Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Kacang kecilku


__ADS_3

Hanum menoleh begitu mendengar suara pintu terbuka, sedetik kemudian dia kembali memutar kepalanya. Melihat siapa yang datang, membuatnya malas, lalu melanjutkan kegiatannya menyisir rambut.


" Biar aku bantu." Sultan sudah berdiri di belakang Hanum, merebut sisir dari tangan istrinya.


Sampai menyisir rambut pun dibantu, memangnya dia anggap aku ini apa? aku baik-baik saja, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk sekalipun aku melakukan hal kecil begini. Kenapa sejak mendengar berita kehamilanku malah berubah menjadi posesif sekali. Apa-apa dilarang, melakukan hal biasa tidak boleh, berlebihan. Hanum memajukan bibirnya.


" Sudah rapi, rambutmu mau di apakan ini?" Sultan menatap bayangan istrinya di cermin.


" Kepang." serunya.


" Aish, aku mana bisa mengepang rambut." Sultan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Baru saja kamu bertanya padaku, mau aku apakan rambutku, setelah kujawab malah reaksimu begitu."


" Tapi ..."


" Tidak bisa?" Hanum menyambar.


Sultan berpikir sejenak, memutar otak, jawaban apa yang kira-kira bisa menyelamatkannya kali ini.


" Baiklah, kita bisa lihat tutorialnya di YouTube kan?" terkekeh, Sultan meraih ponselnya di atas nakas.


" Tidak perlu." Hanum hendak bangkit namun suaminya menahan bahunya, menyuruhnya untuk duduk diam dengan posisi semula.


" Biarkan aku mencobanya."


Setelah sepuluh menit Sultan bermain-main dengan rambut istrinya, Hanum melirik, sedikit kesal ketika melihat pantulan rambutnya di cermin. Bukannya rapi dengan dengan ikatan rambut yang saling berkaitan, yang ada malah rambutnya makin kusut karena terlalu sering di mainkan oleh Sultan.


" Haah." teriaknya, membuat Sultan kaget hingga tubuhnya terlonjak.


" Sa ... sayang."


" Hentikan Mas!"


" Tapi kan ..."


" Sudah cukup! aku bisa mengikat rambut sendiri." berbalik, merebut sisir di tangan suaminya, " Dan ini, sama sekali tidak membahayakan bayi dalam kandunganku." ujarnya, kesal.


Bagaimana tidak marah, rambutnya yang semula sudah rapi, menjadi kusut dan berantakan akibat malpraktek yang di lakukan oleh Sultan. Berdalih mau mengepang, susah payah melihat video tutorial, habis sudah kesabarannya ketika hasilnya jauh dari yang diharapkan.


" Ya sudah, biar aku saja yang bantu mengikatkan." ucap Sultan, masih bersemangat.


" Jangan macam-macam, yang ada rambutku bisa jadi kribo nanti kalau kamu terus saja memegang rambutku."


" Kalau sekedar mengikat rambut, tentu saja aku bisa. Apa kau lupa? aku kan juga pernah mengikat rambutmu dulu." kekehnya.


Kembali Sultan merebut sisir itu, matanya nanar mencari benda yang bisa dia gunakan sebagai pengikat rambut istrinya yang panjang. Bibirnya melengkung begitu melihat benda bundar lentur berwarna hitam, dia mengambilnya dan mulai merapikan rambut istrinya.


" Begini bagaimana?" tanyanya sambil merapikan bagian atas ikatannya, tersenyum puas begitu melihat hasil karyanya.


" Lumayan." Hanum menyentuh rambutnya yang diikat sebagian, suaminya membuat cepol rambut yang indah dengan menyisakan sebagian rambut yang masih tergerai di bagian bawah.


" Sudah?" meletakkan sisirnya, " Kita kerumah sakit sekarang?"


Setelah meninggalkan kamar itu, mereka kemudian berpamitan dengan kakek, mami, juga papi yang saat itu sedang duduk santai di ruang tengah.


" Kalian kenapa rapi sekali?" tanya Sultan heran, dilihatnya ketiga orang yang sedang duduk di sofa sudah berpakaian rapi.


" Kan mau ikut ke rumah sakit." sahut Ratih.


" Ya ampun Mi, kita ke rumah sakit mau periksa kehamilan, bukan mau piknik, masa iya rombongan."

__ADS_1


" Terserah apa katamu, berandal kecil." Burhan bangkit, " Yang jelas, aku mau melihat cicitku dengan mata kepalaku sendiri. Dan ya ... aku akan semobil dengan kalian."


Belum sempat Sultan menjawab, kakek beserta kedua orang tuanya sudah berjalan terlebih dahulu.


" Ck ... ish." Sultan terus menggerutu.


" Biarkan saja Mas."


" Masalahnya kita ini mau ke rumah sakit, sayang."


" Memang apa salahnya?"


" Di pikir mau ke mall apa."


