Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Pertemuan


__ADS_3

"Ya Tuhan, Dek. Gimana ceritanya Mama bisa sampai pingsan?" Tanya Sultan begitu pria itu sampai di bangsal rawat istrinya.


"Mama ... Kami ..." Willmar terbata, dia kesulitan memilih kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang baru saja terjadi.


Begitu Hanum pingsan, wanita itu langsung diberi penanganan khusus oleh dokter, sementara Raisa langsung menghubungi ayah mertuanya.


"Bicara yang jelas Dek! Rai, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mama sampai pingsan?"Sultan beralih menanyai menantunya.


"Kami barusan lihat Kak Cinta, Pa," lirih Raisa.


"Apa? Lalu ..."


"Kak Cinta hamil Pa, itu yang buat Mama syok dan akhirnya pingsan," ungkap Willmar.


"Cinta hamil?" Sultan berusaha keras mencerna ucapan anaknya. "Bagaimana bisa?"


"Ya Pa. Ternyata sewaktu mereka bercerai, Kak Cinta sudah dalam kondisi hamil satu bulan," jelas Raisa.


"Ya Tuhan." Tubuh Sultan limbung, hampir saja ia terjatuh jika saja Willmar tidak cepat menangkapnya.


"Ambilkan kursi Rai!" Titah Willmar.


"Iya Will. Sebentar aku ambil minum dulu buat Papa."


Raisa menyambar botol minuman di nakas dan memberikannya pada Sultan. "Minum dulu Pa."


Tanpa kata, Sultan mulai meneguk cairan dalam botol itu hingga menyisakan setengah bagian dari badan botol.


"Kakakmu benar-benar akan menangis darah karena penyesalannya yang begitu mendalam pada Cinta," lirih Sultan.


"Papa tenangin diri Papa dulu, jangan kebanyakan berpikir Pa," bujuk Raisa.


"Cinta ... Cinta ..."


Semua orang kompak menoleh begitu mendengar Hanum mengigau.


"Sayang, bangun Hanum!" Sultan meraih jemari istrinya, mengecupnya berkali-kali.


"Pa, mana Cinta Pa? Di mana dia?"


"Mama tenang dulu ya, Istirahat dulu biar cepat pulih, habis itu kita cari Cinta sama-sama," kata Sultan.


"Nggak mau Pa, Mama mau cari Cinta sekarang. Kasihan dia Pa, dia pasti sangat menderita menjalani kehamilannya seorang diri," ratap Hanum.


"Iya ... Iya, Ma. Mama minum dulu ya, habis itu kita cari Cinta," rayu Sultan.


Hanum memberikan gelas kosong itu pada suaminya. Air matanya masih terus berjatuhan, pun dengan Raisa yang juga merasa sangat sedih.


"Bagaimana kita mau mencarinya Ma, Dokter Rania menolak memberikan kita alamat rumah Kak Cinta," ujar Raisa.


"Mama nggak peduli. Mama akan bujuk dia, kalau perlu akan Mama bayar berapapun yang dokter itu mau asalkan dia mau kasih tahu alamat Cinta pada kita."


"Ma. Please ... Aku juga udah bujuk dengan segala macam cara, tapi dokter itu tetap nggak mau kasih tahu dengan alasan takut melanggar privasi," Willmar menimpali.


"Lalu kita harus diam saja Pa? Dek? Begitu maksud kalian?" Hanum meninggikan suaranya.


"Ma, sabar. Jangan mudah terpancing emosi! Kita pasti akan menemukan Cinta, apapun yang terjadi, percayalah."


"Mama nggak mau nunggu Pa, Mama nggak mau ngulur-ngulur waktu lagi. Sudah cukup Cinta menderita selama enam bulan ini. Cepat temukan dia Pa, Mama mohon. Gunakan uang dan koneksi Papa, jangan diam saja," Hanum meraung.


Sultan membawa kepala Hanum menuju dadanya, dia biarkan wanita itu menumpahkan tangisnya di sana.


"Mama tenang aja ya. Dokter Rania memang tidak mau memberitahukan alamat Kak Cinta pada kita, tapi dia sudah janji untuk menghubungi Mama jika saatnya Kak Cinta datang untuk memeriksakan kehamilannya lagi," beber Willmar.


"Itu masih sangat lama Dek, sebulan lagi ... Mama nggak akan tahan menunggu selama itu."


"Sambil menunggu kita kan bisa mencari Ma, Papa akan sewa orang untuk mencari keberadaan Cinta, Papa janji," Sultan menimpali.


"Beneran ya Pa."


"Iya. Sekarang sebaiknya Mama pikirkan kondisi Mama biar kita bisa langsung menjemput Cinta begitu kita mengetahui keberadaan anak itu," sahut Sultan.


