Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Jatuh Begitu Dalam


__ADS_3

Tepat pukul satu dini hari, William bersama kembaran dam juga istri mereka pun tiba di rumah. Setelah menurunkan barang bawaannya mereka berempat pun langsung memasuki kamar masing-masing. Luar biasa lelah akan tetapi juga terasa membahagiakan. Mereka pulang dengan suasana hati yang jauh lebih gembira.


Cinta yang semula tak bisa menahan diri untuk melihat Jayden, tapi karena larangan suaminya hingga akhirnya dia pun ikut bergabung di bawah selimut tebal bersama suaminya.


"Kita bisa menemuinya besok Sayang. Nggak enak kalau misalnya kita masuk kamar mama malam-malam begini," kata William sebelum memejamkan mata. Ia pun merapatkan tubuhnya hingga keduanya terlelap sambil saling memeluk.


Pagi yang begitu dinantikan pun tiba. Begitu selesai mandi dan mengurus semua keperluan suaminya, Cinta buru-buru melangkah ke kamar mertuanya.


"Selamat pagi Ma," sapa wanita itu.


"Eh, pagi sayang. Semalam sampai jam berapa? maaf Mama nggak tahu soalnya begitu Jayden tidur Mama sama papa juga langsung tidur," kata Hanum.


"Nggak apa-apa Ma, Jaydennya mana sekarang?"


"Di kamar tuh, Mama baru selesai mandikan. Mama mau bikin bubur dulu buat dia."


"Nggak usah Ma, biar aku aja yang bikin buburnya," kata Cinta.


"Mama aja."


"Udah, ngapain berantem. Aku udah bikin bubur buat si ganteng nih, udah aku dinginkan. Ayo kita suapi sama-sama." Raisa muncul dengan semangkuk kecil bubur hangat di tangannya.


"Bentar Mama gendong dia dulu ya."


Tak lama berselang Hanum kembali keluar dengan Jayden yang tersenyum ceria. Dia seolah tahu kepulangan ibunya dan juga mama keduanya.


Ketiga wanita itu pun sibuk mengurus Jayden. Hanum memangku cucunya sementara Cinta dan Raisa bergantian menyuapinya.


"Hai kesayangan Ayah."


"Kesayangan Papa juga dong."


Pria kembar itu muncul bersamaan, hanya bedanya William telah rapi dengan baju santainya sementara sang adik masih mengenakan piyama lengkap dengan rambut berantakan dan muka bantalnya.


"Kalian kalau mau rebutan Jayden, mending pergi deh, dia lagi asyik sama kami," sahut Hanum.


"Aku kan juga kangen," tukas si sulung.


"Aku juga." si bungsu tak mau kalah.


Hanum mendesah panjang. "Sebaiknya kakak pergi sarapan, dan adik pergi mandi."


"Sebentar doang Ma." Willmar berusaha mencium pipi Jayden tapi dengan cepat Hanum menahannya.


"Berani kamu cium cucu Mama sebelum mandi, Mama akan hajar kamu!" ancam wanita yang masih saja cantik di separuh abad usianya.

__ADS_1


"Yaah, Mama pelit."


"Nggak ada pelit-pelitan ya, pergi mandi Mama bilang!"


"Aku kan udah mandi, berarti udah boleh dong nyium si ganteng." gantian William beraksi.


"Enggak! Adik pergi mandi, kakak pergi sarapan. Sekarang!"


William berjengit mendengar teriakan mamanya. Pria itu pun pergi dengan mulut terus mendumel karena dilarang mendekati Jayden saat ini.


.


.


Semilir angin sore terasa menyejukkan. Masih dalam suasana libur, keluarga besar itu berkumpul di taman. Mbok Darmi menyajikan teh hijau dengan potongan kue cokelat dan juga beberapa camilan.


"Opa enak banget ya bulan madu nggak pulang-pulang. Apa jangan-jangan mau bikin bayi karena takut kesaing sama Kak Willi," seloroh Willmar.


Plak!


"Auw, sakit Mama," protes Willmar seperti anak kecil. Hanum lumayan keras memukul lengannya, membuatnya meringis kesakitan.


"Syukurin, emang enak." William menyahut.


"Oh ya? Opa kan sangat baik, aku nggak nyangka kalau semasa mudanya opa keras sama papa."


Jayden yang sedang dipangku ibunya mulai mengantuk mendengarkan ocehan para orang dewasa.


"Kalian beruntung memiliki papa seperti papamu, jika papa kalian seperti opa, Mama nggak bisa bayangkan gimana menderitanya kalian jika dipaksa untuk menjadi tentara juga sepertinya," lanjut Hanum.


