
Waktu untuk bersantai bersama keluarga telah usai, setelah menghabiskan liburannya dengan berbulan madu dan berdiam diri di rumah selama beberapa hari, kini para pria itu pun kembali dengan rutinitasnya di kantor.
"Aku pulang cepat hari ini, jika Jayden masih rewel, kamu harus segera hubungi aku," pesan William sesaat sebelum ia masuk ke dalam mobil.
"Iya Mas. Hati-hati di jalan."
William mengecup kening istrinya, membiarkan punggung tangannya dikecup Cinta lalu melajukan kereta besinya meninggalkan pelataran rumah. Sejak semalam Jayden demam dan ternyata setelah diperiksa oleh dokter penyebab demam bocah itu karena sedang tumbuh gigi. Meski tak terlalu parah tapi hal itu tentu menganggu konsentrasi kerja William. Jika saja tidak ada pertemuan penting dengan klien pagi ini, jelas saja pria itu memilih menunggui putranya di rumah. William bertekad untuk pulang lebih awal begitu menyelesaikan pekerjaan pentingnya di kantor.
Lain William, lain pula saudara kembarnya, Willmar. Jika biasanya dia dan kakaknya akan berangkat bersama ke kantor, tapi kali ini William memutuskan untuk membawa mobil sendiri karena memang berniat pulang lebih cepat. Di sisi Willmar nampak istrinya yang terus menekuk wajahnya.
"Kamu kenapa sih Yang? nggak biasanya uring-uringan kayak gini? kamu lagi kedatangan tamu bulananmu?" tebak pria itu.
Sejak awal bangun, ada saja drama kecil yang dipermasalahkan oleh mahkluk cantik itu. Mulai dari wadah pasta gigi dengan tutup yang tidak terpasang karena Willmar lupa tidak menutupnya kembali. Lalu handuk basah yang Willmar taruh asal di kasur, hal yang biasanya tidak jadi masalah pun menjelma menjadi masalah besar sampai-sampai Raisa tak henti mengoceh. Sejak awal bangun hingga detik keberangkatannya ke kantor, Willmar benar-benar merasa istrinya itu sedang menguji kesabarannya.
"Kamu jangan berangkat," rengek Raisa, manja. Harusnya Willmar paham betul sifat Raisa yang memang sangat manja karena sedari kecil Adam dan Ajeng, orang tuanya selalu memanjakannya. Namun hari ini terasa lain. Semanja-manjanya Raisa, wanita itu tak akan pernah melarangnya pergi ke kantor.
"Terus kalau aku di rumah mau apa? kamu mau kita jagain Jayden? kamu kan tahu Yang dia lagi tumbuh gigi, rewel banget dan hanya mau sama bundanya doang, nggak mau sama kamu Yang, apa lagi sama aku."
Pria itu menghembuskan napas berat melihat ekspresi wajah Raisa saat ini. "Kamu tuh sebenarnya kenapa sih? ada yang sakit? kamu nggak biasanya kayak gini Yang."
Raisa masih bergeming, melihat suaminya terus melirik arlojinya membuat dia dengan terpaksa membiarkan Willmar pergi. Apa yang bisa dia jelaskan pada suaminya jika dia sendiri tak tahu apa yang tengah terjadi padanya. Tanpa kata, masih dengan wajah masam, Raisa meraih tangan suaminya, menciumnya dengan takzim.
"Aku nggak jadi berangkat aja deh, takut sial kalau pergi tanpa izin dari kamu."
"Aku nggak apa-apa kok, lagian kamu juga udah rapi. Berangkat aja sana!"
"Yakin?"
Raisa mengangguk. "Cepat pulang tapi, nggak usah lembur."
"Beneran?"
"Iya. Udah sana berangkat sebelum aku berubah pikiran." Raisa sedikit mendorong bahu suaminya.
"Kan belum pamit," kata Willmar, mendaratkan bibirnya di dahi Raisa. "Aku usahakan cepat pulang," imbuhnya.
Raisa mengangguk. "Hati-hati di jalan."
"Ya aku nggak bisa pergi kalau mukamu masih asam begitu, senyum dong!"
Raisa terpaksa menarik bibirnya membentuk senyuman, membuat suaminya merasa sedikit lega. Willmar memasuki mobilnya sambil mengelus dada, akhirnya drama aneh sepanjang sejarah pernikahannya kini berakhir. Ia berjanji untuk pulang lebih awal nanti.
.
.
Hanum mengecek kondisi cucunya di kamar Cinta. "Sayang, gimana Jayden?"
