Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Kado


__ADS_3

Selepas acara sarapan pagi bersama itu selesai, Cinta mengajak suaminya menyusul Jayden di taman. Namun, belum sepenuhnya kaki mereka menginjak tanah berumput itu, William sudah lebih dulu menarik tangan istrinya.


"Ada apa Mas?"


"Sepertinya akan lebih baik jika kita kembali ke kamar," kata William. "Lihat mereka Sayang. Papa dan mama kelihatan sangat bahagia bersama Jayden. Bayi kita itu juga tenang, apa kamu tega mengganggu kebahagiaan mereka?"


Cinta melirik ke gazebo. Sultan memangku cucunya, mengajak Jayden berbicara. Entah apa yang mereka bertiga bicarakan tapi yang jelas Cinta melihat kebahagiaan itu terpancar jelas dari cara mereka tersenyum. Meski tak bisa melihat raut wajah anaknya, akan tetapi Cinta yakin jika Jayden juga sangat menikmati kebersamaan dengan kakek neneknya.


"Baiklah." Cinta mengapit lengan suaminya dan berjalan ke kamar.


"Eits, kalian mau ngapain masuk kamar? belum boleh Kak Willi!"


Mendengar suara Willmar sontak membuat sepasang suami istri itu menoleh. Willmar berdiri di belakang mereka dengan membawa pitcher berisi air dingin.


"Kamunya aja yang mesuum, emang kamu pikir aku sama Cinta mau ngapain," balas William.


"Eh, siapa tahu aja Kakak nggak tahan, terus ..."


"Enak aja kalau ngomong sembarangan. Harus mengikuti saran dari dokter. Tiga bulan kan Sayang?" William beralih menatap istrinya, sedang yang ditatap hanya tersenyum malu.


Tawa Willmar meledak. Dia saja belajar mesum dari kakaknya, tapi William terlihat polos dengan mengatakan dirinya akan berpuasa selama itu.


"Udah puas ketawanya?"


Willmar terpaksa menghentikan tawanya, teringat akan satu hal yang belum sempat ia katakan pada saudara kembarnya.


"Oh ya Kak, aku mau bicara penting sama kamu."


"Soal apa? kalau soal kemarin yang di mobil itu mending nggak usah. Kamu cuma buang-buang waktu aku aja tahu nggak sih, bikin penasaran aja."


"Enggak Kak, aku serius."


Menyadari hal itu, Cinta pun memutuskan untuk masuk ke kamar terlebih dulu, membiarkan dua bersaudara itu berbicara intens.


"Mau ngomong apa?"


"Soal Azka," cetus Willmar.


"Bajingaan itu. Aku hampir saja melupakan dia karena fokus pada kondisi Cinta kemarin."


"Iya, sidang putusan pengadilan telah diberikan kemarin dan aku lupa tidak memberitahukannya padamu. Selama ini kan opa yang mengurusnya, jadi aku juga nggak terlalu tahu perkembangan kasusnya hanya saja aku tahu dia telah dijatuhi hukuman pidana kurungan."


"Berapa tahun?"


"Aku dengar delapan tahun," jawab Willmar.


"Sesingkat itu? dia mencelakai istriku dan hampir membahayakan nyawa Cinta dan Jayden, tapi bajingaan itu hanya diganjar delapan tahun penjara? Apa hakimnya nggak salah?" William menaikan nada bicaranya.


"Ya mana aku tahu, aku kan pas kuliah ambil jurusan bisnis bukan hukum."


"Aku nggak terima, aku harus menghubungi pengacara untuk berkonsultasi. Masa iya cuma delapan tahun."


"Udahlah Kak, keputusan itu juga diambil berdasarkan saksi dan bukti-bukti. Jaksa penuntut umum dan pengacara opa sudah melakukan yang terbaik."


"Tetap aja aku nggak bisa terima."


"Fokus aja sama Jayden, lupakan semuanya toh dia udah dihukum. Kita hanya harus waspada agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali."


"Baiklah, kembalilah ke kamarmu, Rai pasti sudah menunggumu."


"Hm."


Masih-masing pria itu memasuki kamarnya. William terduduk lesu di bibir ranjang.


"Apa yang membuatmu kelihatan murung begitu?"

