
Hanum bersandar pada dinginnya tembok yang telah lapuk di tumbuhi lumut, rasa dingin yang menderanya terasa begitu menusuk. Untunglah sejak Mauryn menemuinya tadi, perempuan jahat itu sudah melepas kain hitam yang menutupi kepalanya dan juga kain yang di ikatkan pada mulut Hanum.
Sembari menunggu seseorang yang datang untuk menyelamatkan dirinya, Hanum memilih untuk memejamkan matanya. Entah seburuk apa keadaan dirinya sekarang, rambut yang berantakan, kelopak mata yang menghitam dan bengkak, wajahnya yang sembab dan juga tubuh kurusnya yang hanya terbalut dress tipis selutut berwarna biru langit.
Berulang kali dia mengubah posisinya, tetap saja dia tidak bisa memejamkan matanya barang semenit pun. Suara desahan nakal yang berasal dari samping ruangan tempatnya berada sungguh membuatnya risih. Dia tentu mengenal betul suara tersebut berasal dari mana, membayangkan dua manusia tak bermoral yang sedang bercinta di tempat seperti ini, sungguh menjijikkan.
Huh, persahabatan macam apa sebenarnya yang terjalin diantara kalian? seperti apa jadinya kalau sampai Mas Sultan dan Kak Adam mengetahui hubungan gelap yang terjadi diantara kalian. Kalian berdua adalah pasangan menjijikkan yang menjadikan sebuah persahabatan sebagai kedok untuk menutupi kebusukan kalian. Dan begitu Mas Sultan dan juga Kak Adam mengetahui hal ini, di tambah dengan persekongkolan jahat kalian, aku yakin mereka berdua akan merasa sangat hancur.
Untuk yang kesekian kalinya Hanum terus menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa tak habis pikir dengan kelakuan dua manusia yang tengah asyik memadu cinta di ruangan sebelah.
.
"Lebih cepat lagi Dam!" titah Sultan pada temannya, menginstruksikan kepada Adam untuk terus menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam lagi.
"Shit! kau mau kita berakhir di kantor polisi apa? tidak lihat kalau aku sudah menyetir dengan kecepatan tinggi di ambang batas maksimal! mau lebih cepat bagaimana lagi?" Adam menggerutu, tak sedikit pun menoleh karena dirinya tengah fokus mengemudikan mobilnya.
Mendengar perdebatan yang terjadi di depan membuat kedua pria yang duduk di bangku penumpang bagian belakang mobil tersebut terus bergeleng. Terlihat Raka dan Dion menaikkan tangan masing-masing untuk berpegangan, raut wajah keduanya juga terlihat sangat tegang. Berkali-kali mereka mengecek sabuk pengaman yang menempel di tubuh mereka, memastikan kalau benda tersebut sudah terpasang dengan benar. Raka terlihat sering memejamkan matanya sambil berdoa, merasakan Adam yang begitu menggila dalam mengoperasikan laju mobilnya membuatnya ngeri.
"Jangan dengarkan dia Dam, ku mohon! pria di sampingmu itu hanya sedang kehilangan sedikit kewarasannya. Aku sudah seringkali terlibat balapan mobil liar denganmu dan juga dengan Sultan. Dan kali ini kau benar-benar menunjukkan kalau kau lah Master nya. Kali ini aku mohon, cukup sampai di sini saja, jangan tambah lagi kecepatan mobilnya atau aku akan malu karena kedapatan mengeluarkan sisi lemahku di hadapan kalian," cegah Raka, dia sibuk mengelap keringat di dahinya dengan sapu tangan yang dia pegang menggunakan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih mencengkeram erat pegangan mobil.
