Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Wanita siluman


__ADS_3

Sembari fokus menyetir, Sultan terus berpikir keras. Sudah tiga toko kue dia datangi dengan hasil yang sama, lagi pula mana ada toko kue yang masih buka di jam segini. Tapi itu semua tidak menyurutkan semangatnya, setidaknya dia harus tetap berusaha sampai istrinya sendiri yang memutuskan untuk pulang jika memang toko yang akan mereka datangi selanjutnya telah tutup.


Ini toko ke empat yang mereka kunjungi, dan tepat ketika Sultan memarkirkan mobilnya di pelataran toko, dia bisa melihat kalau karyawan toko tersebut sedang berkemas dan hendak menutup tokonya. Sultan pun bergegas melepaskan sabuk pengamannya dan segera berlari masuk ke dalam toko.


"Permisi Mbak," sapanya ramah kepada salah satu karyawan wanita yang sedang membersihkan etalase.


"Selamat malam Tuan, mohon maaf kami sudah tutup." perempuan itu menatap Sultan sejenak lalu melanjutkan pekerjaannya.


"Saya tahu Mbak, saya hanya ingin membeli kue itu saja." menunjuk roti yang tersusun rapi di lemari kaca. "Saya sudah berkeliling mencari toko kue dan ini toko terakhir yang masih belum tutup."


"Tapi kan kami memang sedang bersiap untuk menutup toko, Tuan. Tidakkah Tuan lihat di pintu masuk?"


Sultan melirik ke arah pintu kaca dengan label close yang tergantung di sana, menandakan kalau toko sudah tidak akan melayani transaksi pembelian kue lagi.


"Tap ..." belum sempat Sultan melanjutkan ucapannya, Hanum sudah mendekat.


"Mas? lama sekali?" Hanum mengapit lengan suaminya, "Ada rotinya kan?" mengedarkan pandangannya ke beberapa lemari kaca yang berjajar di depannya.


"Ada sayang, itu!" menunjuk roti yang dimaksud istrinya yang memang sisa dua potong di sana.


Melihat tampilan kue itu membuat air liur Hanum timbul dan memenuhi rongga mulutnya.


"Mbak, tolong bungkuskan dua buah roti itu, saya minta tolong Mbak." Sultan memohon pada perempuan berseragam hitam di depannya.


Sementara perempuan itu masih menatap Sultan dan Hanum bergantian sampai akhirnya dia menghela nafas panjang kemudian mengangguk.


Hanum terus memandangi pergerakan perempuan itu dari mulai berjalan ke arah lemari kaca hingga selesai membungkus dua buah roti tersebut.


"Silahkan Tuan." perempuan itu menyodorkan bungkusan plastik berisi pesanan Sultan. "Sepertinya istri Anda sedang mengidam?" tanya pelayan toko itu.


"Ya Mbak." Sultan mengeluarkan dompet dari saku celananya, dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan menyodorkan pada perempuan itu.


"Tidak usah Tuan," tolak si pelayan toko ramah, membuat kening Sultan berkerut. "Ini spesial untuk ibu hamil jadi saya berikan secara cuma-cuma buat Mbaknya." menunjuk Hanum.


"Tidak perlu Mbak, saya sudah memaksa Mbak untuk melayani saya padahal saya tahu toko sudah dalam keadaan tutup, saya tidak enak kalau saya diberikan kue ini secara gratis." Sultan terus menyodorkan lembaran uang itu.


"Tidak apa-apa Tuan, ambil saja."


"Terima saja Mbak," Hanum menyela.


"Ini." Sultan menyelipkan uang itu di telapak tangan si pelayan toko. "Terimakasih banyak ya Mbak, setidaknya anak saya tidak akan ileran." Sultan terkekeh.


.


Keduanya sudah kembali masuk ke dalam mobil dan Sultan segera memacu kendaraannya.


"Tidak bisa makan roti itu langsung di toko nya karena kan sudah tutup. Di makan di sini saja tidak apa-apa kan?" tanya Sultan pada istrinya.


"Hm, setidaknya kita mendapatkannya." Hanum segera membuka bungkusan itu dengan antusias.


Sultan tersenyum saat melihat istrinya terlihat begitu lahap menikmati roti itu sepotong demi sepotong hingga akhirnya roti pertama berhasil masuk ke dalam perut Hanum sepenuhnya.


"Ya ampun," Hanum tersadar ketika Sultan mengusap kepalanya.


"Ada apa?"


