Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Tak Menyangka


__ADS_3

"Ada apa Mas? kenapa kamu ketawa sampai sebegitunya?" Cinta menggeleng heran melihat suaminya terus terbahak.


"Willmar. Tahu rasa dia sekarang ngadepin istri hamil yang banyak maunya. Sebentar bilang ini, semenit kemudian minta itu," kata William masih sambil tertawa.


"Ooh, jadi kamu juga dulu begitu pas aku hamil?"


"Ya enggaklah, kamu tuh masuk nominasi istri hamil yang paling pengertian. Kamu nggak banyak maunya, kamu pengertian banget sama aku," sanggah William.


"Beneran? awas kalau diam-diam Mas mengeluh di belakangku."


"Enggak Sayang. Udah ayo, kita pulang, takut mama sama papa udah nungguin."


Cinta bangkit, menyeka bibir suaminya setelah mereka berdua menghabiskan sarapan dengan semangkuk bubur ayam.


"Aku bayar dulu Mas," kata Cinta.


"Oke. Nih dompetnya di saku belakang." William berbalik, meminta Cinta mengambil dompet di saku celananya.


"Nggak usah, aku juga bawa dompet," tolak Cinta, mengeluarkan dompet dari dalam tasnya lalu membayarnya.


"Besok kan hari Minggu, kita ke makam ibu?"


Cinta menoleh. "Kenapa?"


"Kok kenapa? ya mau jenguk ibu lah. Terakhir kali ke sana pas kamu sempat pendarahan waktu itu dan sampai sekarang aku belum ke sana lagi."


"Ya aku tahu, maksudku kenapa mendadak?"


"Ya nggak mendadak lah, sudah lama banget aku nggak ke sana. Kita harus ke sana, nanti aku tanya sama mama dulu, boleh nggak bawa Jayden ke pemakaman," ujar William.


"Oke."


"Jika ada penyesalan yang paling mendalam adalah karena aku tidak sempat meminta maaf ketika beliau masih hidup. Bukannya memberikan kesan yang indah, aku malah membuatnya syok hingga dia pergi dalam kemarahan yang luar biasa padaku," ucap pria itu penuh sesal.


"Ibu sudah memaafkanmu Mas, jangan pernah menyalahkan dirimu lagi."


"Tidak. Kesalahanku dulu amat fatal, ibu tidak akan dengan mudah memaafkanku."


"Tapi kenyataannya memang ibu sudah memaafkanmu Mas. Ibu sudah memberimu maaf sejak lama, sejak kamu merenungi kesalahanmu dan saat memperjuangkan aku untuk kembali padamu."


"Aku tidak yakin," lirih William.


"Kenapa Mas nggak percaya sama aku?"


"Karena kesalahanku sangat fatal, dan ibu nggak mungkin akan dengan mudah memaafkanku."


"Ya, tapi ibu sudah memaafkanmu. Mas masih nggak percaya?"


"Dari mana kamu tahu?"


"Melalui mimpi," cetus Cinta.


"Mimpi?" William menatap istrinya penuh tanya.


"Ya. Mas ingat saat aku bangun dari koma?" William mengangguk, diam dan membiarkan istrinya melanjutkan ceritanya.


"Saat itulah aku bermimpi bertemu dengan ibu. Aku sendiri nggak tahu apa itu mimpi atau apa, tapi yang jelas aku bertemu dengan ibu. Ibu sendiri yang memintaku untuk memaafkanmu dan memulai hidup baru lagi denganmu. Ibu juga berkata bahwa beliau telah memaafkanmu karena melihat ketulusanmu saat kembali berjuang untuk mendapatkanku," beber Cinta.


"Benarkah?" William menghentikan langkahnya, menatap manik mata Cinta. Sama sekali tak ada kebohongan yang William lihat di telaga bening itu.


Cinta mengangguk. "Aku nggak bohong. Mari kita lupakan semuanya, apa yang terjadi cukup menjadi pelajaran berharga yang akan kita ingat dan ambil hikmahnya Mas."


William menautkan tangan mereka, mengajak istri dan anaknya kembali ke rumah. Karena lelah dan kenyang usai menghabiskan sebotol kecil susunya, Jayden tertidur. Membiarkan kedua orang tuanya terus mengobrol hingga mereka sampai di rumah.


"Papa sama mama udah siap?" tanya William.


"Udah Kak," jawab Hanum.


"Ya udah ayo kita berangkat, papa aja yang nyetir ya, aku takut Jayden kebangun."


"Kalian nggak mau istirahat dulu?"


