Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Dalam mimpi


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Sultan segera mengecek ponselnya yang sejak tadi belum sempat di sentuhnya. Dan benar saja, banyak pesan masuk yang Hanum kirim untuknya.


Melirik jam, rasanya sudah tidak memungkinkan baginya untuk menelpon sang istri di pagi buta begini. Akhirnya dia memilih untuk membaringkan tubuhnya yang penat. Masih ada sisa waktu dua jam lagi untuk menemui Mario, rekan bisnisnya yang di kabarkan akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.


Sultan sudah menutup matanya, bersiap untuk memasuki alam mimpi, meskipun sejujurnya bayangan wajah sang istri masih saja singgah di pelupuk mata sekalipun kedua bola mata indah itu terpejam.


Drrtt ... drrtt ...


Mendengar getaran ponsel di atas nakas membuat Sultan kembali membuka matanya. Menghela nafas kasar, siapa kira-kira tersangka yang menganggunya di jam segini.


" Mas ..." suara wanita yang sangat dicintainya muncul begitu Sultan menekan icon hijau di layar ponselnya, " Mas, kenapa gelap? hei! lihat ponselmu, aku sedang melakukan video call."


Sultan terperanjat, dia menurunkan gawai yang sejak tadi dia letakkan di samping telinganya.


" Belum tidur?" ucap Sultan begitu lembut, dia menatap sendu wajah wanitanya yang kini hanya bisa dia tatap melalui layar ponsel. "Atau baru bangun?"


Hanum menggeleng, " Aku tidak bisa tidur, aku terus memikirkan dirimu."


" Mana boleh begitu, bukankah aku sudah mengatakannya padamu sebelum aku berangkat. Jangan terlalu berpikir, aku baik-baik saja."


" Tapi kamu tidak menghubungi aku, bahkan setelah kamu sampai." lewat panggilan video itu Hanum bisa melihat suaminya yang kini terbaring di kamar nya.


" Maaf ... aku tidak mengabarimu karena takut menganggu tidurmu." Sultan mengambil jeda sejenak sebelum kembali melanjutkan perkataannya. " Bagaimana denganmu? kamu baik-baik saja? bayi kita bagaimana?"


" Mas tenanglah, aku dan anak-anak kita baik-baik saja." Hanum menunduk, berusaha menutupi wajahnya yang mulai basah oleh air mata, tak ingin Suaminya melihat itu.


Entah kenapa perasaannya begitu tak karuan, dia tidak bisa tidur dengan baik, terus saja memikirkan suaminya. Hanum sampai tidak bisa menahan tangisnya begitu melihat wajah Sultan yang saat ini berada jauh darinya.


" Jangan menangis, kumohon," ucap Sultan, melihat istrinya menangis membuatnya pun tak bisa menyembunyikan kesedihannya, matanya berkaca-kaca. " Aku terpaksa meninggalkanmu karena keadaan, ada sedikit masalah di perusahaan. Aku tidak bisa tinggal diam karena ini menyangkut kelangsungan hidup banyak orang. Ada ribuan kepala keluarga yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja di perusahaanku. Kalau saja aku tidak menanggung beban berat di pundakku, kalau aku masih diberi pilihan, aku lebih memilih untuk tetap bersamamu daripada berjauhan seperti ini."


" Ya, seandainya saja kamu hanya bekerja sebagai manajer keuangan biasa," sindir Hanum, gadis itu mengerucutkan bibirnya, kesal.


" Maaf ..." cicit Sultan, dia tersenyum masam jika mengingat kembali tentang kebohongannya.


" Untuk apa?"


" Karena telah membohongimu."


" Tidak masalah, bukankah itu kamu lakukan semata-mata demi untuk melindungi hartamu?" suara Hanum terdengar makin tajam.


" Kamu tahu betul, bukan itu alasanku. Itu semua aku lakukan karena ..."


" Tidak ingin aku mengetahui kalau sebenarnya suamiku itu kaya. Karena kamu takut aku akan menghabiskan hartamu, begitu kan?" Hanum menyambar bagai petasan.

__ADS_1


" Mana ada, itu semua tidak seperti apa yang ada dalam pikiranmu."


" Jadi menurutmu aku yang telah salah menduga? jika aku salah, seharusnya black card yang kamu berikan pada perempuan itu tempo hari, kartu itu yang seharusnya ada di tanganku sementara kartu ATM biasa yang aku pegang, kartu itu yang seharusnya kamu berikan pada perempuan itu."


Sultan tidak bisa berkutik kali ini, alasan apalagi yang akan dia berikan setelah mendapatkan agresi militer dari sang Ibu negara.


" Ya sudah." lirih pria itu.


" Ya sudah apa? mau aku akhiri panggilan video ini?"


