Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Nomor tak di kenal.


__ADS_3

Matahari mulai keluar dari peraduannya, menampakkan sinar jingga yang begitu cantik di ufuk timur. Sisa-sisa embun menetes di dedaunan, kicau burung pun semakin menambah semarak simfoni di pagi hari.


Tak seperti biasanya, pagi ini rasanya Hanum enggan sekali turun dari tempat tidurnya. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi dan Hanum masih bergelung dengan selimutnya.


Ceklak.


Sultan terlihat lebih segar setelah membersihkan diri, hanya selembar handuk yang terlilit dari pinggang hingga sebatas lutut yang dia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Sementara handuk kecil yang terlampir di lehernya ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah.


"Sayang, tumben masih belum bangun juga. Apa kamu sakit?" Sultan duduk di bibir ranjang, menggunakan tangan kanannya dia menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya.


"Eumh ...." Hanum menggeliatkan tubuhnya. "Kau sudah bangun?" tanyanya sambil mengucek mata.


"Jelas, masa sudah tampan dan wangi begini dikira belum mandi."


Hanum masih berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya setelah sebelumnya berada di alam mimpi  dalam waktu cukup lama. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya, terang saja, suaminya itu masih bertelanj*ng dada.


"Ya sudah, tunggulah sebentar biar aku ambilkan pakaianmu."


Hanum menyibakkan selimutnya hendak menuju ruang ganti.


"Tidak perlu, aku bisa mengambil baju dan juga semua keperluanku sendiri. Tidur lagi saja jika kamu memang masih mengantuk."


"Aku sudah tidak mengantuk lagi sekarang, tidur enam jam sudah cukup. Hanya saja, entahlah ... Rasanya aku malas bangun pagi ini," kata Hanum.


"Mungkin karena kemarin kamu terlalu lelah," ucapnya sambil mengusap puncak kepala Hanum. 


Setelah drama menyebalkan yang dibuat oleh Sultan kemarin, malamnya pria itu segera meminta maaf pada Hanum. Menyadari sepenuhnya bahwa letak kesalahan sebenarnya ada padanya, meskipun harus penuh perjuangan untuk mendapatkan maaf dari istrinya itu. 


Memang istri mana yang akan dengan mudah memberikan maaf setelah segala tingkah polah suaminya yang begitu memancing emosi.


"Tapi rencananya siang nanti aku mau berkunjung ke rumah Ajeng, sudah lama aku tidak bermain dengan Bening," pamit Hanum.


"Pergilah, biar nanti aku suruh Pak Dadang untuk mengantarmu. Ajak juga mbak Indah atau Mbak Lastri untuk menemanimu."


"Menemani untuk apa? Di rumah Ajeng nanti juga akan ada banyak orang karena aku dan teman-temanku sudah buat janji."


"Ya memang, tapi tetap ajaklah salah satu dari mereka untuk menjagamu. Atau mau minta ditemani Mbok Darmi?" tawar Sultan.


"Ish, tidak mau! Memangnya aku anak kecil apa?"


"Kau kan sedang hamil."


"Aku hanya sedang hamil, bukan seorang pesakitan. Aku bisa melakukan apa-apa sendiri, lagipula masa hanya ke rumah Ajeng mesti ditemani?"


Sultan menghela nafas panjang, bingung mau menjawab apa jika istrinya telah berkata demikian. Mau menjawab pun rasanya takut salah.


"Jadi, tidak dikasih izin ini?" Hanum mengamati wajah suaminya dengan seksama.


Gadis itu bersorak dalam hatinya, dia hafal betul jika Sultan sudah memasang wajah seperti itu tandanya pria itu sedang dilanda kebingungan, dan sudah bisa dipastikan jawabannya. 


"Mana bisa aku menolak keinginanmu," lirih Sultan.


"Sudah aku duga, kamu tidak akan pernah bisa menang dariku!" cetus Hanum.


"Jangan bangga dulu! mungkin aku memang selalu kalah dalam segala hal darimu tapi jangan lupakan satu hal."


"Apa?"


"Aku adalah pemenang hatimu." 


Sultan terkekeh meninggalkan istrinya yang sedang tersipu malu, menuju ruang ganti untuk bersiap-siap berangkat ke kantor.


.


"Tadi pagi mamimu menghubungi kakek," beritahu Burhan pada cucunya.


Mereka baru saja selesai menyantap sarapan pagi.


"Astaga, sudah lama aku tidak memberinya kabar," cicit Sultan.


"Kau mana punya waktu untuk itu!" sentak Burhan.


