Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Bayi kembar laki-laki


__ADS_3

"Minumlah." Sultan mengulurkan sebotol air mineral pada istrinya.


Setelah sempat mengalami beberapa drama dalam gedung persidangan tadi, sekarang disinilah mereka berada, di taman yang berada tak jauh dari gedung tersebut.


Momen dramatis tadi tidak hanya dialami oleh Hanum seorang, pengakuan dosa dan permintaan maaf yang dilakukan oleh Mauryn pada Dion, jauh lebih terasa menusuk hati.


Tadinya Dion bersikeras untuk tidak mau menghadiri jalannya sidang tersebut namun Adam memaksanya untuk datang. Sama seperti Raka yang menyuruh Sultan mengajak istrinya ikut serta ke persidangan tersebut, Adam beranggapan kalau Dion harus menutup lembaran masa lalunya dengan menemui Mauryn untuk yang terakhir kalinya.


"Apa yang dirasa? jangan diam saja, kau membuatku takut," kata Sultan.


"Aku baik-baik saja," cicit Hanum, mata gadis itu masih merah dan berair.


Sultan menyeka air mata istrinya dengan ibujarinya. 


"Kita pulang?" tanyanya pada Hanum.


"Tidak mau." Hanum menggeleng.


"Lho, memang masih mau disini?"


Kembali, Hanum menggelengkan kepalanya.


"Lalu, istriku yang paling cantik di dunia ini, mau apa?"


"Kita mampir ke mall," usul Hanum.


Untuk sesaat Sultan terdiam, dia masih belum mengerti dengan jalan pikiran istrinya.


"Mall?" kening Sultan berkerut.


"Mood seorang wanita akan jauh membaik jika dia berbelanja," seloroh Hanum.


Sultan menepak dahinya. "Benar juga ya? baiklah jika itu maumu." Sultan bangun dari duduknya. "Ayo!" memberikan tangannya untuk bisa Hanum raih.


"Tidak bisakah kau menggendongku?" tanyanya manja.


"Tentu saja, apa yang tidak bisa aku lakukan untukmu?" Sultan segera menggotong tubuh Hanum dan membawanya menuju mobil.


.


Di sisi lain.


"Ikut denganku, kamu tidak akan bisa fokus menyetir mobil sendiri," kata Adam, mengetuk kaca pintu mobil Dion.


Sebenarnya Adam sudah memperhatikan Dion sejak masih berada dalam gedung persidangan tadi, hingga pria itu sampai di tempat parkir dan menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di dalam mobil.


Dion membuka pintu mobilnya, dia menatap nanar wajah temannya.


Pandangan keduanya beradu, lewat tatapan mata itu Adam dapat merasakan apa yang tengah Dion rasakan saat ini. Biar bagaimanapun Dion telah hidup bersama Mauryn untuk waktu yang lama, tentu bukan hal yang mudah bagi pria itu untuk menghadapi semua ini.


"Kenapa semuanya harus berakhir seperti ini Dam?" ucapnya dengan kepala tertunduk lesu.


Adam termangu, tidak ada yang bisa dia lakukan selain hanya menatap haru temannya.


"Aku telah gagal menjadi seorang suami Dam, dia tidak akan menjadi seperti itu jika saja aku bisa menjaganya dengan baik. Aku benar-benar buruk, apa aku masih memiliki kesempatan untuk ...,"


"Cukup!" potong Adam. "Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, kau sama sekali tidak buruk dan jika ada yang harus di salahkan, satu-satunya orang yang pantas untuk disalahkan adalah Mauryn. Dia menjadi seperti itu bukan karena kamu tidak bisa menjaganya tapi karena dia sendiri yang memilih jalan hidup yang salah hingga akhirnya menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam lubang kesengsaraan," ucap Adam, berusaha menghibur temannya.


"Entahlah, rasanya ... aku ...," ucap Dion tersendat.