__ADS_1


Setelah melihat reaksi suaminya, Cinta yakin jika William dan Willmar telah membicarakan sesuatu yang serius.


"Bedebaah itu, bagaimana bisa dia dihukum delapan tahun penjara setelah apa yang dia lakukan padamu."


"Azka?"


"Apa perlu kamu menyebut namanya?"


"Maaf." Cinta menggeser tubuhnya mendekati William. "Biarkan dia menjalani hukumannya, apa yang hakim putuskan pasti sudah melalui proses penyelidikan. Hakim nggak mungkin asal menjatuhkan vonis hukuman pada pelaku kejahatan."


"Entah, rasanya aku nggak pernah bisa terima."


"Sayang," panggil Cinta amat lembut, ia menangkup rahang suaminya. "Fokus aja pada kebahagiaan kita Mas, jangan rusak kebahagiaan kita dengan hal seperti ini."


Cinta memeluk suaminya, mencoba menenangkan amarah yang sempat berkobar dalam diri William. Mendekatkan wajahnya, hingga bibirnya bertemu dengan bibir pria itu. Cinta mengecupnya pelan dengan satu tangan masih menempel di pipi William sementara tangan kirinya turun mengusap dada pria itu.


"Kamu mau mencoba menggodaku?"


Cinta tersenyum simpul. "Seandainya saja kita sudah boleh melakukannya. Aku berani bertaruh jika kita akan bertahan di sini sampai semalam suntuk."


William tergelak. Gemas, ia mencubit pucuk hidung mancung Cinta. "Aku nggak nyangka kamu senakal ini," bisiknya.


Sepersekian detik, keduanya saling berpagutan, menyalurkan rasa dari setiap sentuhan di bibir masing-masing.


.


.


Seperti malam yang berganti siang, begitupun hari berganti bulan. Waktu tak terasa berjalan dengan begitu cepat. Rasanya baru kemarin Jayden lahir, dan Cinta tak percaya bayinya kini telah bisa duduk.


"Sayang, kita makan dulu, setelahnya kamu boleh main lagi," kata Cinta.


Si kecil Jayden memang telah mendapat makanan pendamping asi. Setiap pagi Cinta akan dibuat sibuk untuk membuat bubur si kecil terlebih dulu sebelum mengurus keperluan suaminya. Terkadang Cinta juga membiarkan Raisa atau Hanum yang membuatnya.


Jayden yang mulai aktif seringkali membuat Cinta kerepotan. "Ma, Mama Rai, tolongin aku dong!" teriak Cinta. Dia memang membiasakan diri untuk memanggil begitu agar Jayden menirunya.


"Iya Kak, sebentar."


Tak lama kemudian wanita itu muncul di sana. Hanum dan Sultan memutuskan untuk menyusul orang tuanya ke Semarang, sekaligus beralasan ingin kembali berbulan madu. Mereka berjanji akan pulang seminggu kemudian seraya mengajak Arya dan Ratih pulang. Jadilah Cinta hanya mengandalkan Raisa untuk membantunya.


"Mama Raisa tolong jagain Jayden sebentar dong, aku mau siapin bubur dulu buat makan siangnya."


"Siap Bun," jawab Raisa sumringah. Wanita itu pun mengajak Jayden bermain sembari menunggu makan siang bayi itu siap.


"Jayden makin besar makin mirip Kak Willi," gumam Raisa.


"Please deh, jelas-jelas Jayden mirip aku, dikatain mirip Mas Willi bisa heboh orang itu," dumel Cinta.


"Tapi emang beneran mirip Kak." Raisa terkekeh.


"Ya, terserah kamu saja." Cinta mengambil celemek makan dan memasangnya di leher Jayden.


"Biar aku aja yang suapi Kak, kamu bisa makan siang duluan."


"Akhir-akhir ini aku jadi nggak nafsu makan Dek. Sepi, kita makan sendiri-sendiri, mana enak. Suami kita aja pulangnya malam banget," keluh wanita itu.


"Emang, kita berasa tinggal bertiga doang sama Jayden."


Raisa mulai menyuapkan bubur itu ke dalam mulut Jayden setelah memastikan suhunya pas untuk bayi itu makan.