"Ternyata berkendara dengan kecepatan tinggi seperti ini sangat menyenangkan ya, kita seperti dalam sebuah film action. Lihat! mobil polisi yang mengikuti kita bahkan tertinggal jauh entah di mana," ucap Dion di iringi gelak tawa. "Kalau di pikir-pikir ternyata rugi juga ya karena selama ini aku menghabiskan banyak waktuku untuk keliling manca negara untuk menjadi diplomat tanpa pernah menikmati masa mudaku," Dion terus berceloteh, mengemukakan pendapatnya yang bertentangan dengan pria yang saat ini sedang duduk ketakutan di sampingnya.
"Kampret! " Raka melempar sapu tangannya ke arah Dion dan jatuh tepat mengenai wajah nya.
Dion semakin tergerak untuk melengkungkan bibirnya, bukan hanya itu saja, tawanya bahkan terdengar begitu menggelegar memenuhi ruangan dalam mobil tersebut. Dia memang sedikit takut dengan cara mengemudi Adam yang saat ini sangat ugal-ugalan tapi dia juga menikmatinya.
"Aku masih ingin hidup dan menikmati peranku menjadi ayah juga suami yang baik untuk keluarga kecilku nantinya Dam, please!" ucap Raka memelas.
"Diam kalian! mengganggu konsentrasiku saja. Bisa diam tidak sih! kalian berisik, seperti anak TK yang akan melakukan wisata saja, yang satu merengek minta ini, yang lainnya merengek minta itu, satunya lagi terus berceloteh mirip burung Beo. Astaga!" Adam terus menggerutu, jiwa galak dalam diri pria itu muncul seketika.
"Terserah apa katamu saja Dam, yang jelas aku tidak mau wisata ini berakhir menjadi wisata di rumah sakit kalau kau terus menginjak pedal gas mobilnya," sahut Raka.
"Sebentar lagi sampai," ucap Adam, datar.
"Sebentar lagi kepalamu peang! memang kau pikir aku tidak tahu apa alamat yang kita tuju? daerah itu masih jauh dari sini. Masih butuh waktu sekitar lima belas menit lagi untuk sampai di sana," lagi-lagi Raka menjawab.
"Baiklah kalau begitu, mari kita buat waktu lima belas menit itu menjadi lima menit," ucap Adam sambil tersenyum miring seraya makin menginjak pedal gas mobilnya.
"Let's go! " Dion berteriak kegirangan sambil mengangkat satu tangannya ke udara.
Ya Tuhan tolong lindungi hambaMu ini, aku masih ingin hidup. Selesai berdoa Raka mengusapkan satu tangannya ke wajahnya.
.
Begitu mobil yang dikemudikan oleh Adam terparkir sempurna di tengah areal tanah kosong yang tak jauh dari bangunan tua. Mereka bergegas turun dari sana, ketiganya tertawa lirih begitu melihat Raka berlari dan kemudian memuntahkan isi perutnya di sana.
"Ternyata begini sisi lain dari seorang tangan kanan Dinasti Group, dia yang begitu arogan di kantor menjadi seorang yang lemah dengan mental tempe di medan balap liar." lagi-lagi Dion tertawa lebar, dia terus memegangi perutnya yang mulai kram akibat terlalu lama mentertawakan tingkah Raka yang menurutnya sangat konyol.
"Pelankan suaramu! kau lupa saat ini kita sedang dalam misi menyelamatkan istriku!" Sultan memberikan pukulan ringan di bahu Dion.
"Mental tempe masih mending daripada mental kerupuk sepertimu." Raka berjalan ke arah Dion, balas memaki pria itu.
"Sudah hentikan! kalian terus saja bersikap layaknya anak kecil. Di mana mobil polisi itu, kenapa belum sampai juga," kata Adam, berusaha menengahi.
"Sepertinya mereka baru akan sampai sekitar setengah jam lagi," Dion menyahut.
__ADS_1
"Apa membutuhkan waktu selama itu?" Adam menaikkan volume suaranya.
"Tanyakan itu pada dirimu, bukankah kau yang mengemudikan mobil seperti orang kesetanan. Wajar saja jika mereka belum sampai." kali ini Raka yang menjawab.