"Aku lupa tidak menawarimu, Mas." senyum merekah di bibirnya, menampilkan deretan giginya yang rapi.


"Tidak apa-apa, kau bisa menghabiskan semuanya."


"Sungguh?"


"Tentu saja, aku tidak begitu tertarik dengan roti itu."


"Ya sudah kalau begitu. Sayang sekali, padahal roti ini sangat enak." kembali melahap potongan roti kedua nya.


.

__ADS_1


Hanum masih terus menatap langit-langit kamarnya, pandangannya kosong. Sudah satu jam yang lalu mereka kembali ke rumah dan membaringkan tubuh mereka masing-masing di atas pembaringan. Sang suami pun telah tertidur pulas tapi tidak dengan Hanum. Gadis itu terus berguling, mencari posisi ternyaman yang tak kunjung dia dapatkan meskipun telah berulang kali berganti posisi. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk bangun, di tatapnya wajah suaminya yang terlihat begitu teduh dan damai. Seketika gelenyar rasa muncul di hatinya, timbul hasrat dalam diri perempuan itu. Dan entah mendapatkan dorongan dari mana tiba-tiba saja Hanum sudah menindih tubuh suaminya.


"Mas ..." bisiknya manja tepat di telinga sang suami, di susul dengan jemarinya yang mulai merayap. Semula di wajah suaminya dan perlahan mulai turun ke leher Sultan dan terus menjalar ke bagian lain dengan begitu liar.


"Eumh ..." erang Sultan ketika merasakan ada sesuatu yang meremas bagian tubuhnya, seketika mata pria itu terbuka dengan sempurna. Tidak ada tanda-tanda kantuk yang tersisa di sana begitu melihat Hanum dengan posisi di atas tubuhnya. "Sa ... sayang, kamu ..."


Ucapan Sultan terhenti, dia merasakan benda kenyal nan manis tengah menjajah bibirnya, dia sendiri terdiam, tidak bisa melakukan apa-apa karena masih belum sadar sepenuhnya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh istrinya.


Ketika ciuman di bibirnya terasa semakin memanas, dia baru menyadari kalau ternyata Hanum menginginkan hal yang sama dengan dirinya. Dia pun tak bisa tetap tinggal diam, dia membalas ******n itu lebih ganas dan liar, melebihi istrinya.


Dan detik berikutnya, terjadilah apa yang seharusnya terjadi ketika dua anak manusia yang saling mencintai itu tengah dilanda gairah cinta yang membuncah dan harus segera di tuntaskan.


"Pelan-pelan Mas." Hanum menjambak rambut suaminya ketika Sultan masih terus menyerangnya dengan memberikan hujaman di bagian bawah tubuhnya.


"Ini sudah sangat pelan, sayang." memberikan beberapa kecupan di dahi Hanum yang telah dibanjiri keringat.


"Tapi kenapa rasanya masih sakit?" Hanum mendesis.


"Perutmu?" Sultan berhenti sejenak, kemudian melanjutkan gerakannya lagi setelah istrinya menggeleng.


"Bukan.


"Lalu?"


"Ini." menunduk dan menunjukkan bagian tubuh mana yang dia maksud, membuat suaminya tergelak.


"Salah sendiri, kita sudah sering melakukannya tapi punyamu masih sempit saja," kekehnya, membuat Hanum melayangkan cubitan panas di lengan pria itu.


Setelahnya, mereka berdua melanjutkan pergumulan panas yang begitu menggairahkan.


.


Sisa sisa gerimis semalam masih terasa, air yang menetes di dedaunan, udara juga masih terasa dingin meski sinar matahari mulai menyeruak di ufuk timur.


Pagi ini Sultan dan istrinya menuruni anak tangga dengan lengan yang saling mengait juga jemari tangan yang menyatu. Diiringi senyum yang terus terkembang di bibir keduanya.


Mereka sampai di meja makan lebih dulu, hingga beberapa menit kemudian Burhan datang di susul anak dan menantunya.


"Awas! lalat akan masuk kalau kau terus membuka mulutmu lebar-lebar begitu." Burhan menduduki kursinya, "Apa kau menang tender? kelihatannya kau sangat bahagia pagi ini."


"Lebih bahagia dari pada menang tender Kek?" kekehnya.


Membuat kedua orang tua Sultan memandangi putranya dengan tatapan keheranan.


"Memangnya apa yang membuatmu begitu bahagia, Nak?" tanya Ratih.


"Rahasia," jawab Sultan singkat.