"Mereka lagi sibuk apa di kantor Dek? apa sedang ada banyak proyek?" tanya Cinta, menarik satu bangku dan duduk lebih dekat dengan adik iparnya.


"Salah satunya, tapi berhubung ini akhir tahun biasanya mereka juga disibukkan dengan laporan akhir tahun, tapi Kak Cinta tenang aja, biasanya habis ini akan ada libur yang cukup panjang sebagai gantinya," jelas Raisa.


"Oh ya?"

__ADS_1


"Iya. Ya siapa tahu aja kamu mau bulan madu lagi Kak," goda Raisa.


"Ah, nggak kepikiran."


"Jayden kan bisa aku yang jagain, lagian mama sama yang lain juga kan mereka mau pulang seminggu lagi. Kakak bisa pergi bersenang-senang, sekali-kali me time sama suami."


"Ya kalau Mas Willi ngajakin Rai. Udah nyusun rencana bagus-bagus terus dia bilang cuma mau istirahat di rumah, apa nggak makan hati," kelakar Cinta. "Habis ini kamu makan Rai. Kamu tuh suka lupa waktu kalau udah ngurusin Jayden. Aku tahu kamu itu mamanya, tapi aku nggak enak kalau sampai kamu mengesampingkan urusanmu gara-gara dia."


"Iya Kakakku," jawab Raisa sambil tertawa pelan. "Hm, Kak, kamu udah siapin kado belum?"


"Kado? kado buat siapa?"


"Duh, masa Kakak lupa sih?"


"Seriusan? emang siapa yang ulang tahun?"


"Bukan ulang tahun Kak, tapi hari jadi pernikahan kita yang ke empat."


"Astaga! emang sekarang tanggal berapa?" Cinta terperanjat.


"Sebelas Oktober," jawab Raisa.


"Ya ampun, kok aku bisa lupa gini sih Rai? untung kamu kasih tahu."


"Makanya tadi aku bilang siapa tahu kamu sama Kak Willi mau bulan madu lagi Kak."


"Aduh, aku benar-benar lupa. Kamu udah siapin kado buat Willmar?"


"Udah." Raisa menjawab singkat.


"Terus aku harus siapin kado apa coba? mana waktunya udah mepet lagi."


"Tenang Kak, kado buat suami mah gampang."


"Apaan?"


"Tinggal pakai lingerie aja, terus goda dia deh di ranjang, beres." Raisa tertawa renyah.


"Ya ampun, Rai ... aku serius."


"Aku juga Kak, kalau kamu nggak percaya, cobain aja nanti malam."


Cinta terdiam mencerna ucapan adik iparnya.


"Udah nggak usah kebanyakan mikir, aku udah beli lingerie bagus dan kebetulan baru sampai kemarin. Udah aku cuci Kak, nanti aku kasih kamu satu."


"Ini yang benar aja dong Rai."


"Serius Kak, percaya deh sama aku. Aku udah pilih satu lingerie yang bagus banget dan cocok dipakai sama kamu."


"Cuma gitu doang kadonya?"


"Kuenya udah aku beli tadi dan udah aku masukin kulkas. Aman pokoknya Kak."


"Syukur deh. Terima kasih ya. Aku nggak tahu deh musti ngapain kalau aja kamu nggak ngomong."


"Beres, tapi sepertinya kamu nggak bisa full job Kak karena nggak ada yang jagain Jayden. Willmar pun pasti nggak akan mau melewatkan malam ini begitu aja," ungkap Raisa.


"Ya. Nggak masalah. Mas Willi pasti mau nunggu Jayden sampai benar-benar tidur nanti malam."


Kedua wanita itu tertawa bersamaan, lalu melirik Jayden yang juga sedang ikut tertawa meski bayi itu tak mengerti dengan apa yang membuat para wanita itu tertawa dengan begitu gembiranya.


Bersambung ....


*Happy reading Dears, semoga suka dengan ceritanya. Maaf kalau jalan ceritanya jelek dan nggak sesuai dengan keinginan kalian, maklum ... aku juga masih tahap belajar nulis. Buat yang udah like, komen dan Vote, cuma mau bilang kalau aku sayang kalian banyak-banyak. Salam sayang, tetap jaga kesehatan ya 🙏🤗❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2