"Nggak usah Ma, kita udah mandi tadi sebelum berangkat ke taman. Aku sama Cinta juga udah sarapan."


"Ya udah ayo."


Hanum dan Sultan yang memang telah siap pun langsung bangkit menuju garasi mobilnya.


"Sayang, coba kamu telepon Raisa. Tanyakan padanya apa yang sedang dia ingin makan mumpung kita masih di jalan," kata Hanum pada menantunya.


"Baik, Ma."


.


.


Pagi baru beranjak siang, akan tetapi Willmar sudah dibuat mengelus dada berkali-kali akibat tingkah istrinya. Ada saja hal kecil yang menurutnya salah di mata wanita itu.


"Yang, udah dong jangan ngambek terus, aku kan udah minta maaf sama kamu," rayu Willmar.


"Mas pikir dengan minta maaf doang, cukup apa? Mas tuh sekarang apa-apa serba lama, belum lagi kalau ada salah-salahnya." Raisa terus membuang muka, seolah menatap Willmar adalah hal yang sangat menjengkelkan baginya dan pantang untuk dilakukan.


"Oke Sayang, Mas minta maaf ya? aku memang payah, tapi seenggaknya kamu lihat aku kalau ngomong. Kenapa dari tadi aku perhatikan kamu tuh nggak mau natap aku?"


"Sebel," cetus Raisa.

__ADS_1


"Apa?"


"Ya. Apa perlu aku perjelas omonganku? aku sebel sama kamu. Kalau lihat muka kamu bawaannya aku benci banget tahu nggak," ungkap Raisa.


"Ya ampun, sampai segitunya Yang?" Willmar makin mendekat, penasaran dengan ekspresi wajah istrinya yang kini terus menatap ke arah jendela.


"Ih, dibilang jangan dekat-dekat Mas," omel Raisa.


"Ya kamu kan istriku, aku suami kamu. Masa iya nggak boleh dekat-dekat sih? kamu ini ada-ada aja."


"Mas ..."


Willmar meneguk ludahnya kelat, melihat Raisa melotot padanya membuatnya ketakutan. Wanita itu hendak membuka mulutnya lagi tapi bersamaan dengan itu dering ponsel di meja membuat Raisa menelan kembali ocehan yang hendak dia semburkan pada suaminya.


"Biar Mas aja yang ambilin," kata Willmar, membuat gerakan Raisa terhenti. "Ponsel kamu Yang."


"Dari siapa?"


"Kak Cinta."


Raisa menggeser icon hijau pada layar ponselnya, lalu menempelkan benda itu di daun telinganya.


"Ya Kak? ada apa?"


"Aku sama mama dan yang lainnya udah dijalan, ada sesuatu yang ingin kamu makan nggak? biar sekalian." suara Cinta terdengar menyahut di ujung telepon.


"Hm, kebetulan aku udah makan Kak."


"Beneran nggak ada yang mau kamu beli?" tawar Cinta sekali lagi.


"Enggak ada Kak. Kakak langsung ke sini aja buruan, aku udah kangen banget sama Jayden," rengek Raisa.


"Ya. Ini udah setengah perjalanan, sebentar lagi sampai."


"Oke Kak. Terima kasih." Raisa kembali menaruh ponselnya.


"Kak Cinta bilang apa Sayang?"


"Nawarin aku mau beli apa gitu, barangkali aja ada sesuatu yang ingin aku makan."


"Terus?"


"Ya nggak ada terus-terusan lagi, aku kan udah sarapan, lagian juga aku belum ingin akan apa-apa."


Willmar menarik kursi, sejak tadi ia terus berdiri dan merasa lelah.


"Mas, kamu nggak mau mandi dulu gitu? awas aja sampai nanti Jayden sampai, aku nggak akan kasih izin kamu gendong dia," ancam Raisa.


"Oh iya, aku belum mandi." pria itu meringis, salah tingkah.


"Udah buruan."


Willmar mengambil langkah seribu menuju bilik kecil dan gegas membersihkan diri. Beruntung pria itu telah rapi dan wangi begitu malaikat kecil yang sangat dia nantikan kehadirannya itu datang.


Suasana dalam ruangan itu menjadi ramai. Jayden menangis karena tak suka dirinya menjadi rebutan Raisa dan Willmar. Pun saat bayi itu duduk dalam pangkuan Raisa, sementara Willmar tak henti terus menciumi wajahnya.


"Jayden itu baru bangun Dek, jangan digodain mulu nanti marah dia nggak mau sama kamu," ujar Hanum memperingatkan putra bungsunya.


