
"Apa yang terjadi? kenapa kamu sampai meminum minuman keras, Mas?" Hanum melepaskan diri dari kungkungan suaminya kemudian menatap tajam tepat pada manik mata Sultan.
Tidak ada jawaban yang dia dapat karena sedari tadi Sultan hanya berdiri mematung tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tatapan mata pria itu begitu sendu.
Hanum mencoba mencari tahu lewat kedalaman mata bening suaminya namun sekeras apapun usahanya tetap tak membuahkan hasil, dia masih belum bisa mengetahui duduk permasalahan yang menyebabkan perubahan drastis pada diri suaminya.
"Mas, jangan diam saja. Kau membuatku takut," cicit Hanum, kini pelupuk matanya telah penuh dengan cairan bening yang siap meluncur kapan saja.
"Suruh dia masuk, biarkan dia membersihkan diri terlebih dulu," sela Burhan.
Hanum mengangguk, sepakat dengan perkataan kakeknya.
Perlahan dia menggandeng lengan suaminya kemudian membawanya menuju lantai atas, tempat dimana kamar mereka berada.
Hanum begitu cekatan mengurus segala keperluan suaminya, bermula dari menyiapkan air hangat di bak mandi kemudian tak lupa pula menyiapkan baju ganti untuk Sultan. Hal yang rutin ia lakukan.
Sebisa mungkin Hanum menahan diri untuk tidak mengajukan banyak pertanyaan terlebih dulu pada suaminya, meskipun dia sendiri sudah sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Sultan menjadi pendiam.
Jarum jam terasa begitu lambat berputar, Hanum masih membungkam mulutnya rapat-rapat sekalipun tangannya terus bekerja.
Dilihatnya Sultan yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk isi piringnya tanpa memasukkannya sedikitpun ke dalam mulutnya.
Tanpa bicara, Hanum meraih sendok yang berada dalam genggaman suaminya kemudian layaknya seorang ibu yang menyuapi anaknya, dia pun melakukan hal tersebut.
"Kau boleh bersedih, kau boleh melakukan apapun yang kamu mau Mas, tapi satu hal! untuk bisa menangis, marah dan melakukan apapun itu kau harus memiliki tenaga, jadi makanlah terlebih dulu!" bujuk Hanum.
Sesendok nasi berhasil masuk ke dalam mulut Sultan, pria itu menurut untuk membuka mulutnya ketika Hanum menyodorkan sendok tersebut tepat didepan bibirnya.
Suapan demi suapan dilakukan oleh Hanum dengan penuh kasih sayang, dan yang membuat perasaan Hanum bagai tercabik-cabik adalah manakala dia berhasil menyuapi suaminya, selalu diiringi dengan lelehan air mata yang meluncur dari sudut mata Sultan.
Hanum hanya bisa menyeka air matanya, dia masih membungkam mulutnya,merasa belum mendapatkan waktu yang tepat untuk bertanya.
Begitu selesai, Hanum mengangsurkan segelas air putih dan semenit kemudian Sultan kembali meletakkan gelasnya ke tempat semula.
"Apa sebegitu marahnya kamu padaku mas?" serang Hanum begitu kesabarannya mulai terkikis.
Sudah lebih dari setengah jam sejak pria di depannya itu selesai menghabiskan makan malamnya dan dia masih saja membisu.
"Kamu marah padaku hanya karena aku makan mie instan tadi pagi?" imbuh Hanum. "Ya sudah kalau begitu, malam ini juga, akan aku buang semua persediaan mie instan yang ada di dapur!"
Hanum yang mengira kalau saat ini Sultan mendiamkannya karena masalah mie instan pagi tadi, pun bergegas menuju lemari gantung yang berada tak jauh dari meja makan.
Baru saja gadis itu berjalan dua langkah kemudian dia menoleh, dilihatnya tangan Sultan yang bertengger di lengannya. Laki-laki itu kemudian menarik Hanum dan memeluk tubuhnya erat-erat, dengan posisinya yang terduduk saat itu, letak kepala Sultan hanya sebatas dada Hanum.
Hanum semakin bingung karena saat ini tangis suaminya pecah, suaranya terdengar begitu memilukan. Dia mungkin masih bisa tahan karena sejak tadi Sultan berusaha menahan tangisnya, tapi jika sudah seperti ini dia sendiri tidak tahu mesti berbuat apa. Dirinya merasa serba salah.
