
Pagi itu, seperti biasanya Hanum akan menghabiskan waktu hampir berjam-jam lamanya di dalam kamar mandi. Perutnya masih bergejolak padahal dia merasa sudah menguras habis seluruh isinya, sampai keluar cairan pekat yang meninggalkan sensasi pahit di kerongkongan juga mulutnya.
Mendengar suara berisik yang berasal dari kamar mandi membuat Sultan harus mengakhiri pengembaraannya di alam mimpi. Perlahan dia bangkit menuju arah sumber suara sambil mengucek matanya.
"Sayang ... mual lagi?" suaranya terdengar serak. Meraih tisu yang berada di samping wastafel untuk menyeka peluh yang membasahi kening istrinya.
"Hm ... kali ini rasanya lain dari biasanya."
"Eh." Sultan menatap bola mata Hanum yang mirip kacang almond. "Apa kali ini disertai dengan rasa sakit?" tanyanya cemas. "Bagian mana yang sakit? apa perlu kita ke dokter?"
"Tidak, hanya mual saja, tapi rasanya pagi ini lebih dahsyat dari kemarin."
"Ya sudah biar aku bantu." Sultan menggotong tubuh Hanum dan membawanya menuju tempat tidur. "Kau wangi sekali," ucap Sultan, berada dalam jarak yang sangat dekat seperti itu membuatnya bisa menghirup aroma tubuh Hanum dengan wangi stroberi yang menyegarkan.
"Tentu saja, aku kan sudah mandi, rambutku juga masih basah," kata Hanum sambil menunjukkan gulungan handuk kecil yang membungkus kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu, aku mandi dulu. Nanti aku buatkan susu untukmu sekalian kita turun untuk sarapan."
"Hm." gadis itu mengangguk.
Begitu melihat suaminya telah menutup pintu kamar mandi, Hanum kembali bangkit dari tidurnya setelah tadi Sultan membaringkannya di atas kasur.
Berjalan pelan menuju ruang ganti, membuka lemari dan mulai memilih baju ganti untuk dia pakai. Melihat deretan baju yang tergantung di sana, pilihannya jatuh pada sebuah mini dress berwarna kuning cerah dengan motif polkadot. Tak butuh waktu lama untuknya memakai baju tersebut, sekarang dia beralih untuk menyiapkan kemeja kerja suaminya. Dengan cekatan diambilnya satu stel pakaian kerja Sultan lengkap dengan dasi dan jas dengan warna senada, terakhir dia mengambil sepatu juga kaos kaki.
Hanum meletakkan semua keperluan suaminya di atas kasur kemudian dia duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya. Belum juga Hanum menyalakan hair dryer ketika dia mendengar ponselnya berdering. Rasa penasaran membuat tangannya segera terulur untuk meraih benda pipih tersebut, senyum terkembang di bibirnya begitu melihat nama si penelpon di layar ponsel.
"Kenapa Jeng? Bening nggak rewel lagi kan?" tanyanya begitu telepon tersambung.
"Enggak Num, aku telpon kamu bukan mau ngomongin soal Bening."
"Lalu?"
"Kak Metha semalam menelponku, dia bilang kangen, mau buat reuni kecil-kecilan katanya, kebetulan suaminya sedang ambil cuti. Kamu ada acara tidak hari ini?"
"Enggak ada sih, palingan nanti habis sarapan mesti ke bandara mengantar Mami sama Papi."
"Jadi mertuamu mau pulang ke Semarang?" tanya Ajeng di balik telpon.
"Iya, kebetulan dapat jadwal penerbangan pagi makanya nanti aku sama Mas Sultan mau antar mereka ke bandara."
"Jadi kamu bisa ikut apa tidak kira-kira?"
__ADS_1
"Habis antar Mami palingan juga aku di rumah nggak ngapa-ngapain, tapi nanti aku coba minta izin dulu sama Mas Sultan ya? takutnya nggak di kasih izin, gara-gara kejadian kemarin itu ...,"
"Ya sudah, nanti kabari aku lagi ya."
"Ya, terus yang lain bagaimana?"
"Ginar tidak bisa ikut karena katanya siang ini dia harus menemani calon pengantin untuk melakukan foto prewedding. Disha sudah bilang sama suaminya dan katanya sudah diberi lampu hijau, tinggal nunggu keputusan dari kamu, mau ikut atau tidak."
"Ya sudah, nanti aku langsung kasih kabar boleh tidaknya aku pergi ya, begitu aku bilang sama Mas Sultan."
"OK, see you."
Hanum meletakkan ponselnya kembali ke tempat semula.
"Minta izin untuk apa?"
