
"Eumh ... pelan-pelan Mas," Hanum terus merintih dibawah kungkungan suaminya. Tangannya masih melingkar di leher Sultan, hanya deru nafas yang terdengar memenuhi ruangan tersebut di tambah dengan gemerincing suara gelang kaki yang dipakai gadis itu yang terus berbunyi seiring dengan gerakan naik turun suaminya.
"Sebentar lagi," ucap Sultan sambil terus melesakkan miliknya di bagian bawah istrinya.
Tak lama setelahnya, Hanum merasakan tubuhnya mengejang ketika Sultan semakin mempercepat ritme permainannya disusul dengan hentakan yang cukup keras di akhir pergulatan mereka.
Dengan tubuh bermandikan keringat, Sultan merebahkan tubuhnya di samping tubuh Hanum. Meraih selimut yang ada di bawahnya kemudian menutup tubuh polos mereka, keduanya pun berpelukan.
"Terimakasih," bisik Sultan sembari menghadiahi istrinya kecupan bertubi-tubi di kening yang tertutup anak rambut itu.
"Untuk apa?" tanya Hanum.
"Untuk segala sesuatu yang telah kau berikan padaku selama ini."
"Aku kira mau berterimakasih untuk apa."
"Memang apa yang kau pikirkan?" tangannya lincah menyusuri rambut panjang Hanum dan sesekali memainkannya dengan menggulungnya menggunakan jari telunjuk.
"Tidak ada." Hanum menggeleng pelan.
"Hm, tidakkah kau berpikir ... ternyata menikah itu menyenangkan ya? terlebih setelah kita saling menyatu, ternyata benar apa yang dikatakan Adam."
"Memang apa yang dibilang Kak Adam?" tanya Hanum.
"Dulu dia terus mengejekku, dia bilang kalau aku kalah telak darinya."
"Kenapa dia bilang begitu?" Hanum mendongak demi bisa melihat wajah suaminya.
"Karena usia pernikahanku denganmu jauh lebih lama dari usia pernikahan dia dan Ajeng tapi mereka lebih dulu melakukannya. Melakukan hubungan suami istri tepat di malam pertama layaknya kebanyakan pengantin baru pada umumnya, sementara kita melewati malam pertama kita dengan ...,"
"Tunggu!" ucap Hanum memotong perkataan Sultan. "Kalian sampai membicarakan masalah pribadi seperti itu?"
"Sebenarnya aku tidak pernah membahas hal seperti itu, tapi Adam dan Raka selalu saja meledekku, mereka itu sudah seperti cenayang yang mengetahui segala hal tanpa perlu aku menceritakan pada mereka."
"Ish ... memalukan sekali, ternyata diam-diam pria juga suka bergosip jika sedang berkumpul ya?" tanya Hanum menelisik.
"Tidak juga, yang kami bicarakan juga tidak terlalu mendalam jika membahas soal seperti itu, paling hanya sebatas obrolan biasa tidak yang sampai menjurus ke ...,"
__ADS_1
"Berarti benar kan dugaanku? kalian juga bisa bergosip seperti kaum hawa jika sedang berkumpul? ternyata tidak hanya para wanita saja yang suka bergosip, pria juga. Lalu, apalagi yang dikatakan Kak Adam padamu?"
"Tidak ada, dia hanya bilang kalau menikah itu menyenangkan. Akan ada orang yang selalu menemani kita dalam kondisi apapun, akan ada yang selalu memperhatikan kita, mengurus kita, semuanya ... dan setelah aku pikir-pikir, semua itu memang ada benarnya juga. Aku sampai menyesal."
"Apa katamu tadi?" Hanum menaikkan kepalanya hendak bangkit dari posisinya namun secepat kilat Sultan kembali meletakkan kepala istrinya di atas dadanya.
"Aku sangat menyesal, kalau tahu menikah itu bukan hanya menyenangkan tapi juga membahagiakan, menentramkan, aku menyesali saat dimana kita berdua menjalani kehidupan rumah tangga kita seperti orang bodoh. Aku menyesal karena aku terlalu lama berdiam diri, tak berani mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya padamu. Dan ... bodohnya aku yang terus memendam rasa cinta ini hingga bertahun-tahun bahkan setelah kita resmi menjadi pasangan suami istri pun, aku masih belum berani mengungkapkannya." Sultan berhenti sesaat, mengecup puncak kepala istrinya sebelum akhirnya melanjutkan ceritanya. "Lagi-lagi benar yang dikatakan Adam, aku ini tidak lebih dari seorang pria bodoh, aku pengecut ... bisa-bisanya aku tidak berani mengatakan hal itu langsung padamu padahal kau sudah resmi menjadi milikku, kita tinggal di bawah atap yang sama, kita bahkan tidur satu ranjang." Sultan tersenyum getir jika mengingat kembali kenangan itu, bagaimana dia menjalani kehidupan rumah tangganya yang tak lazim.
"Sudah selesai ceritanya?" Hanum kembali mendongak, sedikit kesusahan melihat wajah Sultan yang berada tepat di atasnya.
"Kenapa? kau tidak suka mendengarkan ceritaku? tadi bukankah kau menyuruhku untuk menceritakan sesuatu padamu, apapun itu."
"Bukan itu maksudku, ubah saja topik pembicaraan kita. Kedengarannya Mas sangat menyesali kejadian itu."