"Habisnya Papa kan kangen sama Jayden, ya kan Nak?" tak mengindahkan ibunya, Willmar terus menciumi wajah Jayden.


"Mas, udah jangan digangguin terus Jaydennya, kasihan." kali ini Raisa ikut mengingatkan suaminya.


"Biarin," jawab Willmar sekenanya.


Plak!


Pandangan semua orang tertuju pada dua pria beda generasi itu, sepersekian detik tawa semua orang yang ada di sana pun meledak.


"Aduh Sayang, kok Papa dipukul sih," protes Willmar pura-pura merajuk.


Karena geram terus diganggu Willmar, Jayden memukul wajah pria itu dengan sangat keras, barulah Willmar berhenti menggodanya.


"Biar rada kamu Mas, udah dibilangin jangan digodain juga," sahut Raisa.


"Berikan dia padaku Rai, Jayden belum makan, mungkin dia lapar," sela Cinta.


"Biar aku yang suapin dia Kak."


"Jangan Dek, kamu kamu kan masih lemah," kata Cinta lagi.


"Nggak apa-apa Kak, beneran. Udah sini mana buburnya," ucap Raisa memaksa.


Cinta pun memberikan mangkuk kecil berisi bubur pada Raisa. Membiarkan adik iparnya itu memangku dan menyuapi Jayden, sementara para pria dan Hanum duduk di sofa.


"Gimana keadaan Rai, Dek?" tanya Sultan membuka percakapan.


"Dokter bilang udah agak mendingan Pa, cuma ya itu masih belum boleh banyak bergerak takut pendarahannya keluar lagi."


"Lho, semalam katanya udah berhenti pendarahannya," timpal Hanum.


"Emang, tapi tadi pagi sempat keluar sedikit kata Rai. Dokter bilang karena dia banyak bergerak."


"Kamu tuh jadi suami harusnya bisa jagain istri dengan baik Dek." Hanum menggeleng pelan.


"Udah aku jagain Ma, dia itu heboh sendiri pas aku bilang Jayden mau datang." Willmar membela diri.

__ADS_1


"Terus kapan kira-kira dia boleh pulang?"


"Tiga hari lagi mungkin, dokter masih harus memantau kondisinya."


"Ya sudah. Sebaiknya kamu fokus urus Raisa, biar bagaimanapun kehamilannya adalah hal yang sangat kita nanti-nantikan selama ini. Perusahaan biar Papa aja yang handle, kakakmu juga lagi banyak proyek dia."


William mengangguk membenarkan.


.


.


Pagi-pagi sekali William bangun lebih awal dari istrinya. Ia membuat roti lapis daging untuk sarapan, membuat secangkir kopi untuk dirinya sendiri lalu secangkir teh madu untuk Cinta.


"Sayang." William menepuk pelan pipi istrinya, membangunkan wanita itu.


"Iya Mas." dengan wajah bantal dan suara seraknya, Cinta terlihat makin menawan di mata suaminya. Terlebih rambutnya yang berantakan dengan wajah alaminya, rasanya William bisa langsung memakannya jika saja istrinya itu tidak sedang berhalangan.


"Bangun Sayang, aku udah buatin teh. Aku taruh di meja."


"Kenapa nggak bangunin aku? kamu bisa panggil aku kalau butuh sesuatu Mas."


"Bukan sesuatu yang besar. Kamu pasti capek ngurus aku sama Jayden seharian penuh, jadi pas libur kalau bisa gantian aku yang manjain kamu," ucap William.


Cinta menanggapi ucapan suaminya dengan sebuah senyuman. Ia beringsut dari kasur dan mengambil cangkirnya. Jarang sekali Cinta bisa bersantai di pagi hari seperti ini. Biasanya dia sudah repot dengan segala macam aktivitas yang cukup menyita waktu dan tenaganya. Cinta memang tak pernah meminta bantuan orang lain dalam mengurus suami dan anaknya selama ini. Hal sekecil membuat bubur Jayden pun dia memasaknya sendiri, terkecuali Hanum atau Raisa yang memang berinisiatif membuatnya.


"Biar aku yang pakaikan bajunya Jayden," kata William saat sang istri tengah sibuk membalurkan minyak telon di punggung bayi mereka.


"Oke." Cinta menyingkir.


"Kamu siapin aja deh keperluan buat si ganteng, habis dari pemakaman kita mau langsung jalan-jalan soalnya."


"Jalan-jalan? ke mana?"