"Tiarap!" bisik Sultan tiba-tiba, membuat mereka kompak mengambil posisi seperti yang di instruksikan oleh Sultan.
Jika ketiga pria itu memasang wajah tegang, lain halnya dengan Dion, dengan santainya dia masih bisa tersenyum. Dia bahkan terus membekap mulutnya sendiri karena takut tawanya akan terdengar oleh orang lain. Dion yang selama ini menjalani kehidupannya sebagai seorang diplomat yang berjalan dengan lancar tanpa hambatan itu mendadak merasa ada sedikit kebahagiaan yang memasuki relung hatinya. Ada banyak pengalaman menyenangkan yang dapat dia rasakan sepanjang dia mengikuti ketiga pria itu. Dia sendiri tak percaya kenapa hanya dalam waktu hitungan jam yang singkat, bisa membuatnya merasakan pengalaman hidup yang memang belum pernah dia alami sebelumnya dan itu membuatnya merasa sangat bahagia. Merasakan bagaimana rasanya memiliki teman ketika dirinya berbaur dengan ketiga pria dewasa yang kadang bertindak konyol di depannya. Hal yang tidak pernah dia rasakan selama dia menghabiskan waktunya untuk hidup bertahun-tahun di Negeri orang.
"Ada apa?" Adam membuka mulutnya namun tak berani mengeluarkan suara.
Sultan menunjuk ke depan, dari balik semak dan rumput yang tumbuh setinggi pinggang orang dewasa, dari tempat mereka bersembunyi itu mereka bisa melihat ada kurang lebih sekitar tujuh orang pria yang sepertinya hendak pergi meninggalkan bangunan tua tersebut. Dailihat dari ciri-ciri nya saja Sultan sudah mengetahui kalau mereka lah yang telah menculik Hanum dan memporak-porandakan rumahnya.
"Kenapa si Bos menyuruh kita pergi dari sini? memberikan perintah melalui telepon padahal jelas-jelas mereka ada di sini, kenapa tidak bilang secara langsung saja?" tanya seorang pria pada temannya.
"Kau tidak dengar tadi suara aneh yang berasal dari sebelah ruangan tempat kita menyekap perempuan cantik itu?" yang di tanya pun menjawab.
"Hah, ada-ada saja."
"Biar bagaimana pun mereka tetaplah manusia biasa, siapa yang tahu kalau di tempat seperti ini pun mereka bisa melakukan hal itu?"
"Mungkin mereka mengidap sebuah kelainan sex, ada beberapa orang yang akan mendapatkan gairah birahinya ketika melihat tempat-tempat ekstrim seperti ini. Dan mungkin mereka salah satu dari nya."
"Bisa saja, padahal kelihatannya mereka itu orang-orang kaya yang berpendidikan. Entahlah ... untuk apa kita membahas masalah pribadi mereka, tidak ada urusannya dengan kita. Yang terpenting kita sudah mendapatkan komisi yang sangat besar. Tugas kita sudah selesai sekarang dan waktunya untuk menikmati uang hasil kerja keras kita," ucap salah satu dari mereka.
"Aku tidak habis pikir sebenarnya apa tujuan Bos menyuruh kita menculik wanita yang tak bersalah itu. Aku perhatikan sepertinya wanita yang kita culik itu wanita baik-baik, tidak mungkin Bos menculiknya karena ingin balas dendam, dan kalau memang uang yang menjadi tujuan utama Bos kita, kenapa tidak dari semalam saja dia menelpon keluarga wanita itu untuk meminta tebusan?"
"Dari yang ku dengar katanya Bos mau membuat wanita yang kita culik itu mati perlahan-lahan. Kau lihat sendiri kan dia menyuruh kita menyekapnya di ruangan dingin tanpa di beri makanan ataupun minuman."
