
William memukuli dadanya yang terasa sesak. Entahlah, semenjak kepergian Cinta dari sisinya William merasa bagian itu menjadi yang paling rapuh. Jantungnya seolah ditikam belati tak kasat mata, menganga dan kian berdarah-darah.
Jutaan atau bahkan milyaran kali penyesalan datang menghampiri, nyatanya tak akan bisa merubah apapun. Kekasih hatinya, wanita yang terlambat ia sadari kehadirannya di relung hati telah pergi jauh. Meninggalkannya dengan sejuta kenangan yang membingkai lara di hati pria itu.
"Katakan! Harus ke mana aku mencarimu Cinta? Aku tidak sanggup jika harus hidup seperti ini. Tolong ... Jika masih ada belas kasihMu Tuhan, pertemukanlah aku dengannya, izinkan aku menebus semua dosa-dosaku padanya. Kasihanilah aku, aku mohon," raung William.
Pagi itu, hari ketiga belas Cinta meninggalkannya. Tak ada satu pun hari di mana William tak merindukan sosok itu. William merasakan separuh jiwanya pergi, mati rasa. Jangan tanyakan bagaimana dia bertahan selama ini.
Setiap waktu, potret pernikahan mereka. Satu-satunya foto kebersamaan mereka yang pernah diabadikan, William selalu menatap foto itu. Malam-malam terasa panjang, William makin tersiksa ketika bayang-bayang Cinta datang padanya. Memenuhi langit-langit kamar, memenuhi seluruh ruang mata, hati dan jiwanya.
Oh, Tuhan. Ternyata memang Maha Adil. Bagaimana Cinta tersiksa menantikan kepulangan suaminya dulu, kini berbalik, William pun merasakan derita itu. Bahkan deritanya puluhan kali lipat lebih menyakitkan dibandingkan dengan yang Cinta rasakan.
"Cinta. Cinta ..."
Tak peduli ribuan kali William memanggil nama itu, Cinta tak akan pernah datang. Ya, gadis itu memutuskan untuk pergi dan membalut lukanya sendiri. Luka yang Cinta sendiri tak tahu kapan akan sembuh karena sejujurnya, dalam hati Cinta terus bersemayam satu nama. Lelaki yang dicintainya semenjak Cinta mengenal apa itu cinta.
Prang!
William menjatuhkan gelas yang berusaha ia raih.
Bik Nur yang kebetulan datang, langsung berlari menyusul majikannya di lantai atas.
"Ya Tuhan, Tuan!" Jerit wanita tua itu. "Sudah saya ingatkan untuk ke dokter saja Tuan, sekarang malah begini jadinya?"
Bik Nur menangis melihat kondisi William yang sangat memperihatinkan. William sama sekali tak melakukan aktivitas apapun semenjak kepergian Cinta selain hanya meratapi nasibnya.
Perusahaan yang terbengkalai terpaksa diambil alih Sultan karena Willmar pun sama sibuknya mengurus Raisa. Usai kejadian jatuhnya gadis itu di kamar mandi, Raisa memerlukan penanganan khusus karena gadis itu begitu terpukul setelah kehilangan bayi dalam kandungannya.
Hampir setiap hari gadis itu menangis membayangkan bayi yang sangat dia nantikan kehadirannya pergi sebelum sempat dia melihat wajahnya. Naasnya lagi, karena kejadian itu dengan sangat terpaksa dokter harus mengangkat rahimnya karena Raisa mengalami komplikasi.
Dengan cepat Bik Nur meraih gagang telepon, wanita itu menghubungi orang tua majikannya.
Tubuh William ambruk. Terakhir kali dia mendengar suara Bik Nur menangis jejeritan sebelum akhirnya dia kehilangan kesadarannya.
.
.
Berulang kali Cinta menyeka keringatnya. Jarak dari rumah barunya dengan taman kanak-kanak tempatnya mengajar lumayan jauh. Butuh waktu dua puluh lima menit untuk berjalan kaki karena memang tak ada angkutan umum yang melintasi daerah itu.
