
Mbok Darmi terus memandangi Sultan saat melihat pria itu berjalan masuk ke dalam rumah.
" Ada yang tertinggal Den?" tanyanya.
" Tidak ada Mbok."
" Lalu?"
" Ini semua atas permintaan Yang mulia ratu, Mbok."
" Hah?" Mbok Darmi terdiam, berpikir sejenak.
" Yang mulia ratu sudah menurunkan titahnya, si Mbok mau tahu, apa titahnya?" Sultan merangkul wanita tua itu, mensejajarkan langkahnya, " Yang mulia ratu memberikan perintah yang isinya berupa larangan kepada raja untuk terjun langsung ke medan perang." Sultan terkekeh begitu melihat ekspresi Mbok Darmi yang terlihat bingung, " Bukankah lebih baik mengalah daripada menabuh genderang perang dengannya Mbok? Mungkin raja memegang kekuasaan penuh dan berkuasa di seluruh penjuru negeri, tapi di istana ... tidak ada yang lebih berkuasa selain Ibu ratu. Bisa gawat Mbok, kalau misalnya ratu murka dan tidak membiarkan pintu kamarnya terbuka untukku, bagaimana bisa aku memproduksi anak nanti kalau dia terus mengusirku, dan memerintahkan aku untuk tidur di kamar tamu, seperti semalam."
Dan tiba-tiba Sultan mendesis saat merasakan telinganya panas, dijewer oleh pengasuhnya.
" Auw ... sakit Mbok." rengeknya bak anak kecil, sambil menggosok daun telinganya yang memerah.
" Lagian, kalau bicara itu yang benar, si Mbok sudah tua, bicara terus terang, jangan main teka teki yang bikin kepala si Mbok pusing."
" Memangnya si Mbok sudah tua?" Sultan mengerjapkan matanya, " kalau menurut saya sih, si Mbok masih muda, cantik dan bohay." mengedipkan sebelah matanya, genit.
" Dasar anak nakal!" Mbok Darmi sudah bersiap mengayunkan tangannya untuk memukul Sultan, tapi secepat kilat pria itu menghindar dengan segera berlari menuju lantai atas.
Sultan mengatur nafasnya yang terengah karena berlarian menaiki anak tangga demi menghindar dari wanita tua kesayangannya.
Begitu memasuki kamar utama, dia langsung bisa melihat ekspresi wajah penuh kebahagiaan yang di pancarkan dari wajah istrinya.
" Jadi ..." ucap Hanum tersendat.
" Sesuai perintahmu, aku akan menemanimu seharian ini."
Sultan hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya saat Hanum tiba-tiba saja berlari dan memeluknya.
Sebahagia inikah dia? hanya karena aku bilang kalau aku akan menemaninya? baiklah ... mungkin ini di sebabkan karena kesibukan yang kujalani selama ini sehingga membuatnya menginginkan waktu lebih bersamaku.
" Kapan kamu akan melepaskan pelukanmu?" bisik Sultan.
" Jadi mas nggak mau kalau aku peluk-peluk begini?" tanyanya sarkas, melepaskan diri dan membalikkan badannya.
Tuh kan? salah lagi? kenapa dia jadi sensitif begini?
" Bukan begitu sayang." Sultan mendekati istrinya, " Untuk menemanimu, kan aku juga harus mengganti pakaianku terlebih dahulu, masa iya aku mesti pakai baju formal begini di dalam rumah."
" Ya sudah sana, cepat ganti bajumu." ucap Hanum, ketus.
Sepuluh menit kemudian.
Sultan keluar dari ruang ganti, pria itu sudah mengganti kemeja panjang yang dipakainya tadi dengan kaos polo berwarna tosca, dipadukan dengan celana pendek sebatas lutut berbahan katun warna navy.
" Sudah." katanya, memberitahu pada Hanum yang saat itu tengah berdiri di depan jendela kamarnya. Ucapannya dibuat selembut mungkin untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman yang saat ini seringkali melanda istrinya yang sedang sensitif.
