Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Panas


__ADS_3

William melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah ibu mertuanya. Rasanya dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Cinta. Ada yang harus dia bicarakan.


Sementara itu, di rumah Tania.


Wanita paruh baya yang sedang menyulam itu nampak kaget melihat kepulangannya anaknya tanpa di dampingi suaminya.


"Lho, suamimu mana?"


"Masih ada kerjaan Bu, jadi Cinta memutuskan untuk pulang dulu," dustanya. Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu betapa dia berusaha menghindari lelaki itu.


"Kalian baik-baik saja kan?" 


Cinta merasa tak enak saat sang ibu menatapnya penuh curiga. "Apa maksud pertanyaan Ibu?" 


"Kalian tidak sedang bertengkar kan?"


"Tentu saja tidak, masa pengantin baru berantem," Cinta terus menyangkal. Bukan bermaksud membohongi ibunya, hanya saja dia tak ingin menambah beban pikiran pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


"Syukurlah kalau begitu. Kalau ada masalah, apapun itu, sebaiknya cepat dibicarakan. Agar tidak berlarut-larut dan semakin merembet manjadi masalah besar. Beda pendapat wajar, tapi jangan sampai membuatmu melampaui batasanmu sebagai seorang istri," nasehat Tania.


"Iya Bu. Cinta ngerti."


Tok ... Tok ... Tok.


Cinta memutar anak kunci dan membuka pintu lebar-lebar. Sosok pria yang membuatnya marah, berdiri di sana.


"Lho, Nak Willi sudah pulang? Tadi kata Cinta kamu masih ada kerjaan di kantor," tegur Tania.


"Iya Bu, cepat-cepat saya selesaikan agar saya bisa segera pulang."


"Ya sudah, pergilah mandi, Ibu tunggu kalian di ruang makan ya," ujar Tania, meninggalkan dua insan yang masih saling bungkam itu.


Masih seperti sebelumnya, Cinta tetap menyiapkan segala kebutuhan suaminya, tapi masih dengan mulut terkunci rapat.


"Cinta," William memanggil istrinya.


"Semua yang Bapak perlukan sudah saya siapkan, saya akan mandi di kamar mandi belakang." 


Belum sempat Cinta melangkahkan kakinya, William dengan cepat mencekal tangannya. "Kita perlu bicara."


"Soal apa?"


"Hal yang membuat kita bertengkar seperti ini."


"Kita tidak bisa membahas masalah ini dengan keadaan perut kosong."


Lagi-lagi Cinta menghindar. Gadis itu pandai sekali memberikan jawaban yang dapat dia pakai untuk membungkam William.


Di meja makan.


"Hm, bagaimana masakan Ibu, enak nggak?" Tania menanyai menantunya, pasalnya selama William menginap di sini, dia hanya memakan masakan Cinta.


"Enak Bu," balas William singkat. Dia tidak berbohong, masakan Tania memang enak, tapi entahlah. William merasa tak berselera menghabiskan isi piringnya. Sedari tadi lelaki itu sibuk mencuri pandang pada sang istri yang masih murka padanya.


"Ya sudah, habiskan ya."


William mengangguk. Ayam kecap yang begitu empuk dan lembut, rasanya begitu susah dia telan. Belum lagi melihat cara Cinta menatapnya. Ah, William benar-benar frustasi. Sejak saat itu dia terus bertanya-tanya, jika memang tak ada cinta di hatinya pada gadis itu, untuk apa dia dipusingkan dengan semua ini? Bisa saja dia tak mempermasalahkannya, bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Membiarkan Cinta dengan kemarahannya, tapi tidak. Ada rasa mengganjal di hatinya.


Usai membantu Cinta membereskan meja makan, William memutuskan untuk kembali ke kamar. Pria itu duduk dengan gusar di bibir ranjang, menantikan kehadiran istrinya. Ya, William telah bertekad untuk mendapatkan maaf Cinta. Dia tak akan bisa tenang jika Cinta terus mendiamkannya terlalu lama. Sehari saja sudah terasa sangat menyiksa, pikir William.


Lama menanti, Cinta belum juga memasuki kamarnya. William semakin gelisah. Dia yang tak lagi sanggup menunggu pada akhirnya ke luar dari kamarnya. Menyusul Cinta yang tengah berbincang dengan Tania di ruang tengah.


