
Dion masih termenung, beberapa saat yang lalu dia berpikir keras, mencoba mengerti maksud dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Wina padanya.
"Tiga puluh dua," ucap Dion.
Dia baru sadar kalau Wina menanyakan ukuran celananya.
"Ayo sudah sana, pesankan celana dengan nomor tiga puluh dua untukku," katanya lagi karena melihat Wina masih saja diam mematung di tempatnya. "Tunggu apa lagi? apa kau mau membuatku mati kedinginan?"
Dion mengulangi perintahnya, menyelipkan sedikit candaan disana karena lawan bicaranya yang sepertinya masih betah melamun.
"Wina ...," Dion menyentuh bahu Wina. "Betah sekali melamun? nggak takut kesambet?"
Wina tersentak.
"Ah, maaf. Aku sampai lupa. Berapa tadi?" tanyanya ragu.
"Apanya?" tanya Dion, bertanya seolah dia tak mengerti apa-apa padahal jelas-jelas dia tahu.
"Ukuran celanamu?"
Dion terkikik karena melihat perubahan raut wajah Wina.
"Kan tadi sudah aku bilang, memang kau tidak dengar?"
Lagi-lagi Dion menggoda Wina, rasanya sangat menyenangkan jika dia terus membicarakan soal ukuran celana yang mana selalu berhasil membuat Wina tersipu malu.
"Jangan bercanda! cepat beritahu aku berapa ukuran celanamu agar aku bisa segera memproses transaksinya dan barangnya segera sampai disini. Atau kau sengaja ya? membuat ini menjadi lebih lama agar supaya kamu kedinginan lalu sakit dan kemudian menyalahkan aku?" cecar Wina, tatapan matanya menyelidik.
"Tepat sekali." Dion menjentikkan jarinya, membenarkan ucapan Wina. "Kan kalau aku sakit, aku jadi bisa sering-sering menemuimu."
"Jangan bertingkah seperti anak kecil! kenapa cara berpikirmu pendek sekali," Wina menggerutu.
"Dan aku benar-benar rela sakit jika itu memang bisa membuatku sering melihat wajah cantikmu."
"Ssttt ...!"
Wina menaruh jari telunjuknya di bibir Dion.
"Jangan bicara sembarangan!" seru Wina.
Gadis itu sama sekali tak suka jika Dion menjadikan 'sakit' sebagai bahan candaan.
Melihat Wina memasang wajah kesal malah membuat Dion makin menggila. Dia mengecup jari Wina yang masih berada pada bibirnya yang mengakibatkan Wina marah. Puncaknya gadis itu menghadiahi sebuah cubitan di perut Dion.
"Auww ...! Sakit," rengek Dion manja.
"Jangan coba-coba untuk menipuku," Wina mencebik.
"Ini benaran sakit, aku tidak bohong." Dion terus meringis kesakitan sambil memegangi perutnya, tubuhnya merosot ke bawah.
"Astaga! biar aku periksa."
Wina duduk bersimpuh, dia menyibak kaos yang dipakai Dion.
"Bodohnya aku, bagaimana bisa aku mencubit bekas operasimu? apa ini sakit?" tanya Wina, panik.
"Kau pikir saja sendiri, jelas-jelas aku kesakitan begini memang kau pikir aku sedang berakting apa? aku bukan aktor yang bisa memainkan peran pria pesakitan dengan baik," Dion terus meracau.
Dia ingin melihat sejauh mana Wina mencemaskan dirinya itu sebabnya dia terus menakut-nakuti gadis itu dengan bertingkah seolah dirinya merasakan sakit yang luar biasa. Dia memang merasakan sakit karena Wina mencubit perutnya tepat dibagian bekas operasinya, tapi rasanya tidak sesakit itu.
"Apa kau bisa menahan rasa sakitnya? akan aku ambilkan obat untukmu."
"Rasanya sakit sekali Win," pekik Dion, mencekal tangan Wina. "Aku tidak kuat lagi, sungguh ... Sepertinya malaikat pencabut nyawa telah menjemputku. Mereka ada di belakangmu sekarang."
Terkejut mendengar pernyataan Dion, Wina pun menoleh.
__ADS_1
"Tidak ada siapa-siapa di belakangku, Di. Kau jangan membuatku takut."
Wina merengek, ia tak bisa lagi menahan tangisnya.