"Aku tidak marah padamu."
Hanum bisa mendengar suara suaminya yang bergetar, dress rumahan yang dia pakai bahkan telah basah sekarang.
"Lalu apa? apa yang membuatmu bersikap aneh begini? Mas bisa menceritakannya padaku kan? setidaknya jangan buat aku menebak-nebak suatu hal yang sama sekali tidak aku mengerti," tutur Hanum, lembut.
"Kau tahu kejadian apa yang telah terjadi hingga membuatku lupa tidak memberi kabar padamu?" Sultan mendongak, dia menyesal karena telah membuat istrinya berpikiran yang tidak-tidak.
"Aku siap mendengarkan ceritamu," imbuh Hanum, masih dengan suaranya yang lembut.
.
Hanum meletakkan secangkir teh madu buatan tangannya di atas nakas kemudian dia merangkak naik ke atas tempat tidurnya, menyusul suaminya yang lebih dulu berada disana.
__ADS_1
Setelah momen mengharukan yang terjadi di meja makan tadi, Sultan berjanji untuk menceritakan pengalamannya seharian ini pada Hanum. Memilih tempat peraduan mereka menjadi tempat yang nyaman baginya untuk bercerita.
Hanum menggenggam erat jemari suaminya, bibirnya memang tak mengucapkan apapun tapi sorot matanya mengisyaratkan kalau dia sudah siap untuk mendengarkan segala keluh kesah suaminya.
"Reno telah meninggal." kalimat pertama yang diucapkan oleh Sultan terdengar begitu berat.
"Apa?" Hanum berteriak kaget. "Bukankah dia sedang menjalani masa hukumannya? bagaimana bisa dia meninggal? apa ...,"
"Dia diserang oleh rekan sesama tahanan," sambar Sultan.
Dan kalimat itu kembali membuat Hanum terguncang.
"Tunggu! aku masih belum bisa mengerti." Hanum mengubah posisi tubuhnya semakin mendekati suaminya.
"Kau pernah mendengar kalau tahanan yang lebih lama ibarat kata akan menjadi ketua atau raja yang bisa seenaknya memberikan perintah kepada penghuni baru?" Sultan memberikan pertanyaan sebelum dia memulai ceritanya.
Hanum terlihat berpikir keras, tak lama kemudian ia pun mengangguk.
"Ya, aku pernah beberapa kali melihat kejadian seperti itu dalam sinetron," celetuk Hanum.
"Dan itu terjadi pada Reno, orang itu menyuruh Reno untuk memijatnya tapi Reno menolak mentah-mentah perintah seniornya. Merasa harga dirinya hancur, dia lebih memilih berkelahi daripada harus menjadi bulan-bulanan seniornya di dalam sel."
"Lalu?"
"Sejak dulu Reno kurang begitu menguasai ilmu beladiri, lawannya bekas preman yang sudah bergelut dengan dunia kekerasan selama hidupnya di tambah lagi dengan jumlah mereka, mustahil Reno bisa mengalahkan mereka."
"Jadi kesimpulannya Reno di keroyok?" tanya Hanum tak percaya, kemudian diangguki oleh Sultan sebagai jawaban atas pertanyaannya. "Masa iya dari sekian banyak orang yang berada dalam satu sel tersebut tidak ada satupun yang membantu Reno?"
"Hukum alam, Sayang. Siapa yang kuat, dia yang menang."
"Lalu dia meninggal di tempat, begitu? memang tidak ada sipir penjara yang bertugas apa?"
"Sebenarnya ada satu penyebab fatal yang membuatnya tidak bisa bertahan."
"Apa itu?" Hanum tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Aku tidak akan memberitahukannya padamu," kata Sultan.
"Kalau memang Mas tidak mau mengatakannya aku akan tetap penasaran. Ayolah ceritakan dengan jelas!" cecar Hanum.
"Masalahnya aku takut kau tidak akan sanggup untuk mendengarkannya." pria itu mengelus puncak kepala istrinya.
"Jangan membuatku semakin penasaran, ayo cepat katakan! apa sebenarnya yang membuat Reno sampai meninggal?"
