
William membuka matanya saat merasakan ranjangnya bergerak, dilihatnya Cinta masih terjaga.
"Cinta, belum tidur?"
"Hm, maaf Mas, aku ganggu kamu ya?"
"Nggak masalah. Kenapa nggak bisa tidur?"
"Nggak tahu, nggak ngantuk," jawab Cinta.
"Lapar?"
Gadis itu menggeleng.
"Kepanasan?"
Cinta kembali menggeleng.
"Terus kenapa?"
"Ya nggak bisa tidur."
William membantu istrinya untuk duduk. Dengan perut wanita itu yang telah membesar, Cinta mulai kesulitan untuk melakukan hal-hal kecil sekalipun.
"Mau ke mana?" William menahan istrinya yang bersiap turun dari kasur.
"Haus."
"Tunggu di sini, biar aku aja yang ambilin."
"Aku mau buat jus," kata Cinta.
"Tinggal katakan mau jus apa? Apa kamu pikir aku nggak bisa membuatnya? Hanya jus, bukan masakan western yang sulit dimasak sendiri," tukas William.
"Ikut."
"Ya udah ayo, tapi ingat! Harus perhatikan jalanmu."
Cinta mengapit lengan suaminya, membiarkan William membimbingnya untuk duduk di kursi. "Mau jus apa?"
"Alpukat."
"Oke."
William lekas membuka lemari pendingin, mengambil bahan yang dia butuhkan dan mulai memprosesnya. Sesekali William menguap, di saat orang lain tengah tertidur lelap, dia masih harus berkutat di dapur demi wanita yang dicintainya. Tak masalah, lagi-lagi William berpikir bahwa itu merupakan bagian dari penebusan dosanya pada Cinta.
"Enak," gumam Cinta begitu cairan kental nan legit itu melewati tenggorokannya.
"Habiskan, kamu harus segera tidur." William mengusap puncak kepala Cinta.
"Aku sebenarnya bisa melakukannya sendiri, maaf jadi ngerepotin kamu."
"Aku sendiri yang ingin melakukannya, jangan merasa sungkan begitu. Ayo, kembali ke kamar."
Selang lima belas menit setelah membaringkan tubuhnya di kasur, Cinta tak juga merasakan kantuk. Wanita itu sampai menggeram karena berkali-kali telah pindah posisi akan tetapi tetap tak bisa tidur.
"Mau aku pijit," tawar William.
"Nggak usah Mas. Mending kamu tidur aja, takut besok bangun kesiangan."
"Udah nggak apa-apa."
__ADS_1
Bukan William namanya jika dia tak keras kepala. Pria itu duduk dan menaruh kedua kaki istrinya, menaruhnya di paha dan mulai memberikan pijatan lembut.
"Mas, nggak usah! Kamu juga pasti capek setelah seharian ini kerja di kantor. Ini udah jam dua, sebaiknya kamu tidur."
"Kamu tiduran aja ya, biar nyaman. Lama-lama pasti ngantuk kok, terus kamu bisa tidur."
"Kamu pasti capek Mas."
"Capekku hilang kalau lihat kamu senyum."
Cinta tersipu, ia menundukkan wajahnya malu. Sementara pijatan William makin lama makin lembut. Dengan telaten pria itu membalurkan minyak zaitun dan terus memijit kaki Cinta.
William mengulum senyum melihat istrinya terlelap. Ia sadar betul ada banyak sekali kesulitan yang telah dilalui Cinta selama ini demi menjaga buah hatinya.
Keesokan paginya.
William bangun lebih awal dari Cinta, pria itu sengaja membiarkan Cinta tidur lebih lama mengingat wanita itu baru bisa tidur menjelang pagi.
"Selamat pagi semua," sapa William pada keluarga besarnya yang telah duduk di meja makan.
"Pagi Sayang, Cinta mana?"
"Sengaja nggak aku bangunin Ma, semalaman dia nggak bisa tidur," adu William.
"Kasihan ... biasa kalau perempuan hamil tua emang suka begitu. Banyak banget kendalanya terlebih sekarang gerakannya juga udah terbatas karena perutnya udah makin membesar," timpal Hanum.
"Iya, makanya baik-baik kamu sama dia. Jangan dikira hamil itu gampang, sengsara dia belum lagi kalau habis lahiran. Makin bertambah aja tanggung jawabnya ngurus anak." Ratih angkat bicara.
"Iya. Aku sudah belajar banyak dari pengalaman Oma, tenang aja."
"Syukur deh kalau udah taubat," sahut Ratih.
Plak!
"Oma," pekik William sambil mengusap lengannya.
"Salah siapa nakal!"
Semua orang mentertawakan tingkah William dan Ratih.
