Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Tertangkap basah


__ADS_3

Setelah selesai berdebat dengan sang kakek, Sultan mengayunkan langkahnya menuju kamar. Bergegas menuju meja rias yang entah sejak kapan sudah ada di dalam sana, pasalnya, sepeninggal Sultan dari rumah tersebut setelah selesai melaksanakan upacara pernikahan, benda itu belum ada di sana. Mungkin ibunya yang telah berinisiatif menaruh satu set meja rias itu disana, sebagai pelengkap ruangan tersebut.


Dia tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin, kemudian membuka kerah kaos yang dipakainya.


Ternyata kakek tua itu tidak bisa di remehkan, usianya sudah renta tapi matanya masih tajam. Lagipula aku heran, bagaimana bisa beliau melihatnya, padahal ini juga tertutup kerah kaos. Sultan bergumam dalam hati.


Senyumannya terus merekah jika kembali melihat bekas bibir istrinya yang menempel di kulit lehernya. Ini untuk pertama kalinya dia mendapatkan tanda cinta dari Hanum, wajar jika dia merasa begitu bahagia.


Setelah puas memandangi tanda cinta tersebut, Sultan pun meninggalkan kamarnya. Dia berjalan ke arah samping rumahnya.


" Kalian sedang apa?" tanyanya begitu sampai di sana, melihat kedua wanita yang di sayanginya sedang memakai sarung tangan dan tengah mengaduk tanah.


" Menanam bunga." jawab Hanum.


"Hm." Sultan manggut-manggut.


" Ini." Ratih menyodorkan sepasang sarung tangan kepada putranya, " Bantu istrimu menanam bunga ya, mami lupa kalau kakekmu belum minum obat." berdiri dan melepaskan sarung tangannya lalu menuju kran air untuk membasuh tangannya.


Tanpa banyak bicara, Sultan sudah memasangkan sarung tangan tersebut di kedua tangannya. Memasukkan tanah ke dalam pot kecil, kemudian menaburkan bibit bunga di atasnya.


" Sayang." panggilnya pada sang istri yang terlihat begitu serius dengan kegiatannya.


" Apa?" jawab Hanum, singkat.


" Kau suka bunga?"


" Tentu saja."


" Bunga apa yang paling kamu sukai?"


" Anggrek."


" Masih banyak bunga lain yang lebih cantik, seperti mawar misalnya, bunga lili atau tulip dengan berbagai warna."


" Aku tidak begitu menyukai bunga mawar, menurutku bunga yang paling indah adalah bunga anggrek. Aku juga tidak tahu kenapa sangat menyukai bunga itu, tapi menurutku, anggrek adalah bunga yang paling cantik dan anggun."


Keduanya pun sibuk mengisi beberapa pot kecil dengan tanah, menabur benih bunga lalu kemudian menatanya rapi, di sepanjang pagar taman. Mereka terlampau asyik dengan pekerjaannya sampai tidak menyadari kalau hari sudah siang.


Selesai mencuci tangan, mereka duduk di bangku yang ada di samping pohon mangga berukuran cukup besar. Suasananya begitu nyaman dan asri, udaranya juga terasa sejuk.


" Kemari." Hanum menggerakkan jari telunjuknya, mengisyaratkan agar suaminya mendekat.


" Ada apa?"


" Hadiah untukmu." Hanum menyelipkan sebuah bunga chrysant merah hati di telinga suaminya.


" Apa? yang benar saja, masa pria memakai bunga." Sultan mencebikkan bibirnya, " Ini lebih pantas di pakai untukmu, sayang." mengambil bunga tersebut dan memasangnya sebagai hiasan di ikat rambut Hanum.


" Hm, diberi hadiah tidak mau, uangmu kan banyak, kamu juga memiliki segalanya, aku bingung mau memberikan hadiah apa untukmu." ucap Hanum, seraya membuang wajah ke sembarang arah.


" Aku tidak sedang berulang tahun sayang." menangkup wajah istrinya, membuat mereka saling bertatapan.


" Memangnya kalau memberi hadiah itu mesti di hari ulang tahun ya?"