"Cinta," panggil William.


Kedua wanita itu menoleh ke arah sumber suara.


"Ada apa?" Tanya Cinta, nada suaranya sungguh enak didengar.


"Cinta, nggak boleh gitu sama suami. Kalau dia panggil, kamu harus datang. Masuklah! Sudah malam, Ibu juga mau tidur." Usai mengatakan hal itu, Tania bangkit dari kursinya.

__ADS_1


Cinta membuang napas panjang. Memutar bola matanya jengah lalu bergegas memasuki kamarnya. 


"Cinta, kita perlu bicara," ujar William.


"Soal apa Mas?" Gadis itu membaringkan tubuhnya.


"Jujur sama saya, kamu marah kan sama saya!" Tuding William.


Cinta terdiam sejenak, tapi kemudian dia memberanikan diri untuk angkat bicara. "Kalau saya marah, memangnya kenapa? Toh Mas juga nggak peduli sekalipun saya marah."


William terpekur di tempatnya, berarti dugaannya benar, Cinta memang marah padanya.


"Baiklah, saya minta maaf."


"Sudah saya maafkan," balas Cinta. Keduanya saling berbincang dengan posisi Cinta yang memunggungi William, sementara lelaki itu duduk di sofa.


"Tolong, berhenti mengabaikan saya."


"Memangnya kenapa?"


"Karena saya suami kamu?"


"Lantas saya harus bagaimana? Mas mengabaikan saya kemarin, dan sekarang saya mengabaikan Mas. Kita impas, kenapa Mas marah?"


William berjalan menuju kasur dan mengambil posisi di samping gadis itu. "Cinta, hei! Dengar. Saya sungguh-sungguh ingin meminta maaf padamu," ucapnya sambil membelai puncak kepala Cinta.


Tak ada jawaban dari bibir Cinta, tapi tak lama kemudian William dapat mendengar isak tangis tertahan. Cinta tak sanggup lagi menahan diri hingga akhirnya dia menangis.


"Cinta." 


"Empat jam. Empat jam saya nungguin kamu Mas! Dan kamu malah asyik menunggui perempuan lain. Saya seperti orang bodoh yang berharap suaminya datang, tapi apa? Dia malah lupa telah meninggalkan saya."


"Cinta, berapa kali harus saya bilang? Saya hanya menganggapnya ..."


"Adik!" Sambar Cinta. "Saya tahu itu, tapi tidakkah Mas memikirkan perasaanku? Sudah ada suaminya yang menunggu di sana, sementara saya ... Saya sendirian, menunggu untuk waktu yang lama seperti orang bodoh."


"Saya minta maaf. Saya janji akan mengingat kejadian itu agar tak terulang lagi."


"Cinta ..."


"Kenapa? Saya benar kan?"


William terdiam, dia sudah semakin terpojok sekarang. Lantas, jawaban apa yang bisa dia berikan?


.


.


Setelah pertikaian kecil yang terjadi semalam, Cinta masih bertahan dengan sikapnya, tetap diam saat melayani kebutuhan suaminya. Sementara William semakin merasa tersiksa. Pun ketika di kantor, Cinta hanya berkata padanya jika itu bersifat penting dan mendesak. Tak jarang mereka berada dalam jarak sangat dekat, akan tetapi William malah merasakan gadis itu semakin menjauhinya.


Jarum jam menunjukkan angka  setengah dua belas saat William baru saja mengakhiri rapat penting. Kini dia dan Cinta sedang berada di dalam alat angkut menuju lantai ruang kerjanya.


Tak ada banyak orang di sana, hanya ada William, Cinta dan dua orang berjas yang kebetulan hendak turun di lantai yang sama dengan mereka.


Cinta sempat menangkap dengan ekor matanya saat lelaki yang berada di dekatnya itu terus menatap ke arahnya. Awalnya dia tak ambil pusing, tapi lama-kelamaan dia merasa risih.


"Maaf," ucap Cinta sopan seraya menundukkan kepalanya, meminta agar lelaki itu tak lagi menatapnya.


"Kamu Cinta kan? Clarissa Cinta Kirani?"


