Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Bahagia Cinta


__ADS_3

"Mau makan? Udah siang," kata William pada istrinya, yang dia tahu biasanya wanita hamil tua itu cenderung mudah lapar, terlebih setelah apa yang baru saja mereka lakukan.


Cinta menjawabnya dengan sebuah anggukan. Hujan makin deras mengguyur bumi, membuatnya memilih berdiam diri di kasur selepas pergumulan panasnya dengan William.


"Mau makan apa?"


"Mie ayam."


"Nggak boleh, wanita hamil itu dilarang makan makanan sembarangan."


"Cuma mie, Mas," desis wanita itu.


"Apalagi Mie, ada banyak penyedap dan itu nggak masuk daftar menu makanan sehat."


Tak ingin berdebat, Cinta memilih menaikkan selimutnya dan memejamkan mata.


"Aku ganti yang lain ya, makanan yang lebih sehat," rayu William.


Lagi, Cinta memilih mengabaikan suaminya. Enak saja, dia hanya ingin makan mie dan hal sepele seperti itu saja menjadi sesuatu yang William perdebatkan.


"Sop iga? sop buntut? sayur bening? tumis kangkung? Ada banyak makanan sehat yang bisa kamu makan Cinta."


"Mas makan aja sendiri," tukas Cinta, geram.


"Ya udah deh, tunggu sebentar ya aku tanya dulu sama mama kamu boleh makan mie apa enggak."


Keterlaluan, rutuk Cinta. Hanya demi semangkuk mie saja suaminya musti laporan sama ibunya.


"Ma," panggil pemuda itu pada wanita cantik yang sedang membolak-balikkan majalahnya.


"Ya, kenapa Kak?"


"itu, Cinta merengek minta mie ayam, udah aku bilangin itu makanan nggak sehat tapi dia ngotot. Dia bilang nggak mau makan kalau bukan mie," adu William.


"Beliin aja apa susahnya sih Kak?"


"Lho, itu kan makanan ..."


"Apa salahnya? perempuan hamil itu emang suka makan. Coba kamu pikirkan bagaimana selama ini dia bertahan. Cinta pasti banyak menahan diri selama ini jika ada salah satu makanan yang ingin dia makan tapi dia nggak bisa beli. Lakukan saja, toh dia nggak sering-sering minta dibelikan makanan seperti itu," oceh Hanum.


"Jadi nggak apa-apa nih kalau aku belikan?" tanya William memastikan.


"Ya. Kamu udah sering menyakitinya, sekarang berusahalah untuk membahagiakan dan memberikan yang terbaik padanya."


"Oke Ma, terima kasih."


Hanum menggeleng pelan melihat kepergian anaknya.


William kembali dengan membawa mangkuk, mie dan segelas teh tawar hangat. "Cinta, ini mienya."


"Aku kira Mas belinya langsung di Solo, lama banget," dumel ibu hamil itu.


"Maaf, tadi tukang ojek onlinenya kejebak macet katanya. Kita makan sama-sama ya."


William meracik saus, kecap serta sambal dan juga garnish di atas mie, mengaduknya pelan lalu mencicipinya.


"Udah pas, kamu boleh makan sekarang." menyodorkan semangkuk mie di hadapan istrinya, lalu meracik kembali untuk dirinya.


"Nggak mau pakai pangsit," cetus Cinta.


"Ya udah sini." Dengan sabar pria itu melayani istrinya.

__ADS_1


"Tehnya kelewat panas," keluh Cinta lagi.


"Oke, bisa diatur Sayang." meraih gelas itu dan menuangkan pada gelas kosong terpisah, meniupnya dan mengembalikannya pada Cinta.


William tak peduli dengan apa yang akan dilakukan Cinta padanya, dia tahu wanita itu sedang mengujinya, maka kesempatan berpihak padanya agar dia bisa merebut kembali hati wanita itu.


Cinta tak lagi banyak bertingkah. Setiap gerakan William tak luput dari penglihatannya. Dari memastikan kebersihan makanan itu tadi, meracik dan juga mendinginkan tehnya, Cinta tahu semuanya dilakukan dengan tulus.


"Kenapa nggak dihabiskan? nggak enak?"


Cinta menggeleng.


"Terus kenapa? tadi katanya mau makan mie. Mau disuapi?"


Dengan cepat Cinta mengangguk. "Ya udah sini," imbuh William.


Semuanya mungkin telah berubah, termasuk hati dan ketulusan William yang kini hanya tertuju padanya, tapi untuk menghilangkan luka mendalam yang telah ditorehkan pria itu juga bukan perkara mudah.


Cup.


Cinta membulatkan matanya saat William menyergap bibirnya.


"Terima kasih," bisik pria itu.


"Untuk apa? Aku bahkan sering nyusahin kamu, ngrepotin kamu Mas."


"Udah mau kasih kesempatan buat aku memperbaiki semuanya," jelas William.