" Sudahlah Mas, ayo! kasihan kalau mereka mesti menunggu." Hanum segera melingkarkan tangannya dan mengapit lengan suaminya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit pun, suasana dalam mobil yang di kemudikan Sultan tak lepas dari perdebatan kecil. Dia ingin mendengarkan musik, sekedar menghilangkan kebosanannya selama berkendara. Baru saja dia memutar sebuah lagu, Burhan sudah memarahinya, menyuruhnya mengganti lagu, dan hal itu terus berlangsung hingga lagu ke tujuh yang telah di putarnya. Rasanya setiap satu buah judul lagu diputarnya selalu salah, Burhan terus mengomel sebelum mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.


" Mau lagu apa lagi Kek? kita sedang dalam masa yang bahagia saat ini, bukankah wajar kalau aku menyetel lagu-lagu romantis?"


" Tapi itu jelek." sungut Burhan.


" Ya kalau lagu romantis memang begini, ah ... kakek mah ada-ada saja."


" Ganti yang lain, yang lebih bagus." titah pria tua itu.


" Haah." mendesah nafas panjang, " Mau diganti dengan ribuan judul lagu, tetap tidak akan ada yang bagus. Karena menurut kakek, lagu yang bagus hanyalah lagu-lagu perjuangan. Yang sering kakek dengar selama menjalani pendidikan militer dan selama bertugas." Sultan mendengus.


Pria itu berjengit ketika kakeknya terus saja mentertawakan dirinya, kali ini jawabannya memang benar adanya. Sepanjang usia Burhan, tidak pernah pria itu mendengarkan lagu-lagu lain selain lagu perjuangan yang sering di dengarnya selama terjun menjadi perwira negara. Jadi, jangankan lagu romantis, lagu pop biasa pun, Burhan mana tahu.


Bersatu prajurit TNI Satya Merah Putih


Teguh pada sumpah setia, Takwa kepada Tuhan


Rela berkorban Jiwa dan Raga demi Indonesia.


Sultan menyanyikan lagu Hymne TNI dengan penuh penghayatan dan nada yang dibuat-buat. Seolah dirinya memang seorang prajurit pembela negara yang sedang menyanyikan lagu tersebut sebelum menjalankan tugasnya.


Membuat tawa Burhan makin pecah, bahu pria tua itu sampai berguncang saking kerasnya dia tertawa.


" Kau sampai hafal begitu?" menepuk pundak cucunya, " Suaramu tidak buruk, kau bisa jadi vokal utama jika menyanyikan lagu itu di markas." kembali melanjutkan tawanya.


" Bagaimana tidak hafal, meskipun aku bukan seorang prajurit tentara, aku terus di cekoki dengan lagu-lagu itu bahkan semenjak aku masih dalam kandungan Mami." sungutnya, melirik ke arah spion demi melihat wajah istrinya yang saat ini duduk di bangku penumpang di belakang.


Lalu dirinya pun ikut tertawa setelah melihat Hanum yang juga terbahak melihat tingkahnya.


Sultan memarkirkan mobilnya begitu sampai di rumah sakit besar yang terletak di jantung kota. Sampai disana, terlihat kedua orang tuanya sudah menunggu di lobby rumah sakit, ternyata mereka sampai terlebih dulu.


Kemudian mereka segera menuju poli kandungan, Ratih telah mendaftar via online tadi pagi. Sesampainya di poli kandungan, mereka hanya menunggu sekitar lima belas menit karena nama Hanum yang kemudian di panggil.


Mereka terus saja membuat perhatian pengunjung rumah sakit tertuju pada mereka, pasalnya, mungkin hanya pasangan tersebut satu-satunya pasangan yang mengajak serta pasukan khusus, ketika akan memeriksa kandungan. Untung saja dokter kandungan yang bekerja di rumah sakit tersebut adalah teman SMA Ratih. Jadilah Ratih hanya perlu sedikit membujuk temannya agar mengizinkan mereka semua masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


" Ini mantu kamu Jeng?" tanya dokter berkacamata itu.


" Iya."


" Cantik sekali."


Hanum yang terbiasa mendengar pujian demikian, tetap tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang saat itu memerah seperti tomat ranum.


" Baiklah, ayo kita mulai ya?"

__ADS_1


Raut muka dokter Ina kembali serius, dia mulai menanyakan beberapa hal kepada Hanum dan Hanum menjawabnya dengan baik.


Setelah sesi tanya jawab itu selesai, dokter meminta Hanum berbaring di bed rumah sakit. Sementara seorang suster menutupi bagian bawah tubuh Hanum dengan selimut, sedikit mengangkat gaunnya dan mengoleskan gel di perutnya. Dan dokter mulai memutar transducer, terus memutar alat tersebut sampai dia menemukan apa yang dicarinya.


" Lihat titik hitam ini." ucapnya pada orang-orang yang berkumpul di belakangnya sambil melihat layar monitor, " Ada dua titik hitam sebesar biji kacang." menoleh pada Ratih, " Luar biasa sekali orang yang bernama opa Noh itu, dia bisa segera mengetahui kondisi menantumu padahal orang itu hanya memeriksa denyut nadi Hanum saja. Beliau bisa segera mengetahui kalau menantumu mengandung bayi kembar. Aku sampai merinding begitu kamu menceritakannya padaku semalam." ucapnya pada Ratih.