"Kakek tahu sendiri sejak kemarin ada saja masalah yang datang. Pekerjaanku di kantor saja sampai menumpuk," keluhnya.


"Itu sebabnya."


"Memang apa yang mami katakan?" tanya Sultan penasaran.


"Mamimu merindukan menantunya." Burhan tertawa di akhir ucapannya.


"Beruntung sekali istriku, ibuku bahkan lebih menyayangi anak menantunya ketimbang anak kandungnya sendiri," dengus Sultan.


"Mamimu juga mengatakan kalau katanya Minggu depan mau kesini."

__ADS_1


"Baguslah, lebih banyak orang yang mengawasi Hanum akan lebih baik."


Hanum mencebikkan bibirnya mendengar suaminya berkata begitu.


"Ya sudah, pergilah ke kantor atau kau akan terlambat nanti!" titah Burhan.


"Tentu saja, bukankah aku harus bertanggungjawab untuk menghidupi wanita yang telah aku nikahi?" Sultan berkelakar.


"Ya ya, sudah sana!" Burhan mengibaskan tangannya.


Hanum bangkit dari duduknya kemudian mengambil tas kerja suaminya.


"Ingat-ingat tadi pesanku!"


Hanum kembali memasang raut wajah masam, ini untuk kesekian kalinya suaminya mengulang perkataan yang sama. 


Dia hanya ingin berkunjung ke rumah temannya tapi suaminya bersikap berlebihan seolah dia hendak pergi ke medan perang saja.


"Jangan lupa untuk ...,"


"Selalu mengirimkan pesan padamu." Hanum memotong perkataan suaminya, dia sampai hafal kata-kata yang akan diucapkan oleh Sultan selanjutnya.


"Anak manis." 


Sultan mengusap rambut panjang Hanum yang mencapai bahu, menyelipkan sebuah kecupan ringan di kening gadis itu kemudian masuk ke dalam mobil begitu Hanum selesai mencium punggung tangannya.


.


Seperti yang sudah Hanum katakan pada suaminya pagi tadi, begitu jarum jam menunjukkan pukul sembilan, dia pun berpamitan pada sang kakek.  


Kini Hanum sedang dalam perjalanan menuju rumah Ajeng. Dia dan Disha sudah janjian mau berkumpul bersama di rumah temannya itu. Metha yang biasanya selalu hadir dalam setiap reuni kecil-kecilan mereka, tak bisa datang kali ini karena sedang mengikuti suaminya dinas di luar kota. Sementara Ginar, dia pun sama, sedang berada di luar kota, ada pernikahan klien yang sedang berlangsung di Bandung.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan, tibalah mereka di pelataran rumah Ajeng. Pak Dadang segera membukakan pintu untuk majikannya, dilihatnya Hanum sudah tak sabar untuk bertemu dengan teman-temannya.


"Pak Dadang pulang saja dulu, saya akan lama disini. Nanti saya hubungi lagi kalau sudah mau pulang," pesan Hanum pada supir pribadinya.


"Baik, Non."


Hanum bergegas masuk ke dalam begitu mobil yang di kendarai oleh pak Dadang mulai bergerak meninggalkan halaman rumah Ajeng.


Dan begitu pintu terbuka, seketika ruangan tersebut dipenuhi dengan teriakan Ajeng juga Disha yang ternyata sudah lebih dulu sampai di sana.


"Kapan terakhir kali kita berkumpul ya? Huh, aku sampai lupa."


"Sudah lama sekali, Num. Sejak hari dimana kamu diculik oleh wanita siluman itu," sambung Disha.


Hanum duduk di sofa panjang yang dipisahkan sebuah meja kaca yang membentang ditengahnya.


"Baik, dia sudah semakin aktif di dalam." Disha mengelus perutnya. "Kudengar kedua bayimu berjenis kelamin laki-laki?"


"Hm." Hanum mengangguk.


"Kau pasti terkadang merasakan kesakitan jika bayimu menendang ya? Aku saja yang mengandung satu bayi perempuan, kadang-kadang merasa sangat kesakitan apalagi kamu."


"Ya, pertama kali aku merasakan mereka menendang perutku juga aku sampai memecahkan mangkuk," imbuh Hanum.


Tawa ketiganya pun riuh memenuhi ruangan itu.


Usia kandungan antara Hanum dan Disha memang hanya berjarak sekitar dua Minggu saja. Perut kedua wanita itu pun sudah sama-sama membuncit tapi memang perut Hanum lah yang terlihat lebih besar mengingat dia mengandung bayi kembar.