"Eh, masuk Ma." Cinta mempersilakan mertuanya untuk masuk karena Hanum sempat berdiri di ambang pintu tadi. "Demamnya udah turun, tapi dia masih agak rewel."
"Nggak apa-apa, wajar anak segitu rewel." duduk di tepi ranjang seraya menatap wajah teduh cucu pertamanya. "Mama jadi keinget waktu William bayi dulu. Meski kembar, tapi kamu pasti bisa merasakan perbedaan antara William dan Willmar kan?"
Cinta mengangguk, membiarkan ibu mertuanya melanjutkan ceritanya.
"Jika Willmar akan rewel saat demam, atau ketika sedang sakit maka berbeda dengan saudaranya. Ya, seperti yang kamu lihat sekarang. William cenderung diam dan menahannya, kamu tahu dia selalu memendam perasaannya sendirian kan? Mama juga nggak tahu kenapa tapi memang William sudah seperti itu sejak lahir. Dia seperti tahu kalau ada saudaranya yang lebih membutuhkan perhatian ketimbang dia sebagai kakak." Hanum menjeda sejenak ucapannya.
"Ketika tumbuh besar pun William cenderung mengalah, melindungi adiknya dan dia menjalankan perannya sebagai seorang kakak dengan baik."
"Jika dilihat-lihat, aku rasa Mas Willi mirip dengan papa." Cinta menyahut.
"Kamu benar. William memang foto kopian papamu. Karakter dua laki-laki itu sama persis, sedangkan Willmar cenderung mirip mendiang omnya, Sakti."
Cinta mengangguk. William telah menceritakan siapa itu Sakti, termasuk kisah rumit perjalanan cinta kedua orang tuanya.
"Eh, omong-omong di mana Raisa? biasanya dia akan setia berada di dekat Jayden. Jika Jayden tidur pun biasanya dia akan tidur di sebelahnya." Hanum mulai menyadari jika mereka berbincang berdua saja, tak seperti biasanya yang ramai jika Raisa terlibat dalam pembicaraan mereka.
"Di kamarnya Ma, dia bilang agak nggak enak badan," beritahu Cinta.
__ADS_1
"Hm, pantesan dari pagi Mama perhatikan dia bersikap aneh. Dia memang manja, tapi rasanya aneh aja sampai larang suaminya ke kantor segala."
"Oh ya?" Cinta tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan mertuanya.
"Iya, tadinya Mama pikir malah mereka lagi berantem. Ya udah, Mama lihat dia dulu ya?"
"Ya Ma."
Hanum berpindah menuju kamar menantu yang lainnya lagi, mengetuk pintu sebelum akhirnya ia memasuki kamar Raisa begitu wanita itu menyahut.
"Lho Sayang, katanya nggak enak badan, kok malah mau pergi?" Hanum mendekati menantunya yang tengah sibuk dengan peralatan make up di depan meja rias.
"Iya Ma, maaf. Tadinya aku niat mau pamit sama Mama sekalian berangkat nanti." Raisa menjawab.
"Emangnya mau ke mana?"
"Nyusulin Mas Willmar, mau makan siang bareng Ma," kata Raisa.
"Oh, ya udah sana. Nanti berangkatnya biar diantar supir ya?"
"Ya Ma, terima kasih."
"Ya sayang. Jam makan siang masih agak lama jadi nanti kamu bisa menghabiskan banyak waktu sama Willmar."
"Aku berangkat dulu Ma."
"Hati-hati."
"Ya."
Raisa meraih tas selempangnya dan menghampiri supir yang telah menunggunya. Di tengah perjalanan, wanita itu mampir ke toko kue. Satu box cheesecake dan juga satu kotak penuh salad buah bertabur keju dan dua cup jus jeruk berhasil ia bawa. Untuk makan siangnya, Raisa telah memesan Wagyu steak dari restoran ternama. Dengan senyum terus terkembang di bibirnya, Raisa sesekali melirik jam tangannya. Tak sabar rasanya untuk segera menemui Willmar.
"Mba Sandra, bapak ada?" tanya Raisa pada sekretaris suaminya.
"Oh, kebetulan masih rapat Bu, Ibu bisa tunggu di dalam." wanita bernama Sandra itu bangkit dari kursinya.
"Masih lama?"
"Ooh, oke Mba, terima kasih ya."
"Sama-sama Bu."
Raisa mendorong pintu bercat hitam itu, menaruh barang bawaannya di meja lalu duduk di sofa sembari menanti kedatangan suaminya. Sesekali Raisa memegangi perutnya, sejak kemarin memang dia merasakan sedikit nyeri pada bagian itu.
"Kayaknya beneran aku kedatangan tamu deh, musti pakai pembalut dulu ini," monolog Raisa saat merasakan sesuatu mengalir dari dalam dirinya.
