Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Awal Petaka


__ADS_3

Sinar matahari membias kaca jendela kamar Cinta. Gadis itu mengucek matanya, melirik jam yang menggantung di dinding. Beralih menuju ruang di sampingnya yang masih kosong, menandakan jika William tak pulang.


Gegas Cinta membersihkan diri agar bisa segera melakukan pekerjaan lainnya. Kebetulan Bik Nur minta izin karena anaknya sedang sakit, kemungkinan wanita itu akan izin beberapa hari ke depan.


Menyiapkan sarapan, membereskan rumah, menyapu, mengepel dan semua pekerjaan lainnya. Hingga pukul tujuh pagi, lelaki itu tak kunjung pulang.


Di rumah sakit.


Willmar tiba di rumah sakit tepat pukul sebelas malam. Dia meminta saudara kembarnya untuk pulang, akan tetapi William bersikeras tetap di sana. Lelaki itu ikut larut dalam kebahagiaan adik kembarnya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


"Kakak nggak pulang? Udah siang, kasihan Kak Cinta," ujar Willmar.


"Iya Kak, aku nggak apa-apa kok, lagian udah ada suamiku yang jagain aku," Raisa ikut menimpali.


Sultan dan Hanum tengah pergi untuk sarapan di kantin. Sepasang suami istri itu langsung meluncur ke rumah sakit begitu William mengabarkan berita bahagia itu.


"Iya ini aku juga mau pulang kok. Jagain Rai ya Dek, temui dokter kandungannya nanti karena dia bilang ada yang perlu dibicarakan denganmu."


"Ya Kak. Makasih ya udah rela nginep jagain istriku."


"Iya. Aku pulang," pamit William.


Lelaki itu berjalan lesu menyusuri koridor rumah sakit. Angannya terus melayang membayangkan buah hati yang tengah dikandung Raisa. Jika lahir nanti, sudah pasti dia akan sangat menyayangi anak itu.


.


.


Hari terus berlalu, berganti minggu, berganti bulan. 


Semenjak kejadian itu, baik William maupun Cinta tak pernah membahasnya lagi. Bagi Cinta sudah cukup, toh Raisa sudah berjanji untuk akan menjaga jarak dengan suaminya.


Namun, sepertinya Cinta terlalu naif. Seperti malam ini saja misalnya, William masih betah di rumah Raisa usai membawakan satu kantong mangga muda yang dipesan gadis itu. Baru pada jam sepuluh William kembali ke rumahnya.


William merangsak naik ke atas kasurnya usai membersihkan diri.


"Tadi Mama telepon, katanya kita disuruh bantu-bantu acara empat bulanan Raisa. Mama sama Oma sudah menyiapkan acara syukuran di sana," beritahu Cinta.


"Jam berapa acaranya?"


"Jam sepuluh, tapi setidaknya kita harus sampai lebih awal untuk membantu menyiapkan acaranya."


"Baiklah," jawab lelaki itu singkat.


Begitulah, semenjak William tahu Raisa tengah hamil, Cinta merasa semakin tak mengenali suaminya. Cinta mencoba untuk bertahan, setidaknya sampai ada kejelasan dari mulut lelaki itu.


Akan ke mana bahtera ini berlayar, terkadang Cinta merasa putus asa.


Keesokan harinya.


Gumpalan awan hitam berarak di langit, lama kelamaan runtuh menjadi titik-titik air. Sesekali terdengar petir yang saling bersahutan. Padahal hari masih sangat pagi, akan tetapi hujan sudah turun dengan derasnya.


William duduk di depan kemudi dengan Cinta di sebelahnya, sementara saudara kembar beserta istrinya duduk di jok belakang.


"Masih pagi hujannya udah deres banget ya Will, mana petirnya menakutkan lagi," cetus Raisa. Gadis berbalut baju panjang warna putih gading itu terus bergelayut manja pada suaminya.


"Ada jaket kalau kau kedinginan," William menimpali.


Cinta mengepalkan tangannya, dia benar-benar tak dianggap oleh suaminya sendiri. Sekuat tenaga dia berusaha menahan tangisnya.

__ADS_1


"Aku lebih suka selimut hidup Kak," ejek Raisa.


Willmar terkekeh, lelaki itu semakin menenggelamkan kepala Raisa di dadanya.


Mobil terus melaju menembus genangan air yang mulai naik ke jalanan. Setelah bergelut dengan kemacetan dan hujan deras, sampai juga mobil itu di pelataran rumah Hanum.


William mematikan mesin mobil, lalu dengan cepat meraih payung.


Awalnya Cinta mengira sang suami akan memayunginya untuk masuk ke dalam, tapi dugaannya terpatahkan saat lelaki bergelar suaminya itu lebih memilih untuk membawa Raisa terlebih dulu.


Sakit.


Tak ada yang lebih menyakitkan dari pada ini, sepanjang Cinta hidup bersama William. Dari jendela dapat dia lihat Raisa bergelayut manja di bahu William ketika dua orang itu berada di bawah payung yang sama. Usai William mengantar Willmar, baru yang terakhir Cinta.


"Oh, ayo anak-anak Mama silakan masuk. Acaranya sudah mau dimulai. Cinta, Ibumu juga ada di dalam," beritahu Hanum.


"Mama juga undang Ibu?" Tanya gadis itu tak percaya.


"Iya, ayo masuk."


