Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Lebih memabukkan dari minuman keras


__ADS_3

Hanum duduk termenung di depan meja rias, di pandanginya wajahnya dari pantulan cermin berukuran besar di hadapannya. Beberapa kali menghembuskan nafas panjang, setelah dia mendengarkan cerita tentang masa lalu Sultan, rasanya seperti mimpi, menyadari sekarang mereka berdua saling jatuh cinta dan hidup bersama dalam ikatan suci pernikahan.


Lamunannya buyar ketika seseorang memeluknya dari belakang.


" Kamu wangi." bisik Sultan di telinga istrinya. Membuat bulu kuduk Hanum meremang.


" Oh, kamu sudah pulang?"


" Hm." jawab Sultan singkat, mencium aroma tubuh Hanum membuatnya tergerak untuk menyentuh gadis itu.


" Mandi dulu." Hanum berjengit saat merasakan lembut bibir Sultan mulai menelusuri lehernya.


" Nanti saja."


" Ish." Hanum mencubit tangan suaminya.


" Sakit ..."


" Syukurin, salah siapa di suruh mandi malah manja-manjaan begini."


" Kangen." cicitnya manja.


" Ya makanya mandi dulu lah, aku sudah lapar nih." Hanum melepas tangan suaminya yang saat itu masih melingkar di perutnya.


" Kenapa tidak makan dulu, tadi? tidak perlu menunggu aku, aku kan tidak selalu pulang tepat waktu."


" Tapi aku maunya, kita makan bersama."


" Ya sudah kalau begitu, tunggu sebentar."


Sultan segera masuk ke dalam kamar mandi, melucuti pakaiannya satu per satu dan memulai ritual mandinya.


Beberapa menit kemudian,mereka berdua sudah berada di meja makan. Seperti biasa, Hanum terlihat cekatan mengurus suaminya, mulai dari mengambilkan nasi, lauk, dan menyodorkan segelas air untuk pria itu.


.


Di dalam kamar utama.


" Aku sibuk sepanjang hari ini, sampai lupa tidak mengantarmu ke dokter."


Hanum yang saat itu sedang membaca novel pun langsung menutup bukunya.


" Ada yang ingin aku bicarakan denganmu mas." Menaruh novel itu di atas nakas.


" Bicaralah."


" Tapi janji, setelah kamu mendengar apa yang akan aku bicarakan, janji jangan marah ya?"


Mendengar Hanum berkata demikian membuat pandangan pria itu yang dari tadi sibuk dengan laptopnya, berganti menatap istrinya.


" Memangnya apa yang mau kamu katakan?" Sultan memindahkan laptop di pangkuannya, lalu melepas kacamatanya. " Sepertinya penting sekali."


Hanum mengangguk.


" Janji jangan marah ya." Hanum meraih tangan suaminya, meremasnya pelan.


" Ya, janji."


" Se ... sebenarnya ..."


" Katakan saja." Sultan sudah tak sabar untuk mengetahui hal penting apa sebenarnya, yang membuat istrinya terlihat tegang begitu.


" Kita tidak perlu ke rumah sakit."


" Kenapa?"


" Karena ... karena sebetulnya, aku tidak hamil."


" Apa ...?"


Hanum sampai terlonjak begitu mendengar suaminya meninggikan volume suaranya.


" Maaf, aku membuatmu kaget, tapi kamu lebih membuatku kaget lagi. Sebenarnya apa maksudmu bicara begitu?" Sultan mendekatkan wajahnya, melihat wajah istrinya dengan seksama.


" Tuh kan marah." Hanum menunduk.


" Aku tidak marah, mana bisa aku marah padamu." meraih dagu Hanum, mengangkatnya agar mereka bisa saling bertatapan. " Katakan, sebenarnya ada apa?"


" Maaf." lirihnya, menunduk kembali, tak berani menatap langsung wajah suaminya. "Sebenarnya aku tidak hamil, waktu itu aku hanya berpura pura muntah, terlihat seperti orang hamil."