"Mana bisa kau melihatnya, itu karena kedatangan mereka hanya bisa dilihat oleh orang yang mereka kehendaki untuk segera bertemu dengan Tuhannya saja."
Dion yang semula masih kuat untuk duduk sekarang sudah berbaring lemas, dinginnya lantai terasa begitu menusuk kulitnya terlebih lagi pakaiannya yang masih basah, semakin membuatnya menggigil.
"Kumohon bertahanlah Di, aku akan segera menelepon rumah sakit untuk mengirimkan ambulans."
Baru saja Wina menutup bibirnya, dia berteriak histeris begitu Dion memejamkan matanya sementara tubuhnya pun tak bereaksi.
"Jangan begini Di, aku mohon! kita sudah pernah berpisah sekali dan aku tidak akan rela jika kita harus kembali berpisah. Bangun, Dion!" Wina mengguncang tubuh Dion.
Air mata Wina semakin deras manakala Dion masih tak memberikan respon apapun.
"Dion, bangun! aku memerintahkan dirimu untuk bangun. Kau tidak boleh mati, Di. Aku mohon, ayolah bangun!" Wina masih terisak.
Tiba-tiba Wina teringat sesuatu. Dia menaruh kedua tangannya di atas dada Dion. Melakukan gerakan yang biasa dia lakukan sebagai langkah awal pertolongan pertama pada orang yang mengalami gagal jantung.
"Bangun, Di."
Wina melakukan hal tersebut berulang kali, sesekali berhenti untuk menyeka air mata yang membanjiri wajahnya.
Panik, kali ini dia menghentikan kegiatannya memompa jantung Dion, beralih ke wajah pria yang tergeletak di lantai.
Dengan tangan gemetar Wina menggunakan satu tangannya membuka mulut Dion, tidak ada jalan lain lagi.
"Kau harus tetap hidup, setidaknya bertahanlah demi aku. Aku bisa mati dengan membawa penyesalan jika kau mati sebelum mengetahui isi hatiku padamu."
Secepat kilat Wina mendaratkan bibirnya sementara tangannya bergerak membuka mulut Dion. CPR, satu-satunya hal yang dia harapkan bisa mengembalikan kesadaran Dion.
Wina menaikkan kepalanya, kembali menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk kemudian bisa dia berikan pada pria yang saat ini sedang sekarat di depan matanya.
"Aku mencintaimu! aku ingin kau mendengar kata-kata itu langsung dari mulutku. Kau tidak boleh mati Di, jadi kumohon bangunlah! aku melarangmu mati, jangan mati sebelum kau mengetahui perasaanku yang sebenarnya, aku sangat mencintaimu. Dion ...!" teriak Wina hampir putus asa.
Lama.
Dion masih terbujur kaku.
Wina mengendurkan tubuhnya, dia tertunduk pilu.
"Kau tahu, sepanjang perjalanan hidupku, sudah tidak terhitung berapa jumlahnya pria yang aku temui selama ini. Tapi percayalah, dari sekian banyak pria itu tak ada satu pun yang istimewa bagiku. Banyak sekali pria yang mencoba untuk mendekatiku, mereka datang dari berbagai kalangan. Pengusaha, pejabat negara, pegawai pemerintahan, model, sampai dari kalangan satu profesi denganku. Segala cara mereka lakukan untuk merebut hatiku, tapi tetap tak mampu membuatku berpaling. Kau tahu kenapa? karena dalam hatiku hanya ada satu nama, pria yang menjadi cinta pertama sekaligus cinta terakhirku. Kau harus segera bangun jika ingin mengetahui siapa pria itu."
Wina kembali mendekati tubuh Dion, memeluk erat tubuh lelaki yang amat sangat dia rindukan. Perasaannya yang begitu mendalam pada pria itu membuatnya tersiksa karena harus menanggung rindu selama bertahun-tahun lamanya.
Perlahan Dion membuka sebelah matanya, berusaha mengintip untuk dapat melihat seperti apa wajah Wina saat ini.
Tak tega, Dion pun memutuskan untuk segera mengakhiri sandiwaranya. Dia yang sama sekali tak menduga kalau candaannya akan berubah menjadi sebuah kejadian yang membuat hatinya sangat tersentuh, semakin di rundung rasa bersalah.
"Win ...," panggilnya, lembut.