Hanum terkejut begitu mendengar suara suaminya, entah sejak kapan pria itu sudah berdiri di belakang Hanum dengan tubuh yang hanya terbalut handuk.
Hanum membalikkan badannya.
"Oh ... kamu sudah selesai mandi?"
"Kak Metha, dia ...,"
"Dia kenapa?" tanya Sultan begitu tak sabar.
"Ish! aku belum selesai bicara."
"Ya ... iya ... lanjutkan!"
"Itu ... katanya Kak Metha mau bikin reuni kecil-kecilan, kan sudah lama juga kami tidak berkumpul, mumpung suaminya sedang cuti katanya."
"Terus kamu mau ikut?" netra coklat Sultan terus menyoroti wajah istrinya.
Butuh waktu sekitar satu menit hingga akhirnya Hanum membuka mulutnya.
"Ya ... ya kalau misalnya Mas mengizinkan," ucap Hanum tersendat.
"Kalau aku tidak kasih izin?" Sultan bisa melihat perubahan raut wajah Hanum ketika dia mengucapkan kata-kata tersebut.
Pria itu menghentikan aktivitasnya mengancing kemejanya untuk kemudian mendekati Hanum.
__ADS_1
"Kejadian kemarin itu benar-benar mengerikan bagiku, aku sama sekali tidak masalah jika kamu mau bepergian, silahkan. Tapi ... aku tidak mau kalau sampai kejadian buruk seperti itu terulang lagi, aku tidak mau mengambil resiko yang akan membuatmu dalam bahaya." melihat Hanum makin menundukkan kepalanya, memperlihatkan raut wajah kecewa jika keinginannya tak terpenuhi, membuat Sultan menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Kemudian pria itu sedikit membungkukkan badannya, mensejajarkan diri dengan tubuh istrinya.
"Siapa yang akan memberikan jaminan keselamatanmu jika kamu pergi?" lirih Sultan.
Hanum menggeleng pelan.
"Kalau begitu hanya ada dua pilihan, jika kamu benar-benar ingin pergi dengan teman-temanmu, kau harus memilih satu dari dua pilihan yang aku berikan padamu."
"Apa?"
"Pilihan pertama, kamu harus mengajakku ikut serta denganmu, bawa aku kemana pun kamu pergi." ucapan Sultan sukses membuat istrinya terbelalak seolah tak percaya, namun di tanggapi biasa saja oleh Sultan.
"Opsi kedua?" tanya Hanum.
"Pilihan kedua, aku tetap berada di kantor sementara kamu boleh pergi bebas kemana pun kamu mau tapi ...," Sultan menggantung kalimatnya dan itu membuat Hanum geram bukan main.
"Tapi apa? bicara jangan setengah-setengah begitu."
"Kamu bisa pergi dengan di kawal dua orang bodyguard yang aku sewa untuk menjagamu."
"Ngawur kamu Mas, bicaramu itu seakan-akan aku orang penting saja. Masa iya hanya untuk bertemu dengan teman-temanku saja sampai harus di kawal bodyguard. Ini sama sekali tidak lucu," cebik Hanum.
"Karena ini memang bukan lelucon, dan siapa yang bilang kalau kamu itu tidak penting? aku tersinggung jika kau berkata seperti itu. Dalam hidupku, kau adalah yang terpenting, kau segala-galanya bagiku. Aku sangat mencintaimu bahkan melebihi rasa cinta pada diriku sendiri."
"Ya tapi masa mesti pakai bodyguard segala sih Mas," rengek Hanum.
"Aku hanya mencemaskanmu saja, Sayang. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu dan juga calon anak kita."
"Ya tapi kan ...,"
"Sekarang tinggal pilih, kamu mau pergi tapi ikut aturan mainku atau mau tetap tinggal di rumah?"
Hah ... dasar! ternyata pria yang aku nikahi selama hampir dua tahun ini memiliki sifat keras kepala juga.
"Bagaimana?" tanya Sultan karena tak kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
Sementara Hanum terlihat masih berpikir, dia sampai menggelengkan kepalanya beberapa kali karena ketakutan dengan gambaran yang nantinya akan terjadi jika dia benar-benar pergi dengan di kawal dua orang bodyguard yang di sewa suaminya. Membayangkannya saja sudah membuat Hanum merasa malu, apalagi jika itu benar-benar menjadi kenyataan? tapi untuk mengajak suaminya pun rasanya tidak mungkin. Akan seperti apa jadinya reuni yang dia bayangkan akan menjadi pertemuan yang sangat manis dengan teman-temannya itu jika ditambah dengan kehadiran Sultan di tengah-tengah mereka.
.
__ADS_1