"Ish, dasar anak nakal."


Dan untuk pertama kalinya, keluarga besar itu melewati sarapan pagi mereka dengan diiringi senda gurau dan candaan yang di lontarkan oleh Sultan dan sesekali dibalas oleh sang kakek.


.


Suasana Ibukota sangat panas siang itu, sinar matahari terasa begitu menyengat kulit. Hanum yang saat itu baru saja memasuki gedung kantor suaminya, terus mengusap dahinya yang basah akibat keringat yang terus mengucur.


Dia melangkahkan kakinya mantap menuju ruangan suaminya, tangan kirinya menenteng sebuah lunch box yang sengaja dia bawakan untuk makan siang Sultan. Tak lupa juga dia membawa beberapa cupcake juga minuman dingin yang sempat dibelinya tadi di sebuah toko, yang di jinjing di tangan kanannya.


Hanum sempat kesulitan untuk membuka pintu ketika telah sampai di depan ruang kerja suaminya. Dan ketika pintu itu telah berhasil dibuka sepenuhnya, dia tersenyum sinis begitu melihat perempuan yang di bencinya itu berada di ruang kerja suaminya, untuk yang kesekian kalinya.


Ternyata dia masih penasaran dengan suamiku. Sepertinya aku harus memberinya pelajaran kali ini agar dia berhenti mengejar Mas Sultan.


Pelan tapi pasti Hanum melangkahkan kakinya, menuju sofa tempat suaminya duduk dengan raut wajah canggung.


"Mas." Hanum meletakkan barang bawaannya di atas meja, memutar bola matanya malas begitu melihat Mauryn sudah lebih dulu menata makan siang di sana. "Maafkan aku, aku sedikit terlambat karena aku harus mampir ke toko kue untuk membelikan cupcake kesukaanmu." kemudian mencium pipi Sultan.


"Tidak, kau sama sekali tidak terlambat. Kau datang di saat yang tepat," Sultan menyahut.

__ADS_1


Dewi penyelamatku telah datang, setelah mengetahui semuanya ... entah kenapa aku tetap tidak bisa berbuat kasar pada Mauryn, untuk sekedar mengusirnya dari sini sekalipun.


Mereka bertiga pun memulai makan siang dengan canggung, berkali-kali Hanum menyindir Mauryn, tapi gadis bermuka tembok itu tetap saja bertahan di sana.


"Makan ini, tumis tofu asparagus saus tiram. Ini aku masak sendiri." Hanum menuangkan dua sendok tumisan itu di atas nasi, di piring Sultan.


"Ini juga bebek bakar favoritmu, kau juga harus memakannya." tak mau kalah, Mauryn meletakkan sepotong daging bebek di atas piring Sultan. "Rasanya sangat enak karena aku sendiri yang memasaknya, aku juga memilih daging bebek dengan kualitas premium. Kau pasti suka, makanlah."


Hanum membuang muka, kesal.


Dasar wanita siluman. geramnya.


"Aku juga mau mencobanya Mas, suapi aku?" pinta Hanum pada suaminya.


Tanpa pikir panjang, Sultan pun menyuapi istrinya.


"Enak sekali, ternyata kau pandai memasak," ucap Hanum dengan nada di buat-buat, pada Mauryn.


"Tentu saja, kan sudah aku katakan tadi," kata Mauryn menyombongkan diri.


Sultan benar-benar tidak menikmati makan siangnya kali ini, beberapa sendok makanan memang berhasil masuk ke dalam perutnya tapi dia sama sekali tidak menikmatinya, tidak ada enak-enaknya sama sekali. Merasakan atmosfer yang berbeda di ruangannya tiap kali kedua perempuan itu tak sengaja bertemu di sana.


"Ehm, mumpung kau sedang ada di sini, minta tolong bersihkan sekalian ya." titah Hanum pada perempuan menyebalkan yang ada di depannya. Sementara dia tengah bergayut manja dengan menyandarkan kepalanya di bahu Sultan, tangannya terus memainkan dasi suaminya.


Tak ada yang bisa Mauryn lakukan selain menuruti perintah Hanum, tangannya mulai bergerak membersihkan meja yang penuh dengan sisa-sisa makanan yang berceceran, sepertinya Hanum sengaja melakukannya, pikir Mauryn. Wajahnya terlihat begitu kesal, namun tetap menyelesaikan pekerjaannya.


