
Malam mulai merambat naik. Malam itu Cinta duduk di teras rumahnya sambil menikmati siraman cahaya perak dewi malam. Rembulan bersinar terang, bulan purnama nampak indah dan sayang untuk dilewatkan.
"Cinta, masuklah! Sudah malam, udara malam tidak baik untuk kesehatan," tegur seorang wanita dari dalam rumah.
"Iya Bu, sebentar lagi." Masih terus menatap pendar bola raksasa di atas sana.
"Besok kau pergi bekerja kan?"
"Tentu saja," sahut Cinta.
"Maka dari itu, tidurlah. Kau kurang istirahat sementara kau bangun pagi-pagi sekali dan baru pulang saat menjelang malam, kau harus menjaga kesehatan, Sayang," bujuk Tania, wanita yang dua puluh lima tahun lalu berjuang untuk melahirkan Cinta.
"Iya, baiklah. Cinta tidur sekarang, Ibu juga istirahat ya. Cinta antar ke kamar." Gadis cantik itu bangkit dari kursinya, membimbing Tania menuju kamar.
"Maafkan Ibu Cinta, selama ini Ibu hanya merepotkanmu saja," lirih wanita paruh baya itu.
"Ibu ini bicara apa?"
"Ibu memang payah, Ibu tidak berguna," ucap Tania penuh sesal.
"Cinta nggak suka Ibu bicara omong kosong seperti ini."
"Tapi kenyataannya memang begitu, Ibu penyakitan. Buat apa Ibu hidup kalau hanya menyusahkanmu saja."
"Cukup Bu, aku nggak pernah merasa direpotkan sama Ibu. Ibu satu-satunya keluarga yang aku punya, aku mohon ... Berhenti Ibu mengatakan omong kosong itu lagi," ucap gadis itu mengiba. "Selamat malam, Bu. Selamat tidur."
Usai menyelimuti ibunya, Cinta bergegas meninggalkan kamar tersebut. Rasanya ia tak sanggup jika harus berlama-lama di sana. Apalagi yang akan terjadi jika dengan berkata seperti itu saja sudah membuat Cinta menangis.
Tania memang seringkali mengatakan hal itu pada putrinya. Sang suami, Dimas, telah berpulang ke pangkuan Tuhan ketika Cinta masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Menjalani hidup yang berat sebagai janda, Tania juga harus berjuang mencari nafkah untuk menghidupi diri dan putri semata wayangnya. Belum lagi penyakit jantung lemah yang memang sudah dideritanya sejak lama, membuat Cinta juga menghabiskan masa remajanya dengan bekerja keras.
Di saat anak lain seusianya sibuk bermain usai pulang sekolah, Cinta malah menghabiskan hari dengan bekerja paruh waktu di tempat laundry. Tak jarang gadis itu pulang ke rumah jika jarum jam sudah menunjukkan angka sembilan. Beruntung Cinta termasuk anak yang cerdas, sambil bekerja dia masih bisa mencuri-curi waktu untuk belajar.
Tak mudah bagi gadis itu untuk mendapatkan gelar sarjana yang diraihnya saat ini. Setelah perjuangan panjang berdarah-darah, dengan kerja keras dan tekad yang kuat, akhirnya dengan bangga Cinta berhasil menyelesaikan pendidikannya.
Tania tak kuasa membendung genangan di pelupuk matanya jika mengingat hal itu. Di rumah sederhana itulah semua kenangan terangkai. Rumah yang menjadi satu-satunya peninggalan sang suami itu menjadi saksi bisu saat di setiap malam-malamnya Tania terus menggumamkan doa. Untaian harapan dan doa-doa tulus dia panjatkan, ia paksa menggedor pintu langit, berharap Tuhan Yang Esa akan bermurah hati melimpahkan kebahagiaan untuk putri semata wayangnya. Berharap derita dan nestapa di masa lalu akan digantikan menjadi keindahan di masa yang akan datang.
Gumpalan awan seputih kapas berarak menyambut kedatangan penguasa langit. Cicit burung bersahutan, berpadu menjadi simphoni indah saat tetes embun jatuh di dedaunan.
Cinta telah rapi dengan setelan kerjanya. Usai menyantap sarapan ala kadarnya, gadis itu pun berpamitan untuk pergi ke kantor.
__ADS_1
"Cinta berangkat ya Bu, jangan lupa obatnya diminum. Hubungi aku kalau ada apa-apa."
"Ya, hati-hati di jalan, Nak. Yang semangat kerjanya." Tania memandang penuh haru saat Cinta meraih dan mencium punggung tangannya.
"Tentu saja Ibuku, Sayang. Berkat pekerjaanku yang sekarang ini perekonomian keluarga kita membaik. Ibu jadi tidak perlu lagi berjualan kue atau bekerja serabutan lagi," ujar Cinta. "Dah, Ibu." Cinta melambaikan tangan.
Tania kembali masuk ke dalam setelah memastikan putrinya tak terlihat lagi.
.
.
Begitu turun dari halte bus, Cinta bergegas mengayunkan kakinya menuju gedung kantor tempatnya bekerja. Menyiapkan segala keperluan atasannya juga menjadi bagian dari pekerjaannya, termasuk hal kecil seperti menyiapkan camilan.
