Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Bulan Madu


__ADS_3

Sesekali Tania melirik pintu kamar putrinya. Sudah jam setengah tujuh siang akan tetapi anak beserta menantunya tak kunjung ke luar dari kamarnya. Sarapan pagi yang dibuatnya telah dingin sekarang.


Hujan rintik-rintik masih terus membasahi bumi. Tania mengusap lengannya, lalu merapatkan sweater rajut yang membalut tubuhnya. Agak kesepian, merasa ada yang kurang saat di rumah itu ada penghuni lain akan tetapi dia menghabiskan sarapannya sendirian. Mau mengetuk pintu sekedar membangunkan pun, segan.


Ceklak.


Pintu terbuka lebar. William muncul dengan rambutnya yang setengah basah, droplet-droplet masih saling bertetesan. Makin memperjelas bahwa telah terjadi sesuatu yang panas semalam.


"Selamat pagi Bu," sapa lelaki itu pada ibu mertuanya.


"Pagi, Nak." Tania melirik William yang sedang menyiapkan gelas, hendak membuat minuman.


"Cinta memang keterlaluan. Tidak biasanya dia bangun sesiang ini, dan malah membiarkan suaminya membuat minuman sendiri." Tania bersiap bangkit dari sana saat William mencegahnya.


"Tidak usah Bu, saya bisa buat sendiri kok. Cinta masih di kamar mandi tadi," balas William.


"Oh. Ya sudah. Karena Ibu sudah selesai, Ibu mau ke depan dulu."


"Tunggu dulu Bu!"


"Ya, ada apa Nak?"


"Ada yang ingin saya bicarakan dengan Ibu," ujar William.


"Soal apa?" Tania kembali menempati kursinya.


"Hm, rencananya pagi ini kami mau pamit Bu."


"Secepat itu?"


"Saya dan Cinta rencananya akan bulan madu ke Bali, Bu. Kami disibukkan dengan pekerjaan selama ini jadi kami belum sempat bulan madu."


"Ooh, ya sudah. Mau berangkat jam berapa?"


"Rencananya nanti Bu, jam delapan."


"Jangan lupa sarapan ya. Ibu ke depan dulu."


"Ya Bu."


William menuangkan susuu ke dalam dua buah gelas yang diambilnya. Meraih roti tawar gandum dan mengolesi dengan selai choco peanut dan menaruhnya dalam piring.


Di kamar mandi.


Cinta terus meringis saat bagian bawahnya tubuhnya bersentuhan dengan air dalam bak mandi. Meskipun air hangat, tapi sungguh membuat Cinta hampir menangis untuk sesaat.


"Ah, kenapa sakit sekali? Astaga!" Sungut Cinta.


Gadis itu meringkas acara mandinya, mengingat William mengatakan mereka akan bepergian, tapi William masih merahasiakan ke mana tujuan mereka.


Setelah memastikan tubuhnya telah benar-benar bersih dan wangi, Cinta menyambar selembar handuk untuk membalut tubuhnya. Ia menggunakan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Gadis itu ke luar dari kamar mandi, bertepatan dengan William yang masuk ke kamar dengan memegang nampan.


Pria itu terdiam sesaat melihat penampilan istrinya. Rambut panjang yang terbungkus handuk membuat William leluasa melihat leher jenjang istrinya yang kini dipenuhi dengan jejak percintaaannya semalam.


"Kenapa berdiri di situ? Cepat Mas, saya sudah lapar," cetus Cinta.


"Ah, iya." William tergagap.


Masih mengenakan handuknya, Cinta duduk di bibir ranjang dan meraih segelas susuu hangat yang disodorkan suaminya.


"Pelan-pelan saja makannya!" Tegur William saat melihat Cinta menyambar roti dalam piring.


"Lapar Mas. Badanku rasanya sakit semua," adunya dengan mata berkaca-kaca, hendak menangis.


William gegas memeluk tubuh itu. "Maafkan saya. Gara-gara saya kamu jadi sakit begini."


Cinta terdiam. Setiap gigitan roti yang masuk ke dalam mulutnya sejalan dengan air mata yang terus berjatuhan.


"Hei! Berhentilah menangis. Saya merasa sangat bersalah jika kau terus menangis. Kau menyesal telah melakukannya denganku?" William menangkup wajah Cinta.