Sultan yang terus terdiam mendengarkan cerita para preman itu pun mengepalkan tangannya, dirinya mulai dikuasai amarah begitu mendengar mereka memperlakukan istrinya dengan sangat tidak manusiawi. Kalau saja Adam tidak menahan dirinya untuk tetap bersembunyi, sudah pasti dia akan menghajar para preman itu dengan tangannya sendiri.
"Tunggu!"
Ke empat pria yang sedang tiarap layaknya anggota tentara yang sedang menjalani pelatihan militer itu pun kompak melihat ke arah sumber suara.
"Ada apa?" tanya seorang preman bertubuh gempal.
"Lihat itu, mobil siapa itu?" satu dari kawanan preman itu menunjuk ke arah di mana mobil Adam terparkir.
"Mobil temannya si Bos kali."
"Kau tidak lihat mereka tadi datang bersamaan? ayo sebaiknya kita lihat mobil siapa itu."
Ke empat pria yang tengah bersembunyi di balik rimbunnya rerumputan itu pun terpaku, mereka saling menatap satu sama lain. Takut jika sampai sekumpulan preman itu menangkap basah mereka yang tengah bersembunyi.
"Untuk apa kita buang-buang waktu untuk mengecek ke sana. Siapa yang peduli mobil itu milik siapa, kau tidak dengar tadi Bos bilang tugas kita sudah selesai dan menyuruh kita secepatnya pergi dari sini?" ucap salah seorang dari mereka mencegah temannya.
"Ya sudah ayo!"
Ke empat pria itu pun kembali bernafas lega setelah mendengar deru mobil yang di kendarai para preman itu pergi meninggalkan tempat tersebut dan semakin menjauh.
Kompak, mereka bangun dari posisinya semula sambil membersihkan diri dari rerumputan yang menempel di sekujur tubuh mereka.
"Kau dengar tadi para preman itu beberapa kali menyebut kata 'mereka', itu berarti ada seseorang yang membantu Mauryn," kata Sultan.
"Ya, tapi siapa kira-kira orang yang telah membantunya untuk melakukan kejahatan? bukankah setahuku dia tidak memiliki teman dekat selain kalian?" ucap Dion dengan cepat.
__ADS_1
"Ya, aku pun sangat penasaran, siapa sebenarnya sosok orang yang membantu Mauryn," gumam Adam.
"Sebaiknya kita segera masuk, takut Hanum kenapa-napa." Sultan berlari kecil menuju bangunan utama.
"Untunglah para cecunguk itu sudah pergi, jadi kalau pun ada orang di dalam kita tidak akan kewalahan jika harus berkelahi dengan mereka," kata Adam. "Ingat! kita harus waspada, kita belum mengenal seluk beluk tempat ini, sekali pun para penjahat itu telah pergi kita harus tetap berhati-hati. Sebisa mungkin jangan menimbulkan berisik!" ucap Adam memberikan komando sebelum mereka mulai memasuki bangunan tua tersebut.
Mereka berjalan perlahan menyusuri setiap ruangan yang ada di sana, terus menjelajah dan masuk lebih dalam lagi hingga tersisa dua buah ruangan yang saling bersebelahan yang pintunya tertutup rapat.
Adam mengangkat tangannya, menggerakkan jarinya ke arah kanan, memberikan kode pada Sultan dan Raka untuk memeriksa ruangan sebelah kanan sementara dirinya dan Dion akan memeriksa ruangan sebelah kiri.
Mereka terus berjalan mendekati masing-masing ruangan sambil mengendap-endap.
Langkah mereka terhenti ketika mendengar suara wanita yang sudah mereka kenali, Adam menaruh jari telunjuknya tepat di depan bibirnya. Menyuruh mereka untuk diam sejenak dan menajamkan pendengarannya agar bisa mendengar suara dari lawan bicara Mauryn saat ini.
