
Cinta tersesat di sebuah tanah lapang yang menghampar bak permadani. Ia terus berusaha mencari jalan keluar, tapi ia rasa sejak tadi dirinya hanya berputar-putar di sana. Cinta yang kehausan pun memutuskan untuk duduk di bangku kayu dekat danau. Rasa haus menuntun kami telanjangnya menuju kubangan raksasa itu untuk mengambil airnya sekedar untuk memuaskan dahaganya.
Belum sempat kaki mungilnya melangkah, tepat di hadapannya telah terhidang secawan air. Cinta menatap pada sosok yang menyodorkan benda itu untuknya. Matanya membulat tak percaya.
"I ... Ibu? ba ... bagaimana bisa?"
"Minumlah lebih dulu Sayang," kata wanita itu, lembut. Ia bimbing Cinta untuk kembali duduk di bangku kayu, membiarkan Cinta memuaskan dahaganya.
"Ibu, bagaimana kita bisa bertemu Bu? bukankah Ibu sudah berada di ..." Cinta menghentikan ucapannya, ia menatap ke sekelilingnya. "Aku tersesat Bu, aku terus berusaha mencari jalan pulang, tapi aku selalu kembali ke tempat ini tak peduli sejauh apapun aku mencoba berjalan Bu."
"Karena ini memang bukan tempatmu Sayang. Kamu terjebak di sini karena satu hal."
"Apa maksud Ibu?"
Wanita itu tersenyum pada putrinya. "Ibu bahagia karena telah bertemu kembali dengan ayahmu, tapi ada satu hal yang perlu kamu ketahui."
"Apa itu?"
"Maafkan suamimu Nak, terimalah dia dengan sepenuh hatimu."
"Maksud Ibu?"
"Semua yang telah terjadi murni karena suratan takdir. Jangan pernah menyalahkan William atas apa yang terjadi. Ibu memang sempat kecewa padanya saat tahu dia mencintai wanita lain, tapi setelahnya Ibu tahu, dia telah mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Dia telah menebus dosa-dosanya dengan baik. Ibu jauh lebih bahagia di sini saat tahu kamu telah sepenuhnya menjadi satu-satunya wanita yang berhasil merajai hatinya. Dia sudah cukup menderita selama ini demi menebus rasa bersalahnya padamu. Hiduplah bahagia bersamanya dan jaga cucu Ibu dengan baik. Ingatlah bahwa semua yang terjadi atas campur tangan Tuhan."
"Tapi ... terkadang masih ada setitik kebencian yang tersisa jika aku mengingat kejadian pahit itu lagi Bu," lirih Cinta.
"Lupakan Nak, jangan bebani dirimu dengan hal yang hanya akan membuatmu terpuruk. Semua sudah berlalu, lupakan semuanya dan kamu hanya perlu menatap masa depan. Ibu tidak pernah menyesal melepaskanmu untuk hidup bersamanya. Ibu pun telah memaafkan semua kesalahannya, maka kamu pun harus bahagia."
"Iya. Aku melihat Ibu jauh lebih baik di sini."
"Sekarang kembalilah! Kamu sudah terlalu lama berkeliaran di sini, Jayden cucuku sudah menunggumu. Ibu akan selalu mendoakan kalian."
"Jadi ... pertemuan ini?"
"Ya, semua sudah diatur. Kamu harus mengetahui fakta ini, fakta bahwa William benar-benar telah menyesali perbuatannya dan telah bertaubat. Jangan memikirkan hal lain, cukup fokus saja pada keluarga kecilmu, kau mengerti?"
"Baik Bu."
"Ayo, Ibu antar." Tania menggenggam tangan putrinya, mengajaknya berjalan menuju pohon bunga berbentuk mahkota berwarna merah muda.
"Bu ..."
"Apa Sayang, sudah waktunya untukmu pulang."
"Izinkan aku memelukmu Bu."
Sepersekian detik cinta dapat merasakan hangat pelukan itu lagi. Rasanya begitu mendamaikan jiwa, tapi tak berselang lama karena begitu Tania mengecup keningnya, tubuhnya serasa didorong pada pintu tak kasat mata berbalut kabut.
.
.