Mereka saling bersalaman dengan tamu, satu sama lain. Untuk sejenak Cinta dapat melupakan kesedihannya dengan hadirnya sang ibu.


"Ibu."


"Cinta."


Cinta mencium punggung tangan ibunya, pun dengan William.


Acara syukuran itu berlangsung khidmat meskipun di bawah guyuran hujan deras. Beruntung tepat pada saat puncak acara, hujan sudah mulai reda.


Acara diakhiri dengan jamuan, sampai akhirnya para tamu saling membubarkan diri.


Di ruang utama, menyisakan tamu yang memang berasal dari kerabat dekat saja yang masih sibuk berbincang. 


Raisa menyapukan pandangannya, mencari sosok kembaran suaminya. Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuknya berbicara dengan William.


"Kak, aku mau ngomong sebentar, kamu ada waktu nggak?" 


Cinta sibuk berbicara dengan Tania, begitu juga yang lainnya.


"Memang mau ngomong soal apa?"


"Nggak di sini." Raisa mengayunkan kakinya menuju dapur sementara William mengekorinya.


Pintu dapur menghubungkan dengan taman belakang. Ada kursi di dekat sana yang biasa digunakan untuk melihat keindahan taman.


"Soal apa sih Rai? Kelihatannya serius banget?"


"Bisa nggak mulai sekarang kamu berhenti mempedulikan aku, berhenti kasih perhatian ke aku?"


"Maksud kamu?"


"Aku nggak enak sama Cinta, Kak," kata Raisa.


"Cinta? Emangnya dia ngomong apa sama kamu?"


"Nggak, Cinta nggak ngomong apa-apa sama aku, tapi aku nggak enak Kak sama dia. Aku ngerasa udah jahatin dia. Cinta tuh cinta banget sama kamu Kak, dan perhatian kamu ke aku, sadar atau nggak itu udah nyakitin perasaannya," oceh Raisa.


"Lantas, apa maumu?"

__ADS_1


"Berhenti ngurusin aku, berhenti peduli sama aku, aku juga punya suami Kak. Aku nggak mau orang lain salah paham sama kita. Please, mulai saat ini juga, kit harus jaga jarak."


"Gimana kalau aku nggak mau!" Tegas William.


"Harus mau! Kamu harus bisa Kak."


"Aku nggak bisa, sorry," cicit William.


"Kenapa Kak?"


"Karena aku cinta sama kamu," aku William.


Deg.


Tubuh Raisa menegang. Feeling seorang istri memang tak pernah salah. Pantas saja Cinta sampai memintanya untuk menjaga jarak dengan William. Ternyata memang benar, kakak iparnya itu memendam rasa cinta untuknya.


"Nggak mungkin," tampik Raisa.


"Aku berkata jujur! Aku sudah lama memendam rasa ini padamu, tapi hari di mana Willmar mengatakan ingin meminangmu, hari itu juga aku merasa sangat hancur."


"Kenapa kamu nggak bilang dari awal kak?"


"Dan menghancurkan kebahagiaan adikku, begitu?"


"Dengan mengorbankan Cinta? Melukai gadis yang tak bersalah!" Tuding Raisa, sarkas.


"Aku tidak punya pilihan lain. Aku terpaksa menikahinya hanya demi melihatmu dan Willmar bersatu."


Duar!


Hanum membekap mulutnya. Tubuhnya bergetar hebat usai mendengar penuturan putra sulungnya. Dia yang hendak mengambil air minum, dengan sangat terpaksa mendengar semua pengakuan William. Semuanya, tak terkecuali.


Bruk!


Hanum menoleh saat mendengar seseorang terbentur, dan benar saja, sedetik kemudian wanita itu menjerit melihat besannya kesakitan.


"Bu Tania!"


Teko dalam genggaman Hanum jatuh dan hancur berkeping-keping. Wanita itu gegas menolong Tania yang telah tergeletak dengan tubuh mengejang.


William dan Raisa terperanjat. Mereka sama sekali tak percaya kalau ternyata ada orang yang mendengar pembicaraan keduanya.


"Bu Tania. Bangun Bu." Hanum mulai terisak.


"Sa ... Saya kira Nak Willi anak yang baik. Di ... Dia datang padaku dan meminta izin un ... Untuk menikahi putriku, saya tak menyangka, dia ha ... Hanya menjadikan Cinta sebagai pelarian saja. Sa ... Saya kec ... Kecewa, saya tidak akan pernah memaafkannya."


Usai mengatakan itu, tangan Tania terkulai. William memeriksa denyut nadi ibu mertuanya, lalu di detik yang sama lelaki itu menggeleng.


"Tidak! Bu Tania pasti masih hidup," Hanum meraung.


Kegaduhan yang terjadi di sana membuat orang-orang penasaran. Semua orang sudah berkumpul mengitari Hanum yang tengah duduk di lantai sambil memangku kepala besannya.


Cinta membeku di tempatnya. Kristal bening terus berjatuhan tanpa bisa dia bendung.


"Ibu," lirihnya hampir tak terdengar.


"Ikhlaskan Ibumu, Sayang. Dia sudah nggak ada." Hanum tak kuasa menahan tangisnya. Tubuhnya bergetar hebat.


Cinta merasa dunianya menjadi gelap, pandangannya buram, sepersekian detik, tubuh itu pun ambruk mencumbu dinginnya lantai.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2