Melihat Hanum dan Sultan yang sedang bermesraan di depan matanya membuat Mauryn murka. Emosi benar-benar telah merasuk ke dalam jiwanya hingga terbersit ide gila yang mendadak muncul di kepalanya.


Ketika Mauryn sedang berjalan dari kamar mandi setelah mencuci tangannya, dia terus mendekati Sultan dan Hanum yang sedang duduk saling berhimpitan. Dan saat jarak mereka sudah semakin dekat, Mauryn sengaja menjatuhkan dirinya tepat di pangkuan Sultan. Membuat kaget pasangan suami istri tersebut.


"Maaf, kakiku tergelincir," ucapnya sambil merapikan rambutnya namun masih tetap di pangkuan Sultan.


"Tidak masalah, bukankah kau tidak sengaja?" sindir Hanum, "Biar aku bantu." Hanum membantu Mauryn bangkit dari atas tubuh suaminya dan secara mengejutkan, Hanum mendorong tubuh Mauryn hingga perempuan itu terjerembab di lantai dengan kepala membentur sudut meja.


"Auw ... sakit ..." cicit Mauryn manja dengan pandangan memelas pada Sultan.


"Ya ampun, bagaimana bisa jatuh lagi?" Hanum pura-pura membantu perempuan itu bangkit.


Dan setelah keduanya berdiri berdampingan, Hanum membantu mengusap baju wanita itu, disusul dengan sebuah pijakan yang begitu menyakitkan di kaki Mauryn. Hanum sengaja menekan lebih kuat.


Sayang sekali heels yang kupakai hanya setinggi tiga centi, coba lebih dari itu. Kakinya akan panas dan dia pasti akan kesulitan berjalan. Hanum tersenyum begitu menyadari kemenangan ada di pihaknya.


"Ah ..." pekik Mauryn.


"Apa kepalamu sakit?" Hanum memeluk Mauryn dan mengusap kepala Mauryn, bersikap seolah hendak membantu meringankan sakit kepala akibat dahi Mauryn yang terbentur sudut meja.


Dan lagi-lagi Mauryn meringis saat merasakan kepalanya makin panas karena Hanum menarik kencang rambutnya yang panjang.


"Dasar wanita siluman, jangan pernah kamu berani menginjakkan kaki lagi di kantor suamiku," lirih Hanum tepat di telinga Mauryn.


Setelah merasa puas, Hanum melepaskan cengkeramannya dari rambut Mauryn,ada satu hal lagi yang harus dia lakukan.


Setelah drama itu, Hanum pun kembali duduk di sofa, tapi kali ini tidak di dekat suaminya melainkan di sofa yang sempat di duduki oleh Mauryn. Dia melipat kakinya, kemudian meraih tas mahal yang teronggok di sana.


"Apa yang kau lakukan?"teriak Mauryn ketika melihat Hanum mulai mengacak isi tasnya.


"Ini." mengambil kartu kredit berwarna hitam yang pernah diberikan oleh Sultan kepada Mauryn. "Kau kan wanita berkelas, kau pasti malu jika harus bergaya dengan uang orang lain. Bagaimana jika tersebar rumor kalau kau ini simpanan pria kaya? itu akan merusak reputaimu. Benar kan?"


Hening.


Mauryn masih mematung di tempatnya berdiri sampai Hanum bangkit dari duduknya dan membawakan tas branded keluaran rumah mode Prancis yang terkenal itu, kemudian memberikannya pada Mauryn dengan kasar.


"Aku akan menghabiskan waktu berduaan dengan suamiku jadi aku rasa kau sudah dibutuhkan lagi di sini. Sebaiknya kau sadar diri, pulanglah dan urus putrimu dengan benar."


Sultan yang sejak awal hanya diam melihat tingkah kedua perempuan di depannya masih tak habis pikir. Apakah hormon wanita hamil bisa menimbulkan keberanian dalam diri seseorang? bagaimana bisa istrinya menjadi bar-bar seperti sekarang. Sultan mengetahui kejadian yang sebenarnya yang terjadi di depan matanya sejak tadi, hanya saja dia membiarkan istrinya membalas perbuatan Mauryn dengan cara nya sendiri.


Istriku memang yang terhebat. batinnya sambil menggelengkan kepalanya, heran.

__ADS_1


.


Semoga gak bosan bacanya ya guys 🤭 jangan lupa dukungannya 🙏 biasakan klik like setelah selesai membaca. Ditunggu juga komen dan vote nya, Terimakasih 🙏🙏🙏😘😘😘


__ADS_2