Ya, lima hari pasca kepindahannya, Cinta mendapatkan tawaran dari tetangga sebelahnya yang merupakan kepala sekolah TK tersebut. Dari pada menganggur di rumah, akhirnya Cinta menerima tawaran Fatma.
"Selamat pagi Bu Nella," sapa Cinta pada ibu guru cantik dengan satu anak itu.
"Pagi Bu Cinta. Apa tidak sebaiknya Bu Cinta pakai motor atau sepeda? Rumah Ibu kan agak jauh dari sini," kata Nella.
"Nggak apa-apa Bu. Sekalian olahraga," balas Cinta.
"Ya sudah. Saya masuk kelas dulu ya Bu, anak-anak sudah pada ribut."
"Ya Bu, silakan! Kebetulan saya juga mau langsung masuk kelas."
Dua wanita cantik itu berjalan berlawanan arah menuju kelas tempat mereka mengajar masing-masing.
Belum lagi Cinta masuk ke dalam kelasnya, ponselnya berdering nyaring. Buru-buru Cinta mengangkat panggilan masuk yang ternyata dari Asep.
__ADS_1
"Ya Mang, ada apa?" Cinta sedikit menepi.
"Itu Neng, mantan suami Neng Cinta nyariin terus. Hampir tiap hari dia ke sini nanyain Neng Cinta," ungkap pria itu.
"Tapi Mas Aldi nggak bilang kan di mana saya pindah Mang?"
"Nggak Non, tapi ..."
"Tapi apa Mang? Bicara yang jelas!"
"Barusan orang tuanya A Willi ke sini. Mantan mertua Neng Cinta bilang kalau A Willi dilarikan ke rumah sakit. Mereka bilang Aa terpukul dengan kepergian si Eneng, mereka sampai mohon-mohon sama Aldi buat ngasih tahu alamat Neng Cinta. Gimana atuh Neng?"
Mendadak Cinta merasakan dadanya nyeri, napasnya tersengal. Sungguh tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Cinta memang ingin menghindari lelaki itu beserta keluarganya, dan bukankah hal itu juga yang diinginkan William? Lantas kenapa pria itu sampai sedemikian hancurnya? Bukankah Cinta tak ada artinya di mata pria itu?
"Neng, Neng Cinta." Asep terus memanggil Cinta. Baru pada panggilan ke sekian kalinya gadis itu menyahut.
"Ya Mang?" Cinta tersadar dari lamunannya.
"Si Eneng mah gimana atuh? Dari tadi Mamang tanya juga."
"Iya Mang maaf."
"Terus gimana Neng?"
"Biarin aja lah Mang, itu bukan menjadi urusan saya lagi, kami sudah berpisah. Bisa jadi dia sakit karena lain hal, dan bukannya karena saya."
"Dih, Neng Cinta mah gimana sih? Mamang bilang dari tadi nggak ditanggapin. Aa Willi, mantan suami Eneng sakit gara-gara ditinggalin sama Neng Cinta. Dia sampai frustasi dan nggak mau makan Neng. Dia terus manggil-manggil Neng Cinta," oceh Asep.
Cinta terdiam sesaat, menata hati dan berpikir jernih agar dapat merangkai kata yang tepat sebagai jawaban.
"Yakin Neng? Nggak mau jenguk A Willi?"
"Nggak Mang. Sudah dulu ya, Cinta mau ngajar," pamit Cinta.
"Ya udah Neng."
Cinta kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Sepanjang mengajar, Cinta tak juga bisa berkonsentrasi, pikirannya terus tertuju pada William. Meskipun mati-matian dia mengatakan semuanya akan baik-baik saja, tapi hatinya tak dapat memungkiri kalau dia sangat mencemaskan keadaan lelaki itu.
Di rumah sakit.
"Makan dong Kak, kapan kamu sembuhnya kalau kamu terus menerus menolak makan," rayu Hanum.
Wajah William menjadi tirus, tubuhnya kurus tak terawat. Hanum benar-benar mengkhawatirkan kondisi putra sulungnya.
"Mau sampai kapan kamu terus seperti ini, Nak?"
"Aku sedang dihukum Ma. Tuhan sedang membalaskan satu per satu dosaku pada Cinta. Lebih baik aku mati dari pada harus dihukum dengan cara seperti ini," lirih William.