" Ayo." mengapit lengan suaminya, membimbing pria itu untuk mengikuti langkahnya.
Sultan membulatkan matanya begitu melihat apa yang sedang dilakukan oleh istrinya saat ini. Hanum menyuruh Sultan duduk manis sementara dirinya menyalakan TV. Dipencetnya tombol remote, kemudian menggantinya dengan Chanel yang biasa dia tonton.
Drama Korea, tidak salah lagi. Aku yang notabene seorang pemilik perusahaan, memiliki jadwal super padat dilarang oleh istrinya, untuk tidak boleh pergi ke kantor dan malah menyuruhku untuk menemaninya menonton televisi? hal konyol macam apa ini? ada-ada saja. Sultan masih membatin ketika Hanum sudah meletakkan kepalanya di atas paha pria itu.
Sepanjang menonton drama TV itu pun, Sultan terus membungkam mulutnya, pria itu lebih memilih diam sembari mengelus kepala Hanum. Tak berani mengucapkan sepatah kata, karena yang dia takutkan, dia akan salah bicara nanti dan malah membuat Hanum marah.
Drama belum berakhir, dan Sultan kembali dikagetkan begitu melihat istrinya secara mendadak mematikan TV dan bangun dari posisinya.
" Kenapa dimatikan?"
" Aku mau singkong karamel." ucap Hanum tanpa basa-basi.
Butuh waktu sekitar satu menit untuk kemudian Sultan berani menjawab.
" Mau aku belikan?" tawarnya.
" Tentu saja, memangnya mas mau, pak Dadang yang belikan apa?" ujarnya sewot.
" Ya sudah kalau begitu, ayo." Sultan mengaitkan jemarinya dengan jemari tangan istrinya.
Mereka segera berjalan menuju garasi mobil dan Sultan mengemudikan mobilnya, mulai menyusuri jalanan. Sementara sepanjang jalan dia berpikir, hendak membeli makanan seperti itu dimana, pasalnya, dia sendiri belum pernah melihat makanan seperti apa itu. Kalau singkong Thailand, mungkin dia pernah melihatnya tapi ini, baiklah ... intinya makanan itu sama-sama berbahan dasar singkong. Dia akan coba mencarinya di salah satu mall, siapa tahu saja ada stand makanan yang menjajakan singkong karamel disana.
Dia tidak mungkin bertanya pada istrinya hendak membeli dimana, bisa langsung terjadi gencatan senjata nanti.
Belum juga mereka sampai, ponsel Sultan yang ada di atas dashboard mobil bergetar, dia melirik Hanum, memberikan kode pada gadis itu untuk segera menerima panggilan masuk pada nomornya.
Mami.
Ujar gadis itu sebelum mengangkat telponnya.
" Hallo nak, bagaimana kabarmu?" suara lembut dari wanita yang telah melahirkan suaminya, terdengar begitu hangat.
" Baik mi, mami sekeluarga disana bagaimana? sehat juga kan?"
__ADS_1
" Eh, Hanum." Ratih terperanjat saat mengetahui si penerima telepon ternyata menantu kesayangannya, " Kami semua sehat nak, kamu lagi apa sayang? Sultan mana?"
" Mas Sultan ada ini di samping Hanum mi, lagi nyetir." menatap ke arah suaminya, " Mami mau bicara sama mas Sultan?"
" Tidak usah sayang, mami tidak mau mengganggu konsentrasinya, mami cuma mau bilang, lusa adalah hari ulang tahun kakek, seperti biasa, akan di adakan acara syukuran kecil-kecilan. Bilang sama Sultan, usahakan kalian pulang ya? kami semua sangat merindukan kalian."
" Baik mi, nanti Hanum sampaikan sama mas Sultan."
" Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya, selalu jaga kesehatan." pesan Ratih.
" Ya mi, mami juga. Hanum sayang mami." lirihnya, matanya berkaca-kaca.
Ingatannya kembali saat mengingat kasih sayang yang diberikan wanita itu padanya. Kasih sayang seorang ibu yang telah lama tidak dia rasakan.
" Mami bilang apa?" pertanyaan Sultan membuat Hanum terkejut, dia usap sudut matanya yang berisi bulir bening hendak melesat jatuh ke pipinya.
" Mami bilang, lusa kakek berulang tahun, dan kita mesti pulang ke Semarang."
" Mendadak sekali?" gumam Sultan.
" Ulang tahunnya?"
" Bukan, mami ... mendadak sekali beliau memberi kabar pada kita."
" Entahlah." Hanum menggendikan bahunya.
" Ya sudah, kita sekalian cari kado buat kakek ya?"
" OK."
.
Dua hari kemudian.
Sultan yang merasa khawatir karena melihat wajah istrinya yang begitu pucat, berkali-kali dia menanyakan keadaan Hanum.
" Kamu serius baik-baik saja? wajahmu pucat, mumpung keberangkatan pesawat kita masih lima menit lagi. Kita bisa ke dokter dulu, ke Semarang nya bisa kita tunda besok." Sultan terus menatap istrinya yang saat itu tengah memejamkan matanya sambil bersandar di bangku pesawat.
" Aku nggak apa-apa mas, cuma sedikit pusing." menggenggam tangan suaminya.
" Ya sudah kalau begitu, kamu tidurlah, nanti begitu sampai aku bangunkan."
Sore harinya, pesawat yang membawa Hanum dan juga Sultan telah Landing di Bandar Udara Internasional Ahmad Yani.
Sesampainya disana, mereka langsung dijemput oleh pak Danang, supir pribadi yang telah lama bekerja pada keluarga Pradipta.
Begitu sampai dirumah, Sultan segera membawa istrinya ke kamar untuk beristirahat. Melihat Hanum yang tidak sehat namun masih memaksa untuk segera pulang ke Semarang, membuat Sultan mengkhawatirkan gadis itu.
" Apa dia mengalami mabuk kendaraan?" tanya Arya, " Istrimu terlihat kurang sehat."
" Dia memang sedang tidak enak badan Pi, di tambah tadi dia terus muntah di pesawat."
" Perjalanan ke sini kan bisa di undur, setelah Hanum sembuh." Burhan, kakek Sultan ikut menimpali, " Biar bagaimana pun, kesehatan adalah yang utama."
" Sultan juga sudah membujuknya Kek, tapi dia bersikeras."
" Ya sudah istirahatlah."
Ketiga orang itu meninggalkan kamar Sultan, membiarkan sepasang suami istri itu untuk beristirahat.
Malam pun menjelang.
Hanum mematut diri di depan cermin, dia mengoleskan lip tint warna merah untuk menutupi bibirnya yang pucat, menutupi wajahnya yang pias dengan mengaplikasikan beberapa jenis make up.
" Kamu yakin mau turun ke bawah? sudah sehat?" tanya Sultan yang saat ini sedang berdiri dibelakang Hanum.
" Aku baik-baik saja, sudah tidak mabuk pesawat lagi." guraunya sambil tertawa.
" Ya sudah ayo, tapi nanti, kalau misalnya kamu tiba-tiba merasa kurang enak badan lagi, kasih tahu aku ya."
" Ya."
Kedua orang itu terpana melihat keadaan rumah tersebut, lantai bawah telah di sulap dengan dekorasi yang menyilaukan mata. Banyak tamu yang datang, tapi Ratih bilang, kebanyakan tamu yang datang hanya dari kalangan keluarga terdekat dan juga rekan sejawat kakek, sesama purnawirawan yang masih diberi umur panjang dan kesempatan untuk berkumpul dengan si pemilik acara.
Acara pun berjalan dengan lancar, sesuai dengan yang diharapkan, hingga tiba acara inti, apalagi kalau bukan jamuan makan malam.
Ada sebuah meja bundar di tengah-tengah ruangan, yang terdapat satu keluarga inti sedang makan malam bersama.
Kakek terlihat begitu bahagia melihat seluruh keluarganya berkumpul untuk merayakan hari lahirnya, mereka makan sambil diiringi obrolan ringan.
Hanum yang sejak tadi merasa sangat lapar begitu antusias melihat berbagai sajian yang ada di depannya. Diantara banyaknya makanan yang ada di sana, Babat gongso-lah yang paling menyita perhatian Hanum. Sultan tertawa jenaka saat melihat Hanum menghabiskan hampir separuh isi piring tersebut.
" Makan yang lainnya juga." Ratih menaruh sepotong ayam kecap, di piring Hanum, " Sejak tadi, Mami perhatikan kamu hanya makan babat gongso saja, yang lain juga tak kalah enak lho."
" Terimakasih Mi."
Hanum menerimanya dengan senang hati, menganggap itu sebagai bentuk perhatian dari ibu mertuanya. Perlahan dia mulai menyendok kan nasi berisi potongan ayam kecap ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Dan ketika perpaduan antara nasi dan daging ayam itu mulai memasuki mulutnya, tiba-tiba Hanum merasa perutnya tidak nyaman. Rasa mual yang tak tertahankan membuatnya membekap mulutnya.
" Hoek ... hoek ..." akhirnya muncullah suara yang sejak tadi Hanum tahan.
Membuat semua mata tertuju padanya, Sultan yang memang duduk di sebelahnya, cepat tanggap.
" Kamu kenapa?"
" Hoek ..." Hanum masih menutupi mulutnya dengan tangannya, " Permisi ke toilet sebentar."
Hanum berlari menuju kamar mandi yang terletak tak jauh dari ruang tengah, sementara Sultan mengekor di belakang.
Hanum merasa kepalanya pusing, pandangannya buram dan mendadak gelap.
Brug ...
Hanum jatuh pingsan sebelum dirinya sampai di kamar mandi, membuat gaduh seisi ruangan.
Membuat kakek dan beberapa orang yang tadi duduk satu meja berhambur mendekati Hanum.
Sultan yang panik segera menggotong tubuh istrinya dan membaringkan di kamar tamu.
" Mami sudah panggil dokter?" tanya Sultan.
" Ya, tapi dokter Jeremy sedang menghadiri seminar di Australia, dia tidak bisa datang." jelas Ratih.
" Astaga, bagaimana ini?" Sultan terlihat frustasi.
Melihat kondisi yang makin ramai, membuat seorang pria tua mendekat ke arah Burhan, dia adalah sahabat kakek Sultan. Mereka bersahabat sejak masih bayi, karena kedua orang tua mereka bersahabat. Keduanya berpisah saat di bangku perguruan tinggi, Burhan yang memilih menjadi tentara seperti ayahnya, sementara pria itu memilih menimba ilmu kedokteran di negeri tirai bambu.
" Izinkan aku memeriksa cucu menantumu." ucap pria yang rambutnya telah memutih itu.
Burhan pun mengangguk.
" Mau dibawa kemana dia?" tanyanya pada Sultan yang hendak membopong tubuh Hanum lagi.
" Ke rumah sakit Kek."
" Tidak perlu." menepis tangan Sultan, membuat Sultan mengerutkan keningnya, " Biarkan opa Noh yang memeriksanya. Kau lupa." melirik pria sebayanya, " Dia itu dokter terkenal di Cina, dia menghabiskan separuh hidupnya dengan mengobati orang. Meskipun saat ini dia sudah pensiun dari dunia kedokteran, tapi kemampuannya memeriksa pasien, tidak bisa diragukan lagi."
Tak lama setelah Sultan mengangguk, memberikan izin. Pria tua itu pun duduk di bibir ranjang. Pria yang baru beberapa tahun lalu pulang ke Indonesia, Sultan juga sangat mengenalnya karena sering melihatnya datang menemui kakeknya.
Pria yang akrab di sapa opa Noh itu meraih pergelangan tangan Hanum, mulai memeriksa denyut nadi gadis itu. Ekspresi wajahnya ketika memeriksa Hanum membuat Sultan makin diliputi kecemasan. Beberapa kali opa Noh mengulang memeriksa keadaan Hanum, hingga akhirnya, kakek tua itu kembali meletakkan tangan Hanum dan menyelimuti sebagian tubuh gadis itu.
" Bagaimana opa? bagaimana keadaan istri saya? apa dia terluka? seberapa parah sakitnya?" Sultan menyambar dengan berbagai pertanyaan, begitu melihat opa Noh selesai memeriksa kondisi Hanum.
" Malah bukan begitu." jawabnya diiringi senyum simpul.
" Bukan begitu bagaimana? jelas-jelas Hanum pingsan, opa?" Sultan menaikkan sedikit volume suaranya, membuat Burhan gemas dan menepak pundak cucunya.
" Kakek ..." cebiknya.
" Biarkan dia bicara dulu, bagaimana bisa Noh menjelaskan kalau kamu terus nerocos begitu?" Burhan berganti menatap Noh. "Katakan! bagaimana kondisi cucu menantuku yang sebenarnya."
" Aku tahu ini terlalu awal." pria tua itu mengambil nafas panjang, " Tapi berdasarkan hasil pemeriksaanku, aku menyimpulkan kalau cucumu mengalami tanda-tanda kehamilan."
" Apaa ..." seluruh penghuni kamar tamu berteriak bersamaan.
" Ya, aku sudah memeriksanya berulang kali dan hasilnya sama. Aku bisa merasakan denyut nadi ganda yang mengindikasikan kalau cucumu memang sedang mengandung."
Penjalasan opa Noh membuat Ratih histeris, wanita itu menangis terharu sambil memeluk suaminya. Burhan terus tertawa bahagia sementara Sultan masih mematung, masih belum bisa mempercayai ucapan kakek tua dihadapannya itu.
" Ada hal lain yang harus aku sampaikan."
Dan ucapan Noh kembali membuat seisi ruangan menjadikannya sebagai pusat perhatian.
" Katakan." timpal Burhan.
" Berdasarkan hasil pemeriksaanku, aku bisa mengetahui kalau janin yang saat ini ada di rahim cucumu baru berusia sekitar sepuluh Minggu. Aku bisa merasakan denyut nadinya, cucumu mengandung bayi kembar. Tapi ..."
" Tapi apa, opa?" lagi-lagi Sultan menyambar.
" Denyut jantung istrimu sangat lemah." menatap lurus ke arah Sultan. " Aku harap kamu segera memeriksakan dia ke dokter kandungan besok, untuk lebih jelasnya, agar dia segera mendapatkan vitamin dan juga obat yang dia butuhkan."
" Terimakasih opa." lirih Sultan.
Suasana tegang yang sempat terjadi di kamar itu mendadak berubah menjadi kebahagiaan, berita bahagia yang telah lama ingin mereka dengar, akhirnya bisa mereka dapatkan hari ini. Bersamaan dengan hari bahagia Burhan.
Hening.
Kamar itu kembali sepi sepeninggal kakek, opa Noh, dan beberapa orang lainnya, tinggallah Sultan berdua dengan istrinya yang masih belum sadarkan diri. Opa Noh menyuruhnya untuk menjaga Hanum dan menunggu sampai gadis itu sadar.
Dan saat ini, Sultan terus meremas tangan istrinya, air matanya terus berjatuhan tanpa bisa dia kendalikan. Dia merasa sangat bahagia dengan berita bahagia yang baru saja di dengarnya.
Dia kemudian berbaring di samping tubuh istrinya, memeluk erat gadis itu, rasanya dia begitu hanyut dalam kebahagiaan yang dia rasakan saat ini.
.
__ADS_1
Mohon maaf banget ya kalau feel-nya kurang ngena, maklum, Author nya masih amatiran 🤠di tambah kepala masih gleyengan. Maaf-maaf aja nih kalau ada yang kurang nyambung atau nggak pas gitu. 🤣🤣🤣
Happy reading kesayangan ku 😘😘😘