Hanum mengangguk. Mereka baru pulang ke rumah saat malam telah merambat pelan. Tadinya Sultan bersikeras membujuk Hanum untuk tetap di rumah sakit setidaknya sampai besok pagi, tapi Hanum menolak mentah-mentah usulan suaminya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah. Baik Arya maupun Ratih pun sama-sama syok begitu Sultan menceritakan perihal Cinta pada mereka.


.


.


William berjalan pelan memasuki rumahnya, rumah Cinta lebih tepatnya. Ya, dia memang memutuskan untuk tinggal di sana semenjak Aldi dan keluarga kecilnya hengkang dari rumah itu. Rumah lama William masih tetap diurus oleh Nur.


Suasana rumah berubah menjadi terang benderang begitu William menekan saklar lampu. Lelaki itu melepas dasi dan juga helaian kain yang menempel di tubuhnya, gegas membersihkan diri.


Tubuhnya yang dulu berotot dan sangat gagah, berubah menjadi sangat kurus sekarang. William makan sekenanya saja, sekedar cukup untuk menyambung nyawa karena satu-satunya alasan dia tetap hidup adalah demi menebus dosa-dosanya pada Cinta.


Usai membereskan mangkuk bekas mie rebus, William masuk ke dalam kamar. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini William memasuki kamar Tania. Entah mengapa ia merasa malam ini ingin tidur di sana. Seolah hatinya menuntun langkahnya menuju bilik berukuran tiga kali tiga itu.


"Sedang apa kamu Cinta? Apa kamu juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini? Tidak seharusnya kamu pergi, setidaknya lihatlah aku sekarang. Aku sedang dihukum, aku hampir mati karena kehilangan separuh nyawaku. Kembalilah Cinta, izinkan aku membalut lukamu, berikanlah satu kesempatan saja untuk pria bodoh sepertiku. Aku mohon ..."


Titik-titik air mata terus berjatuhan bak manik-manik putus talinya. William duduk di ranjang sambil mendekap bantal.


"Aku bahkan masih bisa menghirup aroma tubuhmu di setiap bagian dari rumah ini Cinta. Kembalilah Sayangku, aku mohon. Biarkan pria bodoh ini menebus semua dosa-dosanya."


William tergugu. Cukup lama pria itu menangisi istrinya, hingga akhirnya lelaki itu bangkit untuk mengambil air minum.


William kembali ke kamar dengan membawa segelas air. Kali ini dia duduk di kursi dekat jendela. Meneguk air itu, William kembali meletakkan gelasnya.


Lelaki itu kembali mengedarkan pandangannya. Rumah ini memang sederhana akan tetapi sangat nyaman untuk ditempati. William tergerak untuk membuka laci nakas di depannya. Sebuah amplop putih berukuran cukup besar tergeletak di sana.


"Surat apa ini?" William membolak-balikkan amplop tersebut sebelum akhirnya dia membukanya. Matanya membulat, tubuhnya bergetar hebat saat melihat selembar foto USG lengkap selembar surat penyataan.


Dengan cepat dibacanya satu per satu barisan dalam surat itu. Tubuh William merosot di lantai, dia tak lagi memiliki kekuatan untuk sekedar menopang tubuhnya.


William kembali mengulangi bacaannya, dan hasilnya tetap sama, sebuah surat yang menyatakan bahwa Cinta positif hamil. Mata William kembali memerah, hujan itu kembali turun.


"Kam ... Kamu hamil Cinta? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Kenapa kau malah lebih memilih berpisah dariku? Apa sebegitu terlukanya sampai kau melakukan ini?" Tangis William kembali pecah.


Sungguh, William tak pernah merasakan sakit hati yang sedemikian sakitnya. Di mana jantungnya seolah ditikam belati hingga menembus dan menghancurkan segumpal daging merah bernama hati.


Hancur.


Remuk.


Tangis William baru mereda saat dia mendengar ponselnya berdering nyaring. Susah payah dia berusaha menggapai benda yang dia letakkan di kasur tadi.


"Iya Pa," jawabnya sendu.


"Pulang ya Kak, Mama sakit," jelas Sultan.


"Mama sakit?"


"Iya, dia sakit karena kangen sama kamu."


"Iya Pa, aku pulang sekarang juga."


Jam sebelas malam saat William mengeluarkan mobilnya dan dia menekan pedal gasnya dalam-dalam. Tak sabar rasanya menjumpai wanita berhati luas yang mencintainya tanpa batas itu.


Satpam membuka gerbang begitu mobil William tiba di sana. Mengambil langkah panjang, William berlari menuju kamar ibu tercinta.


"Ma, aku datang," ujar William, lembut.


"Oh, Kak. Mama kangen banget sama kamu," adu Hanum.


Sultan terdiam, berdiri di dekat jendela memperhatikan anak dan istrinya saling berpelukan sambil menangis.