"Kau harus menutup lembaran masa lalumu, cukup jadikan itu sebagai pelajaran yang bisa kau ambil hikmahnya. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah fokus pada masa depanmu, jangan sampai kamu berlarut-larut dalam kesedihan yang malah akan merugikan dirimu. Ingat, Yara sekarang menjadi tanggung jawabmu."

__ADS_1


Adam semakin trenyuh melihat pria di hadapannya, tak tahan rasanya melihat bola mata bening milik Dion yang tergenang air mata, begitu menyimpan duka mendalam.


"Apa aku masih punya kesempatan untuk menjadi seorang suami yang baik? bagaimana jika setelah menikah dengan Wina nantinya aku malah ...," 


"Jangan terus menoleh ke belakang, cukupkanlah semua penderitaanmu sampai di sini. Kau berhak untuk bahagia, aku tidak memintamu untuk melupakan Mauryn karena biar bagaimanapun kalian pernah menghabiskan waktu bersama cukup lama, dan sekarang jika hubungan diantara kalian berdua harus berakhir seperti ini, anggap saja kalian tidak berjodoh."


Bulir bening yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata Dion sudah tak sanggup dia bendung lagi. Seberapa keras ia berusaha untuk menahannya nyatanya air mata itu tetap jatuh juga.


"Tidak apa-apa," bisik Adam sambil menepuk punggung Dion. "Seorang pria tidak akan kehilangan kewibawaannya hanya dengan menangis," hiburnya.


Adam membiarkan untuk beberapa saat lamanya Dion meluapkan perasaan yang berkecamuk dalam diri pria itu. Hatinya pun terasa ngilu seolah dia sendiri yang sedang mengalami penderitaan, sama seperti apa yang Dion rasakan.


.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Sultan tiba-tiba.


Sejak mereka pergi meninggalkan taman, Hanum terus membisu hingga kini keduanya telah sampai di salah satu pusat perbelanjaan.


"Lapar," celetuk Hanum tiba-tiba.


Sultan terkikik. "Aku kira kenapa, ya sudah kalau begitu, kita makan dulu." 


Sultan mengacak rambut istrinya kemudian membantu melepaskan sabuk pengamannya.


Setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih setengah jam di dalam restoran cepat saji akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk memulai petualangan mereka berburu berbagai macam barang di pusat perbelanjaan tersebut.


"Apa kau mau masuk ke dalam?" Sultan menunjuk sebuah toko perlengkapan bayi.


Hanum menggeleng. "Mau apa?"


"Kita bisa mulai membeli perlengkapan bayi dari sekarang kan?" Sultan memegangi pergelangan tangan istrinya, menghentikan langkah wanita itu.


"Justru itu, kita harus mulai mempersiapkan segala sesuatunya dari sekarang. Beli baju bayi, mainan, stroller, box bayi ...,"


"Masih lama Mas," Hanum memotong perkataan suaminya.


Terlihat raut wajah kecewa di wajah Sultan begitu mendengar ucapan Hanum.


Menyadari hal tersebut, Hanum mengusap lengan suaminya.


"Kita bisa mulai membeli semua perlengkapan bayi nanti setelah usia kandunganku delapan bulan," beritahu Hanum.


"Apa aku bisa membeli apa saja?" tanya Sultan dengan bola mata berbinar.


"Apa saja."


"Semuanya?" tanya Sultan lagi.


"Semuanya, Mas bebas membeli semua perlengkapan untuk bayi kita nantinya, pilihanmu pasti bagus."


Keduanya mulai berjalan lagi.


"Tentu saja, akan aku pilihkan semua barang dengan kualitas terbaik untuk anak-anakku nanti."


Hanum tertawa geli begitu melihat wajah suaminya yang berubah drastis, beberapa menit yang lalu pria itu merajuk dan tak butuh waktu lama untuknya kembali ceria. Sikapnya itu tak ubahnya seperti anak kecil yang kegirangan ketika mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.


.


"Kamu lelah?" tanya Sultan, melihat butiran keringat yang membanjiri pelipis Hanum.