__ADS_1


Cinta menggeleng keras. "Tidak. Saya melakukannya juga karena memang sudah saatnya saya memberikan itu, dan lagi itu memang sudah menjadi hak Mas, tapi rasanya sungguh ..." Cinta tak lagi sanggup melanjutkan ucapannya, dan sebagai gantinya tangis gadis itu malah makin menjadi.


"Sudah Sayang. Berhenti menangis." William kembali membawa Cinta ke dalam pelukannya. "Nanti saya carikan obat atau salep untuk meredakan sakitnya ya."


Cinta mengangguk. "Hm, Mas. Omong-omong kita mau pergi ke mana? Tadi pagi kamu bilang katanya ..."


"Nanti juga kamu tahu. Sekarang habiskan sarapanmu, saya sudah minta izin sama Ibu tadi."


Cinta menghabiskan sisa roti di tangannya, lalu William beranjak menuju lemari. Melihat pahaa mulus istrinya, juga belahan dadaa Cinta dengan leluasa membuat William tersiksa.


Dress sebatas lutut warna navy dengan model sabrina, William pilihkan. Tak lupa juga pakaian dalam dengan warna hitam.


"Sudah makannya?"


Cinta mengangguk. Gadis itu diam saja saat William membangunkan tubuhnya dari kasur. Sedetik kemudian lelaki itu berusaha melepas handuk yang menutupi tubuh istrinya.


"Mas!" Cinta menahan tangan suaminya. "Mau apa?"


"Bantuin kamu pakai baju, saya nggak tega lihat kamu kesakitan begini."


"Tapi nanti ..."


"Saya akan menahannya. Janji," ucap William yang tahu dengan apa yang sedang ada di dalam benak Cinta. Cinta tak ingin suaminya kembali tergoda, hingga mengakibatkan mereka mengulangi pergulatan panas lagi, sementara milik Cinta masih sakit.


Helaian handuk itu pun terlepas. Cinta benar-benar salah tingkah karena sekarang dirinya berdiri dalam keadaan tanpa sehelai benang pun di hadapan suaminya.


Bersamaan dengan itu, Cinta juga merasakan hati yang berbunga-bunga saat William dengan penuh perhatian memperlakukannya. Bagaimana William memakaikan pakaian dalam Cinta, memperlakukan gadis itu tak ubahnya bayi.


"Untuk apa ditutupi? Saya bahkan sudah melihat dan menikmati semuanya." William menyingkirkan kedua tangan Cinta dari daerah terlarangnya.


Cinta semakin menundukkan kepalanya. Rasanya sungguh luar biasa malu, tapi mau menolak pun rasanya percuma.


Setelah memastikan ****** ***** itu terpasang dengan benar, William beralih hendak menuju bagian atas tubuh Cinta. Kain penutup dadaa warna hitam itu telah dia lepas kaitannya.


"Bukan yang ini Mas!" Kata Cinta.


"Ini kan sama aja penutup dadaa kan?" William menautkan kedua alisnya.


"Tunggu! Kamu duduk aja di situ, biar aku yang ambil. Cukup kasih tau aja dalaman yang seperti apa," kata William. Ia membimbing Cinta untuk duduk kasur.


"Model kemben yang nggak ada talinya Mas."


William sibuk mencari-cari tumpukan kain di lemari. "Ini?" Tanyanya sambil memperlihatkan selembar kain berwarna hitam.


"Iya itu," jawab Cinta. "Hm, Mas. Sekalian celana pendeknya, ada di laci bagian bawah."


"Ya, baiklah."


Tak lama setelahnya, William kembali dengan membawa dua buah kain pesanan istrinya.


"Saya bisa sendiri Mas," tolak Cinta saat melihat William hendak memakaikan kemben itu.


"Nggak usah bawel! Diem aja, biar saya aja yang pakaikan." Tak mengindahkan ucapan istrinya, William memilih untuk terus memakaikan satu per satu kain itu hingga kini tubuh Cinta telah tertutup rapi.


"Saya bantu keringkan rambutmu ya," ujar William, mengambil handuk yang melilit rambut Cinta.


"Mas, saya bisa sendiri. Saya nggak enak kalau terus ngrepotin kamu Mas."


"Saya sendiri yang ingin melakukannya, jadi diamlah."


Usai drama di kamar itu berakhir. William pun mengajak Cinta untuk segera berangkat ke bandara.


Tania yang waktu itu sedang menyulam di teras terkejut melihat cara berjalan putrinya. Hampir saja tawanya meledak seandainya saja tidak melihat lelaki di samping Cinta. William nampak salah tingkah, sesekali dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Bu, Mas Willi udah pamit kan sama Ibu?"