"Makin hari kau makin nakal saja Sayang. Seperti biasa, permainanmu sangat bagus bahkan semakin liar saja, kau sampai menggigit milikku." Mauryn melihat tubuh bagian bawahnya kemudian menebarkan senyum manjanya pada Reno.
"Apa masih kurang? kau mau lagi?" tanya Reno, tangannya cekatan memasang bra di tubuh Mauryn, sesekali di selingi dengan merem*s bagian tersebut.
"Tidak, kau sudah membuatnya lecet karena sejak kemarin entah sudah berapa kali kita melakukannya."
"Tapi bagaimana kalau aku menginginkannya lagi?" selesai memakaikan baju di tubuh Mauryn, Reno beringsut dari sana, mengutip pakaian dalam dan celana pendeknya kemudian memakainya.
"Aku pun mau, tapi nanti. Tunggulah beberapa jam lagi, aku ingin bersenang-senang dengan Hanum dulu, setelahnya kita bisa menghabiskan waktu dengan bercinta sampai kita berdua sama-sama lelah."
Reno yang sudah kembali naik ke atas dipan kecil itu pun memeluk Mauryn, membiarkan kepala wanita itu bersandar di dada telanjangnya.
"Hentikan!" Mauryn menepis tangan Reno yang masih saja liar bergerilya di atas dadanya.
"Siapa suruh memakai pakaian seperti ini, jangan salahkan aku kalau juniorku kembali menegang," Reno terkikik, masih merem*s bukit kembar Mauryn.
Melihat Mauryn yang hanya memakai mini dress tanpa lengan yang terbuka dan mengekspos belahan dada wanita itu membuat Reno kembali di liputi oleh gairah yang baru saja selesai mereka tuntaskan.
"Nanti saja!" Mauryn kembali menepis tangan Reno dan bangun dari tempat tidurnya. "Aku mau bermain-main dulu dengan Hanum," ucapnya sambil tersenyum licik.
Belum sempat Mauryn melangkahkan kakinya.
Brakk ...
Mauryn dan Reno terkejut melihat orang yang baru saja mendobrak pintu kamar tersebut, Mauryn sempat mematung dengan mulut menganga sementara Reno pun masih terpaku di ranjang dengan hanya mengenakan celana pendek.
"Binatang! dasar manusia tidak punya akal! di mana otak kalian hah?" Adam yang kalap segera mendekati Reno.
Reno pasrah ketika Adam menyeret tubuhnya kemudian menghempaskan nya dengan kasar dan membuat dia tersungkur di lantai. Baru saja dia hendak mendongak untuk melihat Adam kemudian tak lama setelahnya dia berakhir lagi dengan jatuh di lantai begitu Adam memukulnya.
"Kalian bahkan tidak pantas di sebut sebagai manusia, tidakkah kalian menyadari kalau perbuatan kalian ini sudah seperti binatang?" Adam berteriak, sesekali di susul dengan pukulan yang dia layangkan di tubuh Reno sebagai ajang pelampiasan kekesalannya begitu mengetahui kelakuan bejat kedua temannya.
Lain hal nya dengan Adam yang masih membabi buta meluapkan emosinya, Dion masih berdiri mematung. Air matanya mencelos begitu melihat kenyataan yang ada di depan matanya. Lagi-lagi Tuhan membuka matanya untuk melihat kenyataan pahit yang membuatnya selalu tersakiti.
Derai tangis pria itu cukup menjadi bukti betapa hancur hatinya, merasakan sakit yang tak terperikan. Di tatapnya tajam wajah wanita yang selama di kenalnya hanya memberikan segudang luka dan kepedihan yang membuatnya sempat terpuruk dan memilih jalan hidup yang salah.
.
Kira-kira masih pada mau lanjut gak ini ya? serius nanya 🤔🤔🤔
Ok kalau mau dilanjutkan, jangan lupa like, komen dan votenya tambahin dong 🤭🥰🥰🙏🙏
__ADS_1