
Sultan mengeratkan genggaman tangannya pada Hanum, membuat wanita itu menoleh. "Ada apa Mas?"
"Aku mencintaimu," bisik pria itu sembari terus melangkahkan kakinya.
"Ish! aku kira mau ngomong apa."
"Kamu nggak suka aku ngomong begitu sama kamu?" pandangan keduanya sempat bertemu sepintas.
"Suka, Mas mengatakan itu setiap hari, tapi aku rasa kita berdua seperti orang konyol."
"Kenapa?" pria itu menghentikan langkahnya. Tubuh kekar dan gurat ketampanan nyata terpancar dan makin bersinar di usianya yang telah separuh abad.
"Kita udah tua Mas, udah punya cucu tapi terkadang kita bertingkah seperti ABG," seloroh Hanum.
"Apa yang salah? kita saling mencintai, dan cinta itu nggak pandang umur." meraih wajah istrinya. "Aku beruntung memiliki istri yang luar biasa seperti dirimu. Hidup bersama dengan anak-anak dan juga cucu kita, dengan papi dan mami, aku merasa hidup kita diberkati."
"Aku juga beruntung memilikimu menjadi teman hidupku Mas, dan maaf jika selama aku mengabdi padamu ada salah dan kekuranganku sebagai istri."
"Jangan pernah mengatakan itu. Kamu adalah istri terbaik di dunia."
Hanum terperangah saat dengan tiba-tiba suaminya mengecup keningnya, biarpun hanya di kening tapi hal itu tentu saja membuatnya malu karena mereka masih berada di rumah sakit saat ini.
"Mas, ah!" dengan cepat menepis tangan Sultan yang masih mengapit pinggangnya posesif.
"Kenapa?"
"Malu," cicit Hanum.
Sultan tertawa renyah, ia begitu menikmati saat di mana wajah Hanum kembali bersemu merah. Telah ribuan malam mereka lewati bersama, tapi keduanya benar-benar seperti kawula muda yang tengah kasmaran. Selalu ada saja hal kecil yang membuat hubungan keduanya makin harmonis.
"Ya udah ayo, kita lanjutkan di rumah," ajak Sultan. Pria itu sontak mendapat pelototan dari istrinya.
"Ya ampun, nggak tahu malu kamu Mas." Hanum melangkah lebih dulu, meninggalkan suaminya yang masih terkekeh di belakang.
"Tunggu aku Yang," seru Sultan.
Hanum makin mempercepat langkahnya seraya menggelengkan kepala. Tak menyangka suaminya juga akan mengalami puber kedua. Bisa-bisanya tingkah pria yang telah memiliki cucu itu sedemikian konyolnya.
.
.
Willmar membenahi bantal agar istrinya bisa tidur dengan nyaman. Setelah menghabiskan satu porsi pecel ayam, ia menyuruh Raisa untuk istirahat.
"Mas."
"Apa? kamu butuh sesuatu?"
"Aku kangen Jayden," cicit Raisa.
"Udah jam sepuluh Yang, takutnya Jayden udah tidur. Tadi Kak Willi bilang besok mau bawa Jayden ke sini kok, dia juga katanya kangen sama kamu."
"Mau ketemu sekarang," rengek wanita itu lagi.
"Kamu kan masih harus dirawat, seandainya Jayden belum tidur, kita mungkin masih bisa video call." Willmar berusaha menjelaskan dengan bahasa yang dia buat sehalus mungkin, tak ingin istrinya salah paham dan kembali memarahinya.
"Apa dia udah sembuh? Jayden udah nggak demam lagi kan?"
"Udah nggak demam lagi dianya Sayang. Giginya udah nongol kata mama makanya dia udah nggak demam dan rewel lagi."
"Kira-kira dia kangen sama aku nggak ya?" Raisa menatap suaminya.
"Tentu saja. Dia pasti sangat merindukan kita, apalagi mamanya yang cantik ini." mencolek dagu istrinya, gemas. "Sekarang tidur ya, kamu masih harus banyak istirahat."
__ADS_1
"Nggak mau!"
"Kenapa? ada yang sakit? perut kamu masih sakit?"
"Enggak Mas, belum ngantuk."
"Ya udah aku temani kamu." Willmar baru saja akan mendaratkan bokongnya di kursi, tapi Raisa dengan cepat mencegahnya.
"Mas tidur di sini aja."
"Kan sempit, aku takut kamu nggak leluasa nanti."
"Muat Mas."
'Oke, sabar Will, dia sedang hamil anak kamu.' Pria itu mendesah panjang, lalu naik ke atas bed.
"Mau dipangku atau bagaimana?" tanya Willmar, takut kalau-kalau dia berbuat kesalahan.
"Tiduran di sampingku."
"Oke."
Willmar menurut, merebahkan tubuhnya persis di samping Raisa. "Mau dengar cerita? siapa tahu dengan begitu kamu jadi ngantuk terus tidur."
"Mau." gadis itu mengangguk.
Perlahan Willmar mengusap kepala istrinya. Entah telah berapa kali kening Raisa itu dia kecup, tapi Willmar merasa tak pernah cukup. Ia lalu menjumput anak rambut Raisa dan menyelipkannya di bawah telinga.
"Kamu tahu, betapa aku sangat bahagia saat mendengarmu hamil?"
"Bagaimana reaksimu saat itu?" tanya Raisa penasaran.
"Aku hampir meninju dokter itu karena aku berpikir dia berbohong dan hanya sedang mengolok-olokku saja," beber Willmar.
"Lalu?"
"Terus?" Raisa tak sabar menantikan kelanjutan cerita suaminya.