" Kan sudah kubilang kalau beliau itu dokter terkenal yang juga mempelajari ilmu pengobatan Tiongkok. Kakek Noh baru pulang ke Indonesia ini belum lama." terang Ratih, " Lalu bagaimana kondisi janinnya?"


" Kondisi kedua janin sehat. Hanya saja mengingat kondisi sang ibu yang cukup lemah, sebaiknya dia jangan melakukan aktivitas fisik yang bisa membuatnya kelelahan."


Dokter Ina selesai dengan alatnya, dan mereka semua kembali duduk di bangku setelah perut Hanum selesai di bersihkan.


" Apa sudah bisa terlihat jenis kelaminnya dok?" tanya Burhan.


" Kalau itu belum bisa Tuan, paling tidak kalau usia kandungannya sudah mencapai bulan ke empat, kita baru bisa melihat jenis kelaminnya."


" Lalu, apa yang harus saya lakukan selama menemani masa kehamilan istri saya dok?" Sultan yang sejak tadi diam karena terlalu larut dalam kebahagiaan, akhirnya buka mulut.


" Tentu saja Anda harus menjaganya, dalam kasus ini, denyut jantung Hanum cukup lemah, jangan biarkan dia kelelahan."


" Selain itu, apa ada pantangan makanan atau sesuatu yang dilarang dilakukan istri saya?"


" Tidak ada, beri ibu hamil dengan makanan yang bisa memenuhi asupan gizi untuk ibu dan calon bayinya. Saya akan meresepkan beberapa vitamin dan juga obat yang bisa Anda tebus di bagian farmasi. Trimester awal kehamilan adalah masa-masa yang rentan, jaga kondisi kesehatan ibu hamil, jangan membuatnya stress dengan membuatnya banyak pikiran." dokter mulai menulis di atas kertas kecil, " Oh ya, perlu saya terangkan juga, hormon pada ibu hamil itu meningkat, jadi jangan heran jika melihat ibu hamil yang mendadak mual, menjadi pemarah, kadang murung dan emosinya tidak terkontrol. Tugas Anda sebagai suaminya adalah dengan tetap memastikan kenyamanan istri Anda. Jangan membuatnya stress."


Sultan terus menganggukkan kepalanya, pertanda kalau dirinya mengerti akan maksud dari setiap perkataan dokter itu padanya.


Mereka menghabiskan waktu hampir tiga jam selama di rumah sakit, mesti sabar menunggu, melewati setiap proses dari awal mereka datang sampai akhirnya mereka pulang. Sebenarnya dengan koneksi yang dimiliki Burhan yang notabene merupakan salah satu orang terpandang di kotanya, dia bisa saja mempercepat proses pemeriksaan kehamilan cucunya tanpa perlu repot-repot antre dan menunggu. Terlebih lagi dokter kandungannya yang ternyata adalah teman Ratih, mereka bisa dengan mudah keluar masuk ke sana tanpa kendala apapun. Tapi kembali lagi, Burhan tidak mungkin melakukan cara praktis seperti itu, bukankah disiplin adalah menjadi hal yang sudah melekat dalam dirinya.


Mobil yang membawa kedua orang tua Sultan sudah terlebih dulu meninggalkan tempat parkir. Sultan menyuruh kakeknya untuk ikut ke dalam mobil tersebut, sementara dirinya dan Hanum saat ini sedang beristirahat, duduk di bangku khusus yang terdapat di samping tempat parkir.


" Kamu lelah?" diambilnya tisu dari dalam tas istrinya, kemudian menyeka butir keringat yang muncul di kening Hanum.


" Sedikit." jawabnya, " Lebih dari itu, aku haus."


" Astaga, maaf, aku sampai lupa tidak memberimu minum." Sultan bangkit, " Tunggulah sebentar, aku beli air mineral dulu ya? disana." menunjuk sekerumunan pedagang kaki lima yang berada tak jauh dari tempat duduknya.


Hanum mengangguk, dia melihat suaminya berlari dari sana, dan tak lama, pria itu kembali dengan sebotol air di tangannya.


" Minumlah." Sultan menyerahkan botol tersebut setelah melepas segel dan membuka tutupnya.


" Terimakasih." Hanum menyerahkan botol yang sudah berkurang setengah dari badan botol tersebut.


" Masih mau istirahat atau langsung pulang?"


Sultan mengalihkan pandangannya begitu istrinya tak menjawab pertanyaannya dan malah terus menatap pada satu titik. Dia pun langsung mengetahui apa yang saat ini sedang Hanum inginkan begitu pusat pandangannya tertuju pada sebuah gerobak yang tengah di kerumuni pembeli.


" Mas." lirih Hanum.


" Hm, kamu mau?"


" Iya? tolong belikan untukku ya?"


" Baiklah, tunggulah disini, aku akan kesana membelinya untukmu." mengusap perut istrinya sebelum dia pergi, " Kali ini apa kacang kecilku yang menginginkannya atau ibunya?"


" Apa?"


" Ya, dua kacang kecilku." masih mengusap perut istrinya.


Lalu keduanya tertawa, entah kenapa Sultan sering mendadak bersikap konyol akhir-akhir ini.


.

__ADS_1


__ADS_2