William menoleh, menyadari seseorang mengajak bicara istrinya.


"Iya, siapa ya?" Cinta memindai wajah lelaki di hadapannya. Rasanya sangat familiar, akan tetapi dia tidak begitu mengingatnya.


"Azka. Azka Bagus Pradana, ingat nggak?"


Cinta terlihat berpikir sejenak, ia berusaha mengingat nama itu, lalu sedetik kemudian suasana dalam lift mendadak ramai.


"Azka yang dulu suka jahilin cewek-cewek cantik," Cinta menyeletuk.

__ADS_1


"Ah, kamu nggak asyik! Masa yang diingat cuma yang buruk. Azka versi baiknya kamu lupakan," lelaki bernama Azka itu mencebik.


Keduanya lalu tertawa bersamaan.


"Eh, by the way ... Kamu makin cantik aja sih? Makin dewasa malah makin menantang, kamu kerja di sini?"


"Iya, kamu sendiri?"


"Biasalah, ketemu klien. Oh ya, minta nomor ponsel dong, biar gampang kalau mau ajak kamu makan malam."


"Oh, boleh." Merogoh saku roknya dan menyodorkan ponselnya pada Azka.


William yang sejak tadi diam mendengarkan percakapan mereka merasa panas. Dia sama sekali tak menyangka jika gadis yang dianggapnya pendiam itu ternyata sangat ceria dan pandai mencairkan suasana. Kedua insan itu terus tertawa, tanpa Cinta sadari jika William sedang menatapnya kesal.


"Gimana kabar Ibu?"


"Baik," balas Cinta.


"Rumahmu masih di sana kan? Lain kali aku mampir, mau ketemu calon mertua," canda Azka.


"Bisa aja kamu bercandanya."


"Ya mau gimana lagi, kalau serius takutnya kamu yang nggak mau." Lagi, tawa keduanya pecah. 


Lift terbuka, orang-orang mulai keluar. 


"Sudah dulu ya, aku harus kerja, biar bisa halalin kamu." Masih dengan tingkah konyolnya, Azka kembali menggoda Cinta.


"Terus ... Bercanda aja terus," Cinta mencebik.


"Emangnya kalau aku serius, kamu mau?"


William mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menahan amarah yang kian berkobar. Dia sendiri tak tahu kenapa dia bisa semarah itu, yang jelas William tak suka melihat kedekatan istrinya dengan lelaki lain.


"Cinta! Kau bisa lebih cepat lagi? Kita masih punya banyak pekerjaan!" Seru William. Sengaja dia meninggikan volume suaranya, mengusir Azka secara halus.


"Buset, bos kamu galak amat," ucap Azka setengah berbisik. Tubuhnya yang cukup dekat dengan Cinta malah membuat William semakin meradang.


"Aku pergi dulu ya, sebelum bos kamu itu akan menelanku hidup-hidup."


"Ya, semangat!" 


Setelah Azka tak lagi terlihat, William langsung menyeret Cinta ke dalam ruang kerjanya.


Lelaki itu mendorong tubuh Cinta dia daun pintu, tatapannya begitu tajam seolah hendak menguliti Cinta.


"Siapa lelaki itu?"


Cinta dapat merasakan aroma mint yang menguar dari mulut lelaki itu karena wajah William berada tepat di depan wajahnya. "Jawab aku! Kenapa diam?"


"Teman saya," Cinta menjawab tanpa berniat melihat suaminya sedikitpun.


"Teman? Seakrab itu?"


"Memangnya kenapa? Ada yang salah?"


"Tentu saja salah!"


"Di mana letak kesalahanku?"


"Kamu tidak boleh berdekatan dengannya!" Putus William.


"Kenapa tidak boleh?" Mulut Cinta rasanya gatal jika tidak membalas ucapan lelaki itu.


"Sekali saya bilang tidak ya tidak!" Tegas lelaki itu.


"Aneh," gumam Cinta.


Gadis itu terkejut bukan main saat dengan cepat William meraih dagunya. Sepersekian detik, Cinta merasakan sesuatu yang dingin terasa menyentuh bibirnya. Bukan sekedar menempel, Cinta bahkan dapat merasakan bibirnya dihiisap dengan sangat kuat.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2