Cinta tersipu. Acara makan siang telah selesai, mereka kini sedang duduk berdua di sofa dekat jendela sambil melihat rintik hujan.


"Sini!" menepuk pahanya, William menarik tangan Cinta dan membimbingnya untuk duduk dipangkuannya.


"Aku masih kuat," balas William. "Kamu udah siapin nama buat anak kita," lanjutnya.


Cinta menggeleng.


"Kalau aku yang kasih nama, boleh?"


"Tentu, Mas kan ayahnya. Asal jangan nama yang jelek."


"Ya enggaklah, masa kasih nama buat anak sendiri jelek sih. Nanti aku pilih nama anak laki-laki yang bagus. Kapan jadwal cek kandungan lagi?"


"Lusa."


"Baiklah, aku akan cuti lusa."


"Nggak usah, kita perginya kan sore, Mas masih bisa tetap berangkat ke kantor paginya."


"Begitu?"


"Hm."


William meletakkan dagunya di ceruk leher Cinta. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman manakala ia melihat jejak percintaan yang sempat dia cetak di leher jenjang Cinta.


Cinta mengelak saat merasakan William mulai bergerak di lehernya.


"Mas ..."


"Biarin aja."


Cinta tak bisa melarang suaminya untuk kembali mereguk madu cinta. William terus mengecupi leher Cinta, sementara tangannya tak ia biarkan menganggur.

__ADS_1


"Shhh!" Cinta mendesis, tubuhnya kembali dilanda gelombang nikmat.


Dengan gerakan penuh kehati-hatian, William mengangkat tubuh Cinta, menarik dress yang dipakai wanita itu dari atas. Mata pria itu tertuju pada kain penutup yang tak lagi muat di badan istrinya.


"Ya ampun Cinta, ini udah nggak muat."


"Baru juga beli seminggu yang lalu, berat badanku memang naik drastis jadi sudah dipastikan aku akan mudah gendut sekarang."


"Bukan gendut, kamu hamil," hibur William.


"Sama aja. Badanku udah jelek sekarang," ujar Cinta, pesimis.


"Siapa yang bilang? bagiku malah kamu terlihat semakin sehat dan berisi. Aku suka ini." mengusap perut buncit Cinta. "Ini juga." mengedipkan sebelah matanya sambil mencubit pipi istrinya.


"Bohong."


"Enggak. Aku nggak bohong," tegas William.


Sebelum Cinta berubah pikiran, William sudah lebih dulu menyerang gadis itu. Setelah cukup lama keduanya saling berbagi rasa melalui sebuah ciuman, William berpindah pada puncak bukit Cinta yang telah mengeras.


Seperti bocah yang mendapatkan mainan baru, William seolah tak puas mengulangi hal itu lagi dan lagi. Di bawah rintik gerimis kedua insan itu kembali bertukar rasa melalui sentuhan.


Cinta bergelinjang hebat merasakan gejolak dalam dirinya. Hal itu tentu saja tak disia-siakan oleh William.


Cinta biarkan William mengambil haknya sebagai seorang suami. Membiarkan pria itu menuntaskan dahaganya setelah sekian lama tersiksa menahan diri.


Keduanya saling mendesah dengan napas memburu. William terus menghujamkan miliknya akan tetapi dipenuhi kelembutan, takut menyakiti buah hati mereka.


William terus memacu miliknya hingga luapan bukti cintanya menyembur dan memenuhi gua penuh kasih tempat bersemayamnya buah cinta mereka.


William masih berusaha mengatur ritme napasnya yang memburu usai kegiatan panas itu berakhir.


Hujan yang kian deras menciptakan romansa tersendiri di hati dua insan yang tengah menuntaskan hasrat kerinduan itu. William hanya mengambil jeda sebentar sebelum dia kembali menguasai istrinya.


Awalnya Cinta menolak, tapi kemudian pada akhirnya dia pasrah karena William terus meyakinkan dirinya bahwa dia melakukannya dengan hati-hati tanpa menyakiti bayi yang kini tengah terlelap dalam kandungannya.


Semakin sering William melakukannya, maka akan semakin sering pula pria itu ingin mengulanginya.


"Kamu membuatku gila Cinta," bisik William membuat pipi istrinya bersemu merah.


"Mas," panggil Cinta.


"Hm, apa Sayang?"


"Apa selama kepergianku, kamu merindukan aku?"


"Pertanyaan konyol. Tentu saja aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu sampai aku dibuat gila, itu sebabnya aku mencarimu ke mana pun."


"Sungguh?"


"Kau minta aku berbuat apa agar aku bisa membuktikannya padamu bahwa aku sangat merindukanmu?"


"Tidak ada. Bersamamu sudah lebih dari cukup Mas."


"Aku harap kau bahagia," kata William.


"Tentu. Aku sangat bahagia dan bahagiaku ada bersamamu."


William mengecup kening istrinya dengan begitu mendalam. "Aku sangat mencintaimu, istriku. Cinta."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2