"Baik. Jika ini sudah menjadi keputusanmu, Mama nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Dengan kamu terus menerus seperti ini, kamu malah akan semakin terpuruk. Setidaknya bertahanlah untuk tetap hidup demi bisa mencari Cinta. Kalau kamu telah menyadari kesalahanmu, maka bangkitlah! Cari Cinta dan perjuangkan perasaanmu. Kamu cinta kan sama dia? Luka yang kamu tinggalkan sangat membekas di hati Cinta, dan tugas kamu adalah meyakinkan kembali hatinya. Jangan biarkan dia membalut lukanya sendirian! Kamu harus menebus kesalahanmu dengan berusaha untuk mendapatkannya kembali. Bagaimana kalau kamu akhirnya jadi pesakitan yang tidak bisa melakukan apa-apa, sementara Cinta masih sehat dan dia kemudian menikah dengan ... Dengan siapa namanya kemarin Pa?" Wanita itu menoleh ke arah suaminya.
"Azka. Pangeran Azka yang gagah perkasa akan lebih dulu datang menjemput dan mempersunting Putri Cinta," ucap Sultan dibuat-buat.
"Pa," desis William.
__ADS_1
"Memang benar. Kalau kau terus sakit seperti ini, mana bisa kau berjuang untuk mendapatkan Cinta. Ya sudah, percuma saja kan kamu dirawat. Nanti sore kita bawa pulang Kakak aja Ma, biarin, katanya dia bilang mau mati kan. Ya sudah, biar dia bawa mati cinta dan penyesalannya tanpa memberitahukan isi hati yang sebenarnya pada Cinta," celoteh Sultan lagi.
Pandangan Sultan terus tertuju pada wajah putranya. Rahang William mengeras, wajahnya berubah memerah sekarang. Sultan tahu, ucapannya telah berhasil mempengaruhi hati anaknya.
"Aku mau makan Ma, tolong ambilkan makanannya," pinta William.
"Mama suapin ya Sayang?"
"Nggak usah! Aku masih bisa makan sendiri."
Hanum turun dari ranjang putranya, menyusul suaminya untuk duduk di sofa yang tak jauh dari bed William.
"Terima kasih Mas, kau berhasil membujuk Willi untuk makan," ucapnya tulus.
"Ya. Sesekali anak itu memang perlu dicambuk pakai kata-kata jahat agar dia bisa berpikir dengan jernih." Lelaki itu membawa kepala Hanum menuju dadanya.
.
.
Tiga hari berlalu dengan cepat. William sudah diperbolehkan pulang oleh dokter setelah memastikan kondisinya benar-benar pulih.
Minggu pagi, William memutuskan untuk kembali mendatangi rumah Cinta setelah hampir lima hari dia tak menginjakkan kakinya di sana.
"Permisi!" Dengan sopan William mengetuk pintu.
Tak menunggu waktu lama, seorang wanita muncul disusul dengan pria yang William perkirakan merupakan pasangan suami istri.
"Si Mas lagi?" Tanya Aldi.
"Ya, boleh kita bicara sebentar?" Tanya William penuh harap.
"Boleh. Silakan duduk! Sari, tolong buatkan minum ya!" Titah Aldi pada sag istri.
"Nggak usah repot-repot Mbak," William menyahut.
"Nggak apa-apa Mas. Sebentar ya."
Wanita bernama Sari itu pun lenyap dari ruang tamu.
"Ada apa Mas? Berulang kali saya katakan, saya nggak tahu keberadaan Neng Cinta kalau kedatangan Mas ke sini untuk menanyakan hal itu," ujar Aldi.
"Tujuan saya ke mari bukan untuk itu Mas."
"Lantas?"
"Saya ingin membuat penawaran dengan Mas Aldi."
"Penawaran?" Dahi Aldi sukses berkerut sempurna memikirkan penawaran apa yang dimaksud William.
"Iya. Saya menaruh harapan yang besar agar Mas Aldi mau mempertimbangkan penawaran saya," kata William.
"Penawaran apa Mas?"
"Soal ..."
__ADS_1
Bersambung ....