__ADS_1


" Tidak juga." pria itu menggeleng, " Lagipula aku tidak membutuhkan apapun darimu. Aku sudah mendapatkan hadiah terindah, yaitu kamu." mengecup kening Hanum, " Ditambah lagi ini." mengucap perut istrinya, " Tidak perlu memberikan apa-apa padaku, cukup dengan kamu mencintaiku dan terus berada di sampingku. Itu sudah menjadi hadiah yang tak ternilai harganya." ucapnya penuh kelembutan, sorot matanya sendu dan penuh cinta.


" Memangnya tadi, Mas makan apa?" tanya Hanum.


" Hm, makan roti pakai selai kacang. Kenapa memangnya?" Sultan heran dengan pertanyaan yang dilontarkan istrinya.


" Pantas saja, bicaramu manis." gadis itu tertawa, menampilkan barisan giginya yang rapi dan putih bak model iklan pasta gigi, "Aku perhatikan kamu jadi sering mengobral gombal padaku."


" Ish." Sultan mencebik, " Dasar gadis nakal. Aku bicara yang sesungguhnya, kenapa malah dibilang gombal."


Sedikit kesal, Sultan membalas perbuatan istrinya dengan menggelitiki perut gadis itu. Hanum yang terkejut dengan serangan mendadak dari suaminya pun tak sempat menghindar.


" Hentikan Mas! geli." pekiknya.


Tapi Sultan tidak akan mengampuni gadis itu, siapa suruh dia meledeknya, mengatakan kalau dirinya tukang obral gombal. Padahal dia sendiri tidak tahu, gombal itu berwujud seperti apa. Sejauh dia hidup, belum pernah dia merasakan hatinya berdebar kecuali jika bersama Hanum. Dia juga tidak pandai bergaul dengan wanita, satu-satunya wanita yang dekat dengannya adalah Mauryn. Dan dengan wanita itu, Sultan sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapnya. Sekedar mengungkapkan isi hatinya pada istrinya pun, Sultan membutuhkan keberanian yang besar untuk itu. Dia bukanlah tipe pria yang mudah terpikat pada wanita, jadi mana mungkin dia akan dengan mudah mengucapkan pujian kepada seorang wanita.


Pria itu terus melancarkan aksinya sampai tawa Hanum tak terdengar, saking gelinya begitu Sultan menggelitiki perutnya.


Hanum terus memohon kepada suaminya untuk segera menghentikan tindakannya, tubuh gadis itu sampai terbaring lemas di bangku panjang yang mereka duduki. Karena dirasa suaminya masih berhasrat untuk mengerjai dirinya. Terpaksa Hanum menarik kasar tangan pria itu, Sultan terjatuh dan menindih tubuh istrinya.


Jarak keduanya sangat dekat, Hanum bisa merasakan hangat nafas suaminya menerpa pipinya yang saat itu sudah merona. Sementara Sultan terdiam, menikmati setiap inci wanita istrinya, dia terus menatap wajah ayu tanpa polesan make up tersebut.


Dan ketika Sultan makin menurunkan wajahnya, hendak menautkan bibirnya pada bibir tipis berwarna pink alami itu, tiba-tiba saja Hanum meraup wajah suaminya.


" Mas menindih kacang kecil kita, kau menyakitinya." cicit Hanum.


" Astaga." pekik Sultan, dia memandangi dirinya yang mana perutnya dan perut sang istri saling menempel.


Tergesa, Sultan bangkit dari posisinya, " Kau tidak apa-apa?" membantu membangunkan istrinya, kemudian mengusap perut Hanum beberapa kali, " Apa kalian baik-baik saja, Nak? maafkan ayah, sayang. Hampir saja ayah mencelakai kalian."


" Kau baik-baik saja, sungguh?"


" Iya, aku tidak apa-apa, jangan berlebihan begitu lagi pula kamu juga kan tidak sengaja melakukannya tadi."


" Ini semua karena ulahmu." serunya, tiba-tiba.


" Aku?"


" Tentu saja, memangnya siapa yang bisa menggodaku selain dirimu?"


" Kapan aku melakukannya?"


" Tadi." Sultan bersungut, " Jangan berpura pura lupa, memangnya siapa yang menarik tubuhku tadi, membuat aku menindihmu? menggodaku dengan tatapan matamu, dan menciptakan suasana yang romantis seperti dalam film, siapa coba?"


" Bukankah Mas yang memulainya lebih dulu? enak saja mau menyalahkan aku?"