" Hah?"


" Maafkan aku, tidak seharusnya aku membohongimu."


" Tidak apa-apa, aku yakin kamu pasti mempunyai maksud tertentu di balik drama kehamilan palsu mu tempo hari."


" Aku sama sekali tidak bermaksud membohongimu, sungguh. Aku merasa bersalah ketika melihatmu begitu bahagia saat mendengar aku hamil."


" Tidak apa-apa." menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. " Aku tidak marah."


" Aku berbohong karena ... perempuan itu terus meledekku, dia bilang aku mandul karena setelah menikah denganmu lebih dari setahun, aku belum hamil juga." Hanum mengerucutkan bibirnya, kesal.


Diluar dugaannya, Sultan malah tertawa menanggapi ucapannya.


" Memangnya ada yang lucu apa?"


" Hahaha ... bukan begitu." Sultan memegangi perutnya yang terasa kaku akibat dari terlalu lama tertawa. " Aku hanya tidak menyangka kalau kamu bisa mengerjai perempuan itu."


" Maksudnya?"

__ADS_1


" Selama ini, tidak peduli apapun yang di lakukan oleh perempuan itu, kamu selalu saja diam. Tapi kemarin ..." Sultan mencubit pipi istrinya, gemas. " Kemarin itu adalah pertunjukan terhebat yang pernah kamu lakukan di depanku. Apa aku harus memberimu penghargaan sebagai aktris terbaik?" tawanya kembali pecah, mencairkan suasana kaku yang sempat tercipta beberapa menit yang lalu. " Kamu benar-benar terlihat seperti seorang aktris yang sangat menghayati peranmu."


" Kenapa terus tertawa? aku ketakutan setengah mati dan sudah mempersiapkan mentalku kalau saja kamu marah begitu mengetahui aku telah membohongimu." mencubit perut suaminya yang masih tertawa terpingkal. " Berhenti tertawa."


" Habisnya kamu lucu, selama ini aku pikir kamu diam saja, tidak bisa berbuat apa-apa, sekalinya bertindak, aku sampai tidak percaya, aku tidak menyadari kalau ternyata aku menikahi seorang aktris."


" Tertawalah sepuasmu." Hanum berniat pergi dari kamar tersebut sebelum Sultan kemudian mencekal lengannya.


" Kenapa malah marah?"


" Habisnya kamu terus meledekku, kamu bilang aku ini aktris hebat, kamu sedang menyindirku kan?" Hanum mencebik.


" Tidak, sungguh. Aku sedang memujimu, bukan malah meledek, seperti yang kamu bilang tadi. Masa kamu tidak bisa membedakan yang mana pujian dan yang mana sebuah sindiran."


" Dengan kata lain, aku bodoh begitu?" Hanum mulai emosi.


" Hah ..." Sultan merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. " Kenapa malah melebar kemana-mana? aku tidak berkata apa-apa tapi kamu selalu berasumsi sendiri."


Sultan membimbing istrinya untuk berbaring, masih saling berpelukan, di usapnya lembut wajah sang istri. Di selipkan anak rambut Hanum di telinga wanita itu.


" Kenapa diam?" Sultan mencium kening Hanum. " Jangan marah, aku hanya bercanda."


" Tapi aku takut." cicit Hanum, dia makin menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


" Apa yang kamu takutkan?"


" Bagaimana kalau ucapan perempuan itu benar? bagaimana kalau aku ..."


" Ssstt ... jangan bicara sembarangan." Sultan menaruh jari telunjuknya di depan bibir istrinya.


" Tapi yang di bicarakan dia ada benarnya, kita sudah menikah lebih dari setahun, kita sudah hidup bersama selama lebih dari dua puluh bulan, hampir dua tahun kita menikah."


" Tapi, usia pernikahan kita yang sesungguhnya juga tidak se lama itu, setahun lalu kan kita habiskan dengan main-main dan tidak melakukan apa-apa. Bisa di katakan usia pernikahan kita selama dua puluh bulan itu palsu sayang."