Ketiga wanita itu pun mulai bercerita panjang lebar tentang kehidupan rumah tangganya masing-masing.


Bisa dibayangkan akan segaduh apa rumah Ajeng jika wanita itu dan juga teman-temannya berkumpul. Ketiganya masih terus bercengkerama sambil sesekali diselipi candaan yang seolah tak ada habisnya.


.


"Apa semalam kau begadang lagi?" tanya Raka pada teman sekaligus atasannya itu. 


Sejak keluar dari ruang rapat dia terus melihat Sultan yang sedari tadi terus memijit pelipisnya.


"Tidak juga," jawab Sultan acuh.


"Sejak tadi aku perhatikan kamu terus memijit keningmu, aku pikir kamu lembur pribadi sama istrimu." Raka terkekeh.


"Memang kau pikir aku seganas itu apa sampai menggauli istriku tiap malam?" cebik Sultan. "Kepalaku pusing karena terus melihat grafik perusahaan yang ... Kenapa bisa menjadi ruwet begini? astaga!" Sultan mengendurkan dasi yang melingkar di lehernya.


"Jangan menanyakan soal itu padaku, memang kau bikir siapa tersangka utama yang membuat grafik perusahaan menjadi seperti itu, hah?" seru Raka.


"Sungguh, kepalaku rasanya hampir meledak." Sultan menyugar rambutnya kasar. "Kebanyakan orang berpikir pekerjaan menjadi seorang pemimpin perusahaan adalah hal yang mudah, padahal itu sama sekali tidak benar. Mereka bahkan bisa berakhir di rumah sakit jiwa jika tidak memiliki keyakinan yang kuat dalam dirinya. Aku saja takut, memikirkan pekerjaan yang menggunung yang seolah tidak ada habisnya. Takut kepalaku botak padahal aku masih muda, baru juga mau punya anak," oceh Sultan.


"Nikmati saja, ini sudah menjadi pilihan hidupmu sejak awal kan, menjadi seorang pengusaha. Ini semua juga berkat kerja kerasmu hingga perusahaan ini maju dan berkembang pesat sekarang jadi nikmatilah hasil kerja kerasmu selama ini," timpal Raka.


"Bagaimana aku bisa menikmatinya sementara waktuku saja aku habiskan untuk mengurus pekerjaan kantor yang seakan tidak ada habisnya? Aku bahkan masih harus bekerja dari rumah setelah pulang dari kantor." Sultan terus menggerutu.

__ADS_1


"Memang kau pikir aku bisa santai-santai setelah pulang dari kantor apa? Kita ini tak jauh berbeda, rugi kalau dipikir-pikir punya istri cantik tapi bukannya bercumbu dengan sang istri, malahan bercumbu dengan tumpukan kertas sial*n dan juga laptop." Raka tak kalah kesal dari temannya. "Sepertinya kita harus sering-sering pergi ke tempat spa seperti waktu itu."


"Idemu bagus juga."


"Tentu saja, jadi jangan hanya para istri saja yang bisanya menghabiskan uang. Waktu untuk menghabiskan uang dan memanjakan diri juga harus masuk dalam daftar agenda kita, para kaum suami," celoteh Raka. "Eh, omong-omong bagaimana dengan Adam? Aku belum mengetahui kabarnya setelah malam itu dia mabuk berat?" 


"Dia hanya butuh istirahat saja. Kau tahu sendiri kan sifatnya seperti apa, dia itu selalu menganggap kita ini seperti adik-adiknya. Dia akan begadang semalaman hanya untuk memikirkan solusi jika salah satu dari kita sedang dalam masalah, padahal dia itu tipe orang yang mudah stress," curhat Sultan.


"Ya, itulah yang membuatku merasa nyaman jika bersama dengannya. Jiwa melindungi dan kebapakan dalam diri pria itu membuat siapapun akan terkagum-kagum," puji Raka.


Raka menghentikan sejenak ocehannya, dilihatnya ponsel Sultan bergetar. Ditatapnya wajah Sultan seolah bertanya 'siapa yang menelepon'.


"Nomor tak di kenal." Sultan bergeleng pelan. "Kira-kira siapa ya?"


"Mana aku tahu." Raka menggendikan bahunya. 


"Sebaiknya aku angkat atau aku biarkan?" lagi, Sultan bertanya.


"Biarkan saja dulu, jika memang itu adalah sesuatu yang penting pasti dia akan kembali menghubungimu," ucap Raka mengemukakan pendapatnya.