"Bahas apa sih? kayaknya seru banget." Willmar datang bersama sang istri.
"Lho, kok kalian pakai baju santai? Bukannya masih hari Jumat ya? Nggak kerja?" Sultan menatap anak-anaknya bergantian, menyadari hanya dirinya yang berpakaian formal.
"Kami sengaja cuti Pa biar bisa ikut nemenin Kak Cinta cek kandungan," jawab si bungsu Willmar.
"Ooh."
"Kak Cintanya mana Kak?" tanya Raisa pada William.
"Masih tidur, nanti aku bangunin pas mau berangkat aja. Semalaman dia nggak bisa tidur."
"Hm, kasihan ..."
Sarapan bersama pun berlangsung dengan khidmat diiringi dentingan peralatan makan. Selepas acara itu usai, William kembali ke kamarnya dengan nampan di tangan.
Sekembalinya William ke kamar, ternyata istrinya sudah rapi mengenakan denim dress model sabrina. Surai panjangnya dia ikat tinggi menyerupai ekor kuda.
"Sayang ..."
"Kok kamu nggak bangunin aku Mas," protes Cinta.
__ADS_1
"Nggak tega. Kamu baru bisa tidur aja udah mau pagi."
"Malu ih, masa menantu, numpang bangun kesiangan."
"Mereka nggak ada pikiran kayak gitu Cinta. Mereka paham lah dengan keadaan kamu."
"Tetap aja Mas aku nggak enak."
"Udah nggak apa-apa. Sarapannya dihabiskan ya, aku mau cek kerjaan dulu sebentar."
"Oke." Cinta mengangguk, menyelesaikan riasannya sebelum memakan sarapannya.
Cinta menyusul suaminya yang sedang duduk mengecek pekerjaannya di balkon. Tatapan William terus tertuju pada layar persegi panjang di hadapannya.
"Mas," panggil Cinta. Wanita hamil itu mempercepat langkahnya manakala sang suami tak kunjung menjawab panggilannya.
"Mas, aku panggil kok nggak jawab," ujar Cinta, bibirnya mengerucut membuat William gemas.
"Mas, malah diam."
William masih membeku di tempatnya.
"Mas aku ngomong sama kamu lho. Aku pengen disuapi sama kamu," rengek Cinta dengan gayanya yang manja.
'Astaga Cinta ...' batin William menjerit.
"Mas, ih. Ayo suapin aku."
"Iy ... Iya Sayang, sebentar ya. Duduk dulu," kata William.
"Aku maunya sekarang Mas." dengan cepat wanita itu mengecup pipi suaminya.
"Cin ..."
Cup.
Sekali lagi Cinta mencuri ciuman bibir William meskipun sekilas. Wanita itu terus menggoda suaminya.
"Kalau nggak mau suapin aku, nanti malam nggak ada jat ..."
"Sssttt!" belum sempat Cinta melanjutkan ucapannya, telunjuk William telah terparkir manis di bibir Cinta. "Mas lagi ada rapat melalui video conference, Sayang."
Mendengar bisikan William membuat tubuh Cinta membeku seketika. Dengan posisinya yang membelakangi laptop tepat berhadapan dengan suaminya, pastilah orang mengira dia dan William tengah berciuman.
"Ya ampun, kenapa nggak bilang dari tadi Mas," ujar Cinta, menahan malu.
"Udah terlanjur," kata William, masih sambil berbisik.
"Terus gimana dong?"
"Turun aja pelan-pelan, jangan lihat ke arah laptop dan duduk manis. Tunggu aku di sana ya, sepuluh menit lagi pekerjaanku selesai."
William sengaja tak menyahut panggilan istrinya karena sedang terlibat pembicaraan penting pada rapat itu tadi, tapi kemudian apa yang dilakukan Cinta malah membuatnya malu sekaligus bahagia. Istrinya telah kembali ceria, Cinta bahkan tak lagi malu bermanja padanya.
Cinta menurunkan satu kakinya perlahan, seperti saran suaminya, Cinta sama sekali tak berani menatap ke arah laptop dan berjalan pelan menuju kursi malas di tepi balkon.
William menghembuskan napas lega, tapi begitu dia menatap ke arah laptop, ia tak bisa menahan diri lagi. Tawa William meledak saat melihat pada layar, anggota dewan yang sedang melakukan rapat video itu menutup mata masing-masing. Mungkin mereka berpikir telah terjadi sesuatu yang pantas dan untuk menjaga privasi William, mereka memutuskan untuk menutup mata.
Tawa William makin menjadi-jadi, terlebih saat melihat reaksi Cinta. Semburat merah di pipi wanita itu mampu mewakilkan perasaan Cinta saat ini, dan itu membuat perasaan William berbunga-bunga.
Bersambung ....
__ADS_1