Cinta menoleh saat derap langkah kaki terdengar semakin dekat. Sosok gagah pun muncul di sana. Tubuh kekarnya dibalut kemeja biru dengan dasi berwarna navy. Sepatu pantofel hitam mengkilap keluaran pabrik kenamaan membalut kaki panjang itu. Potongan rambut berbelahan samping yang klimis, juga wangi maskulin yang begitu khas semakin menambah kesan tampan nan berkelas.
"Bapak sudah datang?" Cinta melirik arlojinya, tak biasanya William datang sepagi ini.
"Iya. Apa kau juga selalu datang lebih awal tiap hari?" William sering mendengar pujian orang-orang kantor yang mengatakan bahwa sekretaris Cinta selalu datang lebih awal dari karyawan lain.
"Ah, tidak juga. Apa Bapak sudah sembuh?"
William mendorong kenop pintu, Cinta mengekorinya di belakang. "Apa jadwalku hari ini?" Tanya William sesaat setelah mendaratkan bokong di kursi putarnya.
"Jam delapan Bapak ada rapat dengan perusahaan dari China untuk menindaklanjuti rencana kerja sama pembangunan pusat perbelanjaan di pulau Dewata. Lalu jam sebelas Bapak harus menghadiri jamuan makan siang dengan perwakilan dari Wang Group ..."
William mendengarkan dengan baik ketika Cinta membacakan rentetan jadwalnya hari ini. Namun, di saat dia mencoba untuk fokus, ia kembali teringat dengan rencananya semalam.
Ke mana pun William pergi untuk urusan bisnis, selalu ada Cinta di sampingnya. William benar-benar bersyukur karena Cinta sangat bisa diandalkan. Pekerjaannya juga terasa ringan semenjak kehadiran gadis itu.
Langit telah menjelaga, semburat cahaya jingga perlahan memudar. Wajah-wajah kelelahan begitu terpampang nyata di hampir seluruh karyawan yang bekerja di gedung itu. Satu per satu dari banyaknya karyawan mulai membubarkan diri, begitupun dengan Cinta. Tepat pada saat gadis itu sedang memasukkan barang pribadi ke dalam tasnya, tiba-tiba William datang.
"Cinta, kamu sudah mau pulang?"
"Iya, Pak. Memangnya ada pekerjaan lagi?" Cinta balik bertanya.
William menggeleng. "Tidak ada. Hm ..." William terlihat ragu, dia sungguh tak tahu harus memulainya dari mana.
"Ada apa Pak? Bapak sakit, atau perlu sesuatu?"
__ADS_1
"Tidak seperti itu. Hm ... Ya Tuhan," desah William.
Cinta semakin dibuat bingung melihat ekspresi wajah atasannya, William gelisah dan seperti orang sedang salah tingkah.
"Ehm!" William berdehem untuk menetralkan gemuruh di dadanya. "Jadi gini, kamu bisa ikut saya pergi makan malam? Ada yang ingin saya bicarakan denganmu," ajaknya.
"Ooh ... Saya kira Bapak mau bicara apa. Bisa, Pak kalau soal urusan pekerjaan mah, tapi kalau bisa pulangnya jangan terlalu malam, saya takut tidak bisa pulang nanti," ucap Cinta menyelipkan candaan.
"Soal itu kamu nggak usah khawatir, saya akan antar kamu pulang nanti."
"Ah, tidak perlu Pak, saya hanya bercanda. Bapak jangan terlalu serius."
Sebuah lengkungan timbul di kedua sudut bibir pria itu. Cinta terpana untuk beberapa saat lamanya, pasalnya dia belum pernah melihat William tersenyum.
William melajukan mobilnya menuju sebuah restoran mewah yang terletak tak jauh dari kantornya. Sepanjang perjalanan degup jantung Cinta sungguh tak bisa dikondisikan. Bukan karena Cinta hanya duduk berdua, di dekat lelaki itu, bukan. Toh selama ini juga keduanya sering duduk berdampingan dalam mobil saat dalam perjalanan bisnis. Yang berbeda kali ini adalah, mereka benar-benar berada dalam satu mobil tanpa supir. Rasa bahagia sekaligus gugup bercampur menjadi satu. Ini kali pertama Cinta berada di dekat pria yang dikaguminya sejak masih berseragam biru putih.
Cinta kembali dikejutkan saat William membukakan pintu mobilnya begitu mereka sampai di pelataran parkir sebuah restoran mewah. Gadis itu terus berjalan mengikuti langkah William.
"Pak, tidak salah? Kita akan membahas pekerjaan di restoran mewah seperti ini?" Cinta masih berpikir bahwa William membawanya kemari untuk urusan bisnis.
"Saya tidak bilang begitu, tadi," William menimpali.
"Apa? Maksud Bapak?"
"Duduk dulu."
Untuk kesekian kalinya Cinta dibuat sport jantung, William menarik sebuah bangku untuknya di meja khusus yang telah direservasi sebelumnya.
"Saya mengajakmu kemari bukan untuk membahas masalah pekerjaan, melainkan untuk urusan pribadi," jelas William begitu pria itu duduk berhadapan dengan Cinta.
Cinta masih bergeming, tatapannya terus memindai lelaki di depannya.
William tersenyum simpul, dan itu malah semakin membuat Cinta serasa terbang ke awan. Lelaki itu mengeluarkan kotak beludru dari dalam saku jasnya.
"Cinta, menikahlah denganku," ucapnya, mantap."
"Apa? Me ... Menikah," ucap Cinta, tersendat.
"Ya, menikahlah denganku," ulang William.
__ADS_1
Bersambung ....