
Cinta bergegas naik ke kasur usai membersihkan diri, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Semua gerakannya dibuat sepelan mungkin, dan hal itu semakin mengundang gairah William ketika lelaki itu melihatnya.
Berpura-pura seolah tak ada apa-apa, Cinta memunggungi suaminya. Bersiap memejamkan mata, mengabaikan William yang sedang tersiksa.
"Cin."
Hening.
"Cinta," panggil William dengan suara berat.
Sebenarnya Cinta mendengar panggilan itu karena dia masih sepenuhnya terjaga, akan tetapi dia masih perlu memberikan pelajaran. Tak masalah jika malam ini dia tak memberikan hak William sebagai seorang suami. Biarkan ikan kelaparan agar mangsa semakin mudah di dapat. Cinta akan terus menarik ulur umpan, setidaknya sampai waktu yang tepat.
Tak lama kemudian, Cinta merasakan ranjangnya bergerak. William turun dari sana dan setengah berlari masuk ke kamar mandi.
"Selamat mandi air dingin Mas, emang enak. Syukurin! Ini baru awal. Akan aku buat kau lebih tersiksa lagi besok," monolog gadis itu.
Pagi harinya.
"Cinta! Saya pakai dasi yang mana!" Teriak William dari dalam ruang ganti.
"Sebentar Mas."
William masih sibuk memilih gulungan dasi yang tertata rapi dalam laci, hingga akhirnya dia merasa tubuhnya panas dingin saat netranya menangkap sosok cantik itu di hadapannya.
Cinta, gadis itu. Tubuh semampainya hanya berbalut handuk yang bahkan tak bisa menutupi sampai lututnya karena terlampau pendek. Bertelanjang kaki dengan rambutnya yang setengah basah, Maha Karya Yang Kuasa terpahat indah di sana. Bahu yang rata, leher jenjang nan mulus dengan kulit seputih susu. Buah dadaa yang menggantung indah dan membusung padat. Oh, jangan lupakan bokong yang menonjol, betis juga kaki jenjangnya. Semua nampak indah di mata William.
Sempurna. Satu kata yang dapat mewakilkan keindahan dalam diri Cinta. Lagi-lagi William dibuat tegang, juniornya mengeras, meronta minta dibebaskan dari sangkar yang mengurungnya.
"Kan sudah saya bilang, Mas sarapan saja dulu, biar nanti saya yang siapkan baju kerja Mas," Cinta menggerutu.
"Saya pikir untuk menghemat waktu."
Cinta meraih selembar kain warna dark silver, lalu mulai melilitkannya di kerah kemeja William. "Kain warna maroon, akan cocok jika disandingkan dengan warna abu tua atau mocca. Lihat, ini pas kan dengan warna kemeja yang Mas pakai," oceh gadis itu dengan tangan terus bergerak membuat simpul.
Di sisi lain. William tengah mati-matian menahan diri. Berulang kali ia menelan ludahnya kelat, jakunnya naik turun. Astaga, William benar-benar dibuat tak berdaya. Dengan jarak sedekat ini, meskipun lelaki itu berusaha keras untuk mengindari menatap daerah terlarang Cinta, tapi tetap saja dia tak bisa berhenti. Fantasi liarnya semakin menggila.
__ADS_1
"Selesai. Sekarang sebaiknya Mas sarapan dulu, saya janji akan cepat berganti baju agar kita dapat sarapan bersama."
William terkesiap.
"Hm, Cinta."
"Ya, ada apa?"
"Boleh tidak aku tidak berangkat ke kantor?"
Cinta membalikkan badannya, ditatapnya lekat wajah lelaki itu, matanya yang memerah. Cinta tahu jika William sudah sangat bergaiirah. Baiklah, Cinta masih harus berpura-pura. Biar lelaki itu merasakan betapa hukuman darinya akan terasa menyiksa. "Mas sakit?"
"Tidak," sanggah William.
"Lalu? Kenapa Mas tidak mau berangkat ke kantor? Besok kan juga hari libur," cetus Cinta.
"Itu ... Sebenarnya ... Saya ...," William tak tahu harus berkata apa. Dia benar-benar frustasi. Bahasa tubuhnya cukup menunjukkan kalau dia sangat menginginkan Cinta akan tetapi bingung bagaimana memulainya, dan Cinta terlihat sangat menikmati saat-saat itu.
"Sudah ya, sebaiknya Mas pergi sarapan. Ada banyak jadwal penting hari ini!" Cinta mendorong tubuh William ke luar dari ruangan itu.
William tak langsung pergi, dia masih berdiri di sana. Satu sisi dia gengsi jika mengatakan terus terang pada Cinta bahwa dia sedang menginginkannya saat ini, tapi sebelah hati dia tak tahan lagi.