Sambil menahan tangis, William dengan perlahan mencoba memangku Jayden dan menyatukan tangan mungil itu dengan tangan ibunya. Saat itulah tangis Jayden berangsur mereda, tapi William melihat istrinya menangis dalam tidurnya. Untuk kali ini saja, William meminta keajaiban.
Pria itu memejamkan mata bersamaan dengan cairan asin yang terus melesat membasahi wajahnya. William menundukkan kepala, merangkai doa nan tulus untuk dia sampaikan pada Tuhannya. Gerakan si kecil dalam pangkuannya bahkan jauh lebih aktif dari sebelumnya. Bayi itu berusaha menggapai jemari ibunya.
__ADS_1
William mengumpulkan segenap keberaniannya untuk membuka mata. Meski ia sangat berharap bisa melihat Cinta terbangun dari tidurnya, tapi dia tetap bersiap dengan kemungkinan terburuk.
Kelopak mata pria itu terbuka perlahan hingga samar dapat ia lihat wanita yang amat dicintainya itu tengah tersenyum dalam tangis. William mengerjapkan matanya tak percaya. Apa yang dilihatnya memang benar terjadi. Cinta membingkai senyum di balik wajahnya yang basah dengan air mata, tangannya berusaha menggenggam tangan putra tercintanya.
"Sayang." William memekik.
Cinta memanggil lirih pria itu, susah payah Cinta berusaha tapi tetap tak ada kata yang keluar dari mulutnya.
"Kamu benaran udah sadar Sayang? aku panggil dokter dulu."
William dengan cepat membuka pintu, menyerahkan bayinya pada Hanum.
"Ada apa Kak? kenapa kamu gugup begini, apa yang terjadi?" berondong wanita itu.
"Cinta udah bangun Ma, dia udah sadar."
Jawaban William tentu saja membuat semua orang yang ada di sana menjadi lega.
"Kamu udah panggil dokter?" tanya Sultan.
"Sudah Pa, barusan aku pencet tombol darurat."
Tak butuh waktu lama para petugas berseragam putih pun datang. Mereka meminta izin untuk memeriksa kondisi Cinta.
.
.
Telah satu jam berlalu. Cinta terharu mendapatkan perhatian sedemikian rupa dari keluarga besar suaminya. Sisa kecemasan masih dapat Cinta lihat di wajah mereka. Hanum dan Raisa bahkan tak henti menanyai keadaannya pasca tersadar.
"Baiklah Pi." Hanum mendekati menantunya, mengecup kening Cinta dan berpamitan. "Mama pulang dulu Sayang, besok Mama ke sini lagi jenguk kamu."
"Iya Ma."
Bergantian dengan Ratih dan yang lainnya berpamitan pada Cinta.
"Aku sama Rai nginap di sini aja Ma, kasihan Kak Willi kalau ditinggal bertiga," cetus Willmar.
Cinta memang meminta ingin tidur bersama bayinya malam ini. Awalnya William tak mengizinkan dengan dalih suasana rumah sakit tidak akan baik untuk Jayden yang masih bayi, tapi kemudian setelah berkonsultasi dengan dokter dan dokter menyetujuinya, membuat William mengalah.
"Mama rasa sebaiknya kamu juga pulang. Biarkan mereka bertiga menikmati kebersamaannya dengan baby boy. Kamu dan Rai kan juga harus istirahat," kata Hanum.
Willmar menatap istrinya seolah meminta pendapat, dan wanita itu mengangguk pertanda setuju.
"Langsung hubungi orang rumah kalau kamu membutuhkan sesuatu Kak," pesan Sultan pada putra sulungnya.
"Iya Pa. Hati-hati di jalan."
William mengantar kepergian keluarga besarnya hingga di depan pintu. Setelah mengunci pintu, pria itu kembali mendekati istrinya.
"Pa yang dirasa? bagian mana yang sakit? biar aku mintakan pada Tuhan untuk menggantikannya saja karena aku nggak sanggup."
"Ssst! Mas nggak boleh ngomong begitu," lirih Cinta.
"Aku hampir gila Sayang, aku hampir mati karenamu."
__ADS_1
"Maafkan aku Mas." keduanya berpelukan, menyalurkan kekuatan masing-masing.