" Hah?" Hanum mendongak, menatap wajah suaminya, di atasnya.


" Usia pernikahan kita yang sesungguhnya tentu saja tidak se lama itu, kita bisa menghitung usia pernikahan kita sejak pertama kali kita melakukan hubungan suami istri. Karena dengan melakukan hubungan itu, menandakan bahwa sepasang suami istri telah resmi menikah." Sultan sudah bersiap melanjutkan kata-katanya saat melihat Hanum hendak protes. " Jangan berpikiran yang macam-macam, maksudku, kita memang telah menikah secara resmi sejak lama, tapi secara emosional kan kita memang baru benar-benar menjalani kehidupan sebagai seorang suami istri belum lama ini. Sekitar delapan bulan kurang lebih kan?"


Hanum mengangguk.


" Jadi tidak perlu secemas itu."


" Tetap saja, sudah delapan bulan kita bekerja keras tapi belum juga membuahkan hasil, sementara Ajeng, dia baru menikah tiga bulan sudah langsung hamil.


" Tidak semua pasangan menikah bisa langsung berhasil untuk hamil sayang, hasilnya akan berbeda dengan setiap orang. Tidak selalu sama."


" Bagaimana kalau kita periksa ke dokter saja mas, sekedar untuk mengetahui kondisi kita, siapa tahu ada yang salah dengan organ reproduksiku, sesuatu yang membuat aku sulit hamil."


" Berhenti bicara omong kosong, kita pasti akan memiliki seorang anak, bahkan kita bisa memiliki banyak anak kalau kamu mau. Ini hanya masalah waktu." mengusap rambut istrinya. " Aku yakin, Tuhan pasti memberikan kepercayaan kepada kita untuk memiliki malaikat kecil yang akan di titipkan untuk kita rawat. Percayalah, Tuhan akan memberikan di waktu yang tepat."


" Semoga saja."


" Maksudnya?"


Entah kenapa otak Hanum mendadak bodoh, dilihat dari tingkah suaminya saja seharusnya dia tahu, apa yang akan dilakukan pria itu padanya.


" Aku menginginkanmu, sangat menginginkan mu." bisiknya tepat di telinga Hanum.


" Apa?" Hanum menepis tangan suaminya yang sudah mulai merayap di dadanya.


" Istri yang baik,tidak akan membiarkan suaminya kelaparan." mendengar Sultan berkata seperti itu saja sudah membuat Hanum merinding. " Kamu sudah membuatku berpuasa lebih dari sebulan, jadi ... aku sudah harus berbuka puasa malam ini. Jadilah istri yang baik, puaskan aku malam ini." perlahan Sultan membuka satu per satu kancing piyama istrinya.


Hanum tak dapat berbuat apa-apa selain menerima semua perlakuan suaminya padanya. Mereka sudah sering melakukan hal itu sebelumnya, tapi entah kenapa Hanum merasa begitu gugup.


" Kamu tahu." membuang baju yang berhasil dia lepaskan dari tubuh istrinya, ke lantai. "Apa yang lebih memabukkan dari minuman keras?"


" Tidak." Hanum menggeleng. " Memangnya ada yang lebih bisa membuat mabuk selain minuman keras?" tanyanya polos.


" Tentu saja ada, sesuatu yang lebih memabukkan dari minuman keras, efeknya ribuan kali lebih memabukkan dari sekedar minum minuman keras. Jika mabuk karena minum minuman keras, efeknya akan hilang keesokan harinya, tapi ini lain. Efek yang di dapatkan tidak bisa hilang dalam sehari, bahkan tidak bisa hilang sampai seumur hidupmu."


" Menakutkan sekali." Hanum bergidik ngeri membayangkannya.


" Kamu tidak mau tahu, apa itu?"


" Apa? aku belum pernah melihat orang mabuk tanpa minum alkohol."


" Sesuatu yang lebih memabukkan dari minuman keras." Sultan mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. " Ini."