Gadis itu berjengit, dia lalu bangun dari tempat duduknya, berjalan menuju kamarnya, Sultan mengekor di belakang.


Dan begitu mereka sampai di dalam kamar, Sultan bergegas mengunci pintu. Dia menarik tangan istrinya, mendorong tubuh wanitanya ke tembok kemudian mengunci pergelangan tangan istrinya dengan menaruh tangan Hanum di atas kepala.


" Mas, ap ..."


Hanum belum sempat menyelesaikan kata-katanya karena suaminya telah lebih dulu membungkam mulutnya. Dia berusaha memberontak saat Sultan memberikan ciuman panas padanya. Hanum makin tak bisa menghindar ketika lidah Sultan sudah begitu liar menelusuri setiap inci rongga mulutnya. Perlahan, dirinya mulai hanyut, larut dalam sensasi ciuman tersebut yang terasa membuatnya terbuai.

__ADS_1


Lama.


Sultan akhirnya melepaskan bibirnya, membiarkan istrinya menghirup oksigen sebanyak mungkin. Tersenyum jahil saat melihat bahu Hanum naik turun dengan nafas memburu.


Kembali, Sultan merengkuh tubuh istrinya, membimbingnya menuju kasur.


" Mas, mau apa?" tanya Hanum, panik saat suaminya sudah merebahkan tubuhnya di atas pembaringan.


" Aku sudah tidak tahan." kata Sultan, pria itu sudah mulai melepaskan kaos yang menutupi tubuhnya.


Seluruh tubuh pria itu sudah basah oleh keringat, Hanum bergidik ngeri saat melihat suaminya makin mendekat, terlebih saat melihat suaminya bertelanjang dada.


" Mas, kamu yakin?" tanyanya.


" Tentu saja."


" Kamu akan melakukannya di siang bolong begini?" Hanum memejamkan matanya.


" Memang apa salahnya? kalau aku melakukannya di siang hari?"


" Argh ... tidak mau." Hanum menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya, dia diliputi perasaan cemas. Membayangkan akan seperti apa rasanya jika mereka bercinta di tengah hari terik begini. Dia tak habis pikir kenapa suaminya mendadak menjadi pria mesum yang tidak bisa menahan hasratnya. Hanum menghitung mundur, membayangkan bagaimana suaminya akan memulainya.


Satu.


Dua.


Tiga.


Melihat tingkah lucu Hanum membuat Sultan tak bisa menahan tawanya, saat melihat istrinya memejamkan mata seolah bersiap jika dirinya akan mendaratkan sebuah ciuman pada gadis itu.


Tawa Sultan pecah, lalu Hanum membuka matanya, dia kebingungan, ternyata apa yang dia pikirkan sama sekali tak terjadi.


Dia terpaku saat melihat suaminya bangun dari atas tubuhnya setelah berhasil mengambil handuk bersih yang terlipat di atas bantal.


Hanum pun menepak dahinya, dia mengira kalau suaminya akan mengajaknya melakukan hubungan badan. Ternyata pria itu hendak mandi, karena posisi handuk itu berada di atas bantal sebelah kirinya. Jadi ketika Sultan mengambilnya, itu terlihat seolah Sultan hendak menindihnya, di tambah ketika wajah Sultan yang kian mendekat dengan wajah Hanum. Jadilah pemikiran Hanum semakin menjurus ke arah 'itu'.


Kini,dia menarik bantal untuk menutupi wajahnya, rasanya dia sangat malu karena telah salah menduga.


" Apa ini?" ucap Sultan, meledek.


" Sudah sana, bergegaslah mandi." cicitnya di balik bantal.


" Melihat tingkahmu yang begitu lucu, aku jadi tidak berniat mandi." Sultan menarik bantal yang menutupi wajah istrinya, " Bagaimana kamu bisa mengira kalau aku akan melakukan itu?"


" Ahh ... pergi, Mas!"


" Atau jangan-jangan, kamu sendiri yang sudah tidak sabar. Kamu ingin aku memakanmu, begitu kan?" makin gencar meledek Hanum.


" Sana!" Hanum mendorong tubuh suaminya.


" Cie ... ada yang tertangkap basah. Malu-malu tapi mau." Sultan terkikik.


.

__ADS_1


Segini dulu ya guys, sedih aku lihat votenya 😪.


__ADS_2