Betapa pria itu sangat takut kehilangan istrinya, sementara Cinta merasa bersalah. Sewaktu menyentuh rahang William tadi, Cinta merasa suaminya itu menjadi lebih tirus. Baru beberapa hari saja dia tak mengurusnya dan keadaan pria itu sungguh sangat kacau.
"Terima kasih telah sadar. Terima kasih untuk kesempatan yang kamu berikan padaku untuk menjadi suami sekaligus ayah yang baik untukmu dan anak kita." Mendaratkan bibirnya di kening Cinta.
"Hm, Sayang. Putra kita sangat tampan," lirih Cinta, tangannya masih menelusuri pipi gembul Jayden yang saat ini terlelap dalam pelukannya.
"Tentu, ayah dan ibunya saja rupawan, tapi kamu serakah."
"Aku?"
"Iya. Kamu nggak lihat hampir semua bagian wajahnya mirip denganmu."
Cinta terkikih melihat tingkah suaminya. Dia jadi teringat saat William memarahi bayi itu sesaat sebelum Jayden lahir ke dunia.
"Kenapa tertawa, aku sedang tidak melawak," kata William.
"Tidak ada. Sekarang naiklah Mas, kita akan menghabiskan malam seperti orang tua baru pada umumnya."
William memang meminta istrinya dirawat di ruang khusus dengan fasilitas super mewah. Ia tak mau kenyamanan Jayden menjadi taruhannya jika Cinta dirawat di ruang VVIP. Uang baginya tak masalah.
Perlahan William menaiki kasur berukuran cukup besar itu. Gerakannya ia buat sepelan mungkin agar tak membuat jagoannya itu terusik.
"Sayang," panggil William.
"Heum? Apa Mas?"
"Kamu nggak ingin tahu nama bayi kita?"
Sejak sadar memang semua orang sibuk dan fokusnya tertuju pada Cinta hingga tak ada satu pun dari mereka yang menyebut nama Jayden. Mereka lebih sering memanggil bayi mungil itu dengan sebutan baby boy.
"Aku sudah tahu," balas Cinta.
"Hah? siapa yang memberitahumu? Aku pikir tidak ada yang menyebut nama anak kita tadi."
Cinta tak menanggapi selain hanya senyumnya yang terus merekah.
"Memang siapa namanya?" tanya William, menguji istrinya.
"Jayden," cetus Cinta. "Nama yang pas untuk putra kesayangan kita."
William membelalak tak percaya. "Oke, biar aku kasih tahu nama lengkapnya. Nama lengkapnya adalah Jay ..."
"Jayden Lee Pradipta," ucap Cinta memotong perkataan suaminya.
"Dari mana kamu tahu Sayang? apa ada yang memberitahumu tadi?"
Cinta tak berniat menjawab pertanyaan suaminya dan malah menarik suaminya ke dalam dekapannya, tapi tak begitu rapat karena ada bayi di tengah mereka.
'Terima kasih bu, aku akan selalu mengingat pertemuan kita yang sangat berkesan. Aku janji akan hidup dengan baik bersama keluarga kecilku,' batin Cinta.
Bersambung ....
*Happy reading Dears, oh ya sekedar info. Barangkali ada di antara kalian yang punya aplikasi I NO VELL atau DRE AME, itu lho aplikasi yang lambangnya kuda. Kalian bisa mampir, ada juga ceritaku di sana. Ada cerita super baper dengan ribuan ton bawang karena kata yang udah pada baca sih bikin mewek. Menceritakan tentang perjuangan seorang istri demi mendapatkan cinta dan kepercayaan suaminya, pokoknya siapin tisu kalo mau baca cerita ini. Cerita yang super romantis manis juga ada, dijamin meleleh baca keromantisan pasangan ini. Kalian bisa ketik nama penaku di kolom pencarian, di sana aku pakai nama pena Pink Princess. Kalian ketik aja, nanti akan keluar semua ceritaku di sana. Ada lima ceritaku yang nggak kalah seru lho. Terima kasih semua. Makasih buat kalian yang udah menyempatkan membaca tulisanku yang amburadul ini. Maaf nggak bisa balas komentar kalian satu satu, tapi yang jelas tiap baca komentar positif dari kalian aku jadi semangat buat ngetik kelanjutan kisah ini. Saranghae All ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1