Hanum terbelalak, secepat itu suaminya sudah bertindak liar, bermain lama di bibir ranum miliknya. Menggigit pelan, membuat Hanum membuka mulutnya dan memberikan ruang kepada suaminya untuk menjelajah bebas di dalam sana.


Sungguh, ciuman panas yang Hanum lupa kapan terakhir kali mereka melakukannya, Hanum membiarkan suaminya menuntaskan dahaganya. Membiarkan pria itu terus melakukan sentuhan yang membuat dirinya serasa melayang di awan. Dia sama sekali tidak menolaknya, justru membalasnya, sama gila nya seperti suaminya, karena sejujurnya Hanum pun telah lama merindukan sentuhan itu.


Sultan beralih, menuruni leher jenjang istrinya, menyesapnya dengan sangat lembut, meninggalkan bekas merah keunguan di sana. Dia terus membuat karya seninya sampai sudah tidak ada celah lagi untuknya membuat tanda cinta di sana.


Perlahan, dia menuruni dada Hanum, tangannya mulai merem*s gundukan sintal itu, sesuatu yang sangat ingin di sentuhnya, salah satu tempat favoritnya.


Tubuh Hanum bagai tersengat listrik saat suaminya mengulum puncak payud*ranya, dia tidak tahan sementara tangan kanan suaminya masih sibuk bermain di gundukan sebelahnya.


Hanum tak mampu menahan diri lagi, hingga akhirnya dia terus melenguh, mendesah manakala menikmati permainan suaminya yang makin menggila.


" Mas, ah ..." desahnya saat suaminya sudah menyatukan milik mereka. " Pelan-pelan mas, sakit." rengeknya.


" Salah siapa, kita sudah sering melakukannya tapi milikmu masih saja sempit. Kamu tanggung sendiri akibatnya kalau sampai aku membuatmu tidak bisa berjalan, besok." Sultan mulai memompa miliknya.


" Ah ... mas ..." Hanum merem*s rambut suaminya saat merasakan kenikmatan yang selama ini sudah lama tak di rasakan olehnya. " Pelan-pelan mas, kalau terus begini, aku bisa kehilangan kewarasanku."


" Sengaja."


" Mas, ah ..."

__ADS_1


" Sekarang kamu sudah tahu kan, sesuatu yang lebih memabukkan dari minuman keras itu apa?" Sultan tersenyum sambil terus memompa miliknya.


Ruangan itu menjadi saksi bisu bersatunya kembali dua anak manusia yang tengah memadu kasih. Suara desahan memenuhi kamar itu hingga fajar menjelang, seperti yang sudah Sultan katakan sebelumnya, dia benar-benar ingin menuntaskan dahaganya selama ini. Terlalu lama berpuasa membuatnya seolah tidak puas untuk melakukannya sekali, dia terus melakukan itu sampai Hanum tak sanggup mengimbangi permainannya lagi. Dan mereka pun terlelap setelah pukul empat pagi.


.


Keesokan harinya.


Sultan mengeratkan pelukannya pada wanita di hadapannya, dia pandangi wajah cantik istrinya. Gadis itu terlihat sangat cantik tanpa polesan make up, bahkan terlihat semakin menawan dalam posisi terlelap seperti saat ini.


Dia hujani kening istrinya dengan ciuman, matanya, hidungnya, mulutnya, dan ah ... bibir ranum yang membuatnya kehilangan kendali tiap kali menyentuhnya. Semuanya di cetak dengan porsi yang sangat pas dari Tuhan, dia beruntung memiliki Hanum menjadi istrinya, selain cantik lahiriah gadis itu, juga cantik batiniahnya.


Lengkungan kecil timbul di sudut bibirnya, senyum terus terkembang di sana saat melihat buah karya seninya yang tercetak di hampir setiap inci tubuh istrinya.


Tangannya terulur menuju perut datar istrinya, mengecupnya dan berbisik.


Lekas hadir di sini sayang, jangan biarkan kami menunggu terlalu lama. Cepatlah datang dan hangatkan suasana rumah kami.