"Ke kebun binatang," cetus William.


Cinta terkekeh, ia terus tertawa sambil memegangi perutnya dan jatuh terduduk di kasur.


"Kok kamu malah ketawa sih?" William sempat menghentikan sejenak gerakannya, melirik Cinta sebelum akhirnya kembali melanjutkan pekerjaannya memakaikan celana Jayden.


"Ya lagian Mas aneh, bayi segitu mau diajakin jalan-jalan ke kebun binatang."


"Memang apa salahnya?"


"Ya nggak salah, cuma kan dia belum tahu begituan Mas. Ada masanya nanti."


Menghembuskan napas panjang, William memberengut masam. "Bosan di rumah terus."


"Hm, kalau diajak jalan-jalan ke mall masih bisa Mas, sekalian deh beli keperluan Jayden yang kebetulan udah pada habis," sahut Cinta.


"Beneran? ya udah deh kalau gitu kita ke mall aja nanti." William menyetujui usulan istrinya.


"Oke."


Usai sarapan mereka pun berpamitan pada Hanum dan Sultan, mengatakan mereka akan jalan-jalan sepulang dari pemakaman nanti.


Jayden tak bisa tenang selama kendaraan roda empat itu melaju membelah padatnya jalanan Ibukota. Bocah itu terus merangsak naik ke jendela, memukuli kaca sambil mengoceh. Cinta sampai kewalahan mengimbangi gerakan anaknya yang terlampau aktif.


"Jayden, hei! Ayah di sini." William mencoba mengalihkan perhatian bayi itu, tak tega melihat Cinta mulai kelelahan.


Jayden menoleh, mencoba menggapai tangan ayahnya. "Apa setiap hari dia seperti ini?" tanya pria itu.


"Ya. Jam tidurnya sudah berkurang karena sekarang dia mulai latihan berdiri."


"Huh, pasti sangat melelahkan. Tanganku mungkin akan sakit jika terus menjaganya. Jayden bisa melompat-lompat seperti ini seharian."


"Seorang perempuan terlebih jika dia pernah melahirkan maka biasanya naluri keibuannya akan muncul dengan sendirinya Mas."


"Berarti kalau dipikir-pikir selama ini aku kejam juga ya sama kamu," celetuk William.


"Kenapa emangnya?"


"Ya karena hampir tiap ada kesempatan kita selalu melakukan itu. Kamu nggak pernah nolak, dan tetap mengikuti permainanku. Maafkan aku kalau terlalu egois sampai nggak pernah berpikir kalau ternyata kamu capek banget seharian, dan malam hari bukannya istirahat tapi malah musti ngurusin aku."


Mendengar istrinya tertawa membuat William kebingungan. Pria itu menaik turunkan alisnya seolah sedang bertanya pada Cinta tentang apa yang membuat wanita itu tertawa.


"Kamu nggak usah sok-sokan nyesel gitu Mas, sekarang aja ngomongnya nggak tega, coba pas udah di kasur, pasti lain lagi ngomongnya. Pasti merengek minta lagi," kata Cinta.


"Ssstt! jangan keras-keras ngomongnya, malu kalau kedengaran sama Jayden." William tersipu malu, sementara istrinya terus tertawa lepas.


"Jayden mana tahu Mas, kamu tuh lucu."


"Yang, udah dong jangan ketawa terus. Aku malu."


Ucapan William lagi-lagi membuat tawa Cinta makin meledak. Jayden yang bingung dengan reaksi kedua orang tuanya pun mulai ketakutan hingga akhirnya tangis bocah itu pecah.


"Ay ... ya ... ya ..." oceh balita itu dengan berderai air mata.


"Ya ampun Sayang." Cinta membenarkan posisi bayinya dan mulai menenangkan Jayden, tapi bocah laki-laki itu terus menangis menggapai ayahnya.


"Ooh, ganteng mau sama Ayah? sini Sayang." William membuka satu tangannya sementara tangan kanan tetap memegang kemudi mobilnya.


"Tapi kan kamu lagi nyetir Mas."


"Nggak apa-apa, udah sini, kasih Jayden sama aku."

__ADS_1


Cinta pun menaruh Jayden di pangkuan suaminya. William mencoba menenangkan tangis anak itu hingga perlahan Jayden kembali tenang. Wajahnya memerah dengan sisa air mata yang mengalir, tapi beruntung karena tak bertahan lama. Jayden mulai menyahuti ucapan ayahnya yang tentu saja dibalas dengan ocehan tak karuan.


Bersambung ....


__ADS_2