"Ya Tuhan, Dion," Wina memekik kaget, dia mendongak kemudian meraba wajah Dion yang terasa dingin. "Kamu membuatku takut. Ayo kita pergi ke rumah sakit."
Wina hendak bangkit, membantu Dion berdiri namun pria itu menghentikan langkahnya.
"Ada apa? aku akan menggendongmu jika kamu merasa tidak kuat berdiri," kata Wina.
"Bukan begitu?"
"Lalu?" tanya Wina.
"Tadi aku hanya bercanda, perutku memang sakit tapi tidak sesakit yang kau bayangkan," terang Dion.
"Apa katamu? bercanda?" terkejut, Wina membuang muka.
__ADS_1
Entahlah, rasanya sekarang rongga dada Wina sesak karena dipenuhi emosi yang tiba-tiba menyeruak begitu Dion mengatakan hal tersebut.
"Maafkan aku," Dion memohon.
Melihat Wina kembali menangis membuat Dion semakin merasa bersalah. Gadis yang saat ini tengah berdiri membelakanginya itu terisak, bahunya naik turun seirama dengan tarikan nafasnya yang tersengal.
"Maaf, bercandaku keterlaluan ya?" bujuk Dion.
Dion menyentuh jemari Wina tapi alangkah terkejutnya dia ketika Wina menghempaskan tangannya, kasar.
"Pulanglah!"
Dion menelan salivanya kelat, ada sedikit ketakutan yang menyusup ke dalam hatinya begitu mendengar ucapan Wina yang menyuruhnya untuk meninggalkan tempat itu.
Kalimat yang diucapkan dengan tegas oleh Wina, lebih mengarah ke sebuah peringatan daripada sebuah perintah.
Murka.
Dion yakin itulah yang menyebabkan Wina marah, ya ... dia memang merasa sudah keterlaluan kali ini.
"Pergi kataku! kau tahu dimana letak pintu keluarnya kan?" sekali lagi Wina menghardik Dion.
"Win, maaf ...,"
"Jangan menyentuhku!" teriaknya begitu melihat Dion mendekat dan berusaha meraih tangannya. "Aku sedang tidak ingin mendengarkan apapun yang keluar dari mulutmu."
Wina mundur, berusaha menjauhi Dion yang masih berjalan mendekati dirinya.
"Pergi! kumohon pergilah dari sini!" Wina terantuk, tubuhnya sudah mencapai pagar pembatas yang mana membuatnya tidak bisa bergerak lagi.
"Jangan seperti ini, Win."
"Pergi! aku tidak ingin melihat wajahmu lagi."
"Astaga, Win. Aku minta maaf, aku tahu kalau aku sudah keterlaluan tadi," ucap Dion memelas.
"Kalau kau tahu tadi itu keterlaluan kenapa kau terus bersandiwara?"
"Aku hanya ...,"
"Sudahlah, aku juga yang salah. Tidak seharusnya aku mengkhawatirkan dirimu. Kau juga bukan siapa-siapa bagiku dan ...,"
"Win!" Dion menaikkan volume suaranya.
"Jangan menyebut namaku lagi!" Wina menutupi kedua telinganya. "Sebaiknya kau pergi saja!"
"Aku tahu aku salah, aku sudah melewati batasanku dan membuat lelucon murahan yang membuatmu begitu ketakutan."
"Cukup!"
Merasa kesabarannya sudah di ambang batas, Wina memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu. Lama-lama berada disana membuatnya makin terbakar emosi saja.
Rasanya dia masih belum bisa menerima kalau pria yang ada di hatinya itu menjadikan perasaannya sebagai bahan candaan.
"Win! tunggu!" cegah Dion.
Wina berlari menuju kamarnya, berlari secepat mungkin agar Dion tak dapat mengejarnya.
Wina bersandar pada daun pintu begitu dirinya sampai di kamar dan mengunci rapat pintu tersebut. Tubuhnya luruh di atas lantai. Dia mendekap lututnya kemudian menangis tersedu-sedu.
"Win, buka pintunya! kita perlu bicara," bujuk Dion.
Kejadian itu terus berlangsung lama hingga Dion merasakan jari tangannya kaku.
Sepertinya Wina benar-benar marah sampai dia tidak menghiraukan Dion sama sekali.
__ADS_1
.