Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Terbongkar


__ADS_3

" Mbok, semuanya sudah selesai?" tanya Sultan, mendekati mbok Darmi yang sedang membereskan beberapa keperluan. " Kita sudah bisa pulang sekarang." Sultan meletakkan sekantong obat yang baru saja di ambilnya dari bagian farmasi.


" Sudah den bagus, semuanya sudah beres." sahut wanita tua itu.


Setelah selesai menjalani beberapa pemeriksaan untuk kesekian kalinya, akhirnya dokter memberikan izin kepada Hanum untuk pulang. Setelah melihat kondisi kesehatan Hanum yang berangsur membaik, dia di perbolehkan untuk rawat jalan dan masih harus melakukan kontrol ke rumah sakit untuk mengecek luka bekas operasinya.


Pak Parmin membawa tas berisi beberapa keperluan Hanum selama gadis itu di rawat di rumah sakit, mbok Darmi pun terlihat menenteng kantong plastik di tangannya.


" Kita pulang." kata Sultan, dia bermaksud untuk membopong tubuh Hanum yang terlihat masih sangat lemah.


" Tidak usah, pakai kursi roda saja." tolak Hanum.


" Tidak apa-apa."


Dan seketika tubuh Hanum melayang, Sultan sudah membopongnya.


" Tidak ada yang ketinggalan kan mbok?" tanya Sultan sambil berjalan menyusuri lorong.


" Tidak den."


Mereka terus berjalan, sesekali Hanum tersipu malu saat orang yang berpapasan dengan mereka di sepanjang jalan, terdengar menggosipkannya.


Beberapa orang berbisik, memuji Sultan yang saat itu sedang menggendong tubuh istrinya, Hanum bisa mendengar mereka memuji suaminya yang mereka anggap sebagai suami idaman.


.


Siang itu, sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di halaman rumah Sultan, pintu mobil terbuka dan seorang gadis turun.


Dia lalu menggandeng lengan suaminya dan terus melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut.


" Eh, ada den Adam toh." mbok Darmi yang saat itu sedang membersihkan ruang tengah pun mendekat. " Istrinya?" menunjuk Ajeng.


" Iya mbok, kenalkan, namanya Ajeng."


" Ajeng."


" Mbok Darmi"


Ucap mereka bersamaan, saling berjabat tangan.


" Cantik kan mbok istri saya?" tanya Adam sambil tersenyum.


" Cantik banget den, cocok." wanita tua itu membentuk sebuah bulatan dengan jari telunjuk dan ibu jari yang menyatu.


Mendengar itu membuat Ajeng tertawa geli, dia menyenggol lengan suaminya.


" Sultan ..."


" Den Sultan ada di ruang kerjanya, den."


" Kalau Hanum?"


" Ada di kamarnya den."


" Ya sudah mbok, kami naik dulu ya."


" Njih den."


Adam menggandeng tangan istrinya, menaiki tangga yang menghubungkan antara lantai bawah dengan kamar utama yang di tempati Hanum.


Ajeng sengaja datang kesana begitu mendengar berita kepulangan temannya dari rumah sakit, gadis itu belum sempat menjenguk Hanum selama dia dirawat di sana. Sembari menemani istrinya, Adam bisa bicara dengan Sultan di ruang kerja.


Mereka berdua berpisah begitu sampai di lantai atas bangunan itu.


Ajeng mengetuk pintu sebelum kemudian mendorong daun pintu kamar Hanum.


" Ajeng." Hanum yang tengah duduk di ranjang sambil membaca novel, terlihat begitu senang melihat kedatangan temannya.


" Hanum ..." Ajeng tak kalah histeris.


Mereka berdua pun berpelukan, Ajeng terlihat sangat emosional, dia sampai menitikkan air mata.


" Kok malah nangis?" Hanum yang mendengar isak tangis Ajeng, melepaskan pelukannya.


" Aku takut." lirihnya. " Aku takut waktu dengar kamu kecelakaan, apalagi kamu sampai mengalami koma." tangis Ajeng makin menjadi.


" Sudah." Hanum kembali memeluk temannya. " Yang terpenting sekarang kan aku sudah sembuh." menepuk punggung Ajeng. Berusaha menenangkan gadis itu.


Hanum lalu meraih kotak tissue yang ada di atas nakas, memberikannya pada Ajeng.


" Ini semua gara-gara perempuan jahat itu, aku nggak terima. Aku akan balas dia!"


" Hust! hati-hati kalau bicara, kamu lagi hamil. Jangan sembarangan bicara yang tidak baik."


" Ini semua karena aku kesal, aku nggak terima kamu diperlakukan seperti itu sama suamimu."


" Sabar."