Raisa mengambil benda pribadinya yang ia taruh di tas. Ia selalu menyimpan benda itu di tanggal mendekati jadwal tamu bulanannya itu datang.
"Pantesan perutku nyeri banget," gumam wanita itu lagi saat melihat noda di pakaian dalamnya.
Willmar yang baru saja selesai dengan meetingnya pun gegas menuju ruang kerjanya. "Sandra, minta OB suruh kirim jus jeruk ya," ucapnya pada Sandra.
"Oh, Bapak sudah selesai? Ada Ibu di dalam."
"Istri saya?"
"Iya Pak," jawab Sandra.
"Kapan dia datang?" wajah pria itu berubah menjadi sumringah.
"Sekitar dua puluh menit yang lalu Pak."
"Ya udah terima kasih."
Willmar gegas masuk. Mata pria itu memicing saat tak melihat keberadaan Raisa dalam ruangannya.
"Sayang!"
__ADS_1
"Aku di sini Mas." bersamaan itu Raisa kembali dari kamar mandi.
"Kenapa nggak bilang mau ke sini?" Willmar menghambur dan mengecup kening istrinya.
"Kan mau bikin kejutan. Aku pengen makan siang bareng kamu."
"Hm, tahu gitu kan tadi aku suruh Sandra buat pesan makanan."
"Nggak usah, aku udah bawa," kata Raisa.
"Apa yang kamu bawa?" keduanya menuju sofa.
"Wagyu steak, cheesecake sama ada beberapa cupcake juga. Salad buah, jus jeruk." Raisa membuka satu per satu makanan yang ia bawa.
"Aku jadi makin cinta sama kamu."
"Nggak usah gombal Mas, buruan makan karena aku nggak akan kenyang makan gombalan kamu," tukas Raisa, cepat.
"Dih, serius Yang."
"Udah, nanti lagi gombalnya, makan dulu!"
Willmar memotong daging steaknya menjadi potongan kecil, lalu menyerahkannya pada Raisa.
"Suapin," rengek wanita itu.
"Ya udah sini." menarik kembali piringnya dan mulai menyuapi Raisa.
Pandangan Willmar terus tertuju pada wanita cantik di depannya itu, Raisanya sedang dalam mode manja tingkat tinggi.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Willmar, menyadari wajah istrinya sangat pucat. Air mukanya berubah menjadi serius.
"Enggak," sangkal Raisa.
"Tapi mukamu pucat gitu." pria itu menaruh telapak tangannya di kening Raisa.
"Cuma sakit perut biasa Mas, biasa juga aku gini tiap mau kedatangan tamu bulananku."
"Tapi nggak biasanya kamu sampai pucat gini."
"Aku nggak apa-apa beneran Mas. Ssssh ..." Raisa mengigit bibir bawahnya saat merasakan perutnya kembali nyeri.
"Tuh kan? kita ke dokter aja yuk." Willmar mulai panik.
"Ya ampun Mas, perutku sakit banget." Raisa meremas perutnya yang seperti ditusuk-tusuk.
"Bentar aku ambil kunci mobil dulu." Willmar kalang kabut dibuatnya. "Ayo kita ke rumah sakit."
"Aku nggak kuat berdiri Mas." Raisa memejamkan mata menahan kesakitan yang tengah menggerogotinya. Wajahnya pias seakan tak teraliri darah, keringat dingin merembes di sekujur tubuhnya.
Tanpa kata Willmar gegas menggendong istrinya, hingga detik berikutnya mata pria itu membulat tak percaya saat merasakan sesuatu yang basah mengenai tangannya.
"Ya Tuhan, darah ..." tubuh Willmar mulai gemetaran, tapi bukan saat yang tepat untuknya menunjukkan sisi kelemahannya saat ini. Raisa membutuhkan pertolongan sesegera mungkin.
"Mas, sakit ..." Raisa terus merintih.
"Kita akan ke rumah sakit, tahan ya."
"Sakit banget Mas."
"Iya, kita akan segera sampai."
Melihat istrinya kesakitan membuat Willmar seperti orang kesetanan, ia terus menginjak pedal gas mobilnya. Tak peduli teriakan orang-orang di jalanan akibat ulahnya mengebut.
"Mas, sakit ..."
"Tahan Sayang, sebentar lagi."
__ADS_1
Willmar benar-benar frustasi. Ia tak bisa sepenuhnya berkonsentrasi pada kemudinya, apalagi setelah mengatakan itu, Raisa kehilangan kesadarannya. Ya, Raisa pingsan.
Bersambung ....