"Aku hampir jatuh pingsan saat tahu kamu hanyalah korban akibat kelalaian salah satu perawat. Aku luar biasa bahagia, tapi juga marah."
"Kenapa kamu harus marah? bukankah kamu bahagia mendengar aku hamil?" wanita itu semakin membenamkan wajahnya di dada Willmar.
"Aku marah karena akibat kelalaian perawat itu, kamu pernah mengalami masa-masa sulit. Kita berdua sama terluka dan hancur saat itu," lirih Willmar.
"Semuanya udah berlalu Mas. Ini sebuah keajaiban, dan aku rasa ini seperti mimpi."
Willmar mengurai pelukannya, membenarkan posisinya lalu mencium perut datar wanita itu. "Sama sepertimu, aku juga masih belum bisa mempercayainya, tapi bukti nyata ada di depan mata. Tuhan berbaik hati memberikan kita anugerah bahkan dua sekaligus. Tuhan mengabulkan keinginan kita bahkan ketika kita sendiri takut saat mengucap doa itu." setitik cairan asin merembes dari sudut matanya.
Raisa dengan cepat mengusapnya penuh cinta. "Aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk menangis Mas. Masa-masa kelam dalam hidup kita telah berakhir, mari kita lupakan semuanya dan menyambut masa depan dengan hati yang gembira."
"Kamu benar. Kita harus hidup bahagia menyambut kedatangan anak-anak kita. Aku akan setia mendampingi dan menemani masa kehamilanmu. Jangan segan jika kamu menginginkan sesuatu dariku," oceh Willmar.
"Tentu saja tidak. Kamu suamiku, ayah dari bayi-bayi yang sedang tumbuh di rahimku. Kamu harus tanggung jawab kalau aku ngidam Mas."
"Pasti. Akan aku turuti keinginanmu."
Keheningan sempat menyelimuti keduanya. Willmar mengira istrinya tertidur, tapi kemudian Raisa kembali berucap.
"Mas?"
"Apa Sayang?"
"Masih ada satu yang mengganjal di pikiranku," kata Raisa.
__ADS_1
"Apa itu?"
"Kenapa nggak sejak dulu aku hamil Mas? biasanya kan orang setelah melahirkan atau dikuret menjadi lebih lebih subur katanya karena rahim telah dalam keadaan bersih, tapi kenapa aku nggak bisa langsung hamil ya?"
Willmar terdiam sesaat untuk berpikir, sampai dia teringat ucapan Rania. "Hm, soal itu. Dokter Rania pernah bilang sama aku. Kamu itu dekat sekali dengan Jayden, lalu timbul rasa bahagia dan nyaman dan kata Rania lagi, hal itu bisa membuatmu menjadi lebih mudah hamil ketimbang saat kamu stres memikirkan kehilangan anak kita dulu. Dan aku rasa ucapan Rania ada benarnya juga, kamu memang menjadi lebih ceria usai kelahiran Jayden," beber Willmar.
"Dengan kata lain, kehadiran Jayden juga menjadi salah satu faktor untukku bisa hamil, selain kuasa Tuhan tentunya."
"Iya Sayang."
"Huh, aku jadi ingat dia lagi," keluh Raisa.
Willmar menepak dahinya seraya menggeleng pelan. Susah payah dia mencoba mengalihkan perhatian Raisa dari Jayden malah pada akhirnya dia sendiri yang membuat istrinya kembali teringat malaikat kecil itu.
.
.
William memasuki kamarnya usai menidurkan Jayden di kamar sebelah.
"Sayang?" panggilnya saat tak melihat istrinya ada di kamar.
"Iya Mas, aku di kamar mandi," jawab Cinta.
"Jangan kelamaan!"
"Iya ini udah selesai."
Pintu terbuka tak lama setelah Cinta menyahut. William langsung menyambar bibir wanita itu tanpa ampun, tangannya juga mulai bergerak liar.
"Hm, Mas." Cinta meronta di tengah ciuman panas yang sedang terjadi, hingga terpaksa William melepaskan bibirnya.
"Ada apa?"
"Maaf sebelumnya, tapi kita nggak bisa melakukannya malam ini," ucap Cinta.
"Kenapa memangnya?"
"Tamuku datang," beritahu Cinta.
"Yaaah, aku keduluan deh." William menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Iya Mas, aku minta maaf ya."
"Nggak usah minta maaf, bukan salahmu juga. Cuma kenapa nggak bilang dari tadi, tahu gitu kan aku nggak main nyerang kamu." pria itu terkekeh pelan, kemudian mengusap puncak kepala Cinta.
"Tamuku juga barusan banget datangnya."
Menghembuskan napas panjang. "Ya, aku keduluan."
"Mau aku bantu? kasihan kamunya." Cinta tak tega jika harus melihat suaminya tidur dalam keadaan tersiksa seperti ini.
"Nggak usah, kita tidur aja. Lagian kamu pasti capek ngurus Jayden yang sempat rewel."
"Aku nggak capek kok," sanggah Cinta.
"Nggak usah Sayang, kalaupun kamu nggak capek, aku takut kamu nggak tahan nanti."
"Ya enggaklah, sini aku bantu." Cinta mengulurkan tangan bersiap melepas kancing celana suaminya.
"Nggak usah Sayang." lagi-lagi William menolak dengan lembut.
"Nggak apa-apa, Mas diam aja. Aku sendiri yang mau melakukannya."
__ADS_1
William menggeleng. Diperlakukan layaknya seorang raja oleh istrinya membuat cintanya pada wanita itu kian bertambah setiap harinya. Padahal tanpa Cinta melakukan apapun saja dia sudah benar-benar tergila-gila pada wanita itu.
Bersambung ....