"Aku memang sangat menyesalinya, aku menyesal karena telah menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga jika bersamamu. Aku sampai tidak tahu harus mengatakan apalagi padamu, terlebih ketika mengetahui kenyataan kalau perempuan itu memakai topeng yang dia sembunyikan dariku demi untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Aku benar-benar merasa bodoh ...,"
"Ssstt ...," Hanum meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Sultan. "Tidak ada yang perlu di sesali, semuanya sudah menjadi suratan takdir dari Tuhan yang memang harus kita jalani. Lupakan semua kenangan buruk yang terjadi di antara kita selama ini, yang terpenting adalah kita telah hidup bersama dan saling mencintai. Kita harus menatap masa depan, jangan terus menatap ke belakang yang bisa membuat hidupmu terpuruk, kita sudah memulainya dengan baik, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Cukup jadikan masa lalu sebagai pengalaman berharga yang membuat kita menjadi lebih baik lagi. Aku justru bersyukur, setelah segala kesusahan yang kita lewati bersama akhirnya kita bisa sampai sejauh ini sekarang. Tuhan terus menempamu lewat ujian hidup yang diberikan, menjadikan cinta kita semakin kuat." Hanum memeluk erat tubuh suaminya. Rasanya dia betah berlama-lama dalam posisi seperti itu.
"Aku sudah kehabisan kata-kata, sekalipun aku mengucapkan ribuan atau bahkan jutaan terimakasih padamu pun tetap tidak akan bisa menggantikannya sebagai ungkapan rasa bahagiaku karena memilikimu. Aku berterimakasih padamu, aku sungguh berterimakasih karena kau mau menjadi pendamping hidupku."
Hening.
"Jangan macam-macam!" ucap Hanum terdengar seperti sebuah peringatan keras pada suaminya.
"Kenapa memangnya?"
"Masih bertanya ... memang Mas pikir aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan?"
Sultan terkekeh mendengar ucapan istrinya, "Tadinya kalau boleh aku mau minta sekali lag ...,"
"Tidak ... tidak ... aku sudah mengantuk sekarang dan aku lelah. Jangan memaksa atau mau aku panggilkan Kakek?"
Sultan melenguh panjang, istrinya selalu saja mengancamnya dengan menggunakan kakek untuk menakuti dirinya. Gadis itu tahu betul kelemahan Sultan, padahal sejujurnya kalaulah Sultan menahan diri selama ini, itu semata-mata karena memang ingin menjaga kondisi Hanum saja agar dia tidak terlalu kelelahan, juga demi buah cintanya yang sedang berkembang dalam perut istrinya.
"Ya sudah kalau begitu." Sultan turun dari tempat tidur, mengutip pakaian yang tercecer di lantai.
Setelah selesai memakai bajunya, dia mendekat ke arah ranjang.
__ADS_1
"Biar aku bantu pakaikan," ucapnya pada Hanum. Tangannya mulai bergerak melekatkan baju tidur di badan Hanum, dimulai dari pakaian dalam gadis itu. "Besok kita ke mall ya?"
"Untuk apa?" tanya Hanum dengan polosnya.
"Sepertinya kamu harus segera mengganti pakaian dalammu dengan ukuran yang lebih besar," kata Sultan yang memang melihat pakaian dalam istrinya sudah tidak muat lagi untuk menampung dua bukit kembar yang terlihat semakin Sint*l sejak gadis itu dinyatakan tengah berbadan dua.
"Iya kah? jadi aku gendut begitu?"
"Siapa yang bilang begitu? aku kan bilang ganti ukuran pakaian dalam, bukan bilang kamu gendut." tangannya masih cekatan mengikat tali piyama tidur Hanum.
"Sama saja." Hanum menunduk, melihat bentuk tubuhnya dengan seksama.
"Kamu tidak gendut Sayang, sungguh. Aku berani bersumpah demi apapun, kamu tidak gendut, kamu malah makin seksi dan aku sangat menyukai itu."
"Jadi selama ini sebelum hamil, aku kurus dan tidak seksi lalu kamu tidak suka begitu?"
Ya ampun, salah lagi ... siap-siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi jika dia sudah menunjukkan tanda-tanda akan terjadinya bencana besar. Semoga saja dia tidak memintaku untuk melakukan yang aneh-aneh. Tidak lucu jika aku harus melakukan suatu hal sementara orang lain tengah tidur dengan nyenyak nya di jam tiga pagi begini. Sultan menepak dahinya.
"Kenapa?" suara Hanum terdengar meninggi.
"Sayang ... lebih baik kita tidur, bukankah tadi kau bilang kalau kau sangat lelah? aku juga sudah mengantuk, ayo Sayang ...," bujuk Sultan.
"Tapi aku tidak mau tidur denganmu."
Aduh ... apalagi ini? baru lima belas menit yang lalu kami bermesraan dan sekarang dia bilang dia tidak mau tidur denganku? tunggu dulu! jangan panggil aku Sultan kalau aku tidak bisa menaklukkanmu.
"Sayang ... mana boleh begitu, aku sebenarnya mau saja kalau disuruh tidur di sofa, tapi kali ini anakku yang memintanya." mengelus perut istrinya. "Anakku mau tidur dengan ayahnya, ya?" ucapnya memelas diiringi tatapan mata yang dibuat semenggemaskan mungkin.
"Memang bisa begitu?"
"Tentu saja bisa, karena aku yang sedang mengidam saat ini. Besok tanyakan saja pada Mami, kalau tidak hanya istri saja yang bisa mengidam, suami juga. Dan sekarang ... aku sedang mengidam ingin tidur bersamamu, anak-anak ku yang mau, sungguh." Sultan tersenyum di akhir ucapannya.
"Baiklah."
Dan seketika dia bersorak dalam hatinya begitu mendengar Hanum yang mengizinkannya untuk tidur bersama.
Keduanya pun berbaring, Sultan menaikkan selimutnya, sambil memeluk Hanum dia terus tersenyum.
__ADS_1
Suamimu ini juga tidak bodoh-bodoh amat Sayang. Batin Sultan.