"Tidak, hanya saja cuaca hari ini sepertinya panas sekali." Hanum menyeka keningnya dengan selembar tisu.

__ADS_1


Sultan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang di tengah padatnya lalu lintas Ibukota.


"Kita bisa saja pulang nanti malam, tapi aku sudah membuat janji dengan dokter kandungan,"kata Sultan.


"Ya, hampir lupa," seloroh Hanum.


"Kita langsung menuju rumah sakit saja ya? kita hanya punya waktu setengah jam, takutnya nanti kita akan terlambat jika harus pulang ke rumah terlebih dulu."


"Hm." Hanum mengangguk.


Mobil terus melaju hingga kini mereka telah sampai di rumah sakit. Seperti biasa, Sultan akan sigap membukakan pintu mobil untuk istrinya. Keduanya pun bergegas melangkah menuju poli kandungan.


Selang lima menit setelah mereka sampai di sana, seorang suster sudah memanggil nama Hanum. Cukup singkat memang mengingat Sultan telah membuat janji, sebelumnya.


"Silahkan duduk," ucap seorang dokter wanita cantik, mempersilahkan pasangan suami istri itu untuk duduk begitu mereka masuk.


"Hallo nona Hanum, bagaimana kabar Anda? ini kali kedua kita bertemu," ucap dokter yang diketahui bernama Sarah tersebut, berbasa-basi.


"Kabar saya baik Dok," Hanum tersenyum ramah.


"Syukurlah, apa masih ada keluhan?" 


"Tidak ada Dok, mual-mual nya sudah berkurang, pusing juga sudah tidak terasa lagi," beritahu Hanum.


Sultan terus terdiam sepanjang sesi tanya jawab istrinya dengan dokter Sarah itu berlangsung. 


Hingga di rasa cukup, dokter Sarah meminta Hanum untuk berbaring di bed rumah sakit. Seorang suster membantu mengoleskan gel di perut Hanum sementara sang dokter bersiap memulai pemeriksaan USG.


Sultan merasa sangat gugup begitu dokter Sarah mulai menggerakkan tranducer di atas perut istrinya. Terakhir kali Hanum diperiksa, jenis kelamin bayinya masih belum bisa terlihat.


Pria itu terus memegangi tangan istrinya, sungguh ... bukan hanya gugup, Sultan juga merasa sangat tegang seolah sedang menghadapi masalah besar.


"Bayinya aktif sekali ya, mereka terus bergerak," ucap dokter Sarah.


"Ya, pertama kali mereka menendang, mereka sampai membuat Ibunya memecahkan mangkuk," Sultan menyahut disusul tawa renyah dari bibirnya.


"Benarkah?" Dokter Sarah terkejut.


"Ya, Dok," jawab Sultan singkat.


"Baiklah sekarang perhatian layar monitornya Tuan, bukankah Anda penasaran dengan jenis kelamin bayi kembar Anda? mari kita lihat." 


Dokter Sarah masih menggerakkan alat tersebut secara perlahan. 


"Bagaimana Dok, apa sudah bisa terlihat?" tanya Sultan tak sabar.


"Sudah Tuan, bayi kembar kalian berjenis kelamin laki-laki."


Tubuh Hanum terlonjak kaget karena begitu mendengar ucapan dokter Sarah, suaminya langsung bersorak kegirangan.


"Jadi kedua bayi kembarku sama-sama berjenis kelamin laki-laki, Dok?" ulang Sultan, mencoba memastikan.


"Ya, Tuan."


"Syukurlah," gumam pria itu penuh rasa syukur. "Terimakasih Sayang, kau sudah susah payah mau mengandung buah cinta kita." tanpa rasa malu, Sultan mengecup kening istrinya di depan dokter Sarah dan juga suster yang sedang bertugas.


"Mas bahagia?" tanya Hanum, malu-malu.


"Sangat, aku sangat bahagia." Sultan kembali mengecup kening Hanum untuk kesekian kalinya.


.

__ADS_1


__ADS_2