"Apa kau benar-benar ingin mendengarkannya?" tanya Sultan, ragu.
"Tentu saja!" seru Hanum.
"Raka saja yang seorang lelaki sampai muntah-muntah karena tidak sanggup membayangkannya."
"Aku sanggup, lagipula aku tidak akan membayangkannya, jadi tenang saja!"
Untuk sesaat Sultan terdiam, membiarkan Hanum berulangkali menggoyangkan tangannya karena tak sabar untuk mendengarkan kelanjutan ceritanya.
"Mas," pekik Hanum.
"Dia ..., dia meninggal karena luka sayatan di lehernya cukup dalam hingga membuat Reno mengeluarkan banyak darah. Untunglah Adam bisa datang tepat waktu ke sana jadilah dia sempat ...,"
"Stop! cukup Mas, jangan diteruskan. Aku mual," ucap Hanum memotong perkataan suaminya.
__ADS_1
"Kan? apa kataku, kau pasti tidak akan sanggup untuk mendengarnya." Sultan menggelengkan kepalanya.
Hanum sudah membekap mulutnya, merasakan perutnya yang serasa diaduk.
"Minumlah!" Sultan menyodorkan teh madu yang tadinya Hanum buat untuk dirinya.
Tanpa pikir panjang, Hanum segera menerima cangkir tersebut kemudian meneguk isinya. Seketika tenggorokannya terasa hangat dan rasa mualnya berangsur menghilang.
"Sebenarnya siapa yang akan menghibur siapa? kau membuatkan teh untukku tapi malah pada akhirnya kau sendiri yang meminumnya," ledek Sultan.
"Sudah jangan banyak bicara! kepalaku mendadak pusing."
Hanum merebahkan tubuhnya kemudian menaikkan selimut untuk menutupi tubuhnya sampai sebatas dada.
Pun sama seperti istrinya, Sultan pun merebahkan diri di samping Hanum kemudian memeluk erat tubuh wanita kesayangannya.
"Aku minta maaf ya, seharian ini aku pasti membuatmu cemas dan berpikiran macam-macam," bisik Sultan sambil memainkan rambut Hanum.
"Tidak mau! aku tidak akan semudah itu memaafkanmu. Kau sudah membuatku melewatkan tidur siangku jadi jangan harap aku bisa langsung memberikan maafku," ketus Hanum.
"Ya sudah kalau begitu, katakan apa yang bisa aku lakukan agar supaya kamu memaafkan aku?"
"Yakin? kamu serius dengan ucapanmu?" Hanum mencoba mencari kesungguhan dalam diri suaminya melalui tatapan matanya.
"Hm." Sultan mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, aku mau besok kamu jangan menggangguku!"
"Memangnya kamu mau apa?" tanya Sultan.
"Makan mie instan rasa kari ayam yang tadi pagi kamu buang ke tong sampah," terang Hanum.
"Apa? mie instan lagi? tidak, tidak bisa!"
"Aku kan hampir tidak pernah makan mie instan jadi sekali ini saja, ya? ku mohon," rengek Hanum.
"Tidak! sekali aku bilang tidak, tetap tidak!"
"Ya sudah kalau begitu! jangan naik ke atas tempat tidurku! pergi sana, Mas bisa tidur di kamar tamu," ancam Hanum.
"Tidak mempan, kau bisa menghukumku sesuka hatimu dan marah padaku tapi aku tidak akan pernah memberikan satu keping pun mie instan untukmu!" tegas Sultan.
"Jahat!" Hanum berteriak memaki suaminya.
"Terserah."
"Aku benci sama kamu!" teriak Hanum lagi.
"Aku tidak peduli, kau lupa apa artinya benci?"
"Aku tidak mau tahu!"
Kesal, Hanum kemudian membalikkan badannya dan memunggungi suaminya, dan melihat tingkah istrinya makin membuat Sultan gencar untuk lebih menggodanya lagi.
"Benci itu artinya benar-benar cinta, Sayang."
Secepat kilat Sultan mencoba membalikkan tubuh Hanum kemudian mencuri ciuman dari bibir tipis istrinya.
Masih marah, Hanum pun mengelap bekas bibir suaminya dengan kasar kemudian mencubit perut suaminya.
__ADS_1
.