Sultan beranjak dari tidurnya, membetulkan letak selimut istrinya dan pergi ke kamar mandi.


Begitu keluar dari kamar mandi, dia melihat Hanum sudah bangun, gadis itu masih duduk di atas kasur dengan rambut berantakan.


" Mau mandi?" tanyanya.


" Perih." Hanum memegangi bagian bawahnya.


Sultan terkekeh, dia pun menggendong tubuh sang istri dan meletakkannya di dalam bak mandi yang sudah berisi air hangat di dalamnya.


" Mau sekalian aku mandikan?"


" Tidak mau, enak saja." cebik Hanum.


" Memangnya kenapa?"


" Takut, bagaimana kalau kamu bikin aku mabuk lagi, nanti."


Dan seketika suasana kamar mandi riuh dengan tawa keduanya.


" Ya sudah kalau begitu." Sultan sudah berada di depan, kemudian berbalik. " Mau sarapan apa? biar aku minta mbok Darmi buatkan."


" Mau oseng kikil pedas manis, aku sudah lama tidak makan itu dan tiba-tiba aku sangat menginginkannya."


" Ada lagi?"


" Sama tumis kangkung terasi, bacem tempe terus minumnya jus stroberi tapi jangan terlalu halus, aku suka jus yang masih agak kasar dengan bongkahan daging buah stroberi."


" Baik, Yang mulia ratu." Sultan sudah mau menutup pintu saat Hanum kembali memanggilnya. " Masih ada lagi?" tanyanya heran.


" Hm, itu ... tolong bawa sarapannya ke atas saja ya? kita sarapan di balkon. Aku malu kalau harus turun ke bawah dengan kondisi seperti ini." Hanum menunjuk lehernya yang di penuhi dengan Kissmark. " Lagi pun, mana ada orang sarapan siang hari begini."


" Sesuai perintah Yang mulia ratu."


Sultan menutup pintu kamar mandi, berganti pakaian di ruang ganti dan bergegas turun menuju dapur. Memberitahukan kepada mbok Darmi untuk membuatkan masakan sesuai pesanan istrinya.


" Mbok." sapa Sultan.


" Eh, ada apa den bagus?"


"Minta tolong ya mbok?"


" Minta tolong apa?"


" Hanum minta di buatkan oseng kikil pedas manis, tapi maunya si mbok yang bikin."


" Si mbok kira apa den, ya sudah tunggu sebentar biar si mbok siapkan." wanita tua itu menuju kulkas, mengambil beberapa bahan yang di perlukan.


" Sekalian tumis kangkung terasi sama bacem ya mbok." Sultan tersenyum. " Maaf merepotkan."


" Tidak perlu sungkan begitu den, ini si mbok buatkan."


" Minumnya ..." Sultan belum sempat menyelesaikan ucapannya karena mbok Darmi sudah langsung menyahut.


" Jus stroberi yang tidak terlalu halus."


" Keren mbok." Sultan memberikan dua buah jempolnya pada mbok Darmi. " Sultan belum bilang, si mbok sudah tahu."


" Itu kan minuman favoritnya non Hanum selain es coklat."


" Terimakasih mbok, nanti kalau sudah selesai, minta tolong mbak Lastri saja suruh antar ke balkon ya."


" Tidak di ruang makan saja den?"


" Hanum mau sarapan di balkon katanya, mbok."


" Ya sudah kalau begitu."


Sultan mengayunkan kakinya menuju ruang tengah, belum sempat dia mendudukkan tubuhnya di sofa, Indah, salah satu asisten rumah tangga di rumah itu mendekat.


" Ada apa mbak?" Sultan mengambil posisi, duduk dan mulai membuka koran yang tergeletak di atas meja.


" Itu tuan, ada tamu."


" Siapa?"


" Tidak tahu tuan, saya baru pernah melihatnya."


" Ya sudah, suruh masuk, nanti saya nyusul ke ruang tamu."


" Baik tuan."

__ADS_1


.


__ADS_2