" Bukan itu, sayang."


" Jadi, mau kamu yang minta kartu itu, atau aku sendiri yang memintanya dari nenek sihir itu?"


Sultan hampir terbahak ketika mendengar Hanum berkata demikian, sekesal-kesalnya gadis itu pada seseorang, belum pernah ia mengumpati atau memanggil nya dengan panggilan yang kurang pantas. Dan kali ini, mungkin saja stok kesabaran gadis itu telah menipis, atau bahkan sudah terkikis habis oleh banyaknya tekanan yang dia terima dari Mauryn selama ini.


" Jawab aku mas!" Hanum sedikit menaikkan volume suaranya ketika dia tidak mendapatkan jawaban apapun atas pertanyaannya.


" Itu ... aku ..." Sultan terbata.


" Tidak mau kan?" hardik Hanum.


" Bukan begitu."


" Ya, baiklah." Sultan mengalah.


" Ingat! kartu kredit yang dipegang perempuan itu, bukan yang ada di tanganmu, ataupun yang baru."


Bukannya kita sedang melakukan panggilan video untuk saling melepas rindu ya? kenapa malah membahas kartu kredit sih. Sultan menggaruk tengkuknya.


.


Sultan menggeliatkan tubuhnya, tulang belulangnya terasa lolos, rasanya masih ada sisa-sisa kelelahan di sana. Masih untung dia bisa mengistirahatkan tubuhnya meskipun hanya satu jam.


Dia menyambar handuk dan bergegas membersihkan diri, melakukan semuanya dengan cepat walaupun tanpa bantuan Hanum kali ini. Ketika sedang memakai kemejanya, lagi-lagi dia teringat istrinya, biasanya jika dia mandi, baju ganti untuknya sudah tersedia di atas kasur. Hanum juga akan memakaikan dasi di lehernya, menyiapkan sepatu, tas, segala keperluan lelaki itu.


Hari ini, semua perlakuan khusus dari istrinya tidak bisa dia rasakan. Sultan lantas membuang nafas kasar. selesai menghabiskan sarapan pagi nya yang terasa hambar, dia segera menuju ke rumah Mario.


.


" Maafkan kami karena telah berkunjung se pagi ini ke kediaman Anda, pak Mario," ucap Sultan.


Telah lima menit yang lalu dia yang di temani oleh Raka, sampai di salah satu rumah mewah yang terpaksa harus Sultan sambangi.

__ADS_1


" Tidak masalah, saya masih punya empat puluh menit sebelum jadwal keberangkatan saya," pria paruh baya itu mempersilahkan tamunya untuk minum. " Omong-omong, Anda yang saya ketahui memiliki jadwal super sibuk, sampai menyempatkan diri ke rumah saya. Tentulah ada hal penting yang ingin Anda sampaikan."


" Tentu Pak, saya masih ingin membahas soal kemarin. Kenapa Bapak secara tiba-tiba membatalkan perjanjian yang telah kita sepakati bersama?" tanya Sultan begitu mendapatkan kesempatan untuk bicara, merasa tak punya banyak waktu untuk sekedar berbasa-basi.


" Bukankah semuanya sudah jelas?" Mario menyipitkan matanya.


" Ini sama sekali bukan seperti Anda yang biasanya." Sultan tersenyum getir.


" Saya sudah mengatakan semuanya pada utusan saya yang tempo hari mendatangi perusahaan Anda, pak Sultan."


" Anda sungguh bukan seperti pak Mario yang selama ini saya kenal. Anda sangat kompeten, handal dalam segala hal dan juga jeli. Saya masih belum mempercayai sepenuhnya kalau Anda adalah orang yang mudah di manipulasi."


" Apa maksud Anda berbicara seperti itu?" menatap tajam ke arah Sultan.


" Saya tahu ada seseorang yang sedang berusaha mendekati Anda dan berniat menjatuhkan saya. Menilik latar belakang sejarah Anda yang sudah melanglang buana di dunia bisnis yang sudah Anda tekuni lebih dari dua puluh tahun. Mustahil jika dalam sekejap waktu Anda menjilat ludah sendiri, membatalkan kerjasama yang telah di tandatangani, Anda bukan tipikal orang seperti itu." ucap Sultan, dia tahu sebenarnya dia tidak perlu menekan pria di hadapannya dengan kata-kata tajam begitu, tapi kali ini, dia akan melakukan itu untuk memancing Mario.


Dan Sultan bisa melihat jika rekan bisnisnya itu mulai terbawa emosi, terbukti dengan orang tersebut yang terus meremas cangkirnya, seolah hendak memecahkan benda itu. Mario sudah pasti marah jika ada orang yang membicarakan hal buruk mengenai reputasinya.