"Mama kenapa bisa sampai sakit?"


"Mama ketemu sama Cinta Kak, mantan istrimu," beritahu Hanum.


Duar!


William mematung di tempatnya.


"Dia sedang hamil Kak, anak kamu." Hanum tak sanggup lagi membendung air matanya. Air asin itu terus menganak sungai.


"Jadi dia beneran hamil Ma?" Tanya William, memastikan.

__ADS_1


"Apa? Jadi kamu juga udah tahu soal ini Kak?" Tanya Sultan.


"Aku juga baru tahu tadi Pa. Nggak sengaja aku nemu amplop berisi foto USG dan selembar surat yang menyatakan bahwa Cinta positif hamil," beber William.


"Iya Kak, Mama lihat dengan mata kepala Mama sendiri tadi siang waktu Mama nganter Raisa ke dokter. Perut Cinta membesar, usia kandungannya sudah memasuki bulan ketujuh."


"Apa? Lalu di mana dia sekarang Ma? Katakan padaku Ma, aku akan meminta pengampunan darinya, aku akan jemput dan bawa dia pulang."


"Itu dia masalahnya Kak."


Sultan pun menjelaskan semuanya pada putra sulungnya. William tak henti-hentinya menangis mendengarkan penuturan sang ayah.


"Papa sudah nyuruh orang untuk cari tahu keberadaan Cinta, kita hanya perlu menunggu hasilnya saja. Semoga saja secepatnya kita bisa mendapatkan berita bagus," ujar Sultan menenangkan anaknya.


Malam ini, William sama sekali tak bisa memejamkan mata. Dia terus sibuk memikirkan tentang Cinta.


.


.


Dua hari berselang.


Hari ini hari jumat dan kebetulan hari libur nasional. Arya dan Ratih sedang mengunjungi panti sosial, menyisakan Sultan, Hanum, dan William yang sedang berbincang di ruang tengah.


"Kamu mau pergi lagi Nak?" Tanya Hanum.


"Iya Ma, aku harus cari keberadaan Cinta."


"Tapi semalam kamu juga kurang tidur, kamu baru pulang jam dua pagi, istirahat saja dulu," bujuk Hanum.


"Ya, Mamamu benar. Jangan terlalu dipaksakan, nanti kau bisa sakit," ujar Sultan membenarkan ucapan istrinya.


"Tapi Ma ..."


Belum sempat Hanum menjawab, getaran ponsel di meja membuat perhatian wanita cantik itu teralihkan.


"Siapa Ma?" Tanya Sultan.


"Nggak tahu Pa, nomor nggak dikenal."


"Coba Mama angkat aja, barangkali penting!" Titah Sultan.


Hanum mengangguk. "Ya Hallo, dengan siapa ini?"


"Bu Hanum ya?"


"Ya saya sendiri, saya sedang bicara dengan siapa ya?"


"Saya Dokter Rania, Bu."


"Ya Tuhan! Ada apa Dok? Apa ini soal Cinta?"


"Ya Bu, saya punya waktu dua puluh menit untuk menahan Bu Cinta di sini, segeralah ke rumah sakit jika Anda ingin menemuinya," ungkap Rania.


"Tapi bukankah baru dua hari yang lalu dia memeriksakan kandungannya."


"Iya, ada sedikit masalah makanya Bu Cinta datang ke mari. Cepat ya Bu, saya nggak punya banyak waktu," kata Rania.


"Iya Dok baik, tolong tahan dia sampai saya datang ke sana!"


Klik.


Hanum menarik tangan William dan suaminya.


"Ada apa Ma?" Tanya dua pria beda generasi itu bersamaan.


"Cinta di rumah sakit sekarang, katanya kandungannya bermasalah. Cepat kita pergi ke sana, kau mau lihat dia kan Dek?"


"Iya Ma. Ayo kita ke rumah sakit."


William duduk di depan kemudi, sementara orang tuanya duduk di belakang. Terus menekan pedal gas, William melajukan kereta besinya dengan kecepatan penuh. Tak peduli jika di belakang orang tuanya tengah ketakutan.


'Tunggu aku Cinta, tunggu ayah anakku Sayang. Setelah ini tidak akan aku biarkan kalian hidup menderita,' batin William.

__ADS_1


Bersambung ....


Happy reading Kesayanganku 😍😍😍 masih mau lanjut gak? jgn lupa votenya ya, kan sayang kalau nggak kepake, mending buat aku aja biar aku makin semangat nulisnya. Like dan komennya juga yang kenceng, biar kata aku jarang balas komen dari kalian, tapi membaca komentar positif dari kalian adalah merupakan sumber semangat bagiku untuk melanjutkan tulisan ini. Makasih All ❤️❤️❤️😘😘😘


__ADS_2