Sultan mengangguk, dia kembali meletakkan benda pipih persegi panjangnya di atas meja. Tak lama kemudian ponselnya berhenti bergetar, menandakan panggilannya telah diakhiri namun sedetik kemudian, benda canggih itu kembali bergetar untuk kedua kalinya.


"Angkat saja! barangkali ada hal penting yang hendak disampaikan oleh si penelepon," tutur Raka yang sempat melihat keraguan di mata sahabatnya.


"Aku takut, kejadian seperti ini telah sering terjadi sebelumnya dan kabar tak enak akan datang membuntutinya," kilah Sultan.


"Akan lebih menakutkan lagi jika kau tidak segera mengangkat teleponnya, bagaimana jika terjadi sesuatu dan ...,"


"Cukup! Kenapa malah kau menakut-nakuti aku, hah?" sentak Sultan.


"Maka dari itu cepatlah kau angkat teleponnya!"


Sultan sebenarnya ragu, dalam hati kecilnya dia sama sekali tidak berminat untuk mengangkat telepon itu terlebih panggilan tersebut berasal dari nomor yang tak di kenalnya.


"Hallo!" sapanya, malas.


Sedetik kemudian raut wajah Sultan berubah menjadi serius. Dia terus terdiam mendengarkan ocehan seseorang di seberang sana.


"Ada apa?" tanya Raka, tak sabar.


Sultan mengangkat tangannya, menahan Raka untuk tidak berbicara sementara waktu sampai dia selesai mendengarkan penjelasan dari seseorang yang saat ini sedang bicara dengannya melalui sambungan telepon.


Raka sangat gusar, di tatapnya lekat wajah Sultan yang raut wajahnya terus berubah-ubah. Terkadang serius, mandadak berubah menjadi pucat dan secepat kilat akan berubah menjadi panik. Tak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu sampai Sultan selesai dengan teleponnya.


Raka menoleh ketika mendengar suara sepatu yang beradu dengan lantai, suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang berlari ke arah ruangan mereka. 


Dan benar saja, Raka hendak berjalan ke arah pintu untuk memeriksa keadaan di luar sampai tiba-tiba ....


Brak! 


Belum sempat tangan Raka sampai pada handle pintu tiba-tiba saja seseorang sudah menyerobot masuk. 


Bersamaan dengan panggilan telepon yang telah berakhir, Sultan pun menoleh, melihat apa yang telah menyebabkan kegaduhan di ruangannya.


"Panjang umur kamu Dam, baru saja kami sedang menceritakan tentangmu dan seperti sulap, kamu langsung sampai didepan kami secepat kilat." Raka pun mempersilahkan temannya masuk.


Sedikit tergopoh Adam masuk ke dalam, matanya terus menatap tajam pada Sultan yang masih duduk terpaku di tempatnya.


Ada banyak hal yang sepertinya sedang berusaha dikatakan oleh masing-masing dari mereka melalui tatapan matanya.


"Tan,"


"Dam,"


Keduanya saling menyebut nama dari temannya secara bersamaan.


"Kalian kompak sekali, sampai menyebut nama saja berbarengan seperti itu," tutur Raka.


Hening.


Raka tertegun, dia hampir melupakan satu hal. Mengenai panggilan masuk dari nomor tak di kenal tadi.


"Oh ya, tadi itu telepon dari siapa?" tanya Raka penasaran.


Sultan masih tak mengalihkan pandangannya dari wajah Adam, dan bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Raka, dia malah bertanya pada Adam yang saat ini berdiri di depan meja kerjanya dengan wajah pias.


"Apa tujuanmu kemari untuk ...,"


"Mauryn," sambar Adam secepat kilat.


"Mauryn?" Raka yang semula duduk santai di sofa pun langsung bangkit dan mendekati titik dimana dua pria masih saling bertatapan. "Ada apa lagi dengannya?" 


Raka menatap kedua temannya bergantian, mereka masih belum juga memberikan jawaban atas rasa penasarannya.

__ADS_1


.


Hai, pembaca setia HanSul 🤗 mau sedikit curhat aku ya. Dari 4000 lebih readers yang membaca tulisanku masa iya yang like gak nyampe 100, ya ampun sedihnya aku 😢 Kemana aja kalian? serius nanya, keknya sayang banget ya jempolnya buat dipake buat ngelike 🤭 tapi ya udah lah, apapun itu aku ucapkan terimakasih banyak karena kalian sudah meluangkan waktu demi membaca tulisanku yang masih amburadul ini. 🙏🙏🙏🥰


__ADS_2