Cinta menurunkan handuknya perlahan, lalu dengan gemulainya dia mulai memakai pakaian dalamnya. Bibirnya terus melengkung ke atas. 'Rasakan siksaanku Mas,' batinnya, tersenyum puas. Dia memang sengaja tidak menutup pintu dengan benar agar William dapat melihatnya berganti baju.
Sepanjang perjalanan, William tak bisa fokus dengan jalanan di depannya. Bayangan Cinta yang tanpa busana terus terekam di kepalanya. Sesekali dia melirik, dan seketika gaiirah itu kembali naik ke ubun-ubun. Padahal saat ini Cinta memakai kemeja tertutup juga rok selutut, tapi di mata William, gadis itu seolah sedang telanjaang.
"Cinta, bacakan jadwal saya hari ini!" Titah William begitu dia menduduki kursi kebesarannya.
"Baik Mas, eh ... Pak."
"Kau bebas memanggilku sesukamu Cinta."
Cinta semakin gencar melancarkan aksinya menyiksa William. Terlebih saat lelaki itu menghindari bertatapan dengannya, Cinta tahu William sedang mati-matian menahan diri.
'Kita lihat saja nanti,' Cinta membatin.
__ADS_1
William membuang napas kasar. "berarti rapat penting baru akan dimulai jam sepuluh nanti?" Tanya lelaki itu memastikan.
"Iya Pak." Cinta mengangguk, kembali meletakkan MacBooknya di meja kerja William. Lalu dengan sengaja dia menjatuhkan pulpen suaminya hingga benda itu menggelinding di depannya.
"Ya, jatuh," gumam Cinta. Ia lantas berjongkok untuk mengambil alat tulis tersebut.
Posisi Cinta yang membelakangi William, memberikan akses untuk lelaki itu dapat leluasa melihat betapa menggiurkannya bokongnya. Cinta berbalik, lalu menaikan tubuhnya sambil menyelipkan anak rambutnya di telinga.
Dugaan Cinta benar. William tengah terpana antara ingin menerkam dan juga frustasi. Manik mata lelaki itu sendu, terus memindai tulang selangka Cinta yang serasa mengundangnya untuk mencicipi bagian itu.
"Saya keluar dulu Pak, silakan panggil jika Anda membutuhkan sesuatu," ucap Cinta formal. Biar bagaimanapun, di kantor mereka adalah atasan dan bawahan.
"Cinta."
Baru dua langkah kaki Cinta terayun, panggilan William menginterupsinya. 'Menang banyak, silakan nikmati egomu Mas, kita lihat sampai kapan kau akan bertahan.'
"Ya, Pak. Bapak butuh sesuatu?"
"Iya, cepat kemarilah!" William menjentikkan jarinya.
Tanpa ragu, Cinta pun mendekati suaminya. Gadis itu terkejut bukan main saat dengan cepat William menarik tubuhnya hingga ia terjerembab di atas pangkuan lelaki itu. Wajahnya menubruk dada bidang William. Masih belum menguasai keterkejutannya, Cinta dibuat syok saat William menarik kepalanya dan menciuminya dengan kasar.
'Astaga! Aku pikir singanya kalem, ternyata bisa liar juga.' Cinta meremas kemeja William saat lidah suaminya tak memberikan celah sedikitpun untuknya membalas.
"Apa yang kau lakukan? Buka mulutmu!" Seru William sesaat setelah melepaskan bibirnya. Dia sangat jengkel karena Cinta menutup rapat bibirnya.
Lagi, William membenamkan bibirnya di sana. Namun, tak berapa lama lelaki itu kembali melepaskan bibirnya. "Cinta, sudah kubilang tempo hari, kau harus membalasku jika saya sedang menciummu," geramnya.
William kembali mencium bibir Cinta. Kini lelaki itu semakin liar, dia melakukan seribu satu cara agar Cinta membalas ciumannya, sementara Cinta memejamkan mata. Dalam hatinya bersorak penuh kemenangan, tapi sebisa mungkin dia tetap bersikap wajar.
Dua sejoli itu makin terbuai. William menurunkan bibirnya menuju leher Cinta. Menyesap bagian yang sudah lama ingin dia cicipi, menggigit kecil, mengisaap dan meninggalkan jejak di sana.
"Mas!" Cinta menahan tangan William yang kini sedang melucuti kancing kemejanya.
"Apa?" Saya sudah lama menahannya dan sekarang, tidak lagi. Jangan halangi saya mendapatkan apa yang menjadi hak saya.
__ADS_1
Usai mengatakannya, William kembali menerjang tubuh mungil itu. Bibirnya tak henti menorehkan jejak di leher Cinta, hingga membuat Cinta tak sadar meloloskan desahan yang malah makin memantik gaiirah lelaki itu. Posisi Cinta yang berada dalam pangkuan William jelas menguntungkan lelaki itu karena gerak Cinta terbatas.
Bersambung ....