Lagi-lagi, Tania hampir tak bisa menahan tawa melihat putrinya berjalan mengangkang. Belum lagi jejak percintaan yang William tinggalkan di hampir setiap inci kulit Cinta, menunjukkan sebuas apa William memakan istrinya.


"Bu, kok malah ketawa sih," protes Cinta.

__ADS_1


"Siapa yang ketawa? Ibu lagi lihat ini, ternyata rajutan ibu salah," dusta Tania. "Kalian hati-hati ya, kabari Ibu kalau udah sampai di sana."


"Iya Bu. Kami pamit ya." William meraih tangan Tania dan menciumnya.


"Cinta pergi, Ibu jaga diri baik-baik ya." Cinta mendekap ibunya.


"Iya Sayang. Bersenang-senanglah, jangan mikirin Ibu, Ibu baik-baik saja kok."


Titik gerimis masih berjatuhan. Tania kembali ke melanjutkan kegiatannya usai mobil yang ditumpangi William dan Cinta tak terlihat lagi.


"Mas," panggil Cinta.


"Hm. Apa?"


"Sebenarnya kita mau ke mana? Dari tadi Mas belum bilang tujuan kita."


"Rahasia, nanti juga kamu tahu."


William terus mengemudikan mobilnya menuju bandara. Bibirnya terus melengkung ke atas mengingat kejadian demi kejadian panas yang telah dilaluinya bersama Cinta. William bertekad untuk memulai semuanya dari awal. Dia akan berusaha untuk mencintai istrinya, terlebih setelah semua yang ada dalam diri gadis itu telah dipersembahkan untuknya.


"Mas, mau apa kita ke sini?" Cinta tak tahan untuk bertanya saat William menuntunnya memasuki bandara.


"Kita mau bulan madu," jawab William.


"In ... Ini ... Kamu serius Mas?"


"Iya. Kan kita sudah sepakat untuk memulai dari awal."


"Bulan madu ke mana? Lalu keperluan kita bagaimana?"


"Saya sudah menyuruh Bik Nur untuk mengemas keperluan kita selama di sana."


"Serius Mas?" Sorot mata Cinta menyiratkan bahwa ia tak percaya dengan apa yang diucapkan suaminya.


"Iya."


"Ayo, sebaiknya kita segera masuk, pesawat akan berangkat lima belas menit lagi."


William membuka jaket yang membalut tubuhnya, dan memakaikannya pada Cinta.


"Saya juga bawa sweater Mas," tolak Cinta.


"Tapi ini jauh lebih bikin kamu hangat." William menaikkan resleting jaket tersebut.


"Nggak juga. Bagian leher masih terbuka," sanggah Cinta.


"Sengaja, biar orang tahu kalau kamu milikku."


Blush.


Cinta yakin wajahnya sudah semerah kepiting rebus saat ini.


William menautkan jemarinya dengan tangan Cinta. Keduanya mulai memasuki area keberangkatan.


Drtt ... Drtt ... Drtt.


"Sebentar Cin, ada yang nelepon." William menghentikan langkahnya. Dilihatnya layar ponsel itu, nama Raisa terpampang di sana. Agak ragu, tapi akhirnya William mengangkatnya juga.


"Dari siapa Mas?"


"Raisa. Sebentar ya saya angkat dulu, boleh kan?"


Terpaksa Cinta mengangguk. Meskipun ia tak rela, tapi tak mungkin dia melarang suaminya menerima panggilan gadis itu terlebih William sempat berpamitan padanya tadi.


Cinta terus memperhatikan gerak gerik suaminya ketika sedang berbicara dengan Raisa. William memang sengaja menerima panggilan itu di depan Cinta agar tak menimbulkan kesalahpahaman.


"Ada apa Mas?" Tanyanya begitu melihat suaminya kembali mengantongi benda pipih itu.


"Raisa bilang ..."

__ADS_1


Bersambung ....


*Happy reading Kesayanganku, mohon maaf ya baru bisa up. Akunya lagi sakit 😭😭😭 sebenarnya kemarin udah aku tulis tapi baru dpt setengah aku gak kuat. Ini pun masih lemes tapi gak tega buat kalian nunggu. Doain aku ya biar cepat sembuh dan bisa beraktivitas seperti semula lagi. Biar bisa double up juga. Makasih ya buat kalian semua dan maaf udah bikin kalian nunggu. ❤️❤️❤️


__ADS_2