Kedua anak kembarnya memang telah tahu perihal kehidupan pribadi dan asmara Sultan yang begitu rumit semasa mudanya dulu, tapi kasih sayang Arya pada si kembar juga membuat mereka tak menyangka jika pria yang begitu memanjakan mereka ternyata pernah menyandang predikat sebagai pria tergalak dalam kehidupan orang tuanya.


"Tentu saja. Meski aku lebih tampan dari kakak, tapi parasku tentunya warisan dari mama dan papa," kata Willmar menyombongkan diri.


"Lebih tampan dari mananya kalau kita kembar gini? kita itu kembar identik jadi kalau kamu tampan itu berarti aku juga tampan," sahut William.


"Udah, cukup! kalian kalau udah berantem nggak akan ada berhentinya," lerai Hanum. "Sayang, sebaiknya pindahkan Jayden ke kamar, Mama takut tidur cucu Mama terganggu nanti. Udah pada punya anak tapi kelakuan mau ikut-ikutan Jayden. Malu-maluin," omel Hanum.


Willmar saling beradu mulut meski tak ada kalimat yang keluar. William terkekeh tak memperdulikan adiknya dan lebih memilih menggendong Jayden.


"Biar aku aja yang gendong." dengan pelan William mencoba mengangkat bayi itu. "Kamu kalau mau berantem lanjut aja sama Mama, tapi aku sarankan untuk lebih hati-hati karena nggak ada yang bisa menandingi mama kalau dia udah marah."


Selesai mengucapkan itu, William langsung berlari ke kamarnya sebelum mendapat dua serangan sekaligus. Sementara Hanum dan Willmar masih belum berhenti mengoceh.


"Mas, jangan dibawa lari-lari Jayden nya, nanti dia kebangun," ujar Cinta memperingatkan.

__ADS_1


"Nggak sayang, Jayden nggak mungkin bangun. Dia kan kalau tidur suka lama banget."


Cinta membetulkan letak bantal Jayden dan membiarkan suaminya menaruh anak mereka di kasur. William mengusap kepala dan mengecup kening Jayden dengan penuh kasih sayang.


"Kalau lagi tidur gini dia mirip kamu Mas?"


"Masa?"


"Iya, persis banget kamu yang nggak bisa tidur tanpa meluk bantal guling," kata Cinta.


"Ya iyalah, lagian kalau meluk bantal hidup mah yang ada jadi nggak bisa tidur akunya," jawab William asal.


"Ujung-ujungnya ke situ lagi."


"Kamu yang memulai," sahut William. "Udah, mendingan sekarang kamu tidur aja. Aku yakin kamu pasti masih capek."


"Kamu mau ke mana?" tanya Cinta melihat suaminya bersiap turun dari kasur.


"Mau cek dulu, siapa tahu ada kerjaan penting."


"Ih, orang libur juga masih mikirin kerjaan," ketus wanita itu.


"Terus aku musti ngapain Sayang, mau tidur juga nggak ngantuk."


"Setidaknya tetaplah di sini, berbaring di dekatku dan bercerita."


"Cerita apa, kita kan habis bepergian kemarin."


"Ya cerita apa aja, tapi kalau Mas nggak mau ya udah nggak apa-apa, aku mau tiduran di sini jagain Jayden."


Mengalah, William akhirnya kembali naik kasur dan membaringkan tubuhnya di dekat sang istri.


"Memangnya apa yang ingin kamu dengar? aku nggak punya cerita apa-apa," bisik William.


"Apa aja terserah kamu Mas, mau cerita masa lalu, pekerjaan di kantor, atau tentang masa depan kita."


"Hm, baiklah. Aku akan bercerita dan kamu hanya perlu mendengarnya saja, oke?"


"Siap." Cinta mengacungkan jempolnya.


William membenahi posisinya agar dia lebih nyaman saat bercerita. Ia membawa kepala Cinta untuk bersandar di dadanya, kemudian detik berikutnya mulailah mengalir cerita dari bibir William. Cerita tentang masa lalunya, tentang kesan awalnya bertemu Cinta. Hingga cerita tentang dirinya yang tersesat saat tak bisa membedakan perasaannya pada Raisa yang ternyata hanyalah sebatas perasaan sayang antara kakak pada adiknya. Menceritakan tentang bagaimana tersiksanya dia menjalani hukuman begitu Cinta memutuskan untuk berpisah darinya. Cerita ditutup dengan kisah manis percintaan mereka dan tentang masa depan bersama anak-anak mereka kelak.


'Jika aku telah jatuh begitu dalam padamu, maka hal itu menjadi satu-satunya hal yang tak pernah aku sesali.' William menghadiahi kening istrinya dengan kecupan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2