" Baiklah." Sultan meletakkan cangkir yang telah kosong itu ke tempat asalnya. " Mungkin memang kali ini sepertinya Anda berniat untuk bermain-main dengan orang baru. Saya tidak akan memaksa Anda untuk kembali menjalin kerjasama dengan perusahaan saya. Tentu saja saya harus berbesar hati atas keputusan yang telah Anda pilih." melirik ke arah Raka yang sejak awal diam membisu di tempatnya. " Kami permisi dulu, takutnya Anda terlambat nanti. Terimakasih." Sultan bangkit dan menyalami Mario, bergantian dengan Raka. Kemudian keduanya angkat kaki dari rumah itu.


Raka sempat kecewa karena mereka pulang tanpa membawa kabar baik, tak seperti biasanya. Tapi kali ini, dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, melihat Sultan sudah turun tangan saja membuatnya merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Merasa kalau kinerjanya kian hari makin menurun.


Ketika mereka telah sampai di depan pintu, tiba-tiba mereka di kagetkan dengan hadirnya seorang pria yang baru saja turun dari mobil.


Dan seketika rahang Sultan mengeras, menyadari bahwa kecurigaannya benar.


" Mau apa kau kemari?" seru pria itu yang tak lain adalah Dion. " Takut kalau aku akan memporak-porandakan perusahaanmu? santai kawan ... ini baru permulaan." Dion terus berkicau, dia merasa telah menang karena berhasil merebut tender mega proyek yang sedang gencar Sultan pertahankan.


" Ck ... aku lupa kalau kau seorang diplomat. Diplomat itu kan pandai bernegosiasi, terlebih jika bermain kata, akan sangat mudah bagimu untuk memanipulasi seseorang dengan kata-kata yang keluar dari mulut busukmu itu. Tapi jangan berbangga diri dulu, bukankah kamu hanya pandai bersilat lidah? kau bisa saja menang sebagai negosiator, tapi soal mengurus proyek, aku tidak yakin kau bisa melakukannya dengan baik." Sultan tersenyum sinis. " Aku harap, Kamu tidak akan pernah mengecewakanku. Kita lihat, hasil dari kerja kerasmu nanti."


Sultan kembali mengayunkan langkahnya, merasa tidak sudi jika harus berlama-lama berada dalam tempat yang sama dengan pria kurang ajar itu, lagi. Dan baru dua langkah, Raka sudah mencekal lengannya.


" Jadi dia Aditya yang kamu maksud? Anaknya pak Wisnu yang pemilik perusahaan konstruksi Aditya Cipta Karya?" dan mata Raka makin membulat sempurna manakala melihat Sultan mengangguk. " Aku tidak kepikiran hal ini sebelumnya, pria brengsek itu memang ada terselip nama Aditya nya, tapi aku masih tidak menyangka saja kalau orang yang kita maksud adalah dia. Dunia benar-benar sempit." Raka menggerutu sambil terus berjalan beriringan dengan teman sekaligus atasannya itu.


" Tunggu!" Seru Dion, membuat Sultan reflek menghentikan langkahnya. " Ini baru permulaan, akan aku lakukan segala macam cara untuk mendapatkan istrimu. Kalau dengan menghancurkan perusahaan mu itu bisa membuatku mendapatkan Hanum. Aku akan dengan senang hati melakukannya, tidak peduli sekalipun aku harus menjungkirbalikkan dunia. Asalkan aku bisa hidup bersama dengan Hanum."


" Silahkan saja." Sultan berbalik dan menatap lekat wajah Dion. " Lakukan apapun yang membuatmu bahagia, dan kamu bisa hidup bahagia dengan Hanum. Dalam mimpi." Sultan berbalik lagi kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.


Dion mematung sambil mengepalkan tangannya, dia sama sekali tidak menyangka kalau Sultan akan setenang itu. Tujuannya adalah memecah belah pikiran Sultan, membuat rivalnya kacau. Dengan begitu dia bisa dengan mudah menghasut Sultan dan melancarkan aksinya untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuannya. Dan apa yang baru saja terjadi di depan matanya, bagaikan api yang jauh dari panggang. Sama sekali tak menunjukkan adanya tanda-tanda keberhasilan.


Sementara dari balik pintu seorang pria paruh baya tengah berdiri, mengawasi pertikaian sengit antara dua pria yang terjadi di halaman rumahnya.


.

__ADS_1


Semoga gak bosan dengan jalan ceritanya ya sayang-sayangku. 🥰🥰🥰 Terimakasih atas segala bentuk dukungan kalian selama ini. 🙏🙏🙏 Sekali lagi,aku tanpamu bukanlah apa-apa. Terimakasih 🙏🙏😘😘😘


__ADS_2