" Bisa-bisanya kamu menyuruhku untuk sabar, kalau aku jadi kamu, sudah aku balas perempuan jahat itu."

__ADS_1


Untuk pertama kalinya setelah kecelakaan itu, Hanum tertawa terbahak. Bukan tanpa alasan dia tertawa, dia merasa lucu melihat tingkah Ajeng yang terlihat menyimpan dendam pada Mauryn. Gadis itu terus memaki dan menghujat Mauryn, mengatakan semua keburukannya dengan sangat berapi-api. Seakan hendak memukulnya seandainya saja wanita itu ada di sana sekarang.


Sementara di ruang kerja.


" Kamu serius Dam?" Sultan melemparkan tatapan tajam, menyoroti lawan bicaranya.


" Jadi kamu pikir aku main-main?" Adam balik bertanya.


" Bukan itu maksudku, aku hanya tidak menyangka. Kenapa orang itu suaminya Mauryn? kenapa mesti dia pelakunya, ini semua tidak masuk akal. Dia tidak kenal Hanum sama sekali, tidak ada sangkut pautnya, lalu apa motif dia melakukan hal itu?"


Sultan benar-benar tak habis pikir dengan kejadian ini, membayangkannya saja sudah membuatnya hampir gila.


" Tidak perlu memasang tampang begitu!" Adam mencebik. " Selama ini kan aku yang bekerja, aku menggali semua informasi yang berhubungan dengan cincin itu. Sampai kita sudah mulai menemukan titik temu, jangan membuat dirimu stress, aku akan mencari tahu alasan dibalik kejahatan yang sudah dia perbuat."


" Bisa gila aku Dam, kalau terus begini."


"Sudah kubilang, fokus saja pada istrimu."


" Aku tetap tidak tenang sebelum mengetahui semua kebenarannya."


" Ini skenario Tuhan, percaya saja kalau Dia akan membantu kita mengungkap misteri ini, semua yang sudah terjadi sejauh ini pastilah karena campur tangan Tuhan. Ingat bagaimana Hanum menemukan cincin itu? lalu aku yang secara tiba-tiba menemukan pasangan cincin itu. Aku yakin, semua ini bukan kebetulan."


" Ya aku percaya."


" Kita hanya harus bersabar saat ini, menggali informasi lebih banyak lagi."


Sore harinya, Ajeng dan suaminya berpamitan setelah lebih dari tiga jam sejak kedatangan mereka.


" Sering-seringlah berkunjung, Hanum sudah resign dari pekerjaannya. Dia akan bosan kalau di rumah terus tanpa ada yang menemaninya." pinta Sultan pada Ajeng.


" Ya." gadis itu menjawab singkat.


" Aku melihat dia tertawa dan sangat bahagia sejak melihatmu datang."


" Ya sudah." Adam menyela. " Sudah jam empat, setelah ini aku masih harus ke kafe."


" Baiklah." Sultan mengangguk. " Hati-hati di jalan, terimakasih sudah mampir."


Kedua pria itu sempat berpelukan sebentar, Sultan melihat kepergian temannya sampai mobil yang ditumpanginya itu sudah tak terlihat lagi.


Sultan mengayunkan kakinya, kembali menapaki anak tangga menuju kamar utama. Dia akan melihat kondisi Hanum, sejak pagi dirinya berkutat dengan tumpukan pekerjaan di ruang kerjanya sampai sore. Mereka pun belum sempat membicarakan permasalahan rumah tangga yang menimpa keduanya.


Dia mendorong pintu, tak terlihat tanda-tanda ada Hanum di sana. Sultan mengedarkan pandangannya, berjalan pelan mulai mencari dimana keberadaan istrinya.


Perasaan lega menyeruak begitu dirinya mendengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi. Menandakan kalau saat ini Hanum sedang melakukan ritual membersihkan diri di dalam sana. Lalu dia memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya.


Dengan langkah gontai, Hanum perlahan menuruni anak tangga. Dia yang sudah berganti pakaian terlihat lebih segar setelah mandi.


" Hanum mau jalan-jalan sebentar bi, rasanya bosan terus menerus di kamar."


" Sebentar ya, bibi taruh baju ini dulu, nanti bibi temani."


" Tidak usah bi, Hanum cuma mau keluar sebentar kok, jalan-jalan di sekitar komplek."


" Makanya bibi temani non."


" Hanum ingin sendiri bi." tolaknya halus.


" Tapi kan non Hanum baru sembuh, nanti kalau tuan tahu nona keluar rumah lalu marah, bagaimana?"


" Dia tidak akan marah bi."


Hanum tak menggubris perkataan bi Mar lagi, dia hanya ingin menghirup udara segar, ada taman yang berada tak jauh dari rumahnya. Dia butuh menyendiri, memikirkan langkah apa yang akan dilakukan kedepannya. Dia harus memikirkan keputusan apa yang akan dia ambil setelah semua kejadian pahit yang di alaminya selama hidup bersama Sultan.


Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, sampailah Hanum di sebuah taman yang berukuran cukup luas. Taman itu dipenuhi dengan pengunjung yang singgah di sana, Hanum melihat banyak orang yang datang. Ada banyak pemuda pemudi yang sepertinya sedang menghabiskan waktu berduaan di sana, mereka duduk di bangku yang agak sepi pengunjung. Ada wanita lanjut usia yang duduk di kursi roda dengan seorang anak di belakangnya. Senyumnya terkembang sempurna saat tatapan matanya tertuju pada sekumpulan anak-anak yang sedang asyik bermain di sisi lain bagian taman itu.


Hanum yang merasa lelah pun mencari bangku kosong untuk bisa dia duduki, dia cukup kesulitan mencari tempat kosong karena hampir semua bangku penuh dengan pengunjung.


Dia menyeret kakinya lebih jauh lagi, dan akhirnya usahanya membuahkan hasil, ada bangku kosong di sana.


Dia lalu menghela nafas panjang, kondisinya belum pulih sepenuhnya, Hanum merasa hanya berjalan sebentar saja namun dia sudah merasa sangat lelah. Rasa haus pun menghampirinya, dia merogoh saku bajunya, satu per satu kantong di periksa.


Kosong.


Tak ada apapun dalam saku bajunya, dia lupa tidak membawa ponsel dan juga uang. Tadinya dia pikir, dia tidak akan memerlukan kedua benda itu, tapi nyatanya dia malah sangat membutuhkannya sekarang.


Tiba-tiba seorang pria muncul dengan memberikan sebotol air mineral padanya, Hanum mendongak. Dia terkejut begitu melihat sosok di depannya.


" Ambillah, kamu haus bukan?"


" Tidak boleh sembarangan menerima air minum dari orang asing. Siapa yang tahu kalau kamu bisa saja mencampurkan sesuatu dalam minuman itu."


" Yang benar saja." pria itu berjengit. " Apa aku terlihat seperti orang jahat?"


" Tidak semua orang jahat, tapi tidak semua orang juga baik. Aku hanya cari aman saja."


" Jawaban macam apa itu." pria itu mencibir, lalu duduk di samping Hanum. " Ambillah, ini masih bersegel, lagi pula mana ada penjahat tampan begini sih? kebanyakan orang jahat itu mukanya menyeramkan, seperti preman, mafia ... apa aku terlihat seperti itu?"


" Sekarang malah banyak penjahat berwajah malaikat."

__ADS_1


Sontak pria itu langsung menoleh gadis di sebelahnya, menatapnya tajam.


" Tidak perlu berpura-pura kaget begitu." Hanum masih menatap lurus ke depan. "Sekarang banyak tindak kriminal yang melibatkan orang-orang dengan wajah rupawan untuk melancarkan aksinya. Contohnya seperti, banyak gadis-gadis cantik yang di rekrut untuk menjadi petugas asuransi kesehatan gadungan. Mereka lari membawa kabur uang hasil penipuan yang mereka lakukan kepada para nasabahnya."


Pria itu menghela nafas lega.


" Aku pikir apa." ucapnya.


"Memangnya apa?" Hanum menoleh, menatap wajah pria yang duduk bersamanya namun agak berjauhan.


" Ah,tidak ... tidak ..."


" Omong-omong, kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Hanum.


" Aku biasa datang kesini."


" Hah?"


" Jangan kaget begitu, rumahku ada di dekat sini."


" Sungguh?" Hanum hampir tak percaya.


" Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?"


" Wah ... wah ... ternyata kita bertetangga, kebetulan sekali."


" Kita akan lebih sering bertemu nanti." pria itu tersenyum.


Mereka lalu saling bercerita, Hanum tak menyangka, dia yang awalnya ingin menyendiri malah bertemu dengan pria yang dikenalnya. Pria yang membuat suaminya sempat terbakar api cemburu karena pesan yang dikirim olehnya dulu.


Hanum tak menyadari kalau saat ini ada pria yang sedang mengawasi mereka dari balik pohon. Pria itu mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menahan amarah yang memuncak, apalagi saat melihat Hanum tertawa lepas ketika berbicara dengan pria itu. Entah apa yang mereka bicarakan, hal lucu apa yang membuatnya tertawa sampai sebegitunya.


Tak butuh waktu lama untuk Sultan mendekati keduanya. Dia mencekal kerah baju pria itu dan melayangkan tinjunya.


Dion yang terkejut tidak sempat menghindar, tubuhnya jatuh di atas rerumputan. Belum sempat dia bangun, Sultan sudah menghujaninya dengan pukulan tanpa ampun.


Hanum menjerit ketakutan, belum pernah dia melihat suaminya begitu marah sampai menghajar orang habis-habisan seperti itu.


" Mas!" pekiknya, dia meraih lengan suaminya yang masih dengan brutalnya membuat Dion babak belur. " Hentikan mas aku mohon."


" Lepaskan aku!" Sultan kembali hendak memukul Dion.


Dan, bug ...


Giliran Dion menyerang balik Sultan, mereka berdua benar-benar seperti orang yang sedang beradu jotos di atas ring tinju.


Berulang kali Dion mengelak, berusaha menangkis setiap pukulan yang dilayangkan Sultan padanya. Seberapa pun kuatnya dia mencoba membalas namun tak berarti apa-apa bagi Sultan. Dion tetap tidak bisa mengimbangi kepiawaian Sultan dalam hal adu jotos. Pria itu jatuh tersungkur dengan darah yang keluar dari hidung dan juga bibirnya.


Miris, Dion tampak begitu menyedihkan, dia merasa sudah berusaha sebaik mungkin dalam segala hal, nyatanya dia tetap tidak bisa mengalahkan Sultan. Sultan tetap selalu jauh berada di atasnya, dalam hal apapun, bukan hanya soal adu jotos seperti yang baru saja terjadi, tapi juga dalam hal mengambil hati seseorang.


Sakit hati yang Dion rasakan jauh lebih menyakitkan ketimbang dihajar sampai babak belur oleh Sultan. Sangat menyakitkan mengetahui kenyataan kalau sesungguhnya Mauryn, istri yang di nikahinya beberapa tahun lalu masih menyimpan rasa yang begitu mendalam pada pria itu.


" Hentikan mas, aku mohon." Hanum bergerak untuk menolong Dion bangun dari duduknya.


" Kamu tahu kenapa aku sampai memukulnya?" Sultan menarik kasar tangan istrinya yang sedang menyentuh Dion.


" Kamu salah paham mas, aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa, kita nggak sengaja bertemu." Hanum berkata demikian karena mengira suaminya melakukan tindak kekerasan itu akibat dari rasa cemburunya.


" Kamu yang salah, tidak seharusnya kamu berdekatan dengan pria berbahaya sepertinya, dia!" menunjuk Dion. " Pria ini yang sudah masuk diam-diam ke dalam apartemen kita dulu dan berusaha melecehkanmu."


" Apa?" air mata Hanum jatuh tiba-tiba. " Tidak mungkin." lirih Hanum sambil menggelengkan kepalanya.


" Tidak seharusnya kamu mudah percaya pada orang, tidak semua orang baik, Hanum."


" Tidak mungkin." tubuh Hanum ambruk, dia kembali mencium aroma parfum yang sama persis dengan yang dia cium dari tubuh pria si penyusup.


Dia mendongak ke arah Dion di depannya, air matanya makin deras saat mencium wangi yang sama.


Dia baru menyadarinya sekarang, pantas saja bau parfum Dion seakan sangat familiar baginya. Dia mencium wangi yang sama ketika berdekatan dengan Dion namun belum mengingat kalau ternyata itu adalah wangi yang sama, yang berasal dari satu pria.


Tubuh Hanum bergetar hebat, bayangan kejadian buruk di masa lalu itu kembali menghantuinya.


Sultan yang menyadari kalau saat ini Hanum begitu ketakutan, dia langsung merengkuh tubuh gadis itu. Membenamkan wajah istrinya, di dadanya, mengusap kepalanya lembut.


" Tenang, ada aku disini."


Hanum merasakan pandangannya kabur, dia tak bisa melihat apa-apa, hanya gelap.


" Hanum ..." Sultan mengguncang tubuh istrinya yang sudah lunglai dengan mata terpejam. " Hanum ..." ulangnya.


Dia yang panik mendapati istrinya pingsan, segera mengangkat tubuh hanum.


" Urusan kita belum selesai." menatap Dion. " Aku tunggu itikad baikmu, sebelum aku mengangkat masalah ini ke meja hijau."


Kemudian Sultan berlari menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari taman. Seandainya saja Hanum tidak pingsan, ingin rasanya dia mengintrogasi Dion detik ini juga.


.


Holla ... readers kesayanganku 🥰 semoga selalu suka dengan tulisanku ya. Jangan lupa dukungannya, dan untuk kalian yang selalu dukung aku,aku ucapkan terimakasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


Membaca komentar positif dari kalian adalah hal yang paling membahagiakan buatku, jadi jangan lupa tinggalkan jejak ya. Mohon maaf kalau aku tidak bisa balas komen kalian satu per satu, yang jelas, terimakasih sudah selalu membaca tulisanku.


__ADS_2