membobol gawangnya untuk pertama kali. Anehnya, hal itu malah semakin membakar gairahnya.
Puas memainkan pucuk bukit Cinta, William semakin turun ke bawah. Lelaki itu melotot saat melihat daerah terlarang istrinya, bagian yang paling membuatnya gila itu bengkak dengan memerah.
'Astaga! Pantas saja Cinta sampai kesulitan berjalan.'
Sepersekian detik, William membenamkan kepalanya di sana. Membiarkan lidahnya memanjakan titik yang bagian paling favoritnya.
Cinta mengerang, ia terus berusaha menjauhkan kepala William dari sana, akan tetapi gerakannya seolah tak berarti apa-apa untuk lelaki itu. Yang ada malah Cinta makin bergelinjang menahan siksaan kenikmatan bertubi-tubi dari suaminya. Ada sensasi nyaman dan nikmat bersamaan yang sulit ia gambarkan dengan kata-kata.
William mengakhiri permainannya. Senjata pamungkasnya sudah sejak tadi meronta minta dikeluarkan dari sangkar yang memenjarakannya. Langsung saja William mengarahkan ujung tombaknya, membuat Cinta tak hentinya merintih dan mendesah bersamaan.
"Sepertinya kau terlahir dengan membawa kutukan Cinta," cetus William yang kala itu sibuk memaju mundurkan pinggulnya.
Napas Cinta terengah, lelaki itu benar-benar mengobrak-abrik miliknya. William terus menusukkan senjatanya, membuat Cinta terbawa ombak kenikmatan yang menggulungnya.
"Kenapa semua yang ada dalam dirimu begitu memabukkan," William terus meracau.
Makin lama gerakan itu makin cepat. Tubuh keduanya telah basah bermandikan keringat. William terus memacu miliknya hingga benih-benih cinta itu menyembur di rahim sang istri, menandai berakhirnya pergumulan panas mereka.
Cinta bergeming saat suaminya menyelimuti tubuh polos keduanya. Tak ia hiraukan ucapan William yang berulang kali mengucapkan kata-kata berisi pujian. Dirinya masih larut dalam gelombang kenikmatan yang baru saja menghampirinya.
"Tidurlah! Masih ada sisa waktu dua jam lagi sebelum kita pergi," bisik William yang disusul dengan kecupan di kening Cinta.
"Kalau tidur dua jam yang ada kita bisa telat masuk kantor Mas. Sekarang saja sudah jam lima," sahut Cinta.
"Siapa yang bilang mau ke kantor?"
"Kalau bukan ke kantor, lalu pergi ke mana?"
"Rahasia," balas William sambil mengerling nakal. "Jangan banyak bicara! Tidurlah!"
William membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Rasa lelah dan kantuk yang melanda membuat mereka tak kesulitan masuk ke dalam pulau mimpi.
Bersambung ....
*Hayo, kira-kira William mau ajak Cinta ke mana? Suka nggak sama ceritanya? Masih mau lanjut? Jangan lupa, votenya dulu he-he-he. Love kalian banyak-banyak. 😘😘❤️❤️❤️
__ADS_1