Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Terpeleset


__ADS_3

Hanum terbangun saat menyadari tubuhnya serasa melayang di udara, perlahan mengerjapkan matanya. Dan, alangkah terkejutnya dia ketika menyadari saat ini dirinya tengah dalam gendongan suaminya.


" Mas, turunkan aku."


" Tanggung, sebentar lagi sampai."


" Aku bisa jalan sendiri."


" Memangnya siapa yang bilang kalau kamu tidak bisa berjalan?"


Sultan pun menurunkan tubuh Hanum, dia di dudukkan di atas sofa ruang tengah rumahnya.


" Ah, ya ampun." Hanum menutup wajahnya dengan kedua tangannya, " Apa kamu juga, yang menggendongku dari kantor sampai ke rumah?"


" Memangnya siapa lagi kalau bukan aku? Raka? aku masih kuat buat bopong kamu kok."


" Bukan itu maksudku, kenapa tidak bangunkan aku tadi? aku kan bisa jalan sendiri." menatap suaminya, " Kamu pasti malu tadi ya?"


" Malu?"


" Ya ... gara-gara kejadian di kantor tadi." Hanum melepas jas suaminya, yang melekat di tubuhnya.


" Kejadian yang mana?" meletakkan jari telunjuknya di dagu, " Yang aku gendong kamu, atau yang waktu kamu peluk aku dari belakang?" tersenyum jahil.


" Dua-duanya."


" Malah aku bahagia."


" Eh?"


" Saat kamu memelukku dari belakang, entah kenapa hatiku begitu tenang dan nyaman. Aku merasa seolah mendapatkan kekuatan lewat hangatnya pelukanmu, merasa aman dan terlindungi. Dan ... saat aku menggendongmu, dari ruang kerja menuju parkiran, sampai di rumah ini. Aku merasa sangat bahagia, aku merasa perlu melakukan hal itu karena ... aku selalu bahagia tiap kali bersamamu."


" Dasar gombal."


" Apa aku terlihat seperti itu?"


" Seperti apa?"


" Seperti seorang pengobral gombal?"


" Sedikit." Hanum mencebik, kemudian tertawa kecil.


" Dan aku tidak peduli." meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat, " Aku tidak peduli apapun yang kamu pikirkan tentang aku selama kamu selalu bersamaku." kemudian tangan kirinya merogoh saku kemejanya, mengambil sesuatu di sana, " Berjanjilah padaku, kamu tidak akan pernah melepaskan cincin ini lagi. Aku sendiri yang memakaikannya di jari manismu, kamu tidak punya hak apapun, dengan cincin ini." mencium jemari istrinya begitu Sultan selesai memasang cincin pernikahan yang pernah Hanum buang tempo hari. " Hatiku hancur saat itu, saat kamu membuang cincin ini." lirihnya.


" Maaf ..." cicit Hanum.


" Ya sudah, lagi pula itu semua sudah terjadi. Tidak ada yang perlu di sesali, semua ujian cinta yang kita lewati selama ini, jadikan itu sebagai pengalaman berharga, yang makin menguatkan cinta kita." Sultan mengecup kening istrinya, cukup lama hingga keduanya terbawa perasaan.


Hingga akhirnya terdengar suara decapan bibir yang saling bertautan di sana, Sultan makin bergairah manakala mendapatkan balasan dari istrinya. Dia meraih tengkuk Hanum untuk memperdalam ciumannya, perlahan merebahkan tubuh istrinya dan dia menindihnya di atas sofa yang sempit.


Nafas keduanya memburu, Sultan sudah mulai menurunkan ciumannya di leher gadis itu, dan tangannya mulai merayap tak terkendali di dada Hanum. Dia merem*s apa yang sejak tadi sangat ingin dia sentuh, perlahan mulai melucuti kancing baju istrinya.


Satu.


Dua.


Tiga kancing sudah terlepas, tinggal satu lagi dan tiba-tiba suara dari dalam perut istrinya, membuatnya menghentikan aktivitasnya seketika.


" Kamu kelaparan?" tanyanya sambil tertawa geli.


" Huum." Hanum mengangguk, " Aku menunggumu pulang sampai aku melewatkan makan malamku. Tadinya aku pikir mau makan malam bersama denganmu, nyatanya malah sampai malam begini kamu belum pulang juga."


" Lain kali tidak perlu menungguku pulang, kamu bisa makan dulu kalau sudah lapar. Tidak baik membiarkan perut kosong terlalu lama, nanti kamu bisa sakit."

__ADS_1


" Ya mana aku tahu kalau kamu akan pulang malam, kamu kan tidak mengabari aku."


" Ya, maaf ... aku begitu panik saat ada kesalahan yang terjadi di kantor, sampai aku lupa tidak mengabarimu kalau aku akan pulang terlambat."


" Jangan mengulanginya lagi ya? aku sempat berpikiran yang tidak-tidak tadi, dan itu membuatku takut."


" Ya, janji." Sultan kembali merengkuh tubuh istrinya. " Maafkan aku, aku suami yang buruk, tapi aku akan belajar menjadi suami yang baik untukmu. Tolong bantu aku, ajari aku untuk menjadi suami terbaik."


Hanum mengangguk, hatinya tersentuh saat melihat tatapan tulus yang di pancarkan lewat mata suaminya. Dia makin mengeratkan pelukannya begitu mendapatkan ciuman bertubi-tubi di keningnya, kecupan sayang dari lelaki yang amat sangat dicintainya.


" Bukankah kita harus makan?" Sultan melepaskan pelukannya beberapa menit setelah mereka hanyut dalam suasana romantis yang tercipta, " Aku tidak mau menjadi suami yang jahat dengan membiarkan istrinya kelaparan, sudah begitu banyak hal buruk yang aku lakukan selama hidup bersamamu, aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama." menyatukan jemarinya dengan jemari Hanum.


" Kenapa malah membahas soal itu lagi?"


" Ya sudah ayo."


Keduanya bergandengan menuju meja makan.


.


Pagi ini, Hanum memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, menjenguk Ajeng yang baru saja melahirkan. Semalam Sultan bercerita kalau kemarin siang, Ajeng sudah mulai kontraksi, dia dibawa ke rumah sakit siang hari dan berhasil melahirkan bayinya dengan selamat pada jam satu dini hari.


Tangannya sudah menenteng bungkusan besar berisi kado untuk bayi mungil Ajeng yang berjenis kelamin perempuan.


Bersama suaminya, dia melangkah, menyusuri tiap lorong rumah sakit menuju bangsal dimana Ajeng dirawat.


Memastikan nama ruangan itu sebelum akhirnya keduanya masuk ke sana.


" Hanum."


" Ajeng."


Keduanya histeris seperti anak kecil yang telah lama tidak bertemu dengan teman sepermainannya. Keduanya berpelukan, dan seketika ruangan itu dipenuhi dengan obrolan dan gelak tawa mereka.


" Selamat, aku yakin, kamu akan jadi ayah terbaik untuk anak-anak kalian kelak."


" Terimakasih, aku doakan ... kamu juga akan jadi ayah dalam waktu dekat."


Mereka asyik ngobrol berdua, membiarkan para wanita sibuk dengan obrolannya sendiri.


" Kamu mau lihat bayiku?" Adam mengajak Sultan menuju box bayi, mengangkat bayi mungil itu ke dalam dekapannya. " Lihat, dia sangat cantik bukan?" menunjukkan pada Sultan, " Matanya milikku, hidungnya, bibirnya, semuanya mirip denganku." ucapnya, bangga.


" Itu karena kamu terlalu serakah." Ajeng yang mendengar perkataan suaminya pun menyahut, " Aku yang susah payah melahirkannya, tapi semua yang ada padanya mirip denganmu. Aku cuma kebagian alisnya saja." Ajeng mendengus.


" Itu tidak benar, aku kan ayahnya, dia anakku, jadi wajar kalau wajahnya mirip denganku." Adam tersenyum penuh kemenangan, " Apa kau mau coba untuk menggendongnya?" menatap Sultan.


" Tentu saja." mata Sultan berbinar, "Kemarikan, dia sangat menggemaskan, aku menyayanginya, anakmu, adalah anakku juga."


" Hati-hati." ucap Adam dengan nada mengingatkan.


" Tentu saja, memang kau pikir aku bodoh apa? aku sudah pernah menggendong bayi sebelumnya, anaknya Metha."


" Kau sudah sangat pantas untuk menyandang gelar sebagai seorang ayah." menepuk bahu Sultan, " Lihat caramu menggendongnya, ya ampun, aku tak percaya pria dingin sepertimu bisa menggendong seorang bayi, hahaha ..." Adam terkekeh.


" Itu pasti, hitung-hitung latihan jadi ayah dan suami siaga."


Begitulah mereka, kedekatan yang terjalin diantara keduanya menguatkan ikatan batin masing-masing. Hubungan yang terjalin erat sejak kecil membuat mereka masing-masing menganggap sudah seperti saudara sedarah.


.


Hari-hari yang dilalui Hanum setelah resmi mengundurkan diri dari butik, diisi dengan sering berkunjung ke rumah Ajeng. Rasanya dia betah berlama-lama disana, merasakan betapa bahagianya mengurus seorang bayi. Karena terlalu sering kesana, membuat Hanum telah mahir mengurus bayi, seperti membuat susu, mengganti popok, memandikan bayi bahkan menidurkannya. Berkat bantuan baby sitter yang Ajeng pekerjakan disana untuk membantunya merawat sang bayi. Dia telah hafal betul semua kebutuhan yang di perlukan si kecil, hal susah seperti menenangkan bayi jika sedang menangis pun, berhasil dia kuasai.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, sampai Bening, bayi perempuan mungil, buah cinta Ajeng dan Adam telah berusia dua bulan.

__ADS_1


Dan seperti biasanya, pagi ini Hanum pun berniat datang ke rumah temannya, dia sudah rapi mengenakan mini dress tanpa lengan berwarna hitam dengan motif polkadot.


Dia turuni anak tangga dari lantai atas dengan hati-hati, lalu terus berjalan menuju teras, tempat dimana pak Dadang sudah menunggu.


Indah yang saat itu sedang mengepel lantai di teras depan rumah, tak sengaja menumpahkan air berisi sabun cairan pembersih lantai hingga airnya menggenang sebagian. Dia lalu berlari ke belakang untuk mengambil kain pel kering untuk membersihkannya.


Hanum yang saat itu sedang berkirim pesan dengan suaminya tak melihat kalau lantai yang dia pijaki penuh dengan air yang berbusa dan licin. Dia terpelanting dan tubuhnya jatuh seketika, kepalanya membentur dinding.


" Non Hanum." pak Dadang yang saat itu sedang menikmati secangkir kopi, langsung meletakkan cangkirnya dan berlari begitu melihat Hanum terpeset dan jatuh pingsan.


" Non ... non Hanum." di guncangkannya badan Hanum yang lemas tak berdaya, " Bi ..." teriaknya, " Bi Mar ... mbok Darmi ... tolong."


Mendengar teriakkan pak Dadang, membuat seisi penghuni rumah berhamburan, mendekati arah sumber suara. Dan mereka terkejut begitu melihat Hanum tergeletak tak sadarkan diri dengan kondisi sekujur tubuh basah kuyup.


" Apa yang terjadi pada Dadang?"


" Kenapa non Hanum sampai pingsan begini?"


" Cepat bantu angkat tubuhnya, bawa ke kamar tamu saja."


Panik, mereka gotong tubuh Hanum ke kamar tamu, dengan kondisi Hanum seperti itu akan sulit membawanya ke lantai atas.


Sementara Indah yang melihat kejadian itu hanya bisa menangis dan terus menundukkan kepalanya.


" Cepat ambil baju ganti untuk nona." perintah mbok Darmi pada Lastri. " Bi Mar, tolong ambilkan minyak angin." Mbok Darmi yang begitu panik pun menangis. " Sebenarnya apa yang membuat nona sampai jatuh?" tanyanya pada pak Dadang, sementara Indah hanya berdiri di depan pintu.


" Sa ... saya yang salah Mbok." ucap Indah sambil menangis, dia lalu mendekat ke arah ranjang.


" Memangnya apa yang sudah kamu lakukan?"


" Saya tidak sengaja menumpahkan air berisi sabun pel lantai, saya sedang ke belakang tadi untuk mengambil kain pel. Tapi ... belum sempat saya membersihkan tumpahan air itu, nona sudah datang dan dia terpeleset." gadis itu makin tak kuasa menahan tangisnya, dia merasa telah melakukan kesalahan fatal, dia takut di berhentikan kerja. Padahal, keluarganya di kampung menggantungkan hidupnya dari gajinya bekerja di rumah itu.


" Lain kali hati-hati, bagaimana kalau sampai den Sultan tahu. Bisa di pecat kamu Ndah."


" Mbok ..." isaknya, " Indah tidak mau di pecat mbok, tolong bantu Indah bicara sama tuan mbok."


" Sudah jangan menangis, nanti kita pikirkan jalan keluarnya, yang terpenting sekarang adalah membuat non Hanum sadar dari pingsannya."


Satu jam kemudian.


" Saya minta maaf non, tolong maafkan kesalahan saya, saya tahu saya salah, tapi tolong non, jangan pecat saya." Indah memohon, masih menangis sesenggukan. Dia langsung meminta maaf pada Hanum begitu Hanum telah sadar dari pingsannya.


" Sudah Mbak, jangan menangis lagi, saya maafkan kok. Saya tahu, Mbak Indah tidak sengaja melakukannya." Hanum memeluk tubuh Indah dan menepuk punggung gadis itu, berusaha menenangkannya.


" Tapi saya takut di pecat non."


" Tidak akan ada yang pecat kamu Mbak, saya juga masih membutuhkan tenaga Mbak Indah untuk bantu beres-beres rumah."


" Tapi ... bagaimana kalau tuan sampai tahu, terus marah sama saya non."


" Tenanglah, suami saya tidak akan tahu selama tidak ada orang yang memberitahukan padanya. Lagi pula saya baik-baik saja mbak, mana mungkin suami saya marah atas kesalahan yang tidak di sengaja?"


Hanum melepas pelukannya.


" Sudah, sebaiknya Mbak Indah istirahat saja. Saya juga mau istirahat mbak." mengusap bahu gadis itu pelan. " Jangan terlalu dipikirkan, ini semua terjadi karena ketidaksengajaan."


" Baik non, terimakasih banyak atas kemurahan hati non Hanum."


" Jangan berlebihan begitu Mbak." Hanum tersenyum pada gadis itu.


Mengangguk pada mbok Darmi, memberikan kode padanya untuk pergi dari kamar tersebut karena Hanum ingin istirahat. Dan tak butuh waktu lama untuk mereka yang sejak tadi berkumpul, menunggu Hanum sadar. Mereka pun membubarkan diri, kembali mengerjakan tugasnya masing-masing.


Hanum merebahkan tubuhnya begitu mbok Darmi menutup pintu kamar, sepertinya dia harus mengurungkan niatnya bertemu dengan baby Bening hari ini. Kejadian tadi membuatnya merasa pusing, sebenarnya mbok Darmi ngotot memintanya untuk ke dokter tapi Hanum menolak. Rasa pening itu muncul mungkin saja karena efek kepalanya yang membentur tembok tadi. Dia juga sudah menyuruh semua orang untuk tutup mulut, tidak menceritakan tentang kejadian pagi